
Jam istirahat pun tiba. Kali ini dijadikan kesempatan untuk Nadia menjelaskan kepada Mirna tentang apa yang terjadi selama ini dengan Ricky.
Nadia bercerita panjang lebar, mulai dari pertemuan tak sengaja nya dengan Ricky di toko buku, sampai buku novel yang akan dia beli malah dibawa Ricky terlebih dulu.
Kemudian kejadian tentang janji berrtemu di taman depan ruang serbaguna untuk mengembalikan buku novel yang gagal, hingga akhirnya Nadia merasa kecewa untuk kedua kalinya kepada Ricky.
Terus kejadian dimana ia pergi ke perpustakaan umum, dan untuk kedua kalinya ia bertemu dengan Ricky tanpa Sengaja.
Nadia menjelaskan kepada Mirna, dari pertemuan inilah ia mengetahui kenapa Ricky batal menepati janji nya untuk mengembalikan buku novel itu, yaitu karena Oma dari Ricky yang sedang masuk rumah sakit karena sakit yang dideritanya.
Kemudian perjalanannya ikut menjenguk Oma Ricky, karena Nadia merasa bersalah kepada Ricky telah menuduhnya yang macam-macam. Dan akhirnya sampailah pada kisahnya yang diantar pulang kerumah oleh Ricky.
Dari penjelasan yang diceritakan oleh Nadia ini, membuat Mirna akhirnya tidak mempunyai alasan untuk marah kepada Nadia.
"Elo beruntung banget Nad, bisa bertemu Ricky berdua aja dengan tanpa Sengaja, bisa bertemu beberapa kali malah, kenapa dihari-hari gue, gak ada kejadian yang kayak gitu yaaa," Mirna menggerutu lemas sambil menopangkan kedua tangan ke dagunya.
"Eh sedekat apa hubungan elo Ama Ricky Nad? apakah elo udah pernaaaaah-? tanya Mirna ke Nadia, dengan mengerucutkan kedua tangannya dan memonyongkan-monyongkan bibirnya.
"Ah kamu Mir, apa-apaan sih jangan berpikiran ngeres deh, udah ah ayo pergi beli minuman ke kantin, sebelum bel berbunyi. Aku haus Mir, habis cerita panjang lebar barusan," ajak Nadia sambil berdiri menarik tangan Mirna, untuk segera pergi mengikutinya.
...
Di kantin Nadia dan Mirna bertemu dengan Ricky yang sedang makan dan ngobrol bersama teman-temannya. Ada Rani dan Anggi (teman Nadia yang populer disekolah karena kecantikannya) juga disana.
Ricky yang melihat kedatangan dari Nadia terus bergegas berdiri menghampirinya dan menawarkan sekaleng softdrink untuk Nadia, yang kemudian disusul protes dari Mirna.
"Ricky, buat akyu mana nih? kok cuma Nadia aja yang ditawarin softdrink! aku juga kan mauuuuu," omongan Mirna yang ceplas-ceplos sambil cengengesan menggoda Ricky.
"sory, aku gak memperhatikan jika ada kamu disitu tadi mir, hehe, iya ... ya, nih satunya buat Nadia dan satunya lagi buat kamu mir," Ricky menyerahkan 2 kaleng softdrink ke Nadia dan Mirna.
Hal itu sontak membuat teman-teman Ricky tadi membelalakkan kedua matanya, terutama Rani dan Anggi.
Rani dan Anggi saling bertatapan pandang, melihat tentang apa yang dilihatnya barusan. dalam hati mereka mulai bertanya-tanya, ada hubungan apakah Ricky dan Nadia.
Bisa-bisanya Ricky langsung menghampiri Nadia dan membelikannya minuman. Padahal selama ini yang mereka ketahui, Nadia dan Ricky jarang ngobrol bareng dikelas.
Dan dari sepengetahuan mereka, Ricky itu sosok anak yang dingin, gak terlalu suka banyak omong. Bahkan pada saat istirahat ngobrol-ngobrol dikantin seperti ini saja, dari tadi Ricky hanya makan, minum dan diam menyimak para teman-temannya yang asyik mengobrol.
Ricky yang masih berdiri bersama Nadia dan Mirna, mencoba menawarkan duduk supaya mereka bisa ikut duduk bergabung dengan teman-teman Ricky tadi.
Karena Nadia gak punya pikiran yang aneh-aneh dan menganggap mereka semua juga termasuk teman sekelasnya, jadi Nadia dan Mirna mengikuti saja penawaran dari Ricky Tersebut.
Ricky mempersilahkan Nadia untuk duduk disebelahnya. Andre yang semula duduk disebelahnya, disuruh Ricky untuk bergeser dari tempat duduknya, agar Nadia bisa duduk disana, yang kemudian diikuti oleh Mirna.
