Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 50 Punya Kelebihan



"Emmmm, anu ... masa seperti itu sih? tapi kalau memang betul, pasti itu cuma tidak sengaja, atau karena kejatuh jadi kesenggol bahumu! cuma numpang nyender bentaran aja. Udah bilang capeklah, pegellah, inilah, itulah. hehhh, dasar lebay!" kata Nadia yang semula bernada seperti orang bergumam lama-lama terdengar bernada agak tinggi dan ketus.


Walaupun didalam hati ia sebenarnya mengakui, kalau dia memang sudah numpang bersandar dibahu Farrel. Tapi secara lahir ia tidak mau menunjukkan kekalahannya itu kepada Farrel, takut kalau nanti Farrel bakal ngelunjak.


"Ish ... ish ... ish ... dasar keras kepala, masih aja gak mau mengaku kalau salah. Uh dasar nasib, seharian ini badanku terasa sakit semua. Dan semua ini cuma gara-gara kamu," kata Farrel sambil memegangi lengannya yang masih kesemutan.


"Ih, kamu cowok atau bukan sih? kalau memang kesemutan pasti nanti akan hilang dengan sendirinya. Coba deh, hilangkan kebas ditanganmu itu dengan menggoyang-goyangkan tangan. pasti cara ini akan efektif, dan bisa normal kembali. Lagipula cuma ketindihan badanku aja kamu sampe segitu nya, lemah banget!" ejek Nadia.


Sebenarnya kebas yang dirasa Farrel tidaklah seberapa, perlahan-lahan juga akan menghilang. tapi karena Farrel ingin berlama-lama diperhatikan dan bersama dengan Nadia, jadi dia terus berpura-pura sakit.


"Enak aja dibilang cowok lemah aku itu kuat tahu. Asal kamu tau, aku itu jago taekwondo. Bahkan aku sudah punya sabuk hitam. Aku juga udah mengikuti dan memenangkan berbagai macam pertandingan taekwondo di Singapura dan internasional. Keren gak tuh!" kata Farrel menyombongkan dirinya.


"Huh, keren apaan? apa gunanya punya sabuk hitam, dirumah ku juga banyak sabuk hitam. tapi aku gak sombong dan pamer tuh. Kalau kamu mau aku bisa ngasih kamu satu," kata Nadia sambil menyedekapkan atau menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Hei, dasar gadis bodoh. sabuk hitam kamu punya itu gak ada artinya. kalau sabuk hitamku ini, didapat dengan penuh perjuangan. Kamu tahu gak artinya?heleh, pasti gak tau. Begini, dalam taekwondo ada beberapa macam tingkatan sabuk, mulai dari yang paling dasar yaitu sabuk putih, kuning, hijau, biru, merah dan hitam," kata Farrel.


"Sabuk hitam itu melambangkan akhir, kedalaman, kematangan dalam berlatih dan penguasaan diri kita dari takut dan kegelapan. Hitam memiliki tahapan dari Dan 1 hingga Dan 9. Juga melambangkan alam semesta," imbuh Farrel.


Didalam hati Nadia merasa kagum kepada Farrel. ternyata anak seperti dia ini punya prestasi dan keahlian yang luar biasa. Pantas aja ia selalu sombong dan percaya diri. Apakah masih ada banyak lagi rahasia-rahasia yang dimiliki dirinya.


"Ah terserah kamu mau ngomong apa. Pokoknya aku memang gak bersalah dan- ... udah ah, aku mau pulang," kata Nadia yang sedang mencoba membuka pintu mobil untuk segera turun.


Melihat Nadia yang ingin mencoba membuka pintu mobil untuk pergi, Farrel langsung beraksi dan pura-pura sakit, sesakit sakitnya.


"Aduh, aduh, aduh, tanganku sakit. kenapa tiba-tiba jadi tambah sakit seperti ini, aduh, tangan ku seperti kram, sakit sekali!" teriak Farrel.


Awalnya Nadia merasa tidak percaya, ketika Farrel sedang merintih kesakitan. Dia berpikir ini pasti hanya akal-akalan dari Farrel aja, supaya aku gak jadi keluar dari mobil.


