Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-60



...🕯️🕯️🕯️...


Drtttt...


Suara ponsel yang menandakan panggilan masuk terdengar membuat Syifa yang sejak tadi menulis beberapa kalimat pada buku diarynya terhenti.


Ia menarik ponselnya itu lalu mengernyitkan kening saat menatap nomor yang tidak kenal menghubunginya. Dengan perasaan bingung itu ia mengangkat ponselnya menatap layar ponselnya dan ia dibuat terdiam sejenak.


Nomor baru! Entah siapa yang menghubungi itu. Ia bahkan tidak memberikan nomornya pada siapapun kecuali...


Kedua mata Syifa membulat saat mengingat dokter Bryan. Ia baru ingat jika ia pernah memberikan nomornya itu kepada pria berwajah tampan itu. Apakah mungkin nomor yang menghubungi itu adalah nomor dari dokter Bryan.


Tak menunggu waktu lama dengan cepat Syifa mengangkat ponselnya. Mendekatkan ponsel itu ke telinga hingga suara dari seberang terdengar.


"Halo Syifa!" Suara itu benar dari dokter Bryan. Suaranya sama dengan suara yang selalu ia dengar saat dokter Bryan berbicara.


Tidak salah lagi.


"Ha-lo dokter. Ini dokter Bryan, ya?" tebaknya membuat dokter Bryan menyahut mengiyakan di sana membuat Syifa menghela nafas panjang.


"Ya dokter. Maaf kalau Syifa lama angkatnya."


"Yah, sekarang dokter cuma mau kasih tau untuk segera datang ke ruangan saya."


"Datang ke rumah sakit dokter?"


"Iya, tolong cepat! Soalnya dokter buru-buru mau pulang ke rumah."


"Iya dokter."


"Sekali lagi tolong cepat, ya!"


"Iya dokter," jawab Syifa hingga sambungan telpon terputus.


Setelah sambungan telpon terputus Syifa dengan buru-buru bangkit dari kursinya. Ia meraih tas yang tergantung di dinding dan segera beranjak keluar dari kamarnya.


"Mau ke mana Syifa?" tanya Rahmi yang sedang sibuk menonton televisi.


"Syifa mau keluar sebentar. Hari ini Syifa ada sedikit keperluan."


"Keperluan apa?" tanyanya yang menghentikan kegiatan menontonnya dan memilih menoleh menatap Syifa yang tengah meraih kunci motor di atas meja.


"Syifa ada janji mau ketemu sama teman."


"Teman?"


"Iya."


"Si Lena?"


"Bukan, ini teman baru."


"Oh," jawabnya singkat. Ia kembali menatap ke arah TV dan fokus menonton di sana.


"Kalau begitu hati-hata, ya Syifa!"


"Iya Ma," jawabnya lalu berlari kecil menghampiri Rahmi dan mengecup pipinya itu membuat Rahmi tersenyum begitu bahagia.


Setelah beberapa menit ia melajukan motornya itu melintasi jalanan raya yang tidak terlalu macet hingga akhirnya ia tiba juga di area parkiran rumah sakit. Memarkir motornya itu dengan terburu-buru dan segera berlari.


Kali ini ia harus cepat. Sesuai dengan ujaran dokter Bryan jka ia akan buru-buru pulang ke rumah dan tidak memiliki waktu yang banyak jadi Syifa harus cepat menuju ruangan dokter Bryan sebelum dokter Bryan pulang ke rumah.


Selama ia berlari ia bisa melihat semua orang yang ia lewati nampak terlihat kebingungan menatapnya seakan Syifa adalah orang yang teraneh di dunia. Mereka bahkan tertawa kecil saat melihatnya. Tak jarang pula ada yang menahan tawa saat Syifa yang masih melangkah lalu saat Syifa melintasi mereka suara tawa terdengar.


Mereka semua sepertinya aneh, pikir Syifa yang kemudian langsung membuka pintu ruangan dokter Bryan membuat dokter Bryan tersentak kaget di dalam ruangannya.


"Dokter, Syifa minta maaf. Syifa nggak masuk tapi nggak ketuk pintu. Mohon maaf dokter," ujarnya.


Bukan malah menjawab dokter Bryan malah melongo menatap Syifa dari ujung kepala sampai ujung kakinya membuat Syifa yang tidak curiga itu hanya langsung berlari kecil dan duduk di depan dokter Bryan.


Dokter Bryan tidak menjawab. Dia hanya terdiam memandangi bagian kepala Syifa membuat Syifa menatap bingung. Dia tak mengerti mengapa pandangan dokter Bryan seperti itu.


"Ada apa dokter?"


Dokter Bryan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.


"Syifa! Saya tau kamu itu gadis yang sangat mematuhi peraturan tapi di rumah sakit ini tidak ada polisi yang bisa menilang kamu karena kamu tidak memakai helm."


"Maksudnya dokter?" tanya Syifa yang tidak mengerti.


"Iya kamu memakai helm masuk kedalam ruangan saya.


Tunjuknya membuat kedua mata Syifa membulat. Dengan cepat ia meraba kepalanya yang terhalang dengan benda keras itu. Kedua mulutnya terbuka lebar. Dia tidak menyangka jika sejak tadi ia menggunakan helm. Pantas saja tadi semua orang memandanginya dan tertawa, itu semua karena helm yang masih terpasang di kepalanya.


