Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-62



...🕯️🕯️🕯️...


Syifa menyisir rambutnya sembari duduk di depan cermin yang memperlihatkan wajahnya yang terus tersenyum pagi ini.


Hari ini adalah hari yang cukup membahagiakan baginya dan juga bagi Mamanya, Rahmi. Tentu saja karena hari ini Mamanya akan dilamar oleh pak Jaya. Mungkin jika Syifa tidak pernah mengizinkan lamaran ini maka kegiatan lamaran mungkin tidak akan pernah terjadi karena keegoisan hati yang Syifa simpan lekat-lekat pada hatinya.


Dulu ia merasa jika Mamanya adalah miliknya begitu pula dengan Ayahnya tapi seseorang malah mengambilnya dan membawanya pergi menjauh dari sisinya. Dan sekarang ia ingin membuat Mamanya bahagia dengan menyatukan Mamanya dengan pak Jaya.


Drtttt


Ponsel berdering suara nada panggilan masuk terdengar membuat Syifa dengan cepat menghentikan kegiatannya. Ia meraih ponsel hingga nama Lena terlihat di sana.


"Halo."


Suara dari seberang terdengar. Baru saja Syifa menekan tombol untuk mendengar suara dari seberang Lena langsung bicara.


"Lo di mana, sih? Udah jam delapan tau nggak. Gue nunggu sampai lumutan di sini. Lo itu di mana sih sebenarnya?" cerocos Lena yang berada di seberang sana.


Syifa menepuk jidatnya. Bagaimana bisa ia lupa jika setiap pagi ia selalu menjemput Lena berangkat ke sekolah dan sekarang ia bahkan lupa untuk menghubungi Lena.


"Aduh, sorry banget. Syifa lupa lupa."


"Maksud lo? Lo lupa sekolah? Lupa bangun atau apa?" kesal Lena tak karuan.


"Sorry banget, Na. Hari ini Syifa nggak masuk sekolah."


"Loh, kenapa? Lu sakit, ya?" tanya Lena dengan suaranya yang kini memelan seakan ia merasa khawatir dengan keadaan Syifa.


Bagaimana ia tidak khawatir jika ini yang pertama kalinya Syifa tidak pergi sekolah.


"Apa sakit lo kambuh lagi?"


"Enggak."


"Loh, terus lu kenapa?"


"Sebenarnya hari ini Mama Syifa mau lamaran."


"Lamaran? Sama siapa?"


"Sama pak Jaya."


"Bukannya lo itu benci banget, ya sama pak Jaya?"


"Udah nggak lagi."


"Loh, kok tiba-tiba?"


Syifa bangkit dari kursi dan berjalan ke jendela kamarnya.


"Yah Mama Syifa itu juga butuh kebahagiaan dan kebahagiaan Mama ada sama pak Jaya."


"Nah, terus gimana, dong sama gue?"


"Ya sorry, Len. Itu berarti Lena nggak ke sekolah juga."


"Ah, gila lo."


"Maaf, maaf Lena. Syifa nggak ingat kalau Syifa harus antar Lena ke sekolah. Ya, udah deh Syifa ke situ, ya buat nganterin Lena ke sekolah?"


"Enggak usah. Udah telat juga, mending lu jemput gue ke rumah lo. gue juga mau tuh lihat Mama lu dilamar."


"Mau? Ya udah tunggu, ya! Syifa bakalan jemput."


"Oke, deh."


Sambungan terputus membuat Syifa akhirnya menatap layar ponselnya dan tersenyum kecil di sana. Sekarang bukan hanya ia yang tidak pergi sekolah, tetapi begitu juga dengan Lena.


Apa ini bisa dikatakan dengan bolos atau bekerja sama untuk tidak pergi ke sekolah.


Oh Tuhan, semoga saja hari ini tidak ada yang curiga.


...🕯️🕯️🕯️...


Jemari tangan itu berhenti bergerak saat Syifa menyentuh jemari tangan Rahmi. Ia memberikan senyum yang begitu sangat tulus di sana.


"Kenapa Ma?"


"Nggak apa-apa. Mama cuman khawatir aja."


"khawatir kenapa? Mama takut, ya kalau pak Jaya nggak datang sama keluarganya?"


Lama terdiam akhirnya Rahmi bicara.


"Iya, soalnya Mama tadi udah chat tapi nggak dibalas."


Syifa tersenyum berusaha memperlihatkan kepada Mamanya jika semuanya akan baik-baik saja.


