
Farrel pun segera pergi keluar dari kelas, males ia terlalu lama berbasa-basi.
Setelah Rani selesai membagikan oleh-oleh dikotak kardus pink nya, Rani dan Anggi pun segera keluar kelas juga untuk beristirahat. Kali ini Rani merasa gembira karena semua orang suka dengan oleh-oleh yang ia berikan.
Seperti kemarin, Nadia dan Ricky setelah membeli makanan dan minuman di kantin ia langsung pergi ke taman untuk menikmati jam istirahatnya.
Walaupun ditaman sudah ada beberapa orang yang beristirahat disana, tapi bagi Nadia dan Ricky tidak masalah dengan itu. Karena berada ditaman lebih nyaman dan tenang daripada berada di kantin.
Karena jika mereka pergi ke kantin, begitu banyak pasang mata yang selalu fokus memperhatikan mereka. Sedangkan jika berada ditaman, semua orang yang berada di sana tidak selalu kepo tentang urusan Nadia dan Ricky, karena mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Sambil menikmati minuman dan camilan yang ia beli tadi, Ricky iseng-iseng bertanya kepada Nadia, perihal tentang perubahan sikap Rani.
"Sayang menurutmu bagaimana dengan perubahan sikap dari Rani ini, apakah ia memang tulus dan benar-benar sudah berubah? Atau ia hanya berpura-pura?" tanya Ricky.
"Maksud kamu apa Aa' atas pertanyaan ini? apakah sampai detik ini, kamu memang benar-benar masih meragukan perubahan sikap si Rani itu? Pertanyaan balik dari Nadia.
"Iya, sebenarnya aku memang masih merasa ragu. Perubahan sikapnya begitu sangat drastis! coba kamu pikir?" perkataan Ricky berhenti sejenak sambil berpikir, kemudian ia kembali meneruskan kata-katanya.
"Dulu, yang awal mulanya selalu iri, dendam, sombong dan bertindak sendiri terhadap kamu, tapi sekarang dalam waktu hanya beberapa hari atau minggu saja sudah menjadi orang yang dermawan, rendah hati, dan penyabar."
"Apa kamu tidak merasa aneh dengan semua itu? Mana ada sih, watak buruk seseorang yang sudah mendarah daging bisa cepat berubah dalam waktu singkat?" sambung Ricky.
"Aa', tidak baik berprasangka buruk terhadap orang lain, siapa tahu, Rani memang benar-benar telah mendapatkan hidayah. Didunia ini tidak ada hal yang mustahil, kan?" kata Nadia.
"Jika Allah berkehendak maka terjadilah! Lagipula Allah itu Maha Kuasa, yang membolak-balikkan hati manusia."
"Lebih baik kita berpikir positif, jika benar-benar dia telah berubah menjadi baik maka itu akan bermanfaat bagi saya pribadi maupun orang lain. Namun jika itu semua memang hanya pura-pura. Lihat saja nanti seberapa besar dampak buruk dari sikap buruk yang sudah ia lakukan. Kita harus tetap waspada dan bijak dalam bersikap."
"Nad, Nad, hati kamu itu terbuat dari apa sih? kenapa kamu selalu bisa berlapang hati seperti itu. Padahal sudah berulang-ulang kali, kamu itu disakiti olehnya, tapi masih saja kamu berbaik kepadanya," keluh Ricky.
"Ah udah deh A', gak usah bahas ini lagi sih, lagipula kan hari ini memang tidak terjadi apa-apa padaku, selagi aku tidak disakiti. Aku juga tidak akan berpikir yang neko-neko."
"Ayo A', mending makan coklat ini aja, hmmm ... ini enak lho, aaaaak," rayu Nadia sambil menyuapi Ricky dengan sepotong coklat batang.
Rickypun tak bisa mengelak dari suapan tangan Nadia, yang terus menggoda Ricky hingga Ricky menghabiskan beberapa batang coklat. Nadia pun tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Ricky yang mulutnya penuh dengan cemilan coklat.
Ricky dan Nadia akhirnya sibuk bercanda gurau dengan riang gembira, tanpa sibuk memikirkan tentang perubahan sikap Rani lagi.
Detik demi detik telah berlalu, pelajaran demi pelajaran pun telah diajar silih berganti. Hingga tibalah waktu untuk para murid pulang sekolah.
