
Nadia sangat terlihat malu sekali, "ih nih cacing kenapa gak bisa diajak kompromi sih, bikin malu aja,"gumam Nadia dalam hati sambil memukul-mukul pelan perutnya itu.
"Udah sini, ayo cepet dimakan gak usah malu-malu. Nanti bisa-bisa cacing kamu pada demo semua. Hahaha, ayo, ini makan cake strawberry ini, lumayan bisa untuk mengganjal seisi perut kamu." kata Farrel sambil menyodorkan sepiring cake strawberry kepada Nadia.
Dengan malu-malu Nadia pun akhirnya menerima cake dari Farrel tadi. Dengan cepat Nadia langsung menghabiskan sepotong besar cake strawberry itu. Maklum perut Nadia memang benar-benar sangat lapar tadi.
Setelah Nadia selesai menghabiskan sepotong cake tadi, kini Nadia teringat kalau dia belum menunaikan ibadah sholat dhuhur, akhirnya ia minta izin kepada Farrel untuk melaksanakan kewajibannya itu.
Farrel pun tentu saja mengizinkan Nadia untuk melaksanakan sholat dhuhur dan ia pun ingin melaksanakan kewajibannya itu juga, karena ia sendiri seorang muslim.
Jujur, Farrel memang mengakui selama ini, ibadahnya memang masih bolong-bolong, itupun kalau dia ingat. Mungkin karena memang kurang adanya dukungan dari orang-orang disekitar. Karena semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Farrel sangat senang, jika ada seseorang yang bisa mengajak nya menuju kebaikan walaupun dengan cara yang tidak disengaja seperti ini.
Farrel mengantar Nadia ke ruang musholla yang ada dirumahnya, sekalian untuk wudhu. Rumah Farrel memang menyediakan ruangan khusus seperti musholla untuk sholat atau mengaji.
Yang bisa digunakan oleh keluarga, para pelayan atau para asisten rumah tangga, sopir atau dapat digunakan para tamu yang ingin menjalankan ibadah sholat.
Walaupun keluarga Farrel sendiri justru malah jarang menggunakannya karena kesibukan mereka mengurusi urusan dunia, jadi mereka tak sempat memikirkan tentang urusan akhiratnya.
Setelah selesai wudhu dan mengenakan mukena, Nadia berkata kepada Farrel, agar Farrel bisa menjadi imam shalat, karena mereka sama-sama melaksanakan sholat, jadi bisa jamaah an.
Tapi Farrel menolak, karena dia mengakui, kalau bacaannys tidak fasih, agak lupa juga, dan tidak begitu yakin untuk menjadi imam shalat.
Namun dengan dukungan dan penjelasan singkat mengenai bab tata cara sholat, dari Nadia akhirnya Farrel mulai mengingat-ingat kembali dan akhirnya memantapkan diri untuk menjadi imam shalat.
Mereka berdua pun akhirnya melaksanakan sholat dhuhur berjamaah. Situasi yang sangat jarang terjadi ini, kemudian hanya dalam beberapa detik saja kejadian ini sudah menjadi berita terhangat dari para pelayan rumah Farrel.
Berita ini pun mulai menyebar hingga sampai kepada asisten pribadi Ibu Farrel, dan menyampaikan berita itu ke ibu Farrel yang saat ini sedang beristirahat di kamarnya yang ada dilantai tiga. Kebetulan ibu Farrel hari ini pulang cepat dari kantornya, karena badannya yang agak kurang fit.
Mendengar berita ini ibu Farrel segera keluar dari kamarnya dan menuju ke lantai satu untuk melihat benar atau tidaknya berita yang dibicarakan para pelayan ini.
Saat tiba di ruang musholla ibu Farrel benar-benar melihat kejadian yang amat sangat langka ini. Ternyata Farrel benar-benar melaksanakan sholat dan bahkan bersedia menjadi imam shalatnya.
Ibu Farrel benar-benar sangat terharu, bahkan tanpa ia sadari setetes air mata sudah jatuh menetes di pipinya. Ibu Farrel bertanya-tanya didalam hati siapa gerangan tamu ini, yang sudah membuat Farrel bersedia menjadi imam ini.
Ibu Farrel bertanya kepada asisten pribadinya yang masih berdiri tepat dibelakangnya saat ini, "Pak Agus, apakah kamu tahu siapa tamu yang datang itu, dan dari mana asal usul orang ini?"
"Maaf nyonya, yang saya tahu, gadis ini adalah teman sekelas tuan muda Farrel. bernama Nadia. Hari ini tuan muda Farrel datang kerumah ini sambil dipapah oleh Nona Nadia, dan langsung dibawa masuk ke kamar Tuan muda," kata Pak Agus.
"Dipapah? memangnya Farrel sedang sakit ya? sakit apa dia, kenapa tidak ada yang bilang ke aku kalau Farrel sedang sakit," tanya ibu Farrel yang sedang khawatir.
"Maaf Nyonya, bukan maksud saya untuk tidak mau memberitahukan kepada Nyonya. Tapi karena nyonya sedang tidak enak badan, jadi saya tidak ingin memberitahukan perihal berita kedatangan tuan muda Farrel, yang nantinya malah justru akan membuat kondisi tubuh Nyonya semakin memburuk, karena mencemaskan tuan muda," jawab Pak Agus.
"Tapi sepertinya kondisi Tuan muda saat ini sudah dalam kondisi yang baik-baik saja Nyonya. Jadi Nyonya tidak perlu terlalu khawatir," kata Pak Agus.
