
...🕯️🕯️🕯️...
"Ini undangan buat pak dokter," ujar Syifa yang menjulurkan sebuah undangan tepat di atas meja membuat dokter Bryan meraih undangan yang telah diletakkan di atas meja itu.
"Undangan dari Syifa?"
"Undangan dari Mama?"
"Mama kamu menikah lagi sama Ayah kamu?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Syifa tersenyum kecil. Dia tertunduk lalu kembali menatap dokter Bryan yang sejak tadi memperhatikannya.
Sejujurnya dokter Bryan takut untuk salah bicara. Ia tidak ingin membuat Syifa jadi sedih.
"Itu undangan Mama."
"Mama kamu menikah lagi?"
"Iya, dokter. Mama menikah dengan pak Jaya. Dia calon Ayah Syifa."
"Calon Ayah? Bukannya kedua orang tua kamu masih hidup?"
"Iya tapi hubungannya yang sudah mati."
"Maksudnya?" Tatapnya tidak mengerti.
"Ayah Syifa dan Mama-"
"Oh oke, oke. Saya mengerti," potong dokter Bryan yang kini membuat Syifa mengurungkan niatnya untuk menceritakan semuanya.
Setelah melihat raut wajah Syifa, dokter Bryan jadi paham apa yang sebenarnya terjadi pada salah satu pasiennya ini.
Dan ini juga yang menjadi alasan mengapa Syifa tidak ingin jika kedua orang tuanya mengetahui penyakitnya.
Tentu saja Syifa tidak ingin membuat kedua orang tuanya itu merasa khawatir terlebih lagi hubungan keduanya juga sudah rusak.
"Dokter datang, ya!"
"Boleh. Nanti kalau ada waktu saya akan sempatkan datang."
"Tapi kalau misalnya dokter Bryan ketemu sama Mama tolong jangan kasih tau Mama kalau dokter Bryan itu adalah dokter Syifa yang mengetahui tentang penyakit Syifa."
"Kalau dia tanya?" tanya Dokter yang menahan tawa.
Entah mengapa sekarang ia seakan sedang diajak berbohong pada seorang anak kecil seperti Syifa.
"Ya, dokter tidak usah menjawab lagi pula Mama tidak akan bertanya kalau dokter memakai pakaian dokter ke pernikahan Mama," ocehnya.
"Baiklah," jawabnya singkat lalu memasukkan undangan itu ke dalam laci mejanya.
"Saya akan datang kalau dokter punya waktu."
"Tapi Syifa berharap dokter punya banyak waktu."
Mendengar hal itu membuat dokter Bryan tertawa kecil. Ini bukan pertama kalinya ada pasien yang mengundangnya datang ke sebuah acara tapi ini yang pertama kalinya ada pasien yang sedikit memaksa dan itu dilakukan oleh Syifa, si gadis mungil yang di diagnosa terkena kanker otak.
"Lalu bagaimana dengan pengobatannya?"
"Acara pernikahan Mama tinggal dua hari lagi dan setelah itu Syifa akan menjalani kemoterapi sesuai dengan permintaan dokter."
"Lalu sampai kapan semuanya akan disembunyikan dari orangtua kamu? Cepat ataupun tidak semuanya akan terbongkar. Mama dan Ayah kamu itu tentu saja akan mengetahuinya juga."
"Ayah akan mengetahuinya? Tapi Ayah yang mana dulu? Ayah Syifa atau suami dari Mama Syifa?" candanya membuat dokter Bryan menghela nafas.
"Syifa aku tau kamu gadis yang ceria dan ingin membuat semua orang tersenyum tapi ini sangat serius. Saya tidak bercanda. Semakin lambat kemoterapi dilakukan maka semakin lambat pula-"
Dokter Bryan menjeda kalimatnya membuat Syifa tersenyum sambil menundukkan pandangannya seakan tidak berani untuk menatap dokter Bryan.
"Meski banyak kegagalan dalam pengobatan kemoterapi-"
"Syifa pasti bisa sembuh," potong Syifa.
"Tapi Syifa harap Syifa bisa sembuh," sambungnya.
"Semoga saja. Tuhan tidak tidur. Dia mengetahui Syifa yang bersungguh-sungguh dan Syifa yang ingin sembuh."
Syifa menghela nafas panjang lalu segera bangkit.
