Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-57



...🕯️🕯️🕯️...


"Tumben lo baru datang?" tanya Lena yang baru saja berdiri di samping Syifa dengan motor matic-nya itu.


"Iya sorry, soalnya Syifa ada keperluan sedikit," ujarnya memberikan alasan.


Lalu berapa menit kemudian motor telah melaju. Berpacu pada kecepatan sedang menuju sekolahnya.


"Oh iya nanti lo bakalan datang lagi ke rumah sakit buat ngejenguk Nayla?"


"Iya, kenapa Lena mau ikut?"


"Mau, sih tapi kayaknya gue lagi nggak mood, deh ke rumah sakit."


"Loh, kenapa?"


"Agak aneh aja gitu ngeliat orang sakit. Kayak merinding-merinding gitu," ujarnya membuat Syifa tertawa kecil dengan ujaran sahabatnya itu. Ada-ada saja.


Setibanya Syifa melangkah turun dari motor setelah Syifa memarkirkan motornya itu di area parkiran sekolah yang sudah cukup tamai hingga akhirnya mereka melangkahkan kaki melewati koridor sekolah namun, saat mereka asyik bercakap-cakap dan tertawa kecil akhirnya langkah keduanya terhenti setelah mendapati sosok Kinara dan juga kedua sahabatnya yang berdiri di belakang senantiasa mengikutinya dan mendampingi sepupu dari pacar Syifa itu.


"Lo lagi-" ungkap Lena yang terlihat begitu bosan setelah harus bertemu dengan Kinara.


Sepertinya sepupu dari pacar sahabatnya itu begitu sangat menyebalkan dan selalu saja hobi mengganggu kehidupan orang lain.


Apakah ia tidak punya kesibukan selain mengganggu Syifa.


"Eh, gue nggak ngomong sama lo, ya Len jadi lo harus diam!" tunjuknya seakan mengancam tidak ingin jika sahabat pacar sepupunya itu ikut campur dalam urusannya.


Ia melangkah mendekati Syifa yang terlihat tersenyum. Apakah gadis ini benar-benar menantangnya setelah sok baik kemarin setelah memberikan beberapa bungkus coklat kepadanya tapi tetap saja tidak akan pernah membuat ia tersentuh hatinya.


Hanya dengan beberapa bungkus coklat tidak akan membuat rasa bencinya kepada Syifa yang telah berani memukulnya beberapa hari yang lalu luntur begitu saja.


"Sekarang juga gue mau kita berantem lagi," ujar Kinara setibanya ia di hadapan Syifa yang masih terdiam, berdiri tegak seakan siap untuk menerima pendekatan Kinara.


"Kenapa lo kayak gitu? Senyum-senyum nggak jelas? Lo mau kasih lihat ke gue kalau lo, tuh hebat dan lo enggak takut sama gue?"


"Syifa enggak pernah takut sama Kinara. Syifa hanya takut pada sesuatu hal."


"Apa?"


Syifa tersenyum kecil. Tertunduk sejenak dan kembali mengangkat pandangannya menatap kedua


iris mata Kinara yang terlihat tajam menyimpan berbagai dendam pribadi kepadanya.


Syifa hanya takut mati karena penyakitnya ini.


"Ada satu hal dan itu masalah pribadi. Sepertinya Kinara tidak perlu tah karena itu urusan Syifa," ujarnya membuat Kinara tersenyum sinis.


Ia tertawa bak penjahat. Melipat kedua tangannya di depan dada berlagak sok kuat di hadapan Syifa yang memberikan kesan hangat di sana. Sebuah senyumannya.


"Ini coklat untuk Kinara dan kedua teman Kinara itu," ujar Syifa yang menjulurkan beberapa bungkus coklat kepada Kinara yang kembali terbelalak menatap bingung pada apa yang telah diberikan kepada oleh Syifa untuknya.


"Maksud lo?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya. Tidak mengerti.


"Syifa tau Kinara mau ketemu lagi sama Syifa karena mau diberi coklat, kan sama Syifa."


Mendengar ujaran Syifa, Kinara tertawa kecil. Apa gadis ini telah bercanda.


