
Saat ini pembelajaran dikelas sudah usai, siswa siswi kelas 2B, menyambutnya dengan riang gembira, karena sudah waktunya mereka untuk istirahat.
Sebagian diantara mereka ada yang istirahat di luar kelas dan sebagian masih di dalam kelas, mereka tetap bertahan didalam kelas hanya untuk mengenal lebih jauh siswa pindahan baru yaitu Farrel.
Jam istirahat ini Nadia tidak pergi istirahat bersama dengan Ricky, karena Ricky selaku ketua kelas sedang diundang rapat pengurus OSIS. Untuk membahas diadakannya reorganisasi pengurus OSIS.
Karena Ricky sedang pergi Nadia jadi males untuk pergi ke kantin. Walaupun ada beberapa teman sekelas yang mengajaknya pergi bersama ke kantin.
Tapi ditolak Nadia secara halus dan sopan, dan akhirnya istirahat kali ini, digunakan Nadia hanya dengan duduk dikelas sambil membaca-baca buku.
Nadia juga masih enggan untuk pergi berkenalan dengan murid baru si Farrel. Nadia bahkan tidak menggubris kehadiran siswa-siswi lainnya yang datang mengerumuni Farrel.
Nadia menganggap hal ini sangat lucu. Rasanya kayak Dejavu, seperti kisah Ricky waktu menjadi murid pindahan baru juga.
Disela-sela kerumunan Farrel melihat seorang cewek yang sedari tadi tidak beranjak dari tempat duduknya, iya, yang dilihat oleh Farrel adalah Nadia.
Terbesit rasa penasaran dihati Farrel terhadap Nadia. Didalam hatinya bertanya-tanya, kenapa ada juga orang yang tidak menggubris dirinya, melihatnya saja tidak, apalagi mengajaknya berkenalan.
Farrel merasa pasti ada salah dengan cewek yang satu ini. Farrel bertanya kepada teman sebangkunya Toni. "eh Ton, siapa sih cewek yang duduk sendirian dibangku dekat jendela itu?"
Toni dan Farrel melihat ke arah Nadia, yang kebetulan pada saat itu hanya dia satu-satunya yang duduk sendirian didekat jendela.
Toni pun menjawab, "oh itu Nadia. Memangnya ada apa Rel? kenapa kamu menanyakannya? apa kamu suka ya, dengannya?"
"Suka? kenal aja enggak kok bisa suka, kamu ini ngacok ya Ton?" jawab Farrel.
"Lah terus kalau gak suka kenapa kamu menanyakan Nadia?" ucap Toni bingung.
"Aku tuh penasaran aja. Dari tadi kan banyak orang-orang yang pengen kenalan denganku, terutama cewek-cewek di kelas ini. Tapi kenapa dia tidak merespon sama sekali ya, apa penglihatannya kabur? atau otaknya memang konslet ya? masa ada sih, cewek yang gak tertarik dengan pesonaku ini?" jawab Farrel sok kepedean.
Sekedar info aja, Farrel ini adalah tipe cowok yang selengekan, ngomong ceplas-ceplos, gak bisa diem, tapi dia juga tipe orang yang humoris dan percaya diri.
"Mungkin dia lagi males aja kali? Oh ya, Nadia itu udah punya cowok, namanya Ricky. Ricky itu juga murid pindahan baru sama kaya kamu. Cuma pindahnya dia itu, pas waktu awal masuk sekolah kenaikan kelas kemarin?" kata Toni.
"Dan si Ricky itu juga termasuk murid populer, berprestasi, pintar, anak orang kaya dan tertampan disekolah ini lho, karena dia blesteran Sunda Inggris," sambung Toni.
"Oh ya, masa ada sih orang yang tampannya melebihi aku? nanti aku coba amati dengan seksama lagi wajahnya si Ricky itu," kata Farrel sambil *******-***** kedua jari tangannya.
"Bener Rel, nanti akan aku kasih tahu yang mana Ricky itu," ucap Toni.
"Okay, hei Ton, aku haus nih, kita ke kantin aja yuk. Aku belum tahu dimana letak kantinnya, jadi kamu harus anter aku kesana, nanti kamu aku traktir deh! dan untuk kalian semua, kenalannya disambung nanti aja ya, aku mau ke kantin dulu," kata Farrel ke Toni dan para siswi-siswi yang mengerumuninya.
