
Ricky pun mulai mendekati Farrel dan Nadia. Ricky mencoba menahan emosinya terhadap Farrel. Setelah sampai ke tempat yang dituju, Ricky meletakkan semua minuman dan makanan yang ia beli tadi di meja.
Ricky tetap bersabar dengan duduk didepan Nadia. Dan berkata, "sayang, nih sudah aku beli semuanya, sekarang kita bisa pergi ketempat yang kita rencanakan tadi."
"Eits bro, kalian mau kemana? kalian gak mau makan disini aja, nanti aku traktir bro. Kamu tinggal pilih aja apa yang kamu mau," kata Farrel.
"Maaf, kita berdua sudah ada rencana sendiri tadi, untuk quality time bersama. Jadi kita akan menikmati jam istirahat ini, hanya berdua saja."
"Oh ya, Mungkin lain waktu aja kita akan terima traktiran dari kamu, and thanks tawarannya," kata Ricky sambil cepat-cepat menggandeng tangan Nadia untuk meninggalkan tempat itu dan segera menjauh dari Farrel.
Ricky memang bermaksud menunjukkan power dan posisi hubungannya dengan Nadia dihadapan Farrel, agar Farrel mengetahui dimana ia sebaiknya untuk bisa menempatkan diri terhadap Nadia.
Dilain sisi Ricky sebenarnya masih merasa emosi dan kesal terhadap Farrel yang begitu pede-nya selalu mendekati Nadia.
"Wah kenapa kamu tega ninggalin aku sendiri sih Nad? woi, apa aku gak boleh ikut yah, ikutan dong," teriak Farrel tanpa malu sedikitpun.
Semua orang yang berada di kantin, yang memang sudah sejak tadi memperhatikan Farrel, Ricky dan Nadia. Mulai membicarakan mereka dibelakang.
Selepas ditinggal pergi oleh Nadia dan Ricky, Farrel terus kembali duduk menghampiri si Toni, teman sebangkunya dikelas. Dan seketika itu juga anak-anak perempuan yang tengah berada di kantin pun, seketika langsung datang mengerumuni Farrel untuk berkenalan.
Para perempuan-perempuan disekolah itu seakan-akan tergila-gila akan ketampanan yang dimiliki Farrel, sama halnya dengan Ricky waktu awal mula datang disekolah itu.
Cuma karena sekarang Ricky sudah terang-terangan menyatakan cinta dan mempunyai hubungan dengan Nadia, jadi mereka memilih untuk mundur mengejar Ricky.
Walaupun didalam hati, jika ada kesempatan, tentu mereka ingin sekali mendekati dan mendapatkan cinta dari Ricky.
.
Ricky, terus saja menggandeng tangan Nadia sampai ke lokasi yang mereka tuju, yaitu taman sekolah. Nadia masih saja terdiam, sejak di kantin hingga saat tiba ditaman.
Setelah mencari posisi untuk tempat duduk yang nyaman Ricky mengajak Nadia untuk segera duduk dan menikmati makanan dan minuman yang ia beli tadi.
Ricky berkata, "sayang ku, kamu kenapa kok sedari tadi kamu hanya diam? kamu gak suka ya, kita berada disini? atau kamu masih marah padaku?"
"Ah, enggak kok A'. Aku hanya bingung saja, sama sikapmu tadi, Apa kamu gak marah padaku A' karena aku tadi udah duduk berdua dengan Farrel dikantin?" Tanya Nadia.
"Sayang, sebenarnya aku tadi juga sempat emosi melihat Farrel yang duduk didekatmu. Tapi aku mencoba bersabar, dan lagipula yang mencoba mendekati kamu kan Farrel. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun tadi," kata Ricky.
"Aku kira kamu akan marah padaku atau kamu malah sudah tidak peduli padaku. Tapi si Farrel itu, anaknya benar-benar nekat. Sudah aku bilang jangan dekati aku, sudah aku suruh pergi, masih aja datang mengganggu!" ucap Nadia sebel.
"Ya udah, asal dia gak melakukan sesuatu yang aneh-aneh padamu, aku sih gak masalah. Kamu juga harus jaga hatimu hanya untukku seorang, okey?" Kata Ricky.
"Okey, Aa'ku tersayaaaaang ... Love you pul pokoknya deh," kata Nadia sambil melipatkan kedua jara telunjuk dan ibu jarinya, membentuk simbol cinta.
Mereka berdua pun menikmati istirahat kali ini dengan nyaman dan ceria.
Jam istirahat pun segera berakhir, bel masuk pun berbunyi. Ricky dan Nadia segera meninggalkan taman untuk kembali ke ruang kelas.
