Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 67 Jam Istirahat



Nadia melihat kembali tulisan nomor telepon di secarik kertas itu, sambil bertanya, "ini beneran nomor telepon rumah kamu kan? atau jangan-jangan kamu mau menjahili aku lagi ya, dengan nomor palsu?"


"Eh, ini anak ... di kasih beneran malah masih gak percaya, emangnya dimuka aku yang gantengnya kebangetan gini, ada ya, tanda-tanda orang yang suka bohong?" kata Farrel.


"Iyaa, siapa tau aja, kamu mau bohongi dan ngerjain aku. Aku kan harus waspada. Soalnya kamu kadang-kadang orangnya jahil banget sih," jawab Nadia.


"Tenang saja Nad, nomor telepon itu asli kok, nomor telepon rumah aku. Tapi tidak semua orang bisa menghubungi aku lewat nomor telepon rumah. Karena yang mengangkat telepon pertama kali adalah kepala pelayan di keluarga ku, yaitu pak Agus," kata Farrel.


"Maksudnya gimana, kok gitu?" tanya Nadia.


"Gini Nad, setiap ada telpon masuk, pak Agus yang menyaring dan menyeleksi siapa saja yang layak untuk berbicara langsung dengan orang-orang dikeluargaku. Kalau memang dirasa benar, maka akan langsung dihubungkan ke nomor telepon kami masing-masing. Jadi kalau kamu yang telepon aku, sudah tentu aku akan menerimanya, kan sudah mendapat ijin dariku, hehehe ..." papar Farrel.


"Ehmmm, by the way, nanti jadi, kan kita pergi ke perpustakaan umum, untuk cari-cari buku-bukunya?" tanya Farrel.


"InsyaAllah jadi, tadi pagi aku juga sudah ijin sama orang tuaku, dan aku juga udah bawa baju ganti. Supaya lebih lebih nyaman dan leluasa untuk beraktifitasnya," jawab Nadia.


"Okey, nanti kita bisa langsung pergi dengan mengendarai mobilku," kata Farrel sambil tersenyum.


"E ... emmm, i-ya, a-ku bareng sa-ma ka-mu nanti," gumam Nadia lirih.


"Kamu ngomong apa sih, gak kedengaran aku nih? Kalau ngomong itu yang kenceng dong Nad, jangan komat Kamit kayak Mbah dukun, emangnya aku jin. Hadewh ..." tanya Farrel.


Sebenarnya walaupun Nadia tadi berkata lirih, tapi Farrel masih bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Nadia tadi. Cuma, Farrel hanya ingin mengerjai Nadia aja, yang malu dan gengsi untuk ikut semobil dengan dirinya.


"Ah, masa gak denger. Ya udah kalau gak denger, tidak ada berita ulang! hufh ..." kata Nadia kesal.


"Hehehe ... Gitu aja kok bibirmu udah terlihat manyun, kayak bibir ikan mas koki di akuarium rumahku, wkwkwk ..." ejek Farrel.


"Ih, dasar kamu, seneng banget kalau melihat orang tertindas. Huuuuuuhhhh! kalau bisa, ingin rasanya kamu aku remas-remas, hemmm, seperti ini nih!" kata Nadia kesal sambil meremas kedua telapak tangannya itu dihadapan Farrel.


"Wah tega bener kamu Nad. Tapi kalau yang remas-remas itu kamu, aku juga mau kok Nad, dengan sukarela malah. Nih silahkan remas-remas wajahku ini, atau kedua tanganku ini juga boleh kok," ucap Farrel sambil menjulurkan kedua tangan dan wajahnya kehadapan Nadia.


Melihat wajah Farrel yang semakin dekat, muka Nadia justru semakin memerah karena merasa malu. "ah, sudah lah! lupakan omonganku tadi. Aku mau istirahat aja!" kata Nadia sambil memalingkan wajahnya dan ingin langsung pergi meninggalkan Farrel.


"Loh, aku ditinggal Nad? Kita istirahatnya barengan aja ya, nanti aku traktir deh kamu," kata Farrel sambil mengejar Nadia yang sudah berjalan pergi keluar kelas.


Saat Farrel berjalan berdampingan dengan Nadia, semua mata para siswi tertuju melihat mereka berdua. Nadia hanya berjalan terdiam, sedangkan Farrel berjalan dengan santai, sambil menampilkan wajah ramah dan murah senyumnya itu kepada setiap siswi yang melihat dia dan Nadia berjalan.


