
Nadia terus mulai mempraktekkan saran yang sudah diberikan oleh si Star White. Saran yang ia coba ikuti pertama kali adalah tidur.
Walau saat ini waktu untuk tidur siang sangat tidak memungkinkan, tapi setidaknya walau hanya bisa tidur beberapa menit saja Nadia tetap mencoba. Semoga pikirannya dapat rileks, dan dapat menghentikan semua pikiran untuk sesaat.
Namun sebelum tidur Nadia mencoba mencari browsing di handphonenya untuk memilih beberapa artikel musik pengantar tidur yang efektif. Dan Nadia mendapatkan penjelasan tentang jenis musik tersebut kemudian dia mendownloadnya.
Nadia musik memilih jenis musik akustik dan lullaby. Jenis musik akustik yaitu musik tanpa adanya vokal. Dan hal ini merupakan salah satu musik yang dapat memberi efek menenangkan.
Sedangkan Musik lullaby memiliki karakteristik melodi yang sederhana, pola dan nyanyian yang berulang, serta struktur yang sangat singkat. Ketika diputar, musik ini dapat mempengaruhi denyut jantung manusia menjadi lebih rendah.
Musik Lullaby adalah sebutan untuk lagu pengantar tidur bagi orang Barat. Orkestra harmoni yang ada dalam musik ini terdengar sangat lembut dan menenangkan, sehingga dapat dijadikan sebagai terapi pengantar tidur.
Akhirnya Nadia tertidur sambil diiringi dengan musik ini, sekitar kurang lebih hampir 45 menit Nadia tertidur pulas.
Nadia terbangun dari tidurnya saat si adik bungsunya Rafi pulang dari kegiatan ekstrakurikulernya disekolah. Rafi membangunkan Nadia, karena tidak biasanya Nadia tidur saat hari sudah sore begini.
"Kak, bangun udah sore ini? kenapa masih tidur dan tidak ke warung? Kakak sakit ya?" kata Rafi membangunkan kakaknya.
Nadia pun terbangun, sambil meregangkan otot-ototnya, dan mulai membukakan kedua matanya. Dengan mata masih agak sembap dan memerah Nadia menjawab pertanyaan adik bungsunya itu,
"Oh kamu Rafi, udah pulang ya? Emangnya ini sudah jam berapa?" tanya Nadia.
"Ini udah jam setengah lima sore kak. Kakak pasti Lom beres-beres rumah kan? oh ya, kenapa kakak gak pergi ke warung?" tanya balik Rafi.
"Ternyata sudah jam setengah lima ya? Badan dan pikiran kakak rasanya akhir-akhir ini sering terasa capek, jadi kakak tadi telepon sama ibu, kalau hari ini gak menyusul ke warung dulu. Dan ingin istirahat dirumah," jawab Nadia.
"Ya udah kalau kakak masih capek, untuk nyapu dan beres-beres rumah sore ini, biar aku aja yang lakukan, mending kakak mandi saja dulu, dan sholat ashar," kata Rafi.
"Iiiiiih, kamu memang adik kakak yang pengertian. Makasih ya sayang, adik kakak yang ganteng dan baik hati. Kakak tambah sa-yang deh sama kamu. Oh ya, dikulkas ada buah, puding dan kue yang dikasih temanku sekolah, kamu bisa mengambilnya dan nanti bagi-bagi sama Tio, ayah dan ibu juga ya," kata Nadia sambil memeluk dan mengelus-elus rambut adiknya itu.
"Idih kakak, ngapain sih, sayang sih sayang, tapi gak gini juga, aku udah gede, jadi risih tahu! yach, rambutku jadi acak-acakan nih jadinya. Okey nanti akan aku tinggalin buat kakak ayah dan ibu juga," kata Rafi dengan wajah memerah karena malu, dan sibuk merapikan lagi rambutnya yang acak-acakan.
Nadia tersenyum dan terus beranjak dari tempat tidurnya, menuju ke kamar mandi. Setelah selesai mandi Nadia terus langsung sholat ashar.
***
Malam pun tiba, dan semakin larut, seluruh anggota keluarga Nadia, yang tadinya masih berkumpul pada saat makan malam dan nonton TV bersama, akhirnya sudah masuk ke kamarnya masing-masing.
