Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-30



...🕯️🕯️🕯️...


Lena menghalas nafas panjang. Ia meremas keningnya dengan rasa yang begitu melelahkan. Rasanya semalam ia tidak bisa tidur dengan lelap karena memikirkan keadaan serta kondisi Syifa sekarang.


Sejak tadi ia hanya bisa menopang kepalanya di atas meja diiringi suara keributan siswa dan siswi di dalam kelas yang seakan terabaikan oleh pikirannya mengenai Syifa.


Kepalanya bergerak menatap ke arah kursi Syifa yang terlihat kosong, gadis itu belum datang juga mungkin saja gadis itu tidak berangkat ke sekolah, ini semua karena si pria brengsek itu yang tidak tau di untung.


Seharusnya dia bersyukur memiliki pacar yang sangat pengertian dan perhatian seperti Syifa tapi malah disia-siakan seperti ini. Sepertinya juga Glen harus diberi pelajaran supaya mengerti dengan semuanya terlebih lagi dengan gadis bernama Kinara itu. Semuanya tidak akan jadi seperti ini jika tidak ada dia.


Rasanya tangan ini begitu gatal ingin menumbuk wajah si gadis itu. Lihat saja jika dia berani mengajaknya bicara, dia akan melayangkan


tinjunya ini ke bibir Kinara.


Suara tawa dan candaan seisi kelas kini menjadi senyap membuat Lena sedikit kebingungan. Baru kali ini teman-teman sekelasnya itu jadi diam. Dengan pandangan lelahnya ia menatap ke arah pintu dimana sosok Syifa yang melangkah masuk ke dalam kelas membuat Lena dengan cepat bangkit dari kursi dan berlari mendekati sahabatnya.


Salah satu alasan seisi kelas terdiam karena melihat sosok Syifa yang melangkah dengan wajah yang terlihat begitu pucat serta bagian kantong matanya juga terlihat sedikit agak gelap.


"Gue pikir lo nggak datang ke sekolah," ujarnya namun, Syifa tak menanggapi hal itu.


Syifa tetap saja berjalan melewati sosok Lena yang terdiam sejenak tanpa menjawab pertanyaan darinya. Sepertinya perasaan Syifa belum pulih betul setelah kejadian semalam. Kejadian semalam pasti membuatnya merasa kesal.


Lena melangkah mendekati Syifa lalu duduk di sampingnya dan menatap Syifa dengan serius.


"Lo tidur jam berapa?" tanyanya perhatian namun, Syifa tak menjawab.


Ia merebahkan kepalanya itu di atas meja.


"Lu nggak tidur, ya?" tanya Lena.


Ia menyelipkan rambut sahabatnya itu di belakang telinga membuat Lena bisa melihat jika wajah sahabatnya itu terlihat begitu lesu.


"Lu nggak tidur, ya?" tebak Lena tapi tetap saja tak ada jawaban yang dilontarkan dari sahabatnya itu.


"Kan gue udah bilang sama lo, minum coklat biar lu tenang. Kalau lo tenang lo bisa tidur," ocehnya lalu ocehannya itu terhenti ketika ia bisa melihat telapak tangan Syifa yang nampak diperban.


"Ini kenapa?" tanyanya yang meraih pergelangan tangan Syifa dan mengangkatnya.


Syifa menariknya lalu menyembunyikannya di bawah kolong meja, tak ingin melihat Lena melihat tangannya ini perban itu.


"Lu gila, ya? Lu pasti ngancurin kamar lo lagi, kan sampai tangan lo luka dan diperban kayak gini?"


"Aduh, Lena itu berisik banget tau nggak, sih. Syifa itu pusing. Bisa diem nggak?"


Lena menghela nafas menopang kepalanya di atas meja menatap sahabatnya itu yang masih memejamkan matanya di sana.


"Gue nggak suka kalau lo kayak gini. Gue nggak terima aja kalau sahabat gue dikayak giniin sama orang apalagi sama si Kinara."


"Tapi udah, deh lo tenang aja! Kalau gue ketemu sama si Kinara, gue jamin gue bakalan ngasih dia pelajaran-"


"Aduh, Len. Lena itu bisa diam nggak, sih? Syifa itu udah nggak mau lagi mikirin dia."


"Nah, bener. Sama gue juga," jawabnya setuju.


Lena yang masih menopang kepalanya menatap sahabatnya itu dengan gerakan kedua matanya yang melirik menatap sosok pria yang begitu sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam kelas.


