
Setelah usai sholat Subuh, Nadia langsung mengerjakan tugasnya sehari-hari seperti, mencuci dan menyiapkan sarapan untuk ayah dan kedua adiknya.
Sedangkan ibunya setelah subuh, langsung pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan dan lauk pauk untuk warung makannya.
Saat Nadia mencuci pakaian, tak lupa ia mengikutsertakan saputangan Ricky yang sudah kotor kemarin malam.
Sambil mencuci pakaian di mesin cuci, Nadia langsung bergegas memasak nasi goreng untuk menu sarapan pagi ini.
Akhirnya masakan Nadia sudah matang, ia segera menyajikan nasi goreng itu di meja makan sederhana milik keluarga Nadia.
Setelah urusan sarapan selesai Nadia langsung kembali mengeluarkan cucian bajunya, untuk segera dijemur adik bungsu Nadia yaitu Raffi.
Sejak kecil di keluarga Nadia memang sudah diajarkan untuk mandiri. Ibu Nadia juga membagi tugas rumah kepada ketiga anaknya itu.
Untuk tugas adik sulung Nadia yang bernama Tio, yaitu menyapu rumah. Dan ketika pulang sekolah semuanya akan ikut membantu sang ibu di warung.
Semua tugas telah terselesaikan saatnya Nadia mandi, sarapan kemudian langsung berangkat ke sekolah.
Sebenarnya hari ini, Nadia agak ragu untuk berangkat ke sekolah, karena ia khawatir akan bertemu Rani dan dibully lagi. Tapi kalau tidak dihadapi, pasti semuanya akan terus berlarut-larut, entah sampai kapan akan selesai.
Nadia mempersiapkan semua perlengkapan yang akan ia bawa ke sekolah, termasuk perlengkapan untuk keadaan darurat. Karena kali ini ia tak mau lagi untuk berdiam diri dan hanya pasrah menerima semuanya.
"Ayo Nad, kamu pasti bisa!" kata Nadia menyemangati diri sendiri.
Nadia berangkat ke sekolah pagi tanpa dijemput Mirna. Sejak kejadian kemarin malam, Nadia tidak mendengar kabar dari Mirna.
Pesta kemarin memang pesta kelabu bagi nya. Untung saja, ketika meninggalkan acara pesta itu ia bisa mendapatkan keberkahan bersama Ricky.
Angkutan umum yang ditumpangi Nadia sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah. Nadia segera turun dari angkot tersebut.
Pada saat Nadia menaiki anak tangga menuju ke lantai 2, kaki Nadia ditendang dari belakang oleh seseorang, Nadia pun jatuh tersungkur ke depan. Dahi Nadia, berdarah mengenai pinggiran anak tangga.
Entah siapa yang melakukannya tadi, Nadia tidak sempat menoleh kebelakang. Rasa sakit dan nyeri pada bagian dahinya membuat Nadia meringis kesakitan.
Nadia menoleh ke kanan dan kiri, dia hanya melihat orang-orang acuh tak acuh kepada nya, seakan kehadiran Nadia disana itu tidak dianggap.
Kali ini Nadia masih bisa bersabar, ia pun segera berdiri dan berjalan kembali menaiki anak tangga hingga ke lantai 2 sambil menutupi luka yang ada di dahinyanya dengan tissue, agar darahnya tidak keluar lagi.
Nadia tidak langsung pergi ke dalam kelas nya. Tetapi saat ini Nadia berjalan menuju ke toilet dulu untuk membersihkan noda darah yang ada di dahinya itu.
Saat ditoilet, Nadia segera membasuh muka nya di wastafel sambil berkaca. Ia melihat luka di dahinya sangat lebar. Nadia segera mengambil plaster didalam tas, yang memang sudah ia persiapkan tadi, untuk keadaan-keadaan darurat seperti ini.
Setelah selesai merawat lukanya, ia segera keluar meninggalkan ruang toilet itu, untuk segera masuk ke dalam kelas. Sebelum masuk ke kelas, Nadia melihat ke kanan ke kiri, ke atas dan kebawah. Siapa tahu ada yang ingin mengerjainya lagi.
Setelah dirasa aman ia pun segera masuk dan duduk di kursinya. Disana ia belum melihat kehadiran Ricky dan Mirna. Hanya Andre yang sudah ada disana.
Didalam kelas Nadia melihat teman-teman seisi kelas yang sedang berbisik-bisik sambil menatapnya sinis. Sepertinya mereka semua sedang menggosipkan Nadia, perihal kejadian semalam di pesta ulang tahun Rani.
