
Kejadian kemarin, merupakan kejadian yang tidak mudah untuk dilupakan oleh Nadia. Karena hari kemarin itu adalah hari dimana pertama kalinya Ricky datang kerumah Nadia.
Bahkan Ricky adalah satu-satunya teman cowok pertama yang telah datang kerumah Nadia.
Ini merupakan rekor baru yang telah dipecahkan oleh Nadia. Seandainya kedua adik Nadia mengetahui, bahwa ada teman cowok kakaknya yang datang kerumah, pasti Nadia akan jadi bulan-bulanan kedua adiknya yang jahil itu.
Sang Surya telah menunjukkan cahayanya diufuk timur. Pagi hari pun telah tiba, sudah saatnya bagi Nadia untuk berangkat ke sekolah.
Setelah dia selesai membantu ibunya mengolah beberapa bahan belanjaan dari pasar tadi. Nadia berangkat dengan hati yang riang gembira. Karena masih teringat akan kejadian kemarin bersama Ricky.
Sikap yang riang gembira yang berlebihan ini, masih terbawa sampai didalam kelas. Melihat gelagat sahabatnya yang agak berbeda dari biasanya, Mirna jadi keheranan.
Karena sedari tadi Nadia nampak senyam senyum sendiri, entah apa yang ada dalam pikiran sahabatnya itu. Mirna pun berusaha menanyakan apa yang sudah terjadi pada perubahan sikap Nadia ini.
"Helllooo, Nad ... elo kenapa? elo baik-baik aja kan? elo masih waras kan? elo gak sakit kan?"
Tangan Mirna mencoba memegang dahi sahabat itu, kemudian dia Pindahkan lagi, memegang dahinya sendiri, untuk mengetes apakah Nadia sedang demam atau enggak.
Pertanyaan beruntun yang diberikan Mirna tadi belum sempat dijawab Nadia, eh si Mirna langsung menimpali lagi pertanyaan beruntun lainnya.
"Kayaknya, kagak demam deh Nad! adem-adem aja koq. Elo gak lagi PMS, kan Nad? elo gak lagi terkena virus juga, kan nad? apa elo semalem dapat wangsit Nad?"
Pertanyaan ini membuat Nadia tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai perut Nadia jadi terasa sakit, karena saking lamanya dia tertawa.
"Mir, Mir ... lucu kamu Mir, kamu nih ada-ada aja. Aku masih waras mir, enggak lagi sakit,
aku masih normal, 100% asli, hehehe,"
"Habisnya, dari tadi kamu cengar cengir sendiri. Emang ada apaan sih Lo nad? kayaknya happy bener hidup Lo."
"Ehmmm, gimana ya ... nanti kalau aku cerita, kamu malah marah lagi, akuuuuu- "
Belum sempat Nadia menyelesaikan perkataannya, Nadia dikejutkan dengan tepukan tangan seseorang dari arah belakang.
Dan tak lain dan tak bukan itu adalah tepukkan dari tangan Ricky, yang baru beberapa saat yang lalu, ia tiba dan duduk di bangkunya.
Nadia pun menoleh ke belakang, melihat kearah Ricky.
"Hai Nad, gimana kabar kamu hari ini? wah kamu berangkat jam berapa hari ini, koq udah sampai duluan ke sekolah? kamu tiap hari berangkat pagi ya? kan jarak rumahmu cukup lumayan juga ke sekolah ini?" tanya Ricky.
Pertanyaan yang diutarakan Ricky tersebut, didengar secara tidak langsung oleh Mirna.
Mata Nadia terbelalak mendengar perkataan Ricky, apa gerangan yang ada dipikiran Ricky saat ini sampai-sampai dia bisa berkata ceplas-ceplos itu kepada Nadia yang bisa didengar juga oleh Mirna.
"Apa dia gak takut Mirna tahu, kalau dia tahu rumahku?" Nadia membatin, merasa tidak percaya.
Memang Mirna pun mulai menyadari rahasia yang tersirat dibalik perkataan Ricky tadi.
"Haaah? Ricky koq kamu tahu, tentang jarak rumah Nadia ke sekolah ini? emangnya kamu udah pernah pergi ke rumah Nadia ya Rick?" (ketika berbicara dengan Ricky, Mirna tidak menggunakan kata elo, melainkan menggunakan kata kamu, supaya lebih sopan).