"Oke dokter kalau begitu Syifa pamit dulu. Syifa mau langsung pulang nanti Mama jadi curiga lagi," ujarnya lalu ia segera melangkah dan berpaling hingga tiba-tiba suara dari dokter terdengar membuat langkah Syifa terhenti.
"Obat kamu sudah habis?"
Syifa menoleh menatap ke arah sang dokter yang masih menatapnya dengan pandangan yang serius.
"Masih ada dokter."
"Kamu sering minum, kan?"
"Setiap hari. Masih sesuai dengan dosis dan waktunya."
"Bagus sekarang pulanglah dan istirahat yang cukup!"
"Oke dokter," jawabnya lalu melangkah keluar dari ruangan dokter Bryan tak lupa juga hari ini ia membawa setangkai bunga mawar untuk Nayla.
Rasanya ia sangat rindu untuk bertemu sahabat barunya itu. Kemarin ia begitu sangat sibuk sehingga tidak sempat untuk bertemu dengan Nayla. Mungkin saja Nayla juga telah mencari-carinya sejak kemarin.
Persiapan Pernikahan...
Syifa mendongak ke segala arah menatap panggung besar yang masih belum selesai didekorasi. Ada begitu banyak hiasan yang terpampang di sana. Panggung yang luas, kursi-kursi yang berjejeran masih dalam proses pemasangan sarung kursi yang terlihat berwarna putih.
Semua dekorasi dilengkapi dengan warna putih dan hitam, ini disesuaikan dengan gaun pernikahan yang Rahmi dan pak Jaya gunakan.
Banyak orang yang berlalu-lalang dan terlihat sibuk dalam mempersiapkan pesta pernikahan yang akan diselenggarakan besok. Tidak sabar melihat kebahagiaan yang akan terjadi besok.
Syifa bahkan sesekali membantu para pendekorasi yang terlihat sedikit kewalahan. Ia begitu sangat senang bisa membantu orang-orang yang ada di sekitarnya hingga gerakan tangan Syifa terhenti saat sedang sibuk memasang sarung kursi saat seseorang melangkah mendekatinya.
Raut wajahnya terlihat sangat bahagia, ini pertama kalinya Syifa melihat sosok Mamanya yang tersenyum dengan raut yang begitu sangat-sangat berbeda dari sebelumnya.
Raut wajah kesedihan setelah berpisah dengan Ayahnya itu kini digantikan dengan senyum bahagia setelah tak lama lagi ia akan menikah dengan pak Jaya, calon Ayah dari Syifa yang dulunya menjadi mimpi buruk yang ada pada Syifa.
"Sudah selesai Syifa?"
"Total persipannya masih 70% tapi tidak apa-apa ini sepertinya tidak lama lagi akan selesai," jelas Syifa yang kemudian menunjuk ke segala arah menjelaskan tema dekorasi yang telah melalui rancangan Syifa.
Mendengarnya Rahmi dibuat tertawa kecil. Putrinya ini menjelaskan seakan-akan ia yang memiliki dekorasi itu.
"Syifa," sebutnya dengan lembut membuat Syifa menghentikan ocehannya.
"Mama nggak menyangka kalau Mama akan menikah dengan pak Jaya terlebih lagi Mama juga tidak menyangka kalau Mama bisa mendapat restu dari kamu padahal kamu sangat-sangat susah untuk dibujuk."
"Mama juga berhak mendapatkan kebahagiaan. Tidak hanya Ayah yang bisa mendapatkan kebahagiaan itu. Ayah telah menikah tanpa meminta persetujuan dari Syifa sementara Mama, Mama meminta persetujuan dari Syifa dan itu membuat Syifa bahagia."
"Syifa ingin melihat Mama bahagia dan semuanya hanya ada pada pak Jaya. Apapun yang membuat Mama bahagia maka Syifa juga akan setuju dengan apapun itu asalkan Mama tetap bahagia."
Mendengar hal itu membuat Rahmi menitikan air mata dan sekali lagi Syifa mengusap pipi sang Mama yang tertawa kecil. Akhir-akhir ini ia selalu menangis dan tentunya ia menangis bahagia.
"Terima kasih Syifa. Terima kasih," bisiknya saat keduanya kini saling berpelukan.
"Mbak! Ini meja panjangnya mau disimpan di mana?" tanya seseorang membuat suasana hari itu jadi buyar membuat Rahmi dan Syifa saling tertawa kecil.
...🕯️🕯️🕯️...