Tapi lama-kelamaan, melihat ekspresi dari Farrel yang nampak serius, hati Nadia pun menjadi luluh dan kasihan. Ia tidak tega jika meninggalkan Farrel sendirian disana.


Nadia pun mulai mendekati Farrel dan mencoba menanyakan kepada Farrel, bagian yang mana yang terasa sakit. Siapa tahu dengan dipijit2 tangannya bisa sembuh.


Nadia semakin panik melihat kondisi Farrel saat ini, Farrel pun terus saja berakting, disela-sela ia pura-pura merintih menahan rasa sakitnya itu, ia berkata, "aduh sakit, coba kamu pegang tangan ku ini, tolong pijitin siapa tau bisa mendingan, aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri, aaaaargh sakit!" Kata Farrel pura-pura kesakitan.


"Mana yang sakit, apakah bagian ini? Aku harus gimana pijit kaya gini ya? atau sebaiknya aku minta tolong orang aja ya, supaya sakitmu cepat dapat tertangani," kata Nadia.


"Eh, jangan ... Jangan, gak perlu minta tolong orang lain, aku gak mau ngerepotin banyak orang. Bagiku kamu saja sudah cukup, yang penting coba kamu pijit-pijit bagian ini, pasti bisa berkurang sakitnya. Semoga rasa sakit ini bisa cepet hilang," kata Farrel.


Nadia langsung bergegas menelentangkan lengan Farrel untuk melancarkan aliran darah dan mengurangi tekanan pada saraf. Kemudian ia mulai memijat lembut bagian lengan Farrel yang kebas untuk merangsang aliran darah ke area tersebut.


"Baiklah kalau itu maumu. Aku pijitin ya? tahan sebentar, semoga kamu bisa cepat sembuh. Aku gak akan ninggalin kamu sendiri, apalagi dalam keadaanmu yang seperti ini," kata Nadia sambil memijat-mijat lembut lengan Farrel.


Karena dipijit-pijit oleh Nadia, Farrel benar-benar sangat menikmati hal tersebut. Jarang-jarang dia dipijitin orang, hal ini merupakan momen langka, yang mungkin takkan terulang lagi. Farrel benar-benar memanfaatkan momen ini.


Sembari menikmati pijatan dari Nadia, Farrel masih tetap berpura-pura kesakitan. Dan menyuruh Nadia untuk terus memijiti lengannya itu.


"Gimana Rel? apa udah agak baikan atau masih sakit?" tanya Nadia sambil memijit.


"Hu'um, kayaknya udah mulai agak berkurang. Nadia, sepertinya aku belum bisa menyetir kalau keadaannya seperti ini. Jadi mungkin, aku akan meminta bantuanmu untuk memesankan taxi saja gimana?" kata Farrel.


"Iya akan aku cari taxi dulu. Kamu tunggu disini bentar ya," kata Nadia sambil bergegas membuka pintu mobil dan terus berjalan keluar menuju pinggir jalan, mencoba menghentikan taxi yang lewat.


Setelah beberapa saat Nadia berhasil mendapatkan taxi yang kosong untuk mengantarkan mereka pulang. kerumah masing-masing.


Kemudian Nadia membantu Farrel untuk perlahan-lahan keluar dari mobil. Nadia memapah Farrel hingga sampai masuk kedalam taxi. Nadia lalu ikut masuk kedalam taxi.


Kemudian saat Nadia ingin memberi tahu pak driver taxi tentang tujuan lokasi yang dituju, Farrel langsung memotong pembicaraan Nadia, dan berkata, "Pak tolong antarkan kita kerumah teman saya ini ya Pak?" kata Farrel


Sopir pun menjawab, "baik mas. Oh ya alamat rumahnya mana ya mbak?" tanya Pak sopir.


Dengan gelarapan Nadia menjawab pertanyaan dari pak sopir, "oh tolong antarkan kita ke alamat bla-bla-bla! pak sopir terus menganggukkan dan melanjutkan perjalanannya sesuai lokasi yang sudah dikatakan oleh Nadia .