
Dalam waktu seperempat jam saja mobil yang dikendarai oleh Farrel dan Nadia sudah sampai didepan toko buku yang mereka tuju.
Farrel kemudian memarkirkan mobilnya itu di pinggir jalan, karena tempat parkir toko buku tersebut sudah penuh sesak kendaraan para pengunjung.
Nadia dan Farrel segera masuk ke dalam toko buku tersebut. Disana mereka mencari-cari buku yang mereka cari, diarea penjualan buku bacaan.
Pada beberapa etalase sudah mereka cari, namun mereka masih belum menemukan buku yang cocok untuk dijadikan acuan tugas penelitian mereka.
Tapi mereka tidak patah semangat, mereka tetap mencari-cari dibeberapa etalase yang lainnya. Tetap saja hasilnya nihil.
Akhirnya Farrel mencoba bertanya kepada salah satu staf di toko buku itu, mengenai buku yang mereka cari. Dan ternyata memang ditoko buku ini tidak menjual buku-buku tersebut.
Staf tersebut menyarankan agar Farrel dapat mencari di toko buku besar yang ada di daerah C. Kemungkinan ditoko buku itu menjual buku yang Farrel cari.
Akhirnya Farrel bercerita kepada Nadia, kalau memang buku itu tidak dijual di toko buku ini. Karena dirasa hari juga sudah malam, tidak memungkinkan untuk mereka pergi ke toko buku didaerah C yang sudah disarankan oleh staf toko buku tadi.
Jadi, mereka memutuskan untuk pulang saja, dan meneruskan pencariannya pada esok hari. Lagipula badan Nadia udah terasa pegal-pegal, karena sudah beraktivitas seharian penuh, mulai dari awal berangkat sekolah sampai pulang, kemudian pergi ke perpustakaan dan juga toko buku.
"Farrel kita sebaiknya pulang aja ya, kita teruskan pencariannya besuk aja lagi. Ini juga sudah malam, gak cukup waktu kita untuk pergi lagi ke toko buku didaerah C itu ... emmmm, lagi pula badanku sudah terasa capek, seharian muter-muter terus kayak gangsingan," pinta Nadia.
"Ya deh, kita lanjut besuk siang aja, sehabis pulang sekolah. Jangan lupa kamu minta ijin juga sama orang tuamu, biar orang tuamu tidak khawatir. Ayo, aku antar pulang!" kata Farrel.
Nadia dan Farrel segera keluar meninggalkan toko buku itu dan segera berjalan menuju mobilnya yang masih terparkir di pinggir jalan.
Sesampainya didalam mobil Nadia langsung menyandarkan kepalanya di jok mobil. Tak berselang lama, ternyata Nadia sudah tertidur pulas di dalam mobil.
Farrel yang menyadari jika Nadia sedang tertidur, ia langsung memberhentikan sejenak mobilnya untuk mengambil sesuatu barang dari bagasi mobil. Sesaat kemudian Farrel sudah kembali lagi ke dalam mobil, sambil membawa barang yang ia ambil dari bagasi mobilnya tadi.
Ternyata yang ia ambil adalah selimut. Selimut ini berwarna coklat, dibuat dari perpaduan bahan yang lembut, yakni wol merino dan cashmere. Wol ini diketahui sebagai bahan berkualitas serta lembut.
Keduanya terbuat dari jenis domba berbeda. Selimut ini mempunyai kelebihan yakni bisa menyerap keringat, mudah dibersihkan, lembut dan juga tentunya hangat.
Farrel langsung menyelimuti tubuh Nadia dengan selimut tersebut. Sehingga membuat tidur Nadia semakin nyaman.
Farrel kemudian melanjutkan kembali perjalanannya menuju kerumah Nadia. Sambil sesekali Farrel menoleh ke arah Nadia, untuk menyingkirkan helaian rambut yang jatuh terurai diwajah Nadia, yang sepertinya keadaan tersebut sangat membuat Nadia merasa terganggu, Sehingga tidurnya menjadi tidak nyaman.
Atau Farrel menoleh ke arah Nadia, walaupun hanya sekedar untuk melihatnya saja. Dan itu sudah membuat hatinya tenang. Entah apa yang ada dalam pikiran Farrel saat ini. Farrel sendiri tak tahu, kenapa ia ingin senang sekali melihat Nadia tertidur.
