
🕯️🕯️🕯️
Ting!
Ting!
Ting!
Suara notifikasi pesan masuk terdengar. Suara nada dering panggilan beberapa kali masuk membuat Syifa yang sedang duduk di atas tempat tidurnya melirik pelan.
Hembusan nafas panjang berderu pada indera pernapasannya. Tak perlu untuk mencoba melihat siapa pembuat onar dari suara pemberitahuan dari ponselnya. Bahkan ia sudah tahu siapa sosok dibalik suara pesan itu.
Glen, nama itu yang tertera di sana. Sudah ia tebak sosok Glen lagi dan lagi tak henti-hentinya berusaha untuk menghubunginya. Kini perasaan Syifa sakit, tak mudah untuk menjauhi sosok pria yang sangat ia cintai tapi harus bagaimana lagi Syifa juga tidak mau jika Glen harus bersama dengan dirinya. Sosok gadis yang memiliki penyakit seperti dirinya tidak pantas untuk bersama dengan Glen.
Ia harus memutuskan hubungan dengan Glen karena jika tidak maka nanti ia mati maka Glen tidak perlu untuk menangis karena hubungan di antara mereka sudah berakhir.
Syifa menatap layar ponselnya sejenak lalu menekannya beberapa kali hingga dengan berat hati ia harus memutuskannya. Keputusan terakhir yang harus ia lakukan. Hanya ini yang bisa ia lakukan yakni dengan membuatnya jauh dari Glen.
Hanya dengan satu ketukan berhasil membuat sosok di seberang sana terkejut.
Glen membulatkan kedua matanya menatap tidak menyangka pada layar ponselnya di saat ia mengetahui Syifa yang telah memblok dirinya hingga Glen hanya bisa terpatung.
Apa yang harus dia lakukan sekarang gadis itu benar-benar telah memutuskan hubungan darinya bahkan saat ini ia tidak bisa lagi menghubungi Syifa.
Kedua sorot mata Glen membulat. Tubuhnya bergetar menahan amarah. Ini seperti mimpi baginya.
"Kenapa Syifa? Kenapa lo lakuin ini sama gue?"
"Gue salah apa sama lo? Gue pikir semuanya akan baik-baik aja tapi ternyata nggak."
Glen menyentuh kepalanya yang terasa pening itu dan nafasnya berderu. Dadanya terasa sesak, rasanya ada yang menikamnya begitu menyakitkan hingga sulit untuk bernafas.
Kepalanya ingin pecah di dalam sana.
"Aaaa!!!" teriaknya begitu sangat kencang.
Bruak!
Suara keras terdengar. Punggung tangannya memerah setelah ia menyuarakan kemarahannya dengan memukul dinding rumah. Ini sakit tapi hatinya jauh lebih sakit.
Gadis yang sangat ia cintai benar-benar telah meninggalkannya.
"Kenapa? Kenapa lo lakuin ini sama gue? Gue salah apa sama lo sampai lo harus ninggalin gue? Gue tahu gue salah tapi bukannya semuanya udah baik-baik aja? Kenapa sekarang ada masalah lagi?"
"Gue sayang sama lo, Syifa."
...🕯️🕯️🕯️...
Syifa memejamkan matanya dengan erat. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya. Hembusan nafas berhasil lolos dari kedua bibir mungilnya. Perlahan ia membuka mata lalu menghempaskan ponselnya itu ke kasur.
Ia membaringkan tubuhnya yang lemah dan mengurus itu ke tempat tidurnya. kedua matanya memandangi langit-langit ruangan kamarnya dengan nanar.
Lagi dan lagi air mata itu mengalir hingga tak sadar ia menangis sesenggukan. Ia ingin menahannya tapi tidak bisa. Ia menyumbat mulutnya dengan selimut yang setiap hari selalu menyelimuti tubuhnya agar suara tangisan itu tak terdengar.
Kenangan itu, kenangan indah bersama Glen harus ia lupakan semuanya.
"Syifa nggak bermaksud buat menyakiti Glen tapi Syifa mau Glen jauh dari Syifa. Syifa nggak mau kalau Glen tersiksa dengan kehadiran Syifa. Suatu saat nanti Syifa bakalan pergi karena Syifa ngerasa kalau sakit Syifa nggak bakalan sembuh."
"Syifa nggak bisa. Syifa minta maaf Glen. Tapi Glen harus tahu kalau Syifa sayang banget sama Glen."
Suara pintu yang dibuka terdengar membuat Syifa menoleh sejenak menatap sosok dokter Bryan yang terlihat melangkah dengan pelan ke arahnya.
Ia memunggungi dokter Bryan seakan menolak untuk ditatap sang dokter.
Dokter Bryan melangkah dan berdiri di tepi berangkar.
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa dokter Syifa hanya-"
"Hanya apa? menangis?"
Syifa terdiam.
"Kenapa menangis?"
"Siapa yang menangis? Syifa tidak menangis."
"Bohong. Kenapa menangis? Katakan!"
"Syifa tidak menangis. Syifa baik-baik saja," jawabnya lagi walau di dalam selimut ia berusaha untuk menahan air mata.
"Kalau kamu ada masalah kamu bisa bicara dengan dokter."
"Tapi Syifa tidak punya masalah. Masalah Syifa hanya penyakit ini."
Dokter Bryan mengangguk.
"Ya paham. Saya paham dengan masalah kamu. Syifa saya tahu kamu punya masalah. Jika tidak bisa menyimpannya maka dokter akan mendengarkan keluh kesah dari kamu dan dokter tidak akan memberitahu siapa pun."
Dokter Bryan terdiam menanti respon dari Syifa yang sama sekali tidak bergerak di dalam selimut.
"Dokter Bryan janji tidak akan membocorkan rahasia itu jadi kalau kamu mau-"
"Enggak, Syifa nggak punya masalah apa-apa dokter. Syifa hanya ingin sendiri."
Mendengar hal itu membuat dokter Bryan terdiam. Ia berdiri tegak lalu menganggukkan kepalanya dengan pelan tanda mengerti.
"Kalau begitu aku akan menyuntikkan obat ke dalam cairan infus," ujarnya memberitahu lalu terdiam menanti Syifa yang sama sekali tidak bicara apa-apa.
"Besok kamu siap-siap, ya! Dokter Bryan akan ajak kamu jalan-jalan," ujarnya setelah selesai menyuntikkan obat ke dalam cairan infus."
"Syifa tidak ingin ke mana-mana dokter. Syifa mau istirahat saja."
Dokter Bryan tersenyum sejenak lalu kembali bicara, " Tidak ada penolakan dan tidak ada alasan. Dokter akan membawa kamu jalan-jalan karena sepertinya kamu terlihat bosan."
"Tidak Syifa tidak bosan. Syifa baik-baik saja, semuanya baik-baik saja," ujarnya berusaha meyakinkan. ia masih berada dalam selimut yang tebal.
"Apapun yang kamu katakan besok dokter Bryan akan membawa kamu jalan-jalan jadi bersiap-siaplah."
Lagi dan lagi tak ada jawaban dari Syifa hingga akhirnya dokter Bryan dibuat menyerah dalam menanti jawaban dari Syifa.
Dokter Bryan menghela nafas panjang dan kemudian beranjak pergi meninggalkan sosok Syifa yang beberapa menit kemudian menjauhkan selimut dari wajahnya memandangi pintu kamar rawat yang telah tertutup rapat.
"Syifa minta maaf dokter. Ini masalah Syifa. Syifa nggak mau dokter tahu masalah Syifa. Syifa minta maaf."
"Syifa minta maaf."
...🕯️🕯️🕯️...