
...🕯️🕯️🕯️...
Cucuran keringat membasahi tubuhnya, keningnya juga bahkan telah dibasahi dengan cucuran keringat yang bercucuran saat ia melangkahkan kakinya menuju rumah sang Ayah.
Walaupun sang Ayah kini tidak pernah lagi datang untuk menemuinya tapi Syifa sangat rindu untuk bisa melihat sosok sang Ayah.
Ia ingin sekali bertemu dengan sang Ayah untuk melihat senyum yang terukir di bibirnya. Tentu saja adalah hal yang sangat ia rindukan dan itu yang menyebabkannya memberanikan dirinya datang menuju rumah sang Ayah.
Setibanya di depan sana Syifa menghentikan langkah menatap rumah sang Ayah yang terlihat begitu sunyi. Pagi-pagi sekali ia datang dan dari sini perumahan Ayahnya terlihat suasananya sama seperti biasanya. di mana Syifa selalu membawakan setangkai bunga mawar dengan kartu ucapan untuk sang Ayah
Setelahnya Syifa mendorong pagar dengan pelan berusaha untuk tidak menghasilkan suara walau sedikit saja.
Ia tidak ingin jika sang Ayah sampai mendengarnya dan melihatnya di sini. Harus jawab apa jika nantinya sang Ayah mengetahui jika yang memberikan bunga mawar itu selama ini adalah dirinya.
Syifa melangkah dengan pelan lalu ia meletakkan setangkai bunga mawar itu di atas mobil sang Ayah.
Senyumnya terukir di sana. Ia begitu sangat bahagia membayangkan Ayahnya yang akan kembali mendapatkan bunga mawar dari pemberiannya
"Ayah, Syifa sangat rindu dengan Ayah. Syifa sangat sayang dengan Ayah. Ini setangkai bunga buat Ayah dan tolong jangan lupakan Syifa."
"Syifa sangat sayang sama Ayah. Syifa ini sakit Ayah. Syifa sakit. Syifa sudah beberapa hari dirawat di rumah sakit untuk pemulihan dan satu minggu Syifa harus melewati masa kemoterapi."
"Syifa ingin sekali kalau Ayah ada buat Syifa di saat Syifa sedang sakit tapi sepertinya Ayah tidak bisa menemani Syifa."
"Syifa tahu dan Syifa tidak masalah jika Ayah lebih menyayangi putra dari istri baru Ayah tapi Ayah harus ingat Syifa juga kalau anak Ayah dan Syifa juga butuh kasih sayang dari Ayah."
"Ayah semoga saja bunga ini bukan bunga terakhir yang Syifa berikan kepada Ayah. Syifa sangat sayang Ayah. Jangan lupakan Syifa."
Syifa melangkah pergi meninggalkan kendaraan milik sang Ayah yang masih terparkir di sana. Syifa tidak ingin jika Ayahnya melihatnya dan dengan langkah yang terburu-buru ia segera menjauh dari perumahan sang Ayah.Ia takut jika Ayah melihatnya di sini.
Kini hidup melangkahkan kakinya dengan pelan saat berada di siring jalan dengan suasana yang begitu sangat sunyi. Sunyi dari sebuah percakapan dan yang ada hanya suara kendaraan bermotor yang berlalu lalang.
Sedikit mengganggu pendengaran tapi Syifa rindu dengan suara ini. Suara ini tidak pernah lagi ia dengar saat dia berada di dalam rumah sakit.
Taman-taman dan pepohonan, jalanan yang selalu ia lihat yang saat ini ia lihat sekarang adalah hal yang sangat rindukan selama ia berada di dalam rumah sakit.
hanya ada sebuah taman, ruangan yang tercium bau obat, selain infus yang telah terpasang di tangan, baju pasien yang terlihat begitu membosankan dan sebuah tempat tidur besi yang seakan sudah bosan jika dihuni oleh Syifa saja.
Kini disaat ia melangkah kakinya dengan perasaan yang terlihat sedih hingga akhirnya ia teringat oleh satu hal. Ya, wanita tua buta si pengemis yang selalu ia berikan sekotak roti dengan selai nanas di sana.
