Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-73



...🕯️🕯️🕯️...


1 Minggu Kemudian...


Kupu-kupu kecil berterbangan ke sana ke sini, menghinggapi beberapa bunga-bunga yang bermekaran di sebuah taman rerumputan hijau menjadikan alas pada batang pepohonan yang tumbuh begitu subur.


Di taman ini ada begitu banyak jenis bunga di sana dan juga pepohonan yang rindang menghasilkan suara kicauan burung saat burung-burung kecil menjadikan pohon itu sebagai rumah untuk berteduh.


Beberapa orang-orang dengan pakaian berwarna biru ciri khas pasien di rumah sakit ini terlihat berlalu lalang. Ada yang hanya sekedar berjalan-jalan atau sedang duduk bersantai menikmati udara segar guna mengembalikan kembali kondisinya.


Jika pasien-pasien lain di rumah sakit ini sedang menikmati pemandangan alam dengan terjun langsung di bawah sana kini Syifa sedang berada di balik jendela besar yang berada di dalam ruangan rawat.


Kedua mata sayunya menatap serius ke arah taman indah yang berada di samping rumah sakit.


Syukurnya ruangan yang ia tempati berada di dekat dengan taman jadi ia memiliki wadah penghibur di saat ia merasa kesunyian tatkala di dalam ruangan ini ia hanya sendiri dengan selang infus yang terpasang di tangannya.


Selama ia berada dalam rumah sakit ia tak pernah keluar rumah bahkan sengaja untuk mematikan ponselnya agar kedua orang tuanya tidak menghubunginya terutama juga dengan Glen.


Ia selalu mengirim pesan kepada kedua orang tuanya itu jika di sini jaringan tidaklah baik dan susah untuk mendapatkan sebuah jaringan untuk bisa mengirimkan pesan.


Ia juga beralasan jika harus mendaki bebukitan agar bisa mendapatkan jaringan dan mengirim pesan kepada mereka semua namun, satu hal yang Syifa takutkan yaitu ia takut jika salah satu dari mereka semua menghubunginya lewat video call.


Dia tidak ingin jika mereka melihat dirinya yang menggunakan pakaian rumah sakit.Harus jawab apa jika mereka melihatnya. Semuanya akan terbongkar dan kebohongan ini tidak ada lagi gunanya.


"Syifa!"


Suara terdengar diiringi dengan suara pintu yang dibuka membuat sosok Syifa yang sejak tadi menatap ke arah luar jendela kini menoleh menatap ke arah sosok Lena yang berjalan menghampirinya dengan sebuah sekantong buah untuknya.


"Lo udah makan belum?" tanya Lena dengan perhatian.


Syifa tersenyum.


"Nggak."


"Loh, kenapa?"


"Syifa tunggu Lena," jawabnya.


"Kenapa harus nunggu gue, sih? Lo itu harus makan. Lo harus peduli sama diri lo sendiri," oceh Lena.


Sahabatnya itu yang begitu sangat perhatian membuat Syifa merasa bersyukur memiliki sahabat sepertinya yang baik dan juga penyayang serta perhatian.


Tak terbayang bagaimana rasanya jika ia tidak memiliki sahabat seperti Lena. Syifa yang akan menjadi penenang dalam masa pengobatannya.


"Udah cepetan sini makan biar gue suap!" ajaknya sembari menarik pergelangan tangan Syifa yang kini telah agak mengurus.


Ya, akhir-akhir ini setiap harinya berat badan Syifa menjadi menurun. Syifa juga merasakan jika tubuhnya jauh lebih ringan dari biasanya.


Kini ia duduk di atas tempat tidurnya menatap Lena yang sedang sibuk-sibuknya mengeluarkan beberapa buah dari kantong dan tak lupa juga ia mencucinya sampai bersih dan kemudian sibuk duduk di hadapan Syifa sambil mengupas beberapa buah yang ia letakkan di dalam wadah.


"Oh iya, Lena udah bawa bunga mawar untuk Ayah Syifa?"


Gerakan tangan Lena yang mengupas buah di tangannya itu terhenti. Ia melirik ke arah sahabatnya yang nampak diam menanti jawaban darinya.


"Udah, udah gue kasih tadi pagi."


"Nggak pernah ada hari yang bolong, kan?"


"Kalau roti dengan selai nanas? Syifa juga udah kasih ke pengemis tua itu?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Lena menghela nafas panjang. Ia kembali menghentikan gerakan tangannya mengupas buah apel yang ada di tangannya membuat Syifa akhirnya tertawa kecil.


