
...🕯️🕯️🕯️...
Ting!
Suara lonceng berbunyi saat pintu pada sebuah toko kue dibuka memperlihatkan sosok Syifa yang sedang melangkah masuk ke dalam toko kue dengan senyum yang selalu mengembang dan sesekali ia menyapa setiap penghuni dan pengunjung toko kue hari ini.
Senyumnya semakin merekah saat ia berhadapan dengan seorang pria berseragam hitam dengan gambar kue ulang tahun, dia adalah Meno salah satu pegawai karyawan di toko kue ini.
"Halo selamat pagi, Syifa. Hari ini mau pesan kue ulang tahun lagi, ya? Untuk siapa?" tanyanya yang begitu akrab.
Meno memang sudah sangat mengenal Syifa karena Syifa setiap sekali dalam sebulan selalu datang ke toko kue ini untuk membeli kue ulang tahun untuk orang-orang yang ada di sekitarnya sedang merayakan hari ulang tahunnya.
"Tahu aja, deh kak Men kalau Syifa itu mau beli kue ulang tahun."
"Pasti, dong. Oh iya hari ini yang ulang tahun siapa?"
"Hari ini yang ulang tahun itu Ayah Syifa."
Pria bertubuh tinggi itu mengangguk menatap Syifa dengan tatapan yang begitu perhatian. Jujur saja ia sangat kagum dengan sosok Syifa yang selalu peduli pada hal-hal kecil seseorang bahkan ia selalu merasa bingung mengapa gadis seperti Syifa bisa ada di dunia ini.
Gadis yang selalu ingin merayakan hari ulang tahun orang-orang yang ada di sekitarnya bahkan terakhir kali Syifa datang di tempat ini memesan kue ulang tahun untuk pembantunya dan kali ini ia datang memesan kue untuk merayakan hari ulang tahun sang Ayah namun, yang membuat Meno merasa sedikit kasihan karena tak satupun orang yang datang untuk memasangkan kue dan merayakan hari ulang tahun untuk Syifa. Entahlah mungkin saja mereka tidak memasang kue di toko ini melainkan di tempat lain.
"Mau kue yang bagaimana Syifa?"
Syifa kini terdiam. Ia menatap setiap model kue ulang tahun yang ada pada sebuah menu yang kini telah ia pegang sementara Meno terlihat menanti sambil terus menatap serius ke arah wajah Syifa.
"Cantik-cantik, ya kak sekarang. Ada kue yang bentuknya baru lagi?"
"Iya ada banyak tapi kalau Syifa mau pesan kue yang sesuai dengan keinginan Syifa nanti bisa juga kami buatkan. Kalau mau saya kasih kertas dan pulpen biar Syifa yang gambar sendiri nanti dibuatin sama orang yang ada di dalam," jelasnya.
"Boleh, deh kak."
Mendengar hal itu Meno meraih kertas dan pulpen lalu meletakkannya di atas meja kaca membuat Syifa meraihnya dan menggambar bentuk kue yang ia inginkan.
Hari ini ia ingin membuat bentuk kue yang sangat spesial untuk sang Ayah. Syifa sangat ingin melihat sang ayah tersenyum saat ia datang membawakan kue ulang tahun untuk sang Ayah hari ini. Ia benar-benar telah rindu dengan Ayahnya itu, tak peduli Ayahnya telah menikah lagi dan punya anak. Ayahnya tetap Ayahnya, tak ada yang bisa memisahkannya walaupun Ayahnya telah punya keluarga baru.
"Ini kak udah jadi kira-kira selesainya jam berapa, ya kak?" tanya Syifa Yang menjulurkan kertas itu membuat Meno dengan cepat mengambilnya lalu menatapnya lekat-lekat.
"Oh kalau model seperti ini mungkin kira-kira sebelum maghrib juga udah selesai."
"Sebelum maghrib, ya kak?"
Meno mengangguk.
"Mau ditunggu atau mau diantar?"
