Happy Birthday To Me

Happy Birthday To Me
Happy Birthday To Me-52



...🕯️🕯️🕯️...


Syifa menghentikan laju motornya itu tepat di hadapan pekarangan rumah Lena yang terlihat masih tertutup pintunya di sana.


"Kayaknya Mama sama Papa gue belum balik dari kerja, deh," komentar Lena setelah memperhatikan ke arah pintu rumahnya.


"Iya, kayaknya."


"Eh, lo nggak mau mampir?"


"Boleh tapi lain kali aja, ya. Syifa soalnya buru-buru."


"Mau ke mana?"


"Mau ke rumah sakit."


"Rumah sakit? Ngapain? Hari ini lo ada pemeriksaan lagi?" tebaknya.


"Nggak."


"Terus apa, dong?"


"Syifa mau ketemu sama teman Syifa."


"Teman? Oh, lu punya teman baru gitu? Terus lu mau ninggalin gue sampai-sampai lu enggak mau ngajak gue buat ke rumah sakit?" tanya Lena sambil melipat tangannya di depan dada.


"Ah, bukan gitu. Syifa mau ketemu sama teman baru. Dia juga sakit kayak Syifa."


"Sakit kanker otak maksud lo?"


"Iya. Oh iya emangnya Lena mau nemenin Syifa ke rumah sakit terus ketemu sama teman Syifa itu? Nanti Syifa kenalin."


"Emang boleh?"


"Boleh, kalau Lena mau."


"Ya mau, dong. Lagi pun gue juga bosan di rumah sendiri. Gue nggak ada yang nemenin. Gue ikut, ya?"


"Boleh. Yuk!"


"Tunggu dulu! Gue tuker seragam gue dulu."


Baru saja Syifa ingin menjawab tiba-tiba Lena sudah berlari pergi meninggalkan Syifa yang mengatupkan bibirnya. Gadis itu sudah berlari meninggalkannya.


Syifa melangkahkan kakinya dengan pelan sambil tangannya yang menyentuh satu persatu bingkai foto yang terpanjang di dinding.


"Kayaknya Mama sama Papa Lena itu sayang banget, ya sama Lena."


"Nggak, sih. Menurut gue Mama sama Papa gue itu lebih sayang sama abang gue si Leno," jawabnya sambil menyisir rambutnya di depan cermin.


Syifa kini terdiam menatap kembali foto-foto yang terpajang di dinding kamar Lena.


"Oh, iya ngomong-ngomong lo udah kasih tau sama Mama lo mengenai penyakit lo itu?"


"Nggak, ah. Lain kali aja kalau gue ada waktu. Soalnya Syifa sekarang belum siap."


"Sampai kapan?"


Syifa mengedikkan bahunya.


"Syifa juga nggak tau kapan."


Syifa bisa saja memberitahu hal itu kepada Mamanya tapi rasanya Ia belum siap.


"Syifa enggak mau buat mama jadi sedih dan Syifa juga nggak mau buat Mama jadi kepikiran sama penyakit Syifa. Lagi pula Mama itu punya banyak kerjaan. Syifa enggak mau ganggu pikiran Mama."


Lena membalikkan tubuhnya. Menyandarkan tubuhnya itu di meja riasnya menatap Syifa yang masih mendongak menatap bingkai-bingkai foto yang terpasang di dinding kamarnya.


"Lu bener juga, sih tapi apa iya lu lebih mentingin perasaan orang lain daripada perasaan lo juga."


"Lu nggak ingin apa diperhatiin sama semua orang. Kalau mereka tau lo sakit pasti mereka bakalan perhatian sama lo.


"Tapi Syifa nggak mau mereka sayang semua Syifa."


Gerakan tangan Lena yang menyisir rambutnya terhenti setelah mendengar ujaran Syifa.


"Kalau mereka sayang sama Syifa karena penyakit itu berarti mereka tidak sayang tapi malah kasihan. Syifa tidak mau," ujarnya.


...🕯️🕯️🕯️...


Syifa melangkahkan kakinya bersama dengan Lena melewati koridor rumah sakit. Beberapa pintu-pintu ruangan telah mereka lewati bahkan sesekali Lena sempat mengintip menatap setiap orang yang berada di dalam ruangan.


Entah mengapa tingkat kekepoan sahabatnya itu begitu sangat tinggi hingga rela menjinjit untuk melihat orang yang berada di dalam sana. Tak jarang pula ia menoleh kiri kanan menatap perawat dan dokter yang melangkah melewatinya membuat kepala Lena bergerak menatap ke arah mana mereka melangkah pergi.


"Syifa!"


"Nanti kalau gue udah tamat SMA, gue mau jadi dokter, ah. Kalau bukan dokter gue mau jadi perawat yang penting bagian kesehatan."


"Kenapa, kok tiba-tiba mau jadi dokter atau perawat?"


"Lu nggak lihat baju mereka, tuh keren-keren, loh terus-" ujaran Lena terhenti membuat Syifa menatap serius.


