Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-63



...🕯️🕯️🕯️...


Suara jangkrik berbunyi tanda jika malam kini menjadi penghias dan penenang kehidupan malam yang sunyi dan indah menjadi teman dalam kehidupan Syifa yang kini sedang berada di atas tempat tidurnya sambil memainkan ponsel membalas pesan-pesan dari Glen yang menanyakan mengapa ia tidak berangkat ke sekolah tadi hingga tak berselang lama suara ketukan pintu terdengar membuat Syifa dengan cepat bangkit dari tempat tidurnya.


"Glen, Syifa matiin dulu, ya."


"Kenapa?"


"Soalnya ada Mama di luar," ujarnya lalu tanpa menunggu jawaban dari Glen, Syifa langsung mematikannya.


Ia membuka pintu hingga sosok Mamanya terlihat di sana. Raut wajah yang begitu bahagia tergambar pada setiap sudut bibir yang terpoles di sana.


"Mama boleh masuk?" tanya Rahmi membuat Syifa tertawa kecil.


"Tentu saja."


Syifa melangkah lalu Rahmi berjalan dan duduk di atas kasur tepat di samping Syifa.


"Syifa!" ujarnya menyentuh punggung jemari tangan Syifa.


"Mama mau mengucapkan banyak terima kasih sama kamu, Syifa."


"Kenapa? Kata terima kasih untuk apa?"


Rahmi menghela nafas seakan tidak tau harus mengatakannya dari mana.


"Mama sangat senang hari ini, Syifa karena Mama tidak menyangka kalau kamu akan memberikan Mama Restu."


"Kamu mau merestui Mama menikah dengan pak Jaya padahal dulu itu kan-"


"Dulu," potong Syifa membuat ujaran Rahmi terhenti.


"Dulu dan sekaran, kan beda. Semua orang bisa mengalami perubahan dalam berpikir," sambung Syifa menjelaskan membuat Rahmi mengangguk kepalanya kecil.


Ia sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mamanya itu. Ujaran putrinya itu semua benar. Perubahan yang selalu terjadi tapi tidak terjadi dengan terburu-buru seperti ini.


Sejujurnya ia ingin bertanya mengapa putrinya bisa berubah seperti itu tapi rasa canggung menghantuinya. Bukankah ini baik.


Ini sudah lebih baik jika putrinya berubah dengan sebuah kebaikan. Bukankah ini yang ia mau selama ini. Kemauan putrinya setuju jika ia dan pak Jaya bersatu.


"Syifa, Mama mau ngomong sesuatu."


"Ngomong apa Ma?"


"Setelah lamaran selesai dan penentuan tanggal pernikahan Mama..."


Syifa sedikit takut. Jantungnya berdetak dengan cepat. Apakah mungkin Mamanya itu tau sesuatu hal. Atau mungkin Lena yang memberitahu Mamanya kalau ia itu sakit.


"Tanya apa Ma?" tanya Syifa setelah meneguk salivanya kuat-kuat.


"Kenapa? Kenapa kamu menentukan tanggal pernikahannya begitu sangat cepat? Hari Minggu hari pernikahan tinggal 5 hari lagi."


Syifa bernafas legah. Kecurigaannya itu salah.


"Syifa, 5 hari lagi menjelang pernikahan. Apakah ini tidak terlalu terburu-buru?"


"Memangnya kenapa, Ma? Syifa juga tidak sabar ingin melihat Mama dan pak Jaya menikah."


"Mama!" panggil Syifa sembari menyentuh jemari tangan Rahmi yang langsung menghentikan ujarannya.


"Syifa ada di sini. Syifa akan bantu Mama untuk menyiapkan semuanya. Bukan hanya ada Syifa tapi juga ada Lena yang juga akan siap membantu."


"Syifa tapi Mama-"


"Tidak perlu khawatir, Ma! Undangan, resepsi atau segalanya biar Syifa yang mengurusnya. Syifa bahkan senang bisa membantu Mama."


"Pernikahan ini kan akan menjadi hari yang begitu sangat membahagiakan untuk Mama dan Syifa tidak akan melewatkan semuanya begitu saja."


"Syifa ingin turun langsung. Syifa ingin memilih undangan yang Syifa suka. Sekalian Syifa ingin memilih dekorasi yang Syifa suka. Semuanya harus pilihan Syifa."


"Syifa nggak sabar," sambungnya.


Tak sadar air mata Rahmi menetes. Ini adalah kebahagiaan yang benar-benar sangat membuat hatinya tersentuh. Putrinya seakan menyambut hari pernikahan itu dengan begitu sangat bahagia.


Ia merencanakan semuanya begitu jauh. Tak pernah ia sangka akan terjadi seperti ini.


"Kalau Mama mau pilih undangan Mama juga harus ajak pak Jaya."


"Iya, kalau begitu besok Mama ajak pak Jaya."


"Jadi Mama pergi besok untuk memilih undangan? Syifa mau ikut."


"Lalu bagaimana dengan sekolah kamu?"


"Mama, Mama pikir Syifa pulang jam berapa? Kita bisa pergi setelah Mama pulang kerja dan Syifa pulang sekolah."


Benar juga yang Syifa katakan. Hal itu membuat Rahmi tertawa. Bagaimana bisa ia lupa jika hari esok begitu sangat panjang untuk memilih undangan yang cocok nanti.


Tak berselang lama Rahmi bangkit dari kasur yang sejak tadi ia duduki. Menatap putrinya yang nampak tersenyum ke arahnya.


"Kalau begitu Mama keluar, ya! Selamat malam," ujarnya membuat Syifa melangkah mendekati pintu mengantar Mamanya itu sampai ke pintu kamar.


"Selamat malam juga Mama."


Kini pintu akhirnya tertutup membuat Syifa berlari kecil naik ke atas tempat tidurnya lalu kembali menatap layar ponselnya dengan pandangan yang begitu sangat serius.


Senyumnya mengembang saat panggilan masuk dengan nama Glen yang tertera di sana.


Vidio call dari Glen membuat Syifa buru-buru merapikan rambutnya dan mengangkat panggilan video call dari Glen hingga jelas terpampang di layar ponselnya sosok Glenn yang terlihat tersenyum.


"Udah selesai?"


"Udah," jawab Syifa senang.


Mungkin malam ini ia akan menghabiskan waktunya untuk banyak bercerita kepada Glen terlebih lagi Syifa yang juga menceritakan tentang apa yang terjadi tadi dalam proses lamaran sang Mama.


Glen kini menjelma menjadi pendengar yang baik. Mendengar semua apa yang diucapkan oleh Syifa dengan rasa yang begitu sangat terbuka. Menjadi pendengar yang baik.


Kini kebahagiaan Syifa hanyalah satu, bisa menghabiskan waktu malamnya bersama dengan Glen, orang yang sangat ia sayangi.


...🕯️🕯️🕯️...