Farrel seakan tidak peduli dengan pikiran-pikiran mereka dan tidak mau menyibukkan dengan omongan atau gosip murahan yang nantinya akan menyebar terhadap dirinya. Ia justru sangat menikmati hal tersebut.


"Aa' kok enggak ada ya? tadi ia sudah tidak ada didalam kelas, tapi sekarang dikantin juga gak ada, apa mungkin dia pergi ke perpustakaan sekolah bersama Rani ya?" tanya Nadia dalam hati.


"Ehmmm, mungkin saja Aa' memang pergi ke perpustakaan bersama Rani. Yah sudahlah kalau begitu, aku langsung bungkus minuman dan jajan saja, biar nanti aku makan didalam kelas saja," kata Nadia dalam hati, yang tidak memperhatikan bahwa masih ada Farrel didekatnya.


"Eh Nad, kamu cari siapa tadi, cari Ricky ya? sepertinya Ricky tidak ada disini. Oh iya, ini tadi aku udah belikan minuman dan jajanan untuk kamu. Aku gak tahu kamu mau beli apa, jajan ini asal aku pilih aja, semoga kamu suka. Habisnya kamu tadi aku lihat cuma celingak celinguk gak jelas gitu. Ayo cepat dimakan," kata Farrel.


Nadia terkaget, melihat Farrel yang ternyata ada disebelahnya dan menyodorkan botol minuman dan sebungkus plastik kresek berisi jajanan ditangannya.


"Eh ini apaan?" kata Nadia yang masih setengah sadar dari lamunannya itu.


Farrel tidak memperdulikan perkataan dari Nadia. Ia langsung menyerahkan botol dan plastik kresek itu ke tangan Nadia dan mendorong Nadia untuk pergi meninggalkan kantin, yang keadaan situasinya sudah tidak kondusif lagi. Karena semua mata saat ini sudah tertuju kepada mereka.


Nadia terpaksa berjalan keluar kantin tersebut. Farrel masih saja mengoceh dan menyuruh Nadia untuk segera memakan cemilan yang ia beli tadi. Nadia hanya menjawab, "oh aku akan kembali ke kelas saja."


"Oh ya, kenapa kamu repot-repot membelikan aku semua ini? Seharusnya aku bisa beli sendiri tadi. Berapa semuanya, akan aku ganti," tanya Nadia.


"Ganti apa sih Nad, kayak sama orang lain aja. Kita itu teman satu tim. Jadi sudah wajarlah kalau kita itu saling berbagi, betul nggak? Udah kamu bawa aja, tadi kan udah aku bilang kalau aku mau nraktir kamu," kata Farrel.


"Walaupun kita memang satu tim, tapi, aku merasa gak enak aja. Malah seperti orang yang sedang memanfaatkan keadaan, minta gratisan," kata Nadia.


"Udah, jangan banyak komentar, sebaiknya, kita makan semua ini didalam kelas aja. Ayo cepat, nanti keburu bel masuk berbunyi lagi!" ajak Farrel.


Nadia dan Farrel kemudian segera pergi ke ruang kelas mereka. sesampainya didalam kelas, ada beberapa murid yang memberikan tatapan yang begitu tajam ke Nadia. Nadia hanya bisa terdiam melihat tatapan tersebut.


Namun, tidak lain hal nya yang dilakukan oleh Farrel. Melihat tatapan-tatapan mata itu, Farrel sudah mengetahui kalau, mereka sedang bermaksud untuk mengintimidasi Nadia. Farrel kemudian mendekati murid-murid tersebut dan berkata santai.


"Hai gaes, aku lagi sibuk membicarakan tentang urusan tugas penelitian dengan Nadia nih, jadi ya, setiap waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Aku tidak mau tugasku nanti terbengkalai. Jadi, waktu istirahat dan sambil makan sekalipun tetap aku manfaatkan untuk bisa sharing dengan Nadia. Apa kalian juga mau ikut gabung nih?" kata Farrel.


"Oh, urusan tugas ya bro, kalau gitu silahkan dilanjut aja, kita gak akan ganggu. Kita juga masih belum mengerjakan tugas penelitian juga bro. Dilanjut aja ya," kata salah satu murid.


"Oke, kalau gitu, aku kembali bersama Nadia dulu ya gaes," kata Farrel sambil tersenyum lebar ke beberapa teman sekelas tersebut.


Farrel merasa puas, karena akhirnya mereka tidak menggangu dan mengintimidasi Nadia lagi. Farrel berkata bahwa orang-orang seperti ini harus diberikan tindakan yang tepat agar mereka mau menjauh tanpa tidak merasa sakit hati dan dihina.


...----------------...