Syifa memukul jidatnya. Mengapa ia lupa kalau helm itu belum juga ia lepaskan dari kepalanya? Ini semua karena ia terlalu terburu-buru untuk bisa masuk ke dalam ruangan dokter Bryan.


Bagaimana bisa ia lupa dengan benda satu ini di kepalanya. Malu, sangat malu. Lihat saja bahkan ia merasa jika tubuhnya memanas. Kedua pipinya jadi memerah. Rasanya ia ingin lenyap dari tempat ini. Malu sekali. Apalagi saat dokter Bryan yang langsung tertawa kecil di depannya.


Syifa hanya bisa tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Dengan cepat ia melepas helm dari kepalanya dan meletakkannya di lantai.


"Begini Syifa. Saya sengaja memanggil kamu datang ke ruangan saya untuk kembali membahas tentang pengobatan kanker otak yang kamu alami."


"Kamu setuju, kan untuk menjalani kemoterapi?" tanya dokter Bryan membuat Syifa mengangguk.


"Biasanya kemoterapi dilakukan dalam siklus yang berarti periode pengobatan dan kemudian periode istirahat."


"Misalnya, siklus 4 minggu mungkin 1 minggu pengobatan dan kemudian 3 minggu istirahat. Sisanya memungkinkan tubuh kamu untuk membuat sel-sel baru yang sehat."


"Karena itu 2-4 minggu setelah menjalani kemoterapi rambut akan rontok. Kamu tidak perlu khawatir karena setelah kemoterapi berakhir, keratinosit akan kembali normal namun, memang membutuhkan waktu yang cukup lama, ada yang berbulan-bulan hingga tahunan."


"Makanan yang cocok saat menjalani kemoterapi, salah satu makanan yang disarankan untuk dikonsumsi pada seseorang yang sedang menjalani kemoterapi adalah alpukat, telur, kacang-Kacangan, brokoli dan masih banyak lagi.


"Pantangan makanan setelah kemoterapi juga yakni daging mentah. Mengonsumsi daging mentah atau daging setengah matang seperti daging giling, memiliki risiko tertular penyakit bawaan. Hal ini dapat menyebabkan keracunan makanan."


"Karena senyawa atau obat kemoterapi toksik dalam memiliki sifat membunuh sel yang berkembang, ia tidak memiliki kemampuan untuk membedakan sel kanker dan sel sehat. Kematian sel sehat inilah yang menimbulkan efek samping seperti kerontokan rambut, merasa lemas, mual, muntah, perubahan warna kulit, dan efek lainnya."


"Selama Syifa di kemoterapi Syifa harus melakukan hal-hal yang akan kami tetapkan seperti memenuhi nutrisi untuk tubuh selama proses kemoterapi, cukupi kebutuhan air putih, beristirahat dan tidur yang cukup, jaga kebersihan mulut, rajin cuci tangan, aga kesehatan kulit, jaga kesehatan rambut dan ingat kendalikan stres."


Syifa kini terdiam setelah mendengar penjelasan dari dokter yang berusaha untuk ia cerna.


"Dokter kalau Syifa dikemoterapi apa Syifa akan langsung sembuh?"


"Sebagian besar mengatakan bahwa tingkat kesembuhan kanker yang diobati dengan kemoterapi hanya sekitar 3 persen, sedangkan sisanya 97 persen berakhir dengan kegagalan."


Rasanya jantung Syifa seakan berhenti berdetak saat mendengar apa yang telah dikatakan dokter Bryan. Rasanya hatinya begitu sangat sakit. Ia ingin menangis di hadapan dokter Bryan, tetapi ia malu untuk harus melakukannya.


"Tapi kamu tenang saja. Kalau Tuhan sudah berkehendak dan memberikan kamu izin untuk sembuh maka tidak ada yang tidak mungkin. Kamu harus percaya bahwa Tuhan jauh lebih pandai dalam merencanakan sesuatu jadi serahkan saja semuanya kepada Tuhan. Yang jelas kamu sudah berusaha."


Syifa memejamkan kedua matanya dengan erat. Ia menganggukkan kepalanya dengan pelan saat ia mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Bryan.


"Jadi kapan pengobatan itu dilakukan dokter?"


"Kalau rencana saya lebih cepat lebih baik. Kalau bisa dua hari yang akan datang bisa dilakukan kemoterapi dan rawat inap. Besok kami akan mempersiapkan semuanya."


"Dua hari yang akan datang?" tanyanya tak menyangka.


"Yah. Ada apa?"


"Apa kemoterapinya tidak bisa ditunda dulu dokter? Soalnya Mama Syifa itu akan segera menikah dan Syifa mau melihat Mama Syifa menikah."


"Tapi-"


"Tolong dokter! Hanya satu minggu saja penundaannya dan setelah itu Syifa akan melakukan kemoterapi."


Mendengar hal itu membuat dokter Bryan kini hanya terdiam sementara Syifa memandangnya dengan pandangan yang begitu sangat memohon.


...🕯️🕯️🕯️...