
Akhirnya Nadia pun tertidur karena terlalu lelah memikirkan kejadian yang terjadi hari ini. Nadia tertidur cukup sangat lama sampai jam pulang sekolah.
Setelah proses belajar mengajar selesai, Ricky sebenarnya hendak langsung menyusul Nadia diruang UKS. Namun apalah daya, Bu guru menyuruh Ricky dan wakil ketua untuk membantu membawakan beberapa tumpuk buku-buku tugas para siswa.
Dengan sangat terpaksa Ricky harus menunda sebentar kepergiannya untuk menjemput Nadia. Ricky dengan temannya segera bergegas membawakan semua buku-buku tugas itu ke meja ibu guru dikantor.
Tanpa diduga oleh Ricky, ternyata Farrel mengamati dirinya, karena dirasa aman, akhirnya Farrel pun segera pergi menuju keruang UKS untuk melihat kondisi Nadia. Entah kenapa hatinya tergerak ingin melihat Nadia.
Setibanya diruang UKS, Farrel dengan sangat hati-hati membuka salah satu tirai yang menutupi ranjang pasien. Disana hanya ada satu tirai yang tertutup, sudah dipastikan bahwa pasien itu adalah Nadia.
Setelah membuka tirai itu Farrel melihat Nadia yang tengah tertidur lelap diranjang. Farrel mendekati Nadia dengan perlahan. Kemudian duduk di sebuah kursi yang ada disebelah ranjang Nadia. Farrel melihat wajah Nadia.
Baru kali ini ia bisa memperhatikan wajah Nadia dengan seksama. Dia memperhatikan wajah Nadia dengan tatapan dalam. Di lihatnya bagian demi bagian dari wajah Nadia.
Farrel melihat bahwa Nadia memiliki kulit wajah yang sangat halus, bersih dan mulus, tidak kalah indahnya dengan kulit dari orang-orang keturunan Tionghoa/Korea.
Nadia juga memiliki hidung yang terlihat natural dengan garis hidung yang sedikit menonjol, dan ujung hidung sedikit bundar serta menurun, yang memberikan kesan alami, tetapi tetap cantik serta menarik.
Bibirnya yang kecil dan tipis berwarna merah muda natural, yang membuat wajah Nadia terlihat imut dan menggemaskan.
Sebagai pria normal, apalagi ia juga sudah pernah merasakan betapa lembut dan hangatnya bibir Nadia, hal ini membuat adrenalin tubuh Farrel meningkat, jantung Farrel mulai bergejolak. ingin rasanya ia menyentuh bibir yang indah itu.
Dengan kencang ia mengepalkan kedua telapak tangannya. Mencoba untuk menahan hasratnya yang sedang meraung-raung untuk segera melepaskan diri dari kekangannya.
Jantung Farrel semakin berdetak dengan kencangnya, seakan mau lepas dari tubuhnya. Beberapa saat kemudian Farrel terlihat pergi meninggalkan Nadia sendiri di ruang UKS itu.
Saat Farrel pergi dari bilik Nadia, ternyata Nadia mulai tersadar dari tidurnya. Namun karena Nadia baru terbangun dari tidurnya jadi ia tidak begitu jelas apa yang ia lihat tadi.
Antara sadar dan tidak, atau memang hanya sekedar mimpi saja. Nadia merasa bahwa tadi ia bermimpi. Didalam mimpi itu, ada seorang pemuda yang datang menghampirinya, dan saat itu tiba-tiba sang pemuda itu langsung mencium bibirnya bahkan sampai melumati seluruh bagian bibirnya itu hingga beberapa menit berlangsung.
Anehnya didalam mimpi itu Nadia tidak menolak hal itu sama sekali, bahkan justru ia sangat menikmatinya. Tapi kenapa jika itu hanyalah mimpi, tapi seperti serasa nyata, bibirnya pun terasa basah dan hangat, dan seakan masih bergetar merasakan apa yang sudah terjadi pada mimpinya itu.