Ia tahu apa yang dirasakan sahabatnya melalui tatapan dari sahabatnya itu jika sepertinya ia telah bosan dengan pertanyaannya yang selalu terlontar setiap hari.


Dari tatapannya saja Syifa sudah tau kalau Lena telah melaksanakan tugasnya yang selama ini selalu ia lakukan yaitu memberikan bunga mawar untuk sang Ayah dan yang kedua adalah memberikan kotak bekal berisi roti dengan selai nanas di sana.


Dan Lena juga sengaja tidak mengeluarkan suaranya kepada pengemis tua itu agar pengemis tua itu tidak mengetahui jika selama ini yang telah memberikan roti dengan selai nanas kepadanya bukanlah Syifa melainkan dirinya.


Walaupun wanita tua itu selalu bertanya mengapa ia tidak pernah bicara, tetapi ia memutuskan cepat-cepat pergi meninggalkan wanita tua itu dengan kotak bekal berisi roti yang ada di tangannya.


"Nih, cepetan!" ujar Lena yang menjulurkan garpu dengan sepotong buah apel di ujungnya yang telah tertancap.


"Lagi?" tanya Syifa yang menatap ke arah sahabatnya itu.


"Ya iyalah. Lagi dan lagi gue yang bakalan nyuapin lo. Oke, sekarang buka mulut lo!" pintarnya dengan tegas seakan tidak ingin ditolak oleh Syifa.


Dan hal itu membuatkan Syifa hanya mengangkat kedua sudut bibirnya memberikan senyum di sana kemudian ia membuka mulutnya memasukkan sepotong buah apel itu ke dalam mulutnya.


"Gimana enak, kan?" tanya Lena yang dibalas anggukan kepala dari Syifa seakan menunjukkan betapa nikmatnya buah yang telah disuap oleh Lena kepadanya.


"Iya, dong pasti enak soalnya gue yang beli terus gue juga yang suapin lo."


"Betul," jawab Syifa hingga akhirnya mereka berdua saling tertawa.


Selang beberapa menit akhirnya Lena pamit pulang mengumpulkan beberapa sampah kulit buah yang telah ia kupas ke dalam kantong dan membuangnya ke dalam tong sampah.


"Syifa! Lu harus ingat! Selama lo ada di rumah sakit dan gue nggak ada jangan pernah turun dari tempat tidur lo!"


"Gue takut lo jatuh atau sesuatu yang terjadi sama lo dan gue nggak mau tau dan dengar kabar buruk dari lo!" Tunjuknya seakan mengancam.


"Iya, iya Lena," jawabnya berusaha untuk tersenyum pokoknya.


"Lo kalau butuh sesuatu langsung hubungin gue, kalau bisa gue bakalan nginep di rumah sakit tapi gue nggak tau ngasih alasan apa sama Mama dan Papa gue buat bisa datang ke rumah sakit ini."


"Nggak usah minta izin soalnya nanti kedua orang tua Lena malah curiga lagi."


"Iya, tau nggak, sih selama lu ada rumah sakit dan kita berdua berpura-pura buat camping sama kedua orang tua lu itu gue jadi was-was untuk pergi ke sekolah."


"Lo tau nggak bahkan gue harus pakai masker buat ke sekolah biar enggak ada yang lihat muka gue," sambungnya.


Mendengar hal itu membuat Syifa tertawa. Sepertinya ia telah menyusahkan sahabatnya ini. Lena memakai tas selempangnya kemudian menatap lekat-lekat pada sahabatnya itu.


Dia tersenyum diiringi dengan diamnya yang terus memandangi sahabatnya hingga akhirnya ia memeluk tubuh Syifa yang semakin hari semakin mengurus walaupun tidak terlalu nampak namun, Lena bisa menyadarinya.


Sudah lama ia bersama dengan sahabatnya itu dan sesuatu apa yang tidak ia ketahui dari sahabatnya.


"Lu jaga diri, ya! Gue pamit dulu," ujarnya membuat Syifa hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Saat pintu tertutup dan suara langkah Lena yang terdengar menjauh membawa suasana sunyi di dalam kehidupan Syifa kini kembali dalam kebiasaan sehari-harinya. Ia diam dalam keheningan, tak ada penanam setelah Lena pergi.


...🕯️🕯️🕯️...