
🕯️🕯️🕯️
Syifa menghapus air matanya itu lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Pagi ini ia bangun dari tempat tidurnya sambil mengusap air mata membasahi bantalnya. Walau hatinya sempat merasa sedih karena tidak dapat merayakan hari ulang tahun Ayahnya namun, ia harus menjalani kehidupan ini dengan senyuman karena ada banyak orang yang membutuhkan sebuah senyuman.
Dengan sebuah senyuman ia menatap pantulan wajahnya di permukaan cermin lalu ia kembali menarik nafas dalam-dalam diiringi dengan pejaman mata lalu ia kembali tersenyum.
"Baiklah Syifa, berhenti menangis hari ini karena ada orang yang akan ulang tahun," ujarnya lalu ia melangkah mendekati sebuah bingkai foto dimana di foto itu terlihat sahabatnya yang nampak tersenyum bersama dengan dirinya.
Siapa lagi jika bukan Lena, sahabat terbaiknya itu kemudian dengan langkah yang begitu sangat bahagia dan kegirangan ia mendekati permukaan kalender lalu membulati tanggal kalender itu.
"Tanggal 21, hari ulang tahun Lena. Happy birthday Lena. Hari ini Syifa akan membuat hari ulang tahun Lena jauh lebih bahagia," ujarnya lalu ia kembali meletakkan bingkai foto itu ke atas meja
Syifa melangkah lalu berputar-putar begitu sangat bahagia seakan hari ini bukanlah hari ulang tahun sahabatnya melainkan dirinya namun, langkah Syifa tertahan saat kepalanya terasa sakit. Ya sepertinya rasa sakit ini terjadi karena ia telah berputar-putar karena terlalu bersemangat.
Syifa tertawa kecil lalu ia membaringkan tubuhnya di atas permukaan kasur menatap langit-langit permukaan kamarnya yang seakan berputar-putar.
"Aduh, pusing banget," aduhnya sambil menyentuh kepalanya tapi Syifa nggak boleh lemah."
"Syifa harus semangat karena hari ini adalah hari ulang tahun untuk Lena dan Syifa harus merayakan hari ulang tahun Lena," ujarnya memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
...****...
Ting tong!
Suara lonceng berbunyi menandakan pengunjung masuk ke dalam toko kue, tempat di mana Syifa selalu memesan kue untuk merayakan hari ulang tahun orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Selamat pagi!" sapa kak Meno yang yang menyambutnya dengan sebuah senyuman.
Syifa tersenyum kecil sepertinya akhir-akhir ini ia selalu datang ke toko kue.
"Mau pesan kue ulang tahun lagi? Untuk siapa?"
"Iya kak Meno, hari ini sahabat Syifa ulang tahun."
"Oh kemarin Ayahnya Syifa yang ulang tahun sekarang sahabatnya lagi."
Syifa mengangguk.
"Oh iya kemarin bagaimana? Lancar kejutannya?"
Pertanyaan itu sontak membuat senyum Syifa perlahan lenyap dari bibirnya. Harus jawab apa sekarang dia. Bahkan ia juga malu jika mengatakan kalau kejutan itu gagal.
"Oh ya kak ada bentuk kue yang baru lagi?" ujar Syifa mengalihkan pembicaraan.
"Ada, mau bentuk yang baru lagi?"
"Mau kak."
"Mau pilih-pilih dulu?"
"Boleh kak," jawabnya lalu ia membuka beberapa lembar buku menu dimana di sana ada berbagai macam jenis bentuk kue di sana.
"Kue ulang tahunnya mau ditulis nama siapa di kue ulang tahunnya?"
"Tulis aja happy birthday Lena!"
"Happy birthday Lena?" ulangnya membuat Syifa mengangguk.
"Oh iya kak nanti kuenya bisa diantar tidak?"
"Diantar ke mana?"
"Diantar ke sekolah Syifa, nanti Syifa jemput di depan sekolah. Boleh?"
"Boleh. Nanti biar kakak yang antar dan kalau kakak sudah ada di depan sekolah nanti kakak telepon."
"Pasti sahabat Syifa seneng banget, deh bisa dapat kejutan seperti ini."
"Iya kak semoga sukses, ya terima kasih."
...🕯️🕯️🕯️...
