Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 64 Diantar Dia



Tanpa sungkan-sungkan Farrel terus menarik Nadia hingga akhirnya ia berhasil masuk kedalam mobil. Farrel langsung masuk juga ke mobilnya dan langsung tancap gas untuk pergi mengantarkan Nadia.


Didalam mobil Nadia terlihat cemberut, hal itu membuat Farrel semakin gigih untuk menjahili Nadia.


"Woi, kenapa bibir kamu manyun gitu, muka juga ditekuk-tekuk gitu, kayak baju yang belum disetrika aja! lagi dapet kamu ya, wkwkwk ..." goda Farrel.


"Asal ngomong aja, emangnya aku lagi dapet undian? Aku lagi dapet musibah, karena ketemu sama kamu, tau gak? Puas kamu, puas!" jawab Nadia kesal.


"Hahaha, musibah? koq bisa dianggap dapet musibah sih, justru seharusnya ini adalah berkah buat kamu, ya ga sih?" kata Farrel dengan penuh percaya diri, sambil bergaya menampilkan sisi macho dan ketampanannya kepada Nadia.


Nadia sebenarnya sempat terpana sesaat saat Farrel bergaya tadi. Wajah Farrel tadi memang terlihat cool, mempesona dan tampan. Namun Nadia berusaha untuk berhenti melihat wajah Farrel. Agar daya tarik dari Farrel ini tak bisa menggodanya lagi.


"Idiiih, pede banget sih kamu. Berkah apanya, bikin repot aja. Udah bagus-bagus, aku nunggu angkot aja disana, kamu malah asal narik aja! bagaimana tanggapan teman-teman disekolah nantinya sama aku? dan bagaimana aku harus menanggapi fans-fans fanatik kamu itu. Aduh pastinya bikin pusing lagi," jawab Nadia.


"Gitu aja kok dipikirin sih, yang terpenting itu sekarang kamu bisa pulang dengan aman, nyaman dan lancar. Urusan lain gak perlu kamu pikirkan lagi. Masalah fans-fans ku itu biar urusanku aja. Yah, begitulah nasib orang ganteng, ya memang seperti ini. Makanya kamu harus bangga bisa bersama dengan aku," ucap Farrel.


"Huekkkk, bodo amat," kata Nadia yang berlagak mau muntah mendengar omongan dari Farrel.


Farrel hanya cengengesan, menanggapi ekspresi dari Nadia. Farrel merasa senang ketika Nadia mau membalas omongannya, walaupun itu dengan balasan ejekan atau cemoohan. Setidaknya suasana hati mereka didalam mobil itu sudah cair, dan tidak terlihat kaku, atau canggung lagi.


Dan Farrel tahu, bahwa ejekan dari Nadia ini, bukan perkataan yang sejujurnya keluar dari dalam hatinya. Karena Farrel tahu Nadia adalah wanita yang berhati baik. Semua ejekan Nadia tadi hanyalah sekedar omongan angin lalu belaka.


Mobil terus melaju menuju kerumah Nadia. Obrolan demi obrolan, ejekan demi ejekan, mengiringi perjalanan mereka. Tiba-tiba Farrel menghentikan laju kendaraannya dan menepi dipinggiran toko buah.


Nadia bertanya, "Farrel kenapa kita berhenti disini? Emang kenapa? ban mobilnya kempes? Atau mobilnya mogok ya?"


Nadia sangat penasaran. Sambil melihat-lihat kearah luar mobil. Sedangkan Farrel hanya menyuruh Nadia untuk tetap menunggunya didalam mobil dan langsung pergi keluar meninggalkan Nadia.


Tidak berapa lama Farrel kembali masuk kedalam mobil sambil membawa bungkusan plastik kresek hitam. Entah apa isi didalam bungkusan itu. Nadia hanya diam dan enggan untuk bertanya.


"Kamu sudah menunggu lama ya. Maaf ya, ayok kita lanjutkan lagi perjalanan ini, rumah kamu juga sudah dekat nih," kata Farrel.


Farrel terus melajukan kendaraannya itu. Beberapa menit kemudian mereka pun sudah tiba dihalaman rumah Nadia.


Farrel dan Nadia turun dari mobil. Keduanya langsung berjalan menuju teras rumah Nadia. Sebelum Nadia hendak membuka pintu ternyata didalam rumah sudah ada adik bungsu Nadia yang membukakan pintunya.


Sebelum Nadia memperkenalkan Farrel kepada adik bungsunya itu, Farrel sudah terlebih dahulu memperkenalkan dirinya kepada Rafi.