Nadia sudah selesai berbenah diri untuk pulang. Begitu pula dengan Ricky. Mereka pun langsung meninggalkan kelas menuju ke tempat parkir mobil mereka.
Saat mereka hendak berjalan menuju mobil, Nadia menyuruh Ricky untuk pergi ambil mobilnya terlebih dulu, karena ia saat ini sedang sibuk mencari kunci rumahnya yang tak kunjung ketemu didalam tas.
Akhirnya Ricky pun berjalan cepat meninggalkan Nadia. Nadia berjalan pelan-pelan sambil terus mencari hingga tanpa sengaja, Nadia malah menabrak Farrel yang lagi berhenti, karena sedang membalas chat di handphonenya.
Farrel pun menoleh melihat siapa yang telah menabrak dirinya tadi, ternyata setelah dilihat orang itu adalah Nadia. Kemudian Farrel malah langsung punya ide untuk mengambil kesempatan untuk menggoda Nadia.
Tanpa malu-malu Farrel langsung berkata,"eh cantik, ternyata kamu yang nabrak aku tadi. Seharusnya kamu ngomong dong, kalau kamu mau deketin aku, jadi gak perlu pura-pura nabrak kaya gini! lihat nih handphone ku juga ikut terjatuh, dan malah jadi rusak."
"Ngomong apaan sih! tapi- ... walau bagaimanapun memang a-ku yang sa-lah, ja-di a-ku mau minta maaf, karena sudah nabrak dan menjatuhkan handphone kamu tadi. Sorry, aku benar-benar gak sengaja," gumam Nadia lirih.
"Cantik, kamu ngomong apa barusan, aku kok gak kedengaran apa-apa ya? Coba ulangi sekali lagi," kata Farrel dengan sengaja agar ia dapat berlama-lama untuk menjaili Nadia.
"Ih, masa kamu gak denger! Okey, maaf aku salah dan aku tidak sengaja sudah menabrak dan menjatuhkan handphonemu!" kata Nadia dengan nada lantang.
"Hadewh, kamu cantik-cantik tapi suaranya kaya speaker masjid, kenceng banget, bisa-bisa budek tahu kuping aku ini! Hadewh benar-benar sial siang ini, sudah sakit karena ditabrak, handphone ku jatuh dan rusak, sekarang kuping ku yang sakit. Oh, lengkap sudah penderitaan ku ini," ucap Farrel dilebai-lebaikan.
"Lantas aku harus gimana? pelan salah, keras juga salah. Aku juga harus ganti rugi berapa dan apa perlu aku bawa kamu berobat ke dokter, agar kamu puas dan mau memaafkan aku?" kata Nadia.
"Iya tentu dong, kamu harus kembaliin handphone aku ini seperti sedia kala, ini handphone mahal tau! dan untuk sakit ku ini, kamu harus ngantar aku berobat dong. Siapa yang berbuat harus berani bertanggung jawab," celetuk Farrel.
"Baiklah, sini mana handphone mu, biar aku bawa ke tukang service. Dan untuk badan mu yang sakit mana aku lihat, bener ada yang sakit gak? Seperti nya tadi aku kan cuma menabrak pelan, jadi pastinya kan gak ada luka yang parah?" tanya Nadia.
"Enak aja, gak ada yang luka, ini luka dalam tahu, jadi sakitnya tuh terasa banget, hanya aku yang merasakan. Pokoknya kamu sendiri yang harus nganterin aku berobat!" paksa Farrel.
"Dan untuk handphone, aku masih punya banyak handphone mahal dirumah, jadi handphone ini biar aja rusak. Tapi sebagai ganti ruginya, aku punya satu permintaan yang harus kamu lakuin," sambung Farrel.
Didalam hati Nadia merasa lega, karena Farrel gak langsung minta diservis in atau minta dibeliin handphone yang baru. Karena sebenarnya kondisi keuangan Nadia saat ini memang benar-benar menipis.
Jadi Nadia tanpa pikir panjang langsung saja menerima permintaan dari Farrel, "okey, emang permintaan apa? akan aku lakuin, asal tidak bertentangan dengan etika atau perbuatan yang aneh-aneh," jawab Nadia.
...----------------...