Di kantin tersebut terdapat kursi-kursi kayu yang memanjang, cukup untuk dibuat duduk oleh beberapa orang.
Karena Ricky lebih memilih duduk ditengah-tengah. dan Nadia justru dengan mudahnya bisa duduk bersebelahan dengan Ricky tanpa susah payah.
"Uh, sialan! kenapa dia yang harus duduk didekat Ricky, emang apa kelebihan Nadia, daripada gue, bisa-bisanya dia dapat dengan mudahnya menarik simpati Ricky!" bisik Rani ke Anggi yang merasa jengkel.
"Ia bener Ran, cewek kayak dia mana pantes dibanding-bandingkan sama elo. Dia cantik enggak, populer enggak, kaya juga enggak. Apanya sih yang lebih dari dia!" timpal Anggi mengompor-ngompori Rani.
Hati Rani semakin tambah panas mendengar perkataan dari Anggi tersebut. Rani menatap Nadia dengan pandangan sinis, sambil berkata, "eh elo Nad, uang saku Lo gak cukup ya Nad, nih aku mau kasih kamu makanan juga sekalian biar kamu bisa makan dengan kenyang!"
Mendengar perkataan dari Rani tersebut, Ricky menghentakkan tangannya ke meja dan berkata dengan nada tertahan, "Nad, kamu mau aku belikan cemilan/makanan lainnya juga gak? kebetulan hari ini aku lagi ada rejeki, uang hasil tabungan ku puluhan tahun yang aku bongkar kemarin."
Tujuan Ricky ngomong seperti itu adalah untuk mengalihkan perasaan Nadia agar tidak merasa sakit hati, dan tujuan lainnya adalah supaya dapat menyindir Rani secara halus.
Nadia yang sedari tadi mendengar perkataan dari Rani maupun Ricky, tak bisa berkata apa-apa. Nadia hanya duduk terdiam.
Sedangkan Mirna akhirnya ikut berkomentar terhadap omongan yang dikatakan Rani tadi, karena ia tak terima sahabatnya dibicarakan seperti itu.
"eh maksud elohh? maksud dari omongan elo tadi tuh apaan Ran? jangan berlagak sok kaya deh loh Ran. Uang saku juga, hasil ngemis dari orang tua aja, sok-sokan gaya Lo!" kata Mirna ketus.
"Mendengar perkataan dari Mirna barusan, si Rani pun merasa terhina."
"Eh Mirna, gak usah ikut campur deh Lo! asal elo tahu ya, gue tuh dari sebelum gue lahir sampai sekarang ini, gue tuh emang anak orang kaya. Gue emang udah tajir dari Sononya! gak kayak temen Lo itu!" ujar Rani dengan nadi tinggi karena marah dan tak terima.
Perang mulut terjadi antara Rani dan Mirna. Merasa bersalah, Nadia akhirnya menyuruh Mirna menyudahi pertengkaran itu, menyuruh agar si Mirna gak usah ngeladeni omongan dari si Rani.
Ricky pun sempat tersulut emosi sesaat karena si Rani yang sudah bertingkah kelewat batas dengan meludahi tubuh Nadia.
Ricky mengebrak meja untuk yang kedua kalinya. Namun dia mencoba untuk bersikap tenang kembali, kemudian dia berdiri dan menggandeng tangan Nadia untuk segera meninggalkan tempat itu.
Cara Ricky yang pergi meninggalkan kantin dengan menggandeng tangan Nadia, membuat hati dan akal Rani justru semakin memanas.
"Kurang ajar! pelet apa yang udah diberikan Nadia ke Ricky? sehingga Ricky memilih dekat dan membela gadis sialan itu!" umpat Rani.
"Kenapa semakin hari, sikap Ricky semakin perhatian, bahkan disaat seperti ini pun dia berani membela Nadia terang-terangan dihadapan teman-temannya."
Sikap yang dilakukan oleh Ricky ini, semakin membuat Nadia tidak mengerti. Sebenarnya Ricky melakukan semua ini dengan sadar atau gak? atau memang ternyata sebenarnya, diam-diam Ricky pun ada rasa kepada Nadia?
Karena malu kepada teman-teman disekolah, Nadia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Ricky.
Namun hal itu sia-sia saja, karena Ricky menggenggam tangan Nadia terlalu erat. Wajah Nadia semakin memerah karena begitu malunya.
Ia berusaha menundukkan wajahnya dari tatapan mata teman-teman sekolahnya yang penasaran. Sebenarnya dia ingin menutupi wajahnya itu, namun tidak ada benda yang dapat dipegangnya olehnya.
...----------------...