Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-82



...🕯️🕯️🕯️...


Syifa mengusap air matanya yang mengalir membasahi pipinya. Ia berlari dengan sekuat tenaga mengabaikan kendaraan bermotor yang melaju begitu kencang. Kali ini ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Glen. Perasaannya hancur begitu saja.


Entah mengapa, apakah yang telah ia lakukan ini benar atau salah tapi Syifa hanya ingin berbuat sebuah kebaikan. Syifa tidak ingin membuat Glen menjadi sedih atau bahkan membuat Syifa menjadi malu dengan perubahan fisiknya.


Syifa takut Glen tidak akan menerima semua kekurangan Syifa sekarang. Syifa merasa jika Syifa tidak cocok lagi dengan Glen. Segala kekurangannya tak bisa disatukan dengan kesempurnaan dari Glen.


Hingga jalan satu-satunya adalah ia harus melangkah mundur. Syifa yang masih berlari itu menelusuri koridor rumah sakit menyentuh ganggang pintu ruangannya lalu membuka hingga langkah kaki Syifa terhenti saat dokter Bryan yang terlihat duduk di siring brangkar.


Syifa dengan cepat mengusap air matanya yang mengalir itu. Sekarang ia baru ingat jika dokter Bryan sepertinya telah mengetahui jika dirinya keluar dari rumah sakit sementara ia telah berjanji kepada dokter Bryan untuk menjaga kesehatannya.


"Dokter," bisik Syifa.


Tubuhnya terasa terkunci. Nafasnya seakan menjadi sesak di dalam sana. Ia takut dokter Bryan akan marah kepadanya. Dari sini ia bisa melihat sosok dokter Bryan yang masih tertunduk sambil memasukkan kedua tangannya itu di kedua sisi saku jas berwarna putih ala dokter yang selalu digunakan oleh dokter Bryan.


"Kemari!" ujar dokter Bryan membuat Syifa akhirnya melangkahkan kaki mendekati sosok dokter Bryan yang masih terdiam di sana.


Entah mengapa suasana di ruangan ini terasa panas. Yah, mungkin karena kegugupannya.


"Dari mana kamu?" tanya dokter Bryan dengan dingin.


Kini pandangannya menatap serius ke arah Syifa yang terlihat tertunduk takut untuk menjawab.


"Maaf dokter, Syifa-"


Syifa menjeda ujarannya. Ia tertunduk lalu memainkan jemari tangannya dengan gugup. Apakah ia harus jujur.


Suara hembusan nafas berat terdengar Syifa tau apa yang dipikirkan oleh dokter Bryan sekarang. Dokter Bryan mengangkat pandangannya kembali menatap sosok Syifa yang masih berdiri sembari sesekali mencuri pandang untuk menatap ke arahnya.


"Sekarang dokter mau tanya. Sudah berapa jam kamu ada di luar dan membiarkan infus terlepas di pergelangan tangan kamu?"


Syifa meneguk salivanya. Bibirnya bergetar begitu sangat gugup untuk mengatakannya.


"Maaf dokter tapi Syifa hanya melakukan sesuatu. Ada sedikit keperluan."


"Keperluan apa? Kalau kamu ingin membutuhkan sesuatu maka kamu bisa meminta bantuan oleh siapa saja."


"Kepada siapa dokter?"


"Sahabat kamu, Lena."


"Syifa tau dokter tapi ini masalah pribadi, dokter. Syifa nggak mungkin ajak sahabat Lena."


"Tapi dia ada dan dia bisa menemani kamu untuk pergi. Baik, sekarang kamu harus menjawab! Selama kamu di luar, apa yang kamu lakukan?"


"Tidak ada dokter Syifa hanya jalan-jalan-"


"Jalan-jalan?" potong dokter Bryan yang mengangkat sedikit alisnya.


Syifa melipat bibirnya ke dalam, sepertinya ia telah salah bicara. Dokter Bryan kembali menghela nafas dan kali ini cukup panjang. Ia bangkit dari siring brangkar lalu melangkahkan kakinya mendekat ke arah dokter.


"Syifa, sekarang dokter mau tau kenapa kamu keluar dari rumah sakit padahal dokter sudah bilang kalau kamu harus istirahat dengan total."


"Maafkan Syifa, dokter tapi Syifa benar-benar nggak berniat buat keluar dari rumah sakit. Syifa hanya ada sedikit keperluan."