Apa kabar dengan wanita tua itu? Apakah dia baik-baik saja atau ia sedang sakit. Tak berpikir panjang Syifa segera melakukan kakinya menuju supermarket di mana di sana nantinya ia akan membeli sebuah bekal roti dan selai nanas.
10 menit kemudian...
Beberapa menit telah berlalu hingga akhirnya Syifa yang masih melangkah itu akhirnya mendapati sosok wanita tua buta yang terlihat sedang duduk di pinggir jalan
Syifa tersenyum begitu bahagia. Akhirnya sekian lama ia bisa melihat wanita tua buta itu dan tak lupa juga dengan bekal yang ada di atas pangkuannya seakan wanita tua buta itu sedang menantinya.
Ia tahu mengapa wanita tua buta itu sengaja meletakkan bekal miliknya di atas pangkuan agar nanti ketika kita datang ia bisa langsung mengambilnya.
Syifa menghentikan Syifa melanjutkan langkahnya menghampiri sosok wanita tua buta yang terlihat mengernyitkan keningnya saat mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya.
Syifa langsung berlutut di hadapannya. Dia menggerakkan jemari tangan yang sudah mengurus itu berusaha berniat untuk mengambil bekal yang ada di pangkuan pengemis tua.
"Sepertinya sudah lama kita tidak bertemu."
Suara wanita tua itu terdengar membuat kedua mata Syifa membulat kaget. Dia tidak menyangka jika wanita itu akan langsung mengenalinya tanpa perlu untuk bicara sedikitpun.
Tanpa bicara dia bisa tahu kalau dia Syifa.
"Siapa?" tanya Syifa yang begitu penasaran.
Wanita tua itu tersenyum, sedikit tertawa kecil saat Syifa bertanya.
"Tentu saja , nak tentu saja. Nenek sangat mengenali kamu."
"Oh ya?" ujarnya tidak percaya karena Syifa tahu perubahan fisiknya itu tentu saja sudah membawa jauh-jauh nama Syifa bahkan pemilik toko bunga yang selalu ia datang setiap hari itu sudah tidak lagi mengenalnya.
"Bagaimana bisa Nenek tahu kalau yang ada sekarang adalah Syifa padahal Syifa tidak memberitahu kepada nenek kalau Syifa datang."
"Tentu saja, Nak Syifa. Nenek mengetahuinya bahkan nenek tahu kalau kamu terlihat sangat sedih," ujaran wanita tua buta itu membuat Syifa terdiam.
Ia memandangi wanita tubuh itu dengan pandangan tidak mengerti. Apakah wanita tua buta itu bisa membaca pikirannya tapi tidak mungkin wanita tersebut sepertinya tak akan mengetahui hal tersebut.
Bagaimana bisa wanita tua wanita itu mengetahui bagaimana kondisi hatinya sekarang hanya sedang sedih padahal ini wanita tua itu tidak bisa melihat dia tidak akan mungkin bisa melihat bagaimana kesedihan Syifa.
"Bagaimana bisa Nenek tahu kalau ini Syifa?"
"Tentu saja Nenek tahu. Nenek tahu dari aroma tubuh kamu."
"Aroma?" tanya Syifa yang tidak mengerti bahkan ia sama sekali lagi tidak percaya.
"Apakah bisa mengenali seseorang dari aromanya saja?"
"Tentu saja bisa, tentu saja bisa. Nenek sangat tahu dan paham betul bagaimana aroma tubuh kamu bahkan Nenek juga tahu kalau beberapa hari ini bukan kamu yang membawa bekal untuk Nenek," jelasnya membuat Syifa terkejut.
"Benarkah? Dari mana nenek tahu?"
"Tentu saja," jawabnya sambil tertawa kecil.
"Tentu saja, nak. Nenek tahu semuanya."
"Semuanya?"
"Iya Nenek ini bisa mencium aroma yang ada pada wanita yang selalu memberikan kotak bekal berisi roti nanas tapi rasanya tidak sama, berbeda sekali."
"Kamu selalu membawakan roti dengan selai nanas yang banyak sementara wanita dulu itu tidak memberikannya seperti itu."
Syifa hanya terdiam ia duduk di samping wanita itu dengan perasaannya yang ingin menangis. Jujur saja ia sudah lelah untuk menghadapi semuanya.
...🕯️🕯️🕯️...