Sudut bibirnya terangkat. Rasanya ia sangat kesal dengan pria yang sedang berjalan ini.


"Dia lagi," bisiknya kesal.


"Ngapain lo ke sini?" nyolot Lena membuat Glen tak memperdulikannya.


Ia berlutut menghampiri Syifa.


"Syifa, gue minta maaf."


"Heh, enak aja ngomong maaf. Lo pikir dengan kata maaf bisa buat Syifa mau maafin lo?"


"Eh, gue nggak ngomong sama lo, ya!"


"Ya emang, sih gue nggak ngomong sama lo tapi gue ngomong sama orang yang udah kecewain Syifa. Gue ini yang berusaha mewakili ungkapan Syifa karena gue tau Syifa itu udah nggak mau ngomong lagi sama lo."


"Enggak, enak aja lo. Syifa pasti mau ngomong sama gua, iya kan Syifa?" tanyanya sembari tangannya yang menyentuh jemari tangan Syifa namun, dengan cepat dihempas oleh Syifa.


Hal itu membuat Lena tertawa kecil dan langsung membuat Glen menatapnya dengan tatapan tajam.


"Syifa enggak mau lagi ngomong sama Glen," ujarnya lalu Syifa bangkit dan beranjak pergi membuat Glen mendongak.


"Syifa!" panggilnya yang berniat untuk berlari mengejar kepergian Syifa.


"Aduh, kayaknya Syifa udah benci banget, deh sama lo soalnya lo itu udah nyakitin dia."


"Lo ngapain apa, sih?"


"Lo itu yang kenapa? Gue mau ngomong sama lu."


"Gue nggak mau dengerin!"


"Yah udah terserah kalau lo nggak mau dengerin gue lagian apa yang gue omongin pasti bakalan diomongin juga sama si Syifa. Apalagi lo udah ngelanggar janji."


"Ngelanggar janji?"


"Ya udahlah. Lo lu tuh jangan sok enggak tau."


"Eh, lo jangan sok tau. Gue lebih tau tentang Syifa daripada lo." Tunjuk Glen.


"Oh, ya?" tanya Lena yang berpura-pura terkejut.


"Tapi kayaknya lo belum tau apa-apa tentang Syifa."


"Maksud lo?"


Lena tersenyum sinis. Ujung bibirnya terangkat lalu melangkah mendekati Glen sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Lo tau nggak, sih semalam Syifa itu nungguin lo di restoran?"


"Gue tau."


"Terus kenapa lo nggak datang?"


"Gue-"


"Dan lu juga tahu enggak, sih kalau Syifa itu nungguin lo sampai jam 2 malam?"


Sontak kedua mata Glen membulat. Dia tidak menyangka jika Syifa akan menunggunya sampai jam dua malam seperti itu.


"Yang bener lo?"


"Oh nggak tau, ya?" tanya Lena yang kembali berpura-pura terkejut.


"Lu pikir gue bohong? Sejak kapan gue bohong? Semua yang gue omongin itu benar kalau enggak percaya tanyanya aja sama Syifa tapi gue yakin, sih Syifa itu udah nggak mau ngomong lagi sama lo."


"Karena dia itu udah benci, benci banget malah sama lo. Dia nggak mau ngedengerin lo lagi."


Mendengar hal itu membuat Glen dengan cepat berlari mengejar kepergian Syifa yang entah kemana perginya. Ia menatap kiri dan kanan menatap ke segala arah berusaha mencari sosok Syifa yang tak kunjungi ia lihat.


"Syifa, lo dimana sekarang?" batinnya lalu kembali berlari hingga dari kejauhan dia bisa melihat sosok Syifa yang berlari ke belakang taman membuat Glen juga dengan cepat berlari.


"Syifa!" teriaknya lalu meraih pergelangan tangan Syifa membuat Syifa menghentikan langkahnya.


"Apalagi, sih?"


"Apa? Lo kenapa kayak gini? Paki lari-larian lagi kayak gini. Gue capek ngejar lo."


"Capek? Lebih capek Syifa yang nunggu Glen sampai-"


"Jam dua malam?" potong Glen.


Syifa tersenyum sinis. Ia melipat kedua tangannya di depan dada lalu menatap ke arah lain seakan tak suka jika harus menatap sosok Glen.


"Glen juga tau, malah nanya lagi sama Syifa."


Glen menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan berusaha untuk tenang.


"Syifa, Syifa gue minta maaf."


...🕯️🕯️🕯️...