"Keperluan apa?"


Kini Syifa terdiam. Ia melangkahkan kakinya menuju ke arah jendela yang besar lalu menatap pemandangan taman yang berada di bawah sana.


"Kebiasaan Syifa dulu adalah memberikan bunga mawar untuk Ayah."


"Ayah?"


"Ayah kandung Syifa, bukan suami dari Mama Syifa yang sekarang."


"Oh," jawab dokter Bryan lalu menganggukan kepalanya.


"Syifa hanya ingin membuat Ayah Syifa itu bahagia dokter dengan memberikan dia bunga mawar serta kartu ucapan."


"Tapi Syifa senang, Syifa senang kalau melihat Ayah tersenyum walaupun senyum itu bukan untuk Syifa."


"Dokter tau, Syifa merasa kalau Syifa kayaknya udah nggak lama lagi."


"Dokter Bryan mengerti maksud kamu."


Syifa tertawa kecil. Ia menarik nafas dalam-dalam memejamkan kedua matanya yang kemudian meneteskan air mata yang mengalir ke pipinya hingga berakhir menetes dari dagunya.


"Syifa sekarang sadar, ada begitu banyak perubahan yang terjadi pada Syifa. Rambut Syifa udah nggak ada, dokter. Tubuh Syifa udah kurus, berat badan Syifa turun, wajah Syifa pucat dan-"


"Syifa," potong dokter Bryan membuat Syifa terdiam.


"Dengar! Ini sudah menjadi efek samping dari kemoterapi, bukankah dokter sudah bilang kalau ini semua adalah bagian dari efek samping."


"Iya dokter Syifa tahu tapi apakah dokter pernah bilang kalau terkadang kemoterapi tidak berhasil-"


"Tapi ada yang berhasil," potongnya lagi.


"Syifa tahu dokter tapi apakah salah jika Syifa hanya berniat berbuat baik di saat-saat seperti ini. Syifa hanya ingin melihat Ayah tersenyum saat Syifa masih bisa dan masih sanggup memberikan kebahagiaan itu."


"Hanya itu?" tanya dokter Bryan.


"Masih banyak dokter."


"Lalu apalagi?"


"Syifa juga melakukan satu hal kecil lagi."


"Apa?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Syifa tersenyum. Ia tertunduk lalu kemudian menatap ke arah dokter Bryan yang masih menatapnya dengan serius.


"Itu rahasia."


"Oh ya?"


"Iya."


"Baik, sekarang berbaring di tempat tidur dan dokter akan menyuruh perawat untuk kembali memasang infus. Cepat berbaring!" perintahnya membuat Syifa tersenyum.


Tanpa sebuah penolakan ia segera melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya. Membaringkan tubuhnya hingga tak berselang lama salah satu perawat yang mungkin telah disuruh oleh dokter Bryan masuk ke dalam ruangan dan memasankan infus di pergelangan tangannya hingga tak berselang lama akhirnya perawat itu melangkah keluar menyisakan Syifa dan dokter Bryan yang kini berada di dalam ruangan.


"Sekarang dokter mau kasih tau kalau ini yang terakhir kalinya kamu keluar sendiri."


"Tapi dokter, Syifa sangat bosan di dalam ruangan ini lagi pula apakah salah kalau Syifa hanya menikmati udara segar yang ada di luar sana?"


"Syifa juga bosan hanya berada di dalam ruangan ini," sambungnya.


"Saya tau tapi apa dokter pernah dengar kalau rasa bosan bisa membuat kesehatan semakin memburuk bukan."


Mendengar ujaran Syifa membuat dokter Bryan terdiam hingga tak berselang lama ia mengangguk dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Yah, betul. Kalau begitu kamu boleh keluar."


"Benarkah?" tanya Syifa dengan mata yang berbinar-binar.


"Ya benar tapi-"


"Tapi apa dokter?"


"Kalau kamu mau keluar kamu harus panggil saya. Saya akan mengantar kamu ."


Mendengar ujaran dokter Bryan membuat kedua mata Syifa membulat. Baru saja ia ingin berkomentar dokter Bryan malah melangkah ke luar dari ruangan meninggalkan Syifa yang kini masih terdiam dengan wajah tak menyangka di atas tempat tidurnya.


...🕯️🕯️🕯️...