Farrel bergumam dalam hati, "Hah, gadis ini kenapa saat ia tertidur, justru ia malah menjadi terlihat menarik. Begitu pulas lagi tidurnya, apa benar dia benar-benar merasa capek, karena seharian ini pergi bersamaku."
"Tapi ... gadis ini benar-benar ceroboh sekali! Kenapa bisa-bisanya ia tertidur saat ia berpergian dengan seorang laki-laki. Untung saja laki-laki itu adalah aku, bagaimana coba, kalau laki-laki itu orang lain, yang punya niat jahat pada dirinya? Ah, Benar-benar bodoh gadis ini!" gumam Farrel.
"Oh iya, bagaimana keadaan kuah baksonya tadi ya? Saat ini pasti sudah dingin nih, yah mau gimana lagi. Tapi gak papa deh. Tadi, yang penting aku sudah sama Abang tukang baksonya agar kuah dan mie-nya dipisah. Semoga aja masih enak untuk dimakan Nadia dan keluarganya," gumam Farrel lagi dalam hati.
Perjalanan ke rumah Nadia sudah semakin dekat, Nadia masih terlelap dalam tidurnya. Farrel terus melajukan laju kendaraannya sehingga tibalah dihalaman rumah Nadia.
Farrel mematikan mesin mobilnya. Ia berpikir sejenak, Farrel merasa tidak tega kalau membangunkan Nadia saat ini yang masih tertidur dengan lelapnya.
Dan ia juga tidak mungkin, jika harus membopong Nadia kedalam rumahnya, karena keluarganya pasti akan menganggap bahwa hal itu tidak sopan dan lancang. Apalagi kalau statusnya dikeluarga Nadia hanyalah sebatas teman, dan bukan siapa-siapanya Nadia.
Akhirnya Farrel memutuskan untuk turun sendiri dari mobil, dan ia langsung mengetuk pintu rumah Nadia. Farrel mengucapkan salam sampai 2 kali baru ada sahutan dari dalam rumah Nadia.
Ibu Nadia menjawab salam dari Farrel dan kemudian membukakan pintu rumahnya. Ibu Nadia tampak menolah noleh kekakanan dan kekiri, karena ia tak melihat sosok anak gadisnya disana bersama Farrel.
Lalu ibu Farrel langsung bertanya kepada Farrel karena khawatir, "lho, Nadianya dimana ya nak Farrel, kok tidak ada bersama kamu disini?"
"Oh, maaf tante, Nadianya masih ada didalam mobil, Nadia tertidur di mobil selama perjalanan pulang ke sini, mungkin karena kecapekan Tante. Jadi aku gak tega kalau harus ngebangunin Nadia Tante," kata Farrel sambil mengarahkan ibu jarinya ke arah mobil, sebagai tanda unggah ungguh tata krama untuk mempersilahkan ibu Nadia melihat Nadia yang masih tertidur pulas dimobil.
"Nadia ada Didalam mobil saya Tante, silahkan ibu bisa melihatnya. Mungkin Tante yang bisa membangunkan Nadia," kata Farrel mempersilahkan.
"Oh, ada didalam mobil? Ya, akan ibu lihat dan bangunin Nadia," jawab Ibu Nadia.
Ibu Nadia berjalan menuju ke arah mobil Farrel, dan kemudian sang ibu melihat, bahwa anak gadisnya itu benar-benar tertidur pulas dan nyenyak di tempat duduknya itu.
Ibu Nadia melihati anak gadisnya yang sedang tertidur itu. Nadia tertidur dengan nyaman sambil badannya tertutup dengan selimut tebal nan lembut. Sebenarnya ibu Nadia juga tidak tega untuk membangunkan Putrinya tersebut.
Namun apa boleh buat, karena Nadia memang harus dibangunkan jadi sang ibu harus benar-benar membangunkannya juga.
"Nad ... Nad ... bangun Nad, ini sudah sampai dirumahmu, jadi kamu harus bangun. Kasihan nak Farrel sudah menunggumu bangun dari tadi. Bisa-bisa nanti dia pulang kemalaman,"
...---------------...