Hari ini dengan sengaja Syifa berangkat sekolah pagi-pagi sekali. Selain untuk pergi memesan kue ulang tahun ia juga ingin merencanakan sesuatu kepada teman-temannya. Syifa ingin mengajak semua teman-teman sekelasnya untuk bekerja sama memberikan kejutan untuk untuk Lena.
"Nah, jadi saat jam istirahat tiba pastikan Lena bakalan pergi ke kantin. Di situ kita semua sama-sama hias kelasnya," jelas Syifa.
"Hiasnya pakai apa?" tanya salah satu temannya itu.
"Gampang. Syifa udah siapin, kok nanti diantar sekaligus sama kue ulang tahunnya Lena," jelasnya lagi membuat teman-temannya itu mengangguk paham.
"Nah, jadi salah satu dari kita akan ngajak Lena ke kantin atau terserahlah bisa ke kantor atau ngurus beberapa tugas-tugas yang penting dia nggak ada di kelas ini."
"Jadi kita semua bakalan leluasa buat menghias kelas. Terus pintu kelas itu bakalan ditutup dan setelah itu kalau Lena udah buka pintu, salah satu dari kita harus putar party popper biar makin seru."
"Terus yang lainnya bakalan nyanyiin lagu selamat ulang tahun buat Lena, gimana setuju, kan?"
"Setuju, gue yakin rencananya pasti bakalan berjalan dengan lancar," ujar yang lainnya sependapat.
"Oh iya buat kalian semua jangan sampai kejutan ini bocor dan jangan sampai juga Lena tahu kalau kita bakalan rencanain hari ulang tahunnya itu, oke?"
"Oke."
"Oke setuju."
"Terus sekarang Lena dimana?" sahut Siska.
"Syifa sengaja, Syifa sengaja nggak jemput Lena biar dia marah, ini juga bagian dari strategi kejutan jadi Lena kita buat jadi marah-marah dulu setelah itu baru, deh dia bakalan senang karena kita ngasih kejutan buat dia," jelasnya membuat teman-temannya itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Eh, eh Lena udah datang, tuh!" ujar salah satu teman sekelasnya membuat Syifa dengan yang lainnya dengan cepat berlari ke kursi masing-masing bersama dengan teman-temannya yang lain.
Mereka semua bekerja sama agar hari ini membuat Lena menjadi kesal dan tak satupun ada yang mengajak Lena bicara, ini bagian dari strategi kejutan.
Pintu terbuka memperlihatkan sosok Lena yang kini menatap marah kepada Syifa. Iya tentu saja dia marah karena hari ini ia harus naik angkot ke sekolah sementara Syifa yang biasa menjemputnya tidak datang.
Bruak!!!
Suara keras terdengar saat Lena menghempaskan tasnya ke kursi lalu menopang pinggang menatap ke arah Syifa yang kini hanya terdiam memasang wajah datar.
"Lu gila, ya? Gue kan udah bilang jemput gue! jemput gue! Lo mau buat gue jadi telat?"
Tak ada jawaban dari sifat sedikit pun membuat Lena menatap bingung. Baru kali ini Syifa tidak menjawab pertanyaannya. Dia terlihat diam sambil sibuk memainkan ponselnya.
"Eh, Syifa! Gue itu ngomong sama lo. Bisa denger nggak, sih?"
Tak ada jawaban apapun dari Syifa. Ia masih terlihat diam. Lena mendecakkan bibirnya kesal lalu menoleh menatap ke segala arah dimana semua orang terlihat diam.
Ia tidak mengerti mengapa semua orang seakan mendiaminya seperti ini.
"Lo semua pada kenapa, sih diam-diam kayak gitu?"
Tak ada jawaban, sunyi dan senyap menjadi suasana di dalam kelas ini.
"Gila lo semua!" teriaknya lalu melangkah keluar dan disaat pintu kelas itu tertutup Syifa dan bersama teman-teman yang lainnya sontak saling bertatapan dan tertawa kecil sepertinya salah satu strategi kejutannya telah berhasil yaitu membuat Lena marah.
Syifa tersenyum kecil. Rasanya ia bahagia dalam hati.
"Sabar ya Lena ini bagian dari strategi kalau Lena tahu rencana kejutannya pasti Lena bakalan senang."
...🕯️🕯️🕯️...