Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 21 Derita dan Berkah



Sekitar pukul 23.00 wib, taxi yang ditumpangi oleh Nadia dan Ricky pun berhenti tepat di depan rumah Nadia. Ricky segera turun untuk membukakan pintu taxi.


Sebelum berpamitan pulang Ricky ingin memastikan Nadia dapat masuk ke rumah terlebih dahulu dengan aman. Setelah pintu rumah Nadia dibukakan, Ricky pun segera pergi meninggalkan rumah Nadia, bersama taxi yang masih setia menunggunya didepan rumah Nadia.


Ketika Di dalam rumah ibu Nadia terkejut melihat penampilan anak gadisnya itu. Betapa cantiknya Nadia. Ibu Nadia tidak menyangka, Nadia bisa berpenampilan seperti anak orang kaya.


"Nadia, ini bener kamu? Cantik banget kamu nak, apakah Mirna yang membuat mu menjadi seperti ini Nad?" tanya Ibu Nadia.


Lalu Nadia pun menjawab, "Iya, masa Ibu lupa sih, sama anaknya sendiri. Ibu, semua penampilan ku ini mulai dari atas sampai bawah, adalah memang dari Mirna. Ia yang telah membelikan dan memfasilitasi semua riasan ku ini, Bu ..."


"Mirna memang anak yang baik, walaupun dia kaya tapi dia tetap mau berteman dengan mu, tanpa membeda-bedakan status kekayaan. Susah mencari sahabat yang baik seperti itu Nad," tutur Ibu Nadia.


"Memang benar, Bu ... Mirna adalah sahabat terbaikku, semoga saja persahabatanku dan ia, kan tetap abadi," ucap Nadia.


Terlintas dibenak Nadia tentang sikap Mirna yang berubah kepadanya, apakah hubungan persahabatannya dengan Mirna akan baik-baik saja kedepannya, atau justru akan berakhir begitu saja.


Lamunan Nadia disadarkan kembali oleh pertanyaan ibunya, "bagaimana acara pesta tadi Nad, meriah ya?"


Acara pesta tadi memang sangat mewah, megah dan meriah, Bu ... kan memang itu acara pesta ulang tahunnya anak orang kaya, Bu ..." jawab Nadia sambil tersenyum.


"Apakah kamu benar-benar menikmatinya, Nad? Perasaan ibu sedari tadi kok rasanya tidak tenang," ibu Nadia langsung memeluk anak gadisnya itu.


"Ibu sangat mencemaskan dirimu Nad, takut terjadi apa-apa, makanya ibu tadi langsung menelpon kamu Nad," ungkap kekhawatiran Ibu Nadia.


"Iya, Bu ... semua nya baik-baik saja, mungkin itu hanya perasaan Ibu saja. Buktinya aku sekarang baik-baik saja dan aku benar-benar happy menikmati kemeriahan acara pesta tadi, Bu ..." jawab Nadia yang mencoba menutup-nutupi kejadian yang sebenarnya, supaya ibunya tidak khawatir lagi.


Nadia membalas pelukan dari ibunya itu dengan lembut. Sang ibu mengecup kening Nadia tanda ungkapan sayang kepada buah hati tercintanya.


"Syukurlah, Nad kalau begitu ... Ibu senang, kamu bisa juga ikut merasakan bagaimana mewah dan meriah nya acara pesta orang kaya, selama ini kamu tidak pernah merayakan pesta ulang tahun mu, ayah dan ibu malu, tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kamu Nad,"


Kesedihan mulai tampak diraut wajah ibu Nadia. Tidak ingin melihat kesedihan ibunya yang terus berlarut-larut, Nadia kemudian berkata,


"ibu, Nadia sangat bersyukur sekali menjadi anak ibu, Nadia tidak mengharapkan apa-apa. Perayaan pesta ulang tahun atau apapun itu, rasanya tidak perlu, Bu ... jika dibandingkan dengan kasih sayang yang diberikan oleh ayah dan Ibu selama ini. Semua itu sudah lebih dari cukup, Bu ..." ucap Nadia


"Nadia sangat saaayang sama Ibu," sambung Nadia sambil memeluk erat ibunya itu.


