
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa ikut tersenyum bahagia hingga senyum itu melenyap secara perlahan saat ia bisa melihat sosok gadis yang berlari lalu memeluk tubuh Glen di tengah lapangan membuat semua orang berteriak histeris. Layaknya sepasang kekasih mereka terlihat malu-malu saat diserbu oleh teriakan histeris dari para penonton.
Rasanya hati Syifa hancur berkeping-keping. Hatinya terasa sakit berdenyut di dalam sana. Perih. Sangat menyakitkan. Nafasnya seakan berhenti di detik ini. Rupanya apa yang telah dikatakan oleh Lena ada benarnya.
Syifa bisa melihat Glen dan Kinara yang terlihat saling berpandangan lalu kembali tersenyum malu seakan salah tingkah dengan pelukan yang telah terjadi. Mereka bahkan terlihat begitu sangat serasi layaknya sepasang kekasih.
"Gue udah bilang, kan kalau sama Lo kalau mereka itu nggak sebatas sepupuan aja."
Suara di belakang Syifa terdengar. Syifa tak menoleh menatap orang tersebut. Ia tahu siapa pemilik dari suara itu. Suara yang setiap harinya selalu menasehatinya agar berpisah dengan Glen. Suara yang berusaha untuk menyadarkannya namun, selalu ia hiraukan.
Lena melangkah mendekat. Ia berdiri bersisian yang akhirnya terhenti tepat di samping Syifa yang masih mematung menatap Glen dan Kinara dari kejauhan.
"Gue udah bilang, kan sama lo tapi lo seakan nutup telinga dan lo nggak mau dengerin gue."
"Dan sekarang gimana setelah lo ngeliat semuanya? Lo masih mau bertahan dengan prinsip kalau mereka cuman sekedar sepupu?"
"Sekali lagi gue cuman mau bilang kalau nggak ada hubungan sepupu yang sampai pelukan kayak gitu di hadapan semua orang. Mungkin gue udah bosan, sih ngomong kayak gini sama lo."
"Karena gue udah ngomong ini ratusan kali sama lo bahkan gue udah bosan ngomong ini dan gue jadi capek sendiri."
"Lo selalu bilang kalau Kinara itu nggak ada hubungan apa-apa sama Glen selain sepupu tapi lihat aja, Fa!"
"Lihat gimana caranya Glen menatap Kinara!"
Ujaran Lina yang berhasil membuat kedua mata Syifa yang telah memanas itu bergerak menatap ke arah Glen dan Kinara yang masih saling berpandangan.
"Sekarang gue mau nanya sama lo. Apakah tatapan Glen ke Kinara itu sama saat Glen ke lo?"
"Apakah sama cara Glen memperlakukan Kinara sama kayak dia memperlakukan lo?"
Tak ada jawaban dari Syifa.
"Gue emang bukan pacarnya Glen tapi gue tahu mana orang yang benar-benar sayang dan mana yang nggak."
"Pandangan orang yang hanya menganggap mereka itu hanya sebatas sepupu atau adik kakak tapi bagi gur mereka itu lebih dari kata sepupu atau hubungan keluarga."
"Gue jadi penasaran apa mungkin Glen dan Kinara itu sebenarnya mereka pacar-"
"Stop! Stop, Len! Syifa ngerti sekarang," potong Syifa membuat Lena akhirnya memutuskan untuk diam.
Sorot mata Syifa yang telah menampung air mata yang nyaris menetes itu masih tertuju pada sosok Glen yang belum menyadari sosok Syifa hingga akhirnya Glen yang masih tersenyum menatap ke arah Kinara itu secara perlahan menggerakkan kepalanya hingga tanpa sengaja mendapati sosok Syifa yang berdiri bersama dengan Lena di bibir pintu ruangan lapangan.
Senyum Glen perlahan lenyap saat ia bisa melihat sorot mata Syifa yang terlihat begitu marah. Merah menahan air mata. Rahangnya menegang dengan bibir yang bergetar.
"Syifa," bisik Glen pelan membuat Kinara mengernyit sejenak lalu ikut menoleh menatap ke arah mana mata Glen memandang.