"Dokter-dokter di sini ganteng-ganteng, ya. Gue nggak sabar, deh buat bisa tamat sekolah terus kuliah dan jadi dokter."


"Kalau gue jadi dokter atau perawat, gue bakalan ngerayu dokter-dokter yang ada di sini. Gue bakalan cari yang paling ganteng kalau perlu gue incar si dokter Bryan itu."


Kedua mata Syifa membulat setelah mendengar ujaran Lena yang baru saja ia bisikkan.


"Apa Lena bilang?" Tatap Syifa tidak percaya saat Leni lagi-lagi menyebut nama dokter Bryan itu.


"Iya dokter Bryan. Ganteng banget, kan? Oh iya lo tau nggak, sih ruangannya dimana?" bisik Lena membuat Syifa meneguk salivanya. Kalau sampai Syifa memberitahu dimana ruangan dokter Bryan itu mungkin ini akan menjadi masalah.


Syifa tau bagaimana sikap Lena yang begitu sangat lincah jika masalah pria apalagi mengenai dokter Bryan. Ah, bisa malu dia jika Lena harus berdiri di depan ruangan dokter Bryan.


"Ruangannya dimana, sih?" tanya Lena disela-sela mereka berjalan.


Sepertinya sejak tadi ia melangkah tetapi mereka belum juga sampai.


"Itu di depan sana!" tunjuknya.


Mereka menghentikan langkah lalu berniat untuk membuka pintu namun, baru saja Syifa hendak memutar ganggang pintu tiba-tiba saja pintu itu ditarik dari dalam hingga menampilkan sosok wanita tua yang kemarin sempat bertemu dengan Syifa.


Ya wanita itu adalah Nenek dari Nayla.


"Halo Nek!" sapa Syifa dengan senyum membuat Nayla yang berada di dalam ruangan menggerakkan kepalanya berusaha melihat sosok Syifa yang berada di luar.


"Oh, Syifa. Kamu datang diwaktu yang tepat. Nenek baru saja mau pergi ke rumah untuk ambil makanan."


"Iy, Nek. Syifa mau temenin Nayla."


"Oh ya sudah. Ini teman kamu?"


Tunjuknya pada Lena membuat Lena langsung mencengirkan gigi.


"Nama saya Lena temannya Syifa, iya kan Syifa?" sahut Lena dengan cepat menyikut perut Syifa membuat Syifa dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Oh begitu silahkan masuk! Kalau ada Lena pasti ruangan rawat Nayla jadi ramai dan Nayla tidak kesepian lagi."


Setelahnya Syifa tersenyum menatap kepergian Nenek dari Nayla yang melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.


Ia menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Nayla yang terlihat tersenyum.


"Nayla pikir Syifa enggak bakalan datang.


"Masa Syifa enggak datang. Syifa, kan udah janji sama Nayla."


"Tapi Nayla pikir Syifa sibuk."


"Sesibuk-sibuknya Syifa, Syifa tidak akan melanggar janji."


Dengan pelan Nayla menggerakkan kedua indra penglihatannya itu menatap ke arah sosok Lena yang sejak tadi kedua matanya merambah menatap ke sekeliling.


"Syifa!" bisik Nayla yang mendekatkan wajahnya membuat Syifa dengan perlahan menggerakkan kepalanya itu mendekatkan telinganya ke arah bibir Syifa.


Nayla yang berbisik disana, "Itu sahabat kamu yang sakit itu ?" bisiknya membuat kedua mata Syifa membulat.


"Itu memang sahabat Syifa tapi-"


"Salam kenal. Aku Nayla sahabat barunya Syifa," ujar Nayla yang menjulurkan tangannya membuat kedua mata Lena yang sejak tadi merambah ke segala arah kini menatap ke arah jemari tangan Nayla yang terjulur ke arahnya.


Lena tersenyum. Ia menggenggam dengan semangat jemari tangan Nayla dengan sangat hangat menyambut pengenalan itu dengan suasana yang sangat hangat.


"Gue Lena, sahabat lamanya Syifa," jawabnya.


"Jadi salah satu sahabat Syifa, Lena?" tanya Nayla.


"Syifa itu cuman punya satu sahabat dan sahabatnya itu cuma Lena. Iya, kan Syifa?" ujarnya sambil tersenyum memperlihatkan giginya tersusun rapi itu membuat Nayla menganggukkan kepalanya.


Rupanya sahabat ini yang dimaksud oleh Syifa dan dia pula yang sedang sakit itu. Gadis ini yang dimaksud dan gadis yang mendiami penyakit kanker otak sama sepertinya.


"Oh jadi ini sahabat Syifa? Yang Syifa maksud dulu?"


"En-"


"Iya," potong Lena yang langsung membuat Syifa yang memukul jidatnya.


Sepertinya ini akan menjadi kesalahpahaman.


...🕯️🕯️🕯️...