"Ah tidak mungkin, ini hanya mimpi. Lagi pula diruangan ini hanya ada aku. Tidak ada siapa-siapa, apalagi Farrel rasanya itu mustahil. Ayolah Nad, jangan ngaco kamu, ini hanya kembang tidur. lagipula kamu juga tidak tahu wajah orang dalam mimpi tadi." kata Nadia lirih meyakinkan dirinya sendiri.
Nadia kembali merebahkan tubuhnya diranjang itu. Ia melihat jam yang ada dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 13.38 wib sudah waktunya untuk pulang sekolah. Tapi kenapa Ricky belum sampai juga ke ruang UKS, katanya dia akan datang menjemputku.
Tak seberapa lama Nadia bergumam dalam hati, Rickypun datang. Ricky segera menghampiri Nadia. Ricky datang sambil membawa tas milik Nadia yang tertinggal dikelas. Dengan kedatangan Ricky tentu membuat hati Nadia menjadi ceria.
"Aa', akhirnya kamu datang. Kamu kenapa lama sih datangnya, kan pulang nya udah beberapa menit yang lalu? tanya Nadia.
"Maaf sayang, tadi sehabis pelajaran usai, aku disuruh Bu guru untuk membawa buku-buku tugas kita. Tadi kata Bu guru, karena kamu sedang sakit, jadinya kamu dapat dispensasi gak ikut ngumpulin tugas. Oh ya, bagaimana keadaanmu sekarang sayang?" kata Ricky.
"Alhamdulillah aku udah baikan kok A'. Ini udah baikan, mungkin karena aku terlalu kecapean jadi untuk belajar hari ini jadi ngeblank dan gak fokus," jawab Nadia.
"Syukurlah kalau begitu. Semoga kamu gak kenapa-napa, Nad. Aku khawatir banget. Ayo, kalau begitu kita siap-siap untuk pulang. Sini aku bantu kamu sayang," kata Ricky sambil membantu Nadia beranjak dari tempat tidurnya.
Nadia dan Ricky pun segera pergi meninggalkan ruang UKS tersebut. Ricky menyuruh Nadia untuk menunggu di koridor depan gedung sekolah, sedangkan Ricky pergi menuju parkir untuk mengambil sepeda motor sport nya supaya Nadia tidak usah capek-capek ikut berjalan, ketempat parkir.
Saat Nadia menunggu jemputan dari Ricky, Nadia masih saja teringat akan kejadian hari ini bersama Farrel dan juga masih teringat akan mimpinya diruang UKS. Nadia masih bertanya kenapa rasanya seperti sama dengan didalam mimpinya.
Apakah rasa dari ciuman bibir itu memang selalu sama, walaupun dilakukan oleh berbeda-beda orang? ataukah memang berbeda, atau bagaimana? karena bagi Nadia sendiri ini adalah ciuman pertamanya, jadi ia tidak memiliki pengalaman lain dari hal ini, dan ia tidak bisa menyimpulkan apa-apa,
Nadia benar-benar masih penasaran dengan mimpi nya itu, serasa benar-benar membekas pada dirinya. Namum Nadia juga tidak berani membenarkan dirinya. Jika benar tadi bukan sekedar mimpi dan nyata, lalu siapakah orang yang sudah berani melakukan ciuman itu kepadanya?
Sungguh Nadia, juga takut menerima kenyataan itu. takut kalau ciuman itu terjadi dengan orang lain lagi, bukan dengan Ricky.
"Oh Tuhan, sebenarnya apa yang telah terjadi padaku tadi, apakah itu sungguh nyata atau tidak, seandainya nyata, siapakah gerangan orang yang sudah berani berbuat hal seperti itu padaku, betapa malu dan rendahnya aku ini, jika hal itu sudah terjadi padaku?" kata Nadia dalam hati.
"Sungguh aku tak berani membayangkan jika hal itu benar terjadi, bagaimana jika hal itu diketahui oleh Ricky? apa yang harus aku perbuat? bersalahkah aku? harus minta pertanggung jawaban kepada siapa?"
"Aku sendiri pun tak tahu. Ya Tuhan semoga semua itu hanya mimpi saja. Hanya bunga tidur, yang mampir dalam tidurku tadi, semoga semua itu tidak nyata. aamiin ..." harap Nadia.