Karena ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh Ricky dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama, akhirnya Ricky menyuruh Nadia untuk pergi kembali ke kelas terlebih dahulu.
Nadia pun, mau tidak mau memang harus kembali berjalan menuju ke kelas sendirian. Tidak beberapa lama, setelah Nadia berjalan meninggalkan ruangan depan kantor guru, ditengah perjalanannya, ia bertemu lagi dengan si Farrel.
"Eh, ni anak! kenapa bisa tiba-tiba muncul dimana aja? gak jelas banget, udah kayak Jelangkung, datang gak dijemput pulang gak diantar," gumam Nadia lirih.
Suara gumaman dari Nadia tadi terdengar oleh Farrel, dan Farrel pun langsung menyahut, "siapa yang Jelangkung, aku ini dewa cupid tau. Yang akan memanahkan panah cinta dihati kamu, cantik ..."
Nadia menoleh ke arah Farrel mendengar perkataannya tadi sambil diam dan mengerutkan dahinya. Kemudian kembali lagi berjalan kedepan tanpa merespon perkataan dari Farrel.
Farrel tentu saja terus membuntuti Nadia, sambil mengoceh bla-bla-bla ... Membikin Nadia gemas dan kemudian mempercepat jalannya.
Namun dasar si Farrel anak yang licik dan slengekan, ia pura-pura menjatuhkan tempat sampah kosong yang ada didekatnya berjalan tadi, sambil pura-pura terjatuh kesakitan, karena tertimpa tempat sampah tadi.
Ia pun pura-pura mengerang kesakitan, "aduh- duh ... aduh sakit, aduh sialan kenapa tempat sampah ini tiba-tiba jatuh," kata Farrel.
Nadia mendengarkan ada suara barang yang jatuh dan suara rengekan dari Farrel ini, otomatis terus menoleh kebelakang.
Ia melihat si Farrel yang sedang terduduk dilantai sambil memegangi pergelangan kakinya dengan ekspresi wajah kesakitan.
Karena Nadia gadis lugu, dan baik hatinya tentu saja ia tidak merasa curiga dengan hal itu, justru ia merasa kasihan dan simpatik.
Nadia segera menghampiri Farrel dan mencoba menanyakan tentang kondisinya, "kenapa kamu terduduk disini? kamu gak apa-apa kan?
"Haduh, aduh, sakit. Kamu gak bisa lihat ya? Lihat aku kayak begini koq masih bertanya aku gak apa-apa? rasanya benar-benar sakit kakiku ini, hadewh, lihat nih, gak bisa digerakkan. Mungkin ini terkilir atau malah harus diamputasi nih, ini semua gara-gara kamu," kata Farrel sambil dilebai-lebaikan sakitnya.
"kok aku yang disalahkan, kan aku gak ngapa-ngapain ke kamu?" kata Nadia yang masih panik melihat kondisi Farrel.
"Iya semuanya salahmu, karena kamu berjalan cepat-cepatan. Padahal kan aku berjalan bareng sama kamu. Jadi aku sebagai teman yang baik ya juga ngikutin kamu. Akhirnya jadi begini nih." ucap Farrel.
"Kalau sampai kenapa-kenapa dengan kakiku ini, kamu harus bertanggung jawab Nad. Oh betapa malangnya nasibku ini, dihari pertama aku masuk sekolah malah jadi seperti ini," Farrel pura-pura terlihat sedih dan menderita.
Melihat kondisi Farrel ini membuat Nadia semakin cemas dan gelisah. Mau minta tolong orang lain, tapi dilorong itu sudah tidak ada orang yang lewat. Ia bingung harus melakukan apa.
"Maaf kalau semua itu salahku, tapi sungguh aku tidak bermaksud mencelakai kamu. Lagipula salahmu sendiri yang ngikutin aku di belakang." Jawab protes Nadia.
"Eh masih sempat-sempatnya nyalahin aku terus, sudah sakit kayak gini bukannya cari cara bantu aku malah disalahin terus, hadewh, aduh, aduh ... Sakit," rintih Farrel.
"Iya, ya, maaf ... Tapi gimana cara aku nolongnya? Aku kan gak kuat gendong Kamu, apa kamu gak bisa berdiri sendiri?" tanya Nadia.
"Ya gak bisalah, kamu kan tahu. Ini yang sakit kan kakiku jadi sulit untuk berdiri. Udah sekarang kamu coba papah aku, sini mana pundakmu? Aku akan pegangan pundakmu dan kamu papah aku berjalan," ucap Farrel.
Nadia pun melakukan seperti apa yang telah dikatakan oleh Farrel tadi.
...----------------...