"Syifa tunggu aja, deh kak lagian juga Syifa mau pilih-pilih kado buat Ayah."
"Wah, beruntung banget ya Ayahnya Syifa pasti dia seneng banget dapat kejutan seperti ini," sahut seseorang yang sedang melangkah mendekati Meno.
"Eh, kak Vira. Selamat sore kak Vira!"
"Iya selamat sore. Lagi mau ngerayain hari ulang tahun ya?"
Wanita yang merupakan salah satu karyawan toko kue itu juga ikut mengangguk.
"Jadi sekarang mau pilih-pilih kado?"
Syifa mengangguk.
"Mau kak Vira temenin? Nggak apa-apa kak nanti ngerepotin lagian Syifa juga kayaknya lama, deh buat milih-milih."
"Oh ya udah nggak apa-apa."
"Ya udah Syifa pergi dulu ya kak," pamitnya lalu ia melangkah pergi menuju ke bagian tempat kado.
Di sini ada begitu banyak barang-barang yang bisa dijadikan hadiah untuk orang-orang yang sedang berulang tahun dan di sini pula hadiah yang dibeli bisa langsung dibungkus dan langsung diserahkan kepada orang yang ulang tahun. Syifa melangkahkan kakinya pelan menelusuri setiap barang-barang yang terpajang di tempat ini.
Syifa yang sedang asyik melangkah itu menoleh saat mendengar suara seorang wanita. Dari sini bisa melihat sosok wanita yang juga sidang sibuk mengantri dan memilih beberapa bentuk kue.
"Wah, kayaknya hari ini banyak orang yang ulang tahun di hari ulang tahun Ayah juga," komentarnya sejenak lalu kembali melangkahkan kakinya.
Syifa merogo tas kecilnya dan mengeluarkan handphone lalu menekannya beberapa kali untuk menghubungi seseorang.
Berdering, itu yang bisa Syifa dengar saat ia merapatkan handphone itu ke pipinya.
"Halo selamat sore Lena," ujar Syifa begitu gembira.
"Aduh, lu ngapain, sih nelpon gue sore-sore gini? Gue kan lagi tidur."
"Lo kok tidur, sih Lena? Syifa, kan udah chat kalau hari ini jangan tidur dulu, dong!"
"Emang kenapa, sih?" ujar Lena yang berada di seberang sana nampak menggaruk kepalanya sambil sesekali menguap.
"Aduh, Lena lupa ya? Hari ini kan hari ulang tahunnya Ayah Syifa jadi Syifa mau Lena datang di toko kue. Nah, nanti kita sama-sama ke rumah Ayah buat ngerayain hari ulang tahunnya."
"Duh, gila kali ya nih anak. Gue lagi capek banget nggak bisa nih buat datang ke toko kue. Apalagi harus ngeraya ulang tahun Ayah lo."
"Ya Lena, Lena kok gitu sih? Masa Syifa harus sendiri aja ngasih kejutan ke Ayah."
"Iya emang apa masalahnya, sih kalau lo sendiri aja yang ngerayain hari ulang tahun buat Ayah lo itu."
"Tapi-"
"Lagian, kan itu Ayah lo bukan Ayah gue," potongnya.
Seketika senyum Syifa lenyap dari bibirnya entah mengapa setiap ucapan yang diucapkan oleh sahabat itu selalu pedas saja, tak ada sebuah rasa manis pun walau sedikit saja.
Syifa menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. Ia kembali menarik sudut bibirnya berusaha untuk tetap tersenyum tak ingin memasukkan ujaran pedas dari Lena.
"Ya udah, deh nggak apa-apa tapi kalau misalnya-"
Tut tut tut...
Sambungan terputus membuat Syifa menurunkan handphone itu dari pipinya menatap layar handphonenya yang telah memperlihatkan aplikasi-aplikasi yang ia miliki, tak ada lagi gambar foto sahabatnya itu Lena. Ia telah benar-benar memutuskan telepon.