"Lo gila, ya? Lo pikir gue mau ketemu sama lo karena gue mau coklat?"


"Terus apa?"


"Gue mau berantem sama lo."


"Gue nggak salah!" tegasnya dengan nada yang tertekan.


Ia melangkah maju berusaha mendekati Syifa namun, Syifa tak mundur sedikitpun. Ia hanya tersenyum. Meraih pergelangan tangan Kinara dan meletakkan beberapa bungkus coklat itu ke telapak tangannya.


"Besok kalau Kinara datang lagi ke Syifa berarti Kinara mau coklat dari Syifa lagi," ujarnya lalu ia melangkah pergi sambil menari pergelangan tangan Lena membawanya pergi ke ruangan kelas meninggalkan Kinara yang terlihat begitu sangat kesal.


Niatnya ingin mengajak Syifa lagi berkelahi, tetapi malah diberikan coklat untuk Syifa.


Sepertinya garis itu benar-benar aneh, sangat-sangat aneh. Apa masalahnya gadis itu sehingga tidak ingin melawan lagi padahal ia ingin sekali mengajak pacar sepupunya itu untuk berkelahi dan setelah kejadian perkelahian itu ia akan menyeret Syifa ke dalam kontrol polisi atas dugaan kekerasan tapi dari situ Syifa seakan menolak untuk menghajarnya. Apakah ia tahu apa niat sebenarnya Kinara untuk mengajaknya berkelahi? Ah, ini sangat menyebalkan.


...🕯️🕯️🕯️...


"Lo sadar nggak, sih kalau yang lo lakuin tadi itu keren?" ujar Lena disela-sela mereka belajar.


Syifa yang sejak tadi serius menatap guru wanita yang sedang menjelaskan materi di papan tulis menggerakkan penglihatannya ke arah Lena yang meliriknya.


"Keren apanya?"


"Iya, menurut gue lo itu keren karena lo bisa ngelumpuhin Kinara dengan ujaran lo dan sikap lo yang bener-bener bikin gue nggak nyangka."


"Gue juga lihat kalau Kinara itu kayaknya diem nggak berkutik setelah lo kasih dia coklat. Lo dapat dari mana sih ide sampai bisa punya pemikiran buat ngasih Kinara coklat?"


"Nggak tau. Itu cuman dari hati dan inisiatif Syifa sendiri."


"Menurut Syifa coklat itu, kan melambangkan cinta dan kebahagiaan sementara Kinara itu benci dengan Syifa maka secara tidak langsung saat Syifa memberikan coklat maka disaat itu juga Syifa memberikan cinta kepada Kinara," jelasnya.


"Cinta? Alay banget lo," gurau Lena yang langsung menyikut lengan Syifa yang akhirnya tertawa kecil.


"Terus sejak kapan, sih lo bisa mengucapkan kata-kata puitis kayak gitu? Bikin puisi aja, lah terus dipajang di mading."


Lagi dan lagi Syifa tertawa kecil lalu kembali menulis beberapa materi yang dijelaskan oleh ibu guru di depan sana.


...🕯️🕯️🕯️...


Suara keributan dan kericuhan sekolah Syifa terdengar saat kegiatan pulang sekolah. Suara kendaraan saling bersahut-sahutan di luar sana saat murid-murid sekolah ini melajukan motornya untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Syifa! Syifa!"


Suara teriakan terdengar membuat Syifa menoleh menatap sosok Glen yang terlihat berlari menghampirinya membuat langkah Syifa terhenti bersama dengan Lena yang masih berada di sampingnya.


"Syifa udah mau pulang?" tanya Glen setibanya ia di hadapan Syifa.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo."


"Ngomong apa?"


"Ngomong sesuatu," ujarnya membuat Syifa yang terdiam itu akhirnya menoleh menatap sosok Lena yang terlihat masih diam di sampingnya.


"Ya udah ngomong aja."


"Tapi tempatnya bukan di sini. Gue mau ajak lo jalan."


"Tapi Lena-"


"Nggak apa-apa. Gue pulang sendiri aja," potongnya lalu dengan langkah perlahan ia pergi meninggalkan Syifa dan Glen.


...🕯️🕯️🕯️...