Para siswi-siswi yang mengerumuni Farrel langsung bubar seketika. Farrel dan Toni langsung berdiri dan meninggalkan tempat duduknya untuk pergi ke kantin.
Saat ini Nadia masih duduk sendiri tanpa kehadiran Ricky. Karena rapatnya masih belum selesai. Dan guru pengampu mata pelajaran jam ini pun masih belum masuk ruangan kelas.
Hal ini dimanfaatkan oleh si Farrel yang sedari tadi masih penasaran dengan Nadia, untuk menghampirinya.
Si Farrel langsung saja mendatangi bangku Ricky yang kosong untuk mendekati Nadia, dan ia langsung duduk disana.
Farrel yang dasarnya memang orangnya pede-an, tanpa basa-basi langsung berkata kepada Nadia, "hai, kamu sendirian ya? Boleh kenalan gak? kita kan teman sekelas jadi harus saling mengenal satu sama lain dong."
"Eh i-ya, aku sendiri. Teman sebangku si Ricky sedang mengikuti rapat OSIS tadi dan belum kembali," kata Nadia yang merasa canggung atas kehadiran si Farrel yang berani itu.
"Kalau gitu, sekarang kita kenalan ya. Perkenalkan namaku Farrel Candra Wijaya, kalau kamu siapa? Aku lihat sedari tadi hanya kamu dan teman sebangku mu di kelas ini, yang belum kenalan denganku," tanya Farrel.
"Emmmm, maaf tadi aku belum sempat berkenalan denganmu, karena dari tadi kamu selalu dikerumuni banyak orang. Rasanya kurang nyaman aja," jawab Nadia dengan wajah yang terlihat agak gugup.
"It's okay, no problem. Tapi sebelumnya kasih tahu namamu dulu dong, kamu dari tadi belum ngasih tahu namamu?" desak Farrel.
"Oh maaf, emmmm, kalau namaku ... Na- Na-dia Hanina Far-ha, biasa di-panggil Na-dia," jawab Nadia terbata-bata.
"Ouh, Nama yang indah sesuai dengan pemiliknya," puji Farrel.
Wajah Nadia tertunduk, ia merasa malu dan canggung mendengarkan perkataan dari Farrel. Sebenarnya Nadia ingin menghindari Farrel, tapi harus menghindar dengan cara apa?
Nadia merasa tidak enak, karena ia menyadari bahwa teman-teman sekelasnya sejak tadi menatap mereka berdua, dengan tatapan curiga.
"Maaf Farrel, apa gak sebaiknya kamu kembali ke tempat dudukmu. Aku merasa gak enak dengan semua teman-teman sekelas kita," kata Nadia.
Farrel kemudian melihat sekeliling kelas. Ternyata yang dikatakan Nadia memang benar. Tapi bukan Farrel namanya kalau hanya hal sepele seperti ini, ia langsung goyah. Tingkat percaya diri si Farrel ini adalah tingkat dewa.
Si Farrel gak peduli dengan tatapan-tatapan mata itu, justru ia malah semakin jadi, untuk berbincang-bincang dengan Nadia.
"Ah itu hanya perasaanmu aja, mungkin itu karena pesona dan aura ketampanan wajahku ini, sehingga membuat mereka ingin selalu melihat wajahku setiap waktu. Oleh karena itu mereka tidak sengaja melihat ke arahmu juga Nadia," kata Farrel ceplas-ceplos.
"Ah, udah gak usah dipikirin, seharusnya kamu itu merasa bangga, karena kamu bisa tertular aura positif dari aku Nad," sambung Farrel dengan santainya.
"Ih ni anak, pede-nya ternyata benar-benar tingkat dewa, gak tahu malu banget sih, aduh aku harus gimana nih?" gumam Nadia lirih.
Saking lirihnya, sampai-sampai orang yang berada disampingnya pun, tidak akan bisa mendengar gumaman dari Nadia itu.
Saat ini Nadia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dan minta tolong sama siapa? agar terhindar dari gosip-gosip yang tidak bertanggung jawab.
...----------------...