Nadia berharap malam ini Ricky akan menelepon menanyakan kabar tentangnya atau setidaknya membalas chatnya tadi sore. Namun yang ditunggu-tunggu tetap tak kunjung menghubungi.
Akhirnya Nadia memberanikan diri untuk menghubungi Ricky, lewat chat, "assalamualaikum Aa', kamu sedang apa? Kenapa tidak membalas chat dariku? apa kamu masih marah padaku? Sebegitu tidak percayanya kah kamu padaku? aku harus melakukan apa agar kamu mau percaya?" tulis chat Nadia.
"Tidak adakah ruang kecil dihatimu untuk menyimpan kepercayaan terhadapku itu A'? Sungguh aku tidak tahu harus berbuat apa lagi agar kamu percaya padaku? Aku mohon jawab balas chatku,"
Ditunggu selama beberapa menit, sampe dua jam, masih juga belum ada respon atau tanggapan apapun dari Ricky. Akhirnya Nadia mengirim chat lagi kepada Ricky.
"Jika memang kamu masih marah dan tidak mau memaafkanku, setidaknya berilah penjelasan tentang kelangsungan hubungan kita yang baru seumur jagung ini. Supaya lebih jelas kedepannya. agar aku tidak terlanjur terlalu banyak berharap dan bermimpi," tulis Nadia.
Nadia menunggu lagi balasan dari Ricky tapi tetap tidak dibalas, padahal kali ini pesannya sudah dibaca, tapi Ricky seperti tak berniat untuk meresponnya.
Dengan penuh pertimbangan, akhirnya Nadia memberanikan diri untuk mengirim chat lagi untuk penegasan tentang hubungan mereka berdua.
"Jika memang sudah tidak ada rasa percaya lagi dihatimu untukku, aku sudah ikhlas, terserah apa keputusanmu tentang hubungan kita ini kedepannya. Aku akan menerimanya dengan lapang dada."
"Aa', aku sadar diri, akan segala kekuranganku. Siapalah diri ini dibandingkan dengan dirimu. Aku hanya orang biasa. Bisa mendapatkan perhatian darimu, bisa menjadi kekasihmu walau hanya beberapa hari saja sudah benar-benar beruntung bagiku."
"Semua itu aku anggap sebagai anugerah dari Tuhan untukku. Aku sudah sangat bersyukur dan terimakasih atas semuanya Aa'. Apapun keputusanmu, kamu kan tetap selalu ada dihatiku, I love U,"
Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 wib, namun Nadia masih sulit untuk memejamkan kedua matanya. Namun ia kembali teringat dengan salah satu chat dari Star White.
Sebelum tidur ia akan sholat hajat dulu, agar lebih tenang hatinya, setelah itu ia akan tidur dengan menyalakan musik, seperti sore tadi, agar lebih mudah dan rileks untuk tidur. Dan Nadia pun akhirnya terlelap.
***
Keesokkan harinya, Nadia sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Kali ini Nadia berangkat ke sekolah sendiri tanpa dijemput Ricky. Nadia sudah menunggu Ricky seperti biasanya tapi masih tetap tidak ada kabar, jadi Nadia memutuskan untuk berangkat sendiri dari pada nanti ia telat ke sekolah.
Sesampainya disekolah, Nadia langsung berjalan perlahan menyusuri lorong untuk keruang kelasnya. Ia berjalan lunglai seperti orang yang telah kehilangan arah tujuan. Wajah Nadia terlihat murung sekali. Tak ada gairah didalam dirinya hari ini.
Nadia merasa sudah putus asa atas hubungannya dengan Ricky. Sepertinya, hubungan mereka berdua memang tak akan berlangsung lama, dan mungkin memang akan benar-benar berakhir hari ini.
Dalam ia berjalan, Nadia mulai menguatkan dirinya sendiri agar dapat menerima semuanya dengan lapang dada dan tulus ikhlas. Nadia hanya berharap semoga kedepannya ia dapat menjalani kehidupan ini dengan lebih kuat dan lebih baik lagi.
...----------------...