"Ya, udah ... sekarang kamu ganti baju dulu dan langsung istirahat aja sana, pasti kamu sudah capek, kan?" ucap Ibu lirih sambil mengusap-usap rambut Nadia.


Nadia pun bergegas berjalan menuju kamarnya untuk berganti baju. Seusai ganti baju Nadia merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Nadia mencoba memejamkan kedua matanya,, namun kedua mata Nadia masih enggan untuk dipejamkan.


Semua kejadian ini seperti mimpi, seperti sang Cinderella yang berubah menjadi cantik mengenakan gaun yang indah, bertemu sang pangeran.


Namun bedanya semua kebahagiaan itu hancur seketika, diacara pesta yang megah itu dengan menerima segala penghinaan.


Ia bertanya-tanya, mengapa Rani bisa sebenci itu terhadap nya. Padahal Nadia merasa tidak pernah melakukan kesalahan kepada Rani, apakah karena Rani memang benar-benar cemburu kepadanya? apakah Rani memang menyukai Ricky?


Dan mengapa sikap Mirna langsung berubah ketika Rani menuduh Nadia telah memanfaatkan jalinan persahabatan mereka. Apa yang sudah terjadi pada Mirna?


"Ya Allah,, kenapa masalah seperti ini bisa terjadi padaku? Semoga saja aku bisa menghadapi semua masalah ini dengan kuat," ucap Nadia.


Nadia terhenyak dari tempat nya, ia teringat kalau ia belum melaksanakan salah satu kewajibannya sebagai seorang hamba.. kemudian Nadia bergegas mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat isya'.


Disaat Nadia selesai sholat isya', Nadia berdoa, bermunajat kepada Sang Pemilik Hati, meluapkan rasa kesedihan yang ia alami, yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun kecuali pada Sang Pencipta seluruh alam semesta. Hanya kepada Nya lah, ia dapat meletakkan semua beban berat yang ada dipundaknya, memasrahkan jiwa dan raga, kepada sang Maha Pengasih.


Nadia memohon petunjuk agar diberikan jalan yang lurus, diberikan kekuatan untuk menjalani segala macam ujian kehidupan yang diberikan kepada nya.


Air mata Nadia mengalir bercucuran jatuh membasahi pipinya. Di saat ia berdoa itu, Nadia merasakan kedamaian dan ketenangan hati.


Tiba-tiba saja Nadia teringat akan saputangan Ricky yang masih tersimpan didalam tas nya. Nadia mengambil saputangan yang sudah kotor itu.


"Oh, saputangan Ricky masih ada padaku. Saputangan ini sangat kotor sekali, besok aku harus mencucinya sampai bersih, baru bisa aku kembalikan lagi kepada Ricky," ungkap Nadia sambil memegang saputangan itu.


Nadia masih tidak menyangka bahwa yang menyelamatkannya dari acara pesta itu adalah Ricky. Saat itu Ricky menggenggam tangan Nadia dengan eratnya. Begitu perhatian nya Ricky.


Nadia pun teringat kejadian saat ia terjatuh. Ricky dengan sigap mengangkat tubuhnya berada di dekapan Ricky. Walaupun saat itu ia tengah menahan rasa sakit dikakinya, tapi disisi lain ia juga merasakan betapa hangatnya tubuh Ricky kala itu.


Pada saat ini, Nadia justru baru menyadari betapa harumnya aroma tubuh Ricky.. kenapa tadi ia tidak memperhatikan hal seperti ini, kenapa baru sekarang ia benar-benar menyadari hal-hal kecil seperti ini, dan justru itu semakin membuat ia tak bisa melupakan Ricky.


Nadia menghabiskan sisa-sisa malam ini dengan masih membayangkan kebersamaannya bersama Ricky. Mengenang saat-saat Ricky mengusap air matanya, jari jemari Ricky yang menyentuh pipinya, semua kenangan itu tak bisa hilang dari pikiran Nadia..


Kesedihan, penghinaan, dan cemoohan yang dialami Nadia seketika sirna, terobati dengan kenangan indah bersama Ricky.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Ricky,, Allah tidak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan hambanya. Dibalik derita pasti akan ada berkah, dibalik badai pasti akan ada pelangi.


...----------------...