Air mata Syifa kini menetes membasahi pipinya namun, dengan cepat Syifa menghapusnya lalu beranjak pergi. Disaat Syifa pergi Kinara tersebut sedikit licik dengan sorot matanya yang terlihat begitu puas. Yah puas melihat gadis bernama Syifa itu menangis.
"Syifa!" teriak Glenn yang berniat untuk berlari mengejar Syifa namun dengan cepat Kinara mencegah ia memegang pergelangan tangan membuat langkah itu terhenti.
"Iiih Kakak Glen mau kemana?" rengek Kinara.
Glen menoleh. Wajahnya benar-benar begitu sangat khawatir apalagi saat ia melihat Syifa menangis. Ia tidak mau jika Syifa berpikir yang tidak-tidak mengenai dirinya.
Apakah mungkin Syifa melihat ia berpelukan dengan Kinara?
"Nggak usah! Nggak usah dikejar. Kinara laper. Kirana mau makan. Yuk kita makan di kantin! Pasti Glen juga capek, kan? Glen haus, kan? Glen mau minum, kan?"
"Kinara tolong mengerti ya! Gue harus ngejar Shiya nanti dia salah paham."
"Udahlah gak usah dikejar lagian juga udah terlambat, kok. Syifa udah benci sama lo."
Glen dan Kinara sontak menoleh menatap ke arah Lena yang nampak mendekat sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Maksud lo apa ngomong kayak gitu?"
Lema tersenyum kecil.
"Nggak usah pura-pura nggak ngerti, deh. Perempuan mana, sih yang nggak sedih kalau ngelihat pacarnya itu pelukan sama perempuan lain di depan semua orang-"
"Itu nggak seperti apa yang lo pikirin. Gue dan Kinara cuman sepupu," potong Glen.
"Oh, ya?" Lena sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Gue kayaknya enggak lihat apa yang udah lo omongin, deh. Gue liatnya nggak gitu kalau lo berdua itu cuman sekedar sepupu tapi lo berdua kayak orang pacaran. Iya enggak, sih? Romantis banget."
"Lo nggak usah ngomong yang aneh-aneh, deh!" Tunjuk Glen yang begitu nampak marah.
"Udahlah Glen kalau lo emang suka sama Kinara, ya udah lo pacaran aja sama Kinara enggak usah sama Syifa karena lo itu cuman bisa nyakitin hati Syifa."
"Eh, lo jangan aneh-aneh, ya!"
"Aduh, gue nggak aneh-aneh, kok. Denger, ya! Syifa juga butuh kebahagiaan tapi lu malah sibuk ngebahagiain sepupu lo itu," singgung Lena yang melirik tajam ke arah Kinara.
"Itu enggak seperti apa yang lo pikirin."
"Enggak usah jelasin ke gue! Jelasin aja ke Syifa tapi walaupun lo ngejelasin semuanya ke Syifa, gue yakin anak itu udah enggak mau dengerin dulu lagi."
"Gue tahu orangnya Syifa itu kayak gimana. Dia pasti mau ngedengerin gue. Gue lebih tau sifat Syifa dari pada lo."
"Aduh, gue tau, gue tau. Lo cuman bisa ngomong gue tau, gue tau tapi lu nggak tau kalau Syifa itu habis pingsan gara-gara dihukum sama pak Tejo," jelasnya membuat kedua mata Glen membulat.
"Pingsan?"
"Kenapa? Lo nggak nyangka kalau Syifa habis pingsan? Ya, iyalah lo nggak tau karena lo cuman sibuk sama sepupu lo itu."
"Oh iya sekedar info aja biar lo tau kalau Syifa baru aja siuman. Dia baru sadar dari pingsan dan dengan bodohnya dia maksain diri buat datang ke tempat ini."
"Dia belai datang cuman mau ngasih lo dukungan."
"Dan ujung-ujungnya harus ngeliat kalian berdua berpelukan di depan semua orang," sambungnya.
"Syifa liat?"
"Ya iya lah," jawab Glen semakin khawatir.
"Hebat, ya Syifa. Dia punya pacar yang gak peduli sama dia."
Kini Glen terdiam. Ia sangat merasa bersalah karena tidak bisa menemani Syifa disaat ia pingsan. Tanpa pikir panjang Glen dengan cepat menghempas tangan Kinara lalu berlari pergi membuat Kinara berteriak.
...🕯️🕯️🕯️...