"Halo, adik ganteng, perkenalkan, aku ini teman sekelas kakakmu. Namaku Farrel Candra Wijaya. Kamu bisa memanggilku kak Farrel. Oh iya ini kakak ada sedikit camilan, semoga adik Rafi yang ganteng ini suka ya," kata Farrel sambil menyerahkan bungkus plastik kresek hitam kepada Rafi.


"Ah kak Farrel bisa aja, aku yang kayak begini ini aja kok dibilang ganteng. Gantengan kak Farrel jauh. Aku mah gak ada setengahnya ma kakak. Aku jadi malu," kata Rafi yang tertunduk dan tersipu malu.


"Eh Rafi, kamu juga gak kalah gantengnya kok sama kakak. Bener diumurmu yang masih muda ini aja udah terlihat keren, apalagi nanti kalau kamu sudah seumur kakak. Pasti tambah ganteng dan keren," kata Farrel.


"Hehe, kak Farrel bisa aja. Wah aku suka sama oleh-oleh yang kakak kasih ini, terimakasih banyak ya kak. Kalau ada waktu sering-sering aja main kesini kak," kata Rafi yang tersenyum melihat isi didalam bungkus plastik kresek hitam tadi.


"Iya sama-sama dik. Minggu-minggu ini kakak pasti akan sering-sering datang ke sini, karena kebetulan kak Farrel lagi mau ngerjain tugas kelompok sama kakak kamu, Nadia." Kata Farrel.


Rafi terlihat senang sekali, dan berkata, "wah asyik dong kalau gitu. Aku bisa ketemu sama kak Farrel terus,"


"Eh, sudah ... sudah, ini apa-apaan sih kalian berdua. Baru ketemu aja sudah begini. Apalagi ketemu terus. Aku sudah berdiri disini dari tadi aja dianggurin. Kalian malah asyik sibuk ngobrol sendiri. Aku mau masuk, silahkan dilanjut ngobrolnya," kata Nadia kesal.


"Oh sorry Nad, bukannya gitu, kita kan sesama laki-laki, jadi soul kita rasanya dapet gitu. Kamu jangan marah ya! Eh aku gak dipersilahkan masuk dulu nih?" teriak Farrel ke Nadia yang sudah berjalan masuk kedalam rumah.


"Emmm, maafin kakak aku ya kak, mungkin dia agak galak, tapi sebenarnya dia itu baik kok orangnya. Jangan dimasukkan ke hati ya kak. Oh, sebaiknya kak Farrel masuk saja dulu, nanti akan aku panggilkan kak Nadia," kata Rafi.


"Terimakasih ya Rafi, sudah mengijinkan kakak masuk. Tapi kakak sepertinya harus pulang terlebih dulu. Karena kakak lupa, kalau masih ada urusan yang harus kakak selesaikan. Jadi lain kali pasti kakak akan maen kesini lagi," jawab Farrel.


"Kak Farrel janji ya, akan maen kesini lagi? Kalau gitu sekali lagi aku ngucapin terima kasih ya sudah dibawain oleh-oleh ini," kata Rafi.


"Iya, adik yang ganteng. Kak Farrel janji, kalau ada kesempatan pasti kakak akan kesini lagi. Kalau begitu, sekarang kak Farrel pamit dulu ya. Titip salam buat kakakmu Nadia. Bye bye, Rafi, assalamualaikum," pamit Farrel yang kemudian langsung masuk mengendarai mobil sportnya dan meninggalkan halaman rumah Nadia.


Setelah bayangan mobil Rafi menghilang dari kejauhan, Rafi langsung masuk kedalam menghampiri Nadia yang sedang berada dikamarnya usai sholat dhuhur. Kak ini oleh-oleh yang dibawa kak Rafi ada macam-macam, ada salad buah, ada asinan buah, ada ada manisan buah, dan ada puding juga kak. Wah seger-seger semuanya, pasti enak nih, udah gak sabar aku untuk memakannya," imbuh Rafi.


"Emmmm, udah camilannya disimpan aja dulu dikulkas, nanti malam bisa dimakan bareng-bareng sama ayah, ibu dan kakak kamu juga. Sekarang sebaiknya kita pergi ke warung makan ibu dulu. Kenapa kamu gak langsung kesana tadi?" tanya Nadia.


"Tadi ada temenku yang mau pinjam bukuku, jadi ya aku harus pulang kerumah dulu untuk mengambil buku itu. Dan juga kalau aku gak pulang dulu kerumah, sudah pasti aku tidak akan bertemu dan kenal dengan kak Farrel teman kakak itu,"


...----------------...