Dengan spontan dan tanpa pikir panjang lagi, Ricky pun menjawab pertanyaan dari Mirna tersebut.
"Ya, tahu lah Mir ... aku udah pernah kok pergi kerumah Nadia,"
Mulut Mirna pun menganga seketika mendengar perkataan dari Ricky.
"What?"
"Sejak kapan kalian bisa seakrab itu?"
"Ada hubungan apa antara kalian berdua?" Pertanyaan beruntun pun terlontar dari mulut Mirna.
Selain melihat Ricky, dia pun melihat ke arah Nadia. Karena pertanyaan beruntun tadi secara tidak langsung ditujukan untuk mereka berdua.
"Emmm ... gini Mir, sebenarnya gak ada hubungan apa-apa kok,"
Nadia bingung mau menjawab pertanyaan yang mana dahulu, kemudian Nadia pun menjawab pertanyaan dari Mirna tadi, dengan gugup dan terbata-bata, khawatir jika Mirna salah paham.
Sedangkan sikap Ricky yang kalem, tetap tenang dan biasa-biasa saja, sama sekali dia tidak menunjukkan rasa kekhawatiran sedikit pun.
"Iya Mir, barusan aja kemarin aku dari rumah Nadia. Mengantarkan ia pulang ke rumah. Jadi, ya aku tahu jarak tempuh dari rumah Nadia ke sekolah,"
"Tuh kan, sejak kapan kamu mengijinkan rumah kamu didatangi temen cowok Nad?"
Mirna tahu betul, kalau selama ini Nadia belum pernah mempersilahkan temen cowok sekolahnya, datang ke rumah Nadia.
"Kenapa elo gak bilang-bilang ke gue sih Nad?" elo gak percaya lagi ya Ama gue!" jawab Mirna kesal.
"Bukan begitu koq Mir, itu semua hanya ketidak sengajaan saja. Aku juga sebenarnya gak ingin merahasiakannya darimu. Cuma waktu pembicaraannya aja yang belum tepat. Bener deh, suwerrrrr Mir," Nadia berusaha meyakinkan Mirna.
Mirna sangat kesal sekali, ia pun kemudian berbalik mencoba menghindari tatapan mata dari Nadia,
Nadia memegang kedua pundak Mirna, berusaha untuk meyakinkannya.
"Bener mir, ini semua hanya kesalahanpahaman saja, iya, kan Rick?"
Nadia melihat ke arah Ricky, seraya memberi kode, berharap memohon dan meminta bantuan kepada Ricky.
"Emmmm, emang nya ada apa sih ini?"
"Emangnya, ada yang salah ya Mir, dari perkataan ku tadi diawal?" tanya Ricky yang kebingungan.
"Gak ada yang salah si Rick, asal kamu tahu aja ya Rick, si Nadia itu, selama ini rumahnya belum pernah dikunjungi oleh teman cowok manapun,"
"Tapi ini kenyataannya, dan secara diam-diam kamu sudah datang kerumah Nadia," kata Mirna yang melengos.
Mendengar perkataan dari Mirna, bahwa ia adalah orang pertama yang datang ke rumah Nadia. Ricky merasa senang.
"Gak diam-diam kok Mir. Cuma aku belum sempat cerita ke kamu, kan kejadiannya baru kemarin Nad?" ucap Nadia mencoba meyakinkan Mirna kembali.
Belum sempat meneruskan perkataannya, bel lonceng disekolah berbunyi. Nadia akhirnya menghentikan perkataannya tersebut, sambil memberi ruang waktu sejenak kepada Mirna.
Sikap Mirna yang masih kesal, karena merasa sahabatnya itu, sudah tidak jujur terhadap nya, segera memalingkan wajahnya dari Nadia.
Ricky masih bersikap santai dan tenang. Menganggap seolah-seolah tidak ada masalah apa-apa.
Pelajaran pun dimulai. Selama proses pembelajaran berlangsung, Nadia dan Mirna saling terdiam, tidak berkata apapun.
Nadia menyadari bahwa mereka berdua tengah berada di dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
"Sampai kapan Mirna akan bersikap seperti ini? dan penjelasan seperti apa yang bisa kuberikan kepada Mirna, agar dia mau mengerti, huuuufft," kata Nadia dalam hati.
...----------------...