"Mama tidak perlu khawatir, pak Jaya pasti akan datang karena Syifa tau pak Jaya sangat sayang kepada Mama. Dia akan datang."


Lena yang sejak tadi menyandarkan tubuhnya di dekat jendela itu akhirnya menoleh dengan cepat saat mendengar suara kendaraan dari luar berhenti tepat di pekarangan rumah Syifa.


"Syifa, itu ada mobil yang berhenti di depan rumah," ujarnya membuat Syifa yang bahagia itu dengan cepat berlari terbit-birit menuju jendela.


Ia mengintip sedikit di sana hingga benar saja pak Jaya bersama dengan kedua orang tuanya melangkah turun dari mobil.


"Mama! Pak Jaya udah datang sama kedua orang tuanya," ujarnya membuat Rahmi tersenyum bahagia.


Kini kedua pipinya memerah. Entah mengapa ia seperti sosok gadis yang ingin dilamar oleh pria tampan padahal ini bukan yang pertama kalinya tapi ini yang kedua kalinya karena Farhan, mantan suaminya juga pernah melakukan hal ini.


Dengar saja, bahkan jantungnya berdetak begitu sangat cepat.


...🕯️🕯️🕯️...


Suasana hening kini menyelimuti sebuah ruangan tamu yang hanya dihuni oleh beberapa orang yaitu Syifa, Lena mbok Jati pak Jaya dan kedua orang tuanya pak Jaya yang nampak sudah sangat berumur. Rambut beruban dengan kulit yang berkeriput.


Mereka menatap dengan begitu serius ke arah Syifa yang kini hanya bisa menunduk sejenak seakan tidak nyaman ditatap dengan pandangan yang begitu sangat serius oleh kedua orang tua dari pak Jaya.


Apakah mungkin kedua orang tua dari pak Jaya itu tidak menyukai Syifa? Bahkan kedua orang tua dari pak Jaya tidak pernah sedikit berbicara apalagi menyapa Syifa.


Sementara Rahmi kini sedang berada dalam kamar, tak berani untuk berhadapan dengan kedua orang tua dari pak Jaya.


Suasana yang sangat sunyi itu membuat mbok Jati akhirnya angkat bicara.


"Sebelum kita memulainya mungkin Ibu dan Bapak bisa minum kopinya!" pintanya menawarkan membuat kedua orang tua dari pak Jaya itu menganggukkam kepala menurut dengan apa yang mbok Jati katakan.


Mungkin ia mengira jika mbok Jati adalah orang tua dari Rahmi membuat Syifa sedikit tertawa kecil saat kedua orang tua dari pak Jaya itu menurut kepada mbok Jati.


Kedua orang tua dari pak Jaya meletakkan secangkir kopi itu ke meja dengan kedua matanya yang menatap serius ke arah Syifa dan Lena secara bergantian.


"Kamu Syifa? Anaknya Rahmi!" tunjuk Ayah dari pak Jaya membuat kedua mata Syifa terbelalak tidak menyangka.


Bagaimana bisa Ayah dari pak Jaya itu mengetahui namanya. Bukan malah menjawab Syifa dengan cepat menatap ke arah pak Jaya yang terlihat malu-malu.


"Maaf, maafkan saya, Syifa. Saya terlalu bersemangat hingga saya menceritakan semuanya kepada Ayah saya."


"Saya menceritakan tentang kamu, Rahmi dan apapun yang berhubungan dengan Rahmi," jelasnya membuat Syifa begitu bahagia.


Jujur saja ia tidak menyangka jika pak Jaya telah menceritakan sosoknya kepada kedua orang tua dari pak Jaya dan itu berarti ini menandakan jika pak Jaya memang sangat serius bersama dengan Mamanya.


"Iya, pak nama saya Syifa. Saya anaknya Mama."


Ayah dari pak Jaya tertawa.


"Jangan panggil pak! Tapi panggil saya kakek karena tidak lama lagi saya akan menjadi kayak kamu."


"Jaya dengan Mama kamu itu akan menikah, oke?"


Belum sempat menjawab tiba-tiba saja Mama dari pak Jaya kembali bicara.


"Panggil dia kakek dan panggil saya Nenek. Kami tidak lama lagi akan menjadi Kakek dan Nenek kamu, bukan begitu?"


"Betul," jawab Lena yang paling semangat membuat Syifa sedikit terkejut hingga suasana disuguhi sebuah canda dan tawa yang terjadi dalam di antara mereka.


...🕯️🕯️🕯️...