Awalnya Nadia tak menggubris mereka, terserah mereka mau menggosipkan apa terhadap dirinya. Tapi lama-lama Nadia tak bisa menahan semua fitnahan yang ditujukan padanya.
Salah seorang teman Nadia berkata, "Nadia, kamu masih tidak tahu malu juga ya, berani sekali kamu masuk sekolah hari ini, setelah apa yang kamu lakukan pada acara pesta kemarin malam!"
"Maksud kalian semua itu apa?" tanya Nadia kebingungan.
"Heleh, gak usah pura-pura gak ngerti deh, bukannya tadi malam kamu itu udah ngrebut Ricky dari Rani ya?" jawab Anggi yang datang tiba-tiba.
"Kamu jahat banget si Nad. Rasanya kita-kita itu malu punya temen kayak kamu. Udah gitu, ternyata kamu manfaatin sahabatmu sendiri ya? seandainya aku jadi Mirna pasti udah lama aku ninggalin kamu!" sambung Anggi.
"Eh, itu semua hanya fitnah. Sudah lama aku bersabar, aku tidak akan membiarkan gosip murahan ini menjadi-jadi. Memang siapa yang bilang kalau aku merebut Ricky dari Rani? mana buktinya? mana?" gertak Nadia.
Anggi dan semua orang yang dikelas itu terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Karena kenyataannya mereka memang tidak memiliki buktinya.
Beberapa saat kemudian, Ricky pun memasuki ruang kelas.
Karena Nadia tidak mau terus jadi bulan-bulanan teman sekelasnya, ia memanfaatkan kedatangan Ricky ini, untuk menjelaskan kepada semua orang.
Nadia menarik tangan Ricky, untuk segera menjelaskan ada hubungan apakah antara ia dan Rani?
"Ricky, sekarang kamu jelaskan semuanya kepada mereka semua, mereka semua menuduhku sebagai seorang pelakor, mereka menuduhku telah merebutmu dari Rani. Tolong bantu aku menjelaskannya Ricky."
"Maksudnya hubungan apa ini?" tanya Ricky menatap teman-teman sekelasnya.
Semua orang yang ada dikelas itu tidak berani menjawab, mereka hanya bisa saling senggol satu sama lain, agar ada yang berani untuk bicara.
Karena tidak ada yang berani bicara, akhirnya Andre teman sebangku Ricky yang maju untuk bicara.
"Begini Ricky, mereka semua ini mengira jika kamu itu punya hubungan khusus dengan Rani, bisa dibilang kalau kalian itu sudah berpacaran. Tapi karena kehadiran Nadia yang sering mendekatimu, hubungan kalian itu jadi renggang."
"Maka nya, mereka semua menyebut Nadia itu sebagai pelakor," jelas Andre.
"Oh my God ... bisa-bisanya kalian berpikir seperti ini. Tanpa mengetahui hal yang sesungguhnya, kalian sudah berani menyebarkan gosip murahan," ucap Ricky keheranan.
"Memang sejak kapan aku pacaran dengan Rani? aku bertemu dengannya secara pribadi aja gak pernah, apalagi pacaran! kegilaan macam apa ini!" teriak Ricky.
"Berarti tidak ada hubungan apa-apa ya antara kamu dan Rani? terus hubungan mu dengan Nadia itu apa?" tanya salah satu teman sekelasnya.
Ketika pertanyaan ini terlontar, Ricky diam sejenak, kemudian Ricky pun membuka suaranya. "Iya aku dan Rani sama sekali tidak memiliki hubungan apapun, karena tidak memiliki hubungan apapun, jadi tidak mungkin ada orang ketiga atau pelakor."
"Hubungan Aku dan Nadia ituuuu ... adalah hubungan saha-bat de-kat," dengan ragu dan terbata-bata Ricky mengatakan pernyataan itu, sambil menatap Nadia.
Mendengar pernyataan dari Ricky itu, seketika hati Nadia hancur. Ternyata perhatian Ricky selama ini kepadanya hanya sebatas perhatian seorang sahabat.
"Sungguh betapa bodohnya aku, yang telah salah menduga. Seharusnya dari awal aku sudah mengetahuinya, siapalah kamu dan siapa dia? perbedaan kami memang terlalu jauh, hanya aku saja yang kepedean."
"Ayolah Nad, bukan waktu nya kamu untuk berkhayal, buang semua perasaan itu jauh-jauh!" ucap Nadia dalam hati.
"Nah sekarang kalian sudah tahu kan, masalah yang sebenarnya. Jadi jangan pernah menggangguku, jangan pernah lagi membullyku dan jangan pernah mengusik ketentraman hidupku!" kata Nadia tegas.
...----------------...