"Mereka sudah makan siang belum?" tanya Ibu Farrel.
"Kalau makan siang belum Nyonya, tapi sepertinya tadi bibi Lastri sudah membawakan beberapa cemilan dan minuman ke kamar Tuan muda," jawab Pak Agus.
"Itu kan hanya cemilan saja, Nana bisa membuat perut kenyang. Cepat, suruh bi Lastri untuk segera menyiapkan makan siang yang banyak dan enak untuk Tuan muda dan temannya, sekarang!" perintah Ibu Farrel.
"Baik Nyonya, akan saya sampaikan perintah Nyonya ke bi lastri, segera," jawab Pak Agus sambil meninggalkan ibu Farrel yang masih berdiri di depan pintu musholla.
Farrel dan Nadia pun telah selesai menjalankan sholat dhuhur. Kemudian Farrel menyuruh Nadia untuk segera kembali ke kamar untuk menghabiskan beberapa cemilan tadi.
Saat Farrel dan Nadia hendak keluar dari musholla, ternyata dihadapan mereka sudah berdiri ibu Farrel yang sudah menunggu mereka berdua sedari tadi.
Farrel terkaget, karena melihat Mama nya berdiri disana. Nadia hnya berdiri terdiam melihat sosok wanita cantik yang ada dihadapannya itu. Nadia memang tidak tahu siapa gerangan wanita tersebut.
"Oh iya, aku baru ingat sepertinya wanita ini adalah salah satu sosok wanita yang ada difoto keluarga Farrel. Mungkinkah, beliau adalah ibunya Farrel?" tebak Nadia dalam hati.
Farrel segera menghampiri mamanya itu dan berkata, "Mama, lho mama kok ada disini? Bukannya jam ini biasanya mama masih bekerja di kantor ya?" tanya Farrel sambil memeluk Mamanya itu.
"Iya sayang, tadi pagi Mama memang berangkat ke kantor, tapi karena rasanya Mama lagi gak enak badan, jadi Mama tadi jam 10an, pulang kerumah untuk istirahat. Masalah urusan kantor biar diurus sekretaris Mama disana," jawab ibu Farrel.
"Mama lagi gak enak badan, tapi kenapa mama ada disini? Gak istirahat didalam? Biar cepat pulih Mah badannya," kata Farrel.
"Emmm, Mama tadi bosen ada dikamar terus, jadi Mama turun pengen ketemu kamu yang sehabis pulang sekolah. Mama cari-cari, eh ternyata kamu sedang ada di musholla," kata ibu Farrel.
"Hehe, iya Mah, aku tadi habis sholat dhuhur dulu, sama temen aku. Oh iya Mah, ini dia teman sekelas aku, namanya Nadia," kata Farrel sambil cengar-cengir tersipu malu.
Ibu Farrel kemudian melihat kearah Nadia. Ia melihat diri Nadia secara seksama. Nadia pun langsung menyalami ibu Farrel untuk memperkenalkan diri. Ibu Farrel pun menerima salam dari Nadia.
"Oh kamu Nadia, teman sekelasnya Farrel? Gak menyangka ternyata Farrel bisa punya teman sekelas secantik kamu?" kata ibu Farrel sambil tersenyum melirik ke arah Farrel.
Farrel pun semakin terlihat salah tingkah, dan Nadia hanya bisa tersenyum dan tersipu malu, mendapat pujian dari Mama Farrel.
"Eh kamu tadi sudah makan siang belum? pasti belum, ayo sebaiknya makan siang dulu sekalian ajak Nadia juga untuk makan siang bersama ya. Kamu mau kan Nad, untuk makan siang bersama?" kata Ibu Farrel.
"Iya mah, kita belum makan si-" kata-kata Farrel langsung dipotong oleh Nadia.
"Tadi saya sudah makan camilan sewaktu dikamar Farrel kok Tante. Jadi gak usah repot-repot Tante. Sebaiknya saya pamit pulang aja Tante," kata Nadia.
"Eh itu kan cemilan, bukan makan siang. Udah ah jangan menolak rezeki, gak baik, yuk makan siang dulu, pulangnya nanti aja," ajak ibu Farrel.
Akhirnya Nadia pun mengikuti ajakan dari Mama Farrel. Sebenarnya Nadia malu untuk ikut makan siang bersama. Tapi karena sungkan akhirnya ia menuruti permintaan itu.
Mereka pun pergi keruang makan. Disana terdapat meja makan panjang dan besar, Disa sudah disiapkan beberapa alat makan. Dan sewaktu mereka sudah duduk, satu persatu makanan mulai berdatangan untuk disajikan.
Ada beberapa macam menu hidangan lezat dan mahal yang disajikan dimeja makan itu. Mama Farrel mempersilahkan Nadia untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan ini.
Karena Mama Farrel sudah makan siang tadi, jadi Mama Farrel tidak bisa untuk ikut makan bersama, jadi Mama Farrel hanya bisa menemani mereka berdua sampai disini saja.
Namun Mama Farrel berpesan, setelah makan siang selesai Mama Farrel ingin berbincang-bincang dengan Nadia dan Farrel diruang keluarga. Mama harap Nadia dapat meluangkan waktunya nanti. Nadia pun menyanggupi permintaan dari Mama Farrel.
Setelah Mama Farrel meninggalkan ruang makan, Farrel pun menyuruh Nadia untuk segera menikmati menu makan siang yang sudah disiapkan ini.
"Ayo Nad, dimakan. Mumpung masih hangat, nanti ke buru dingin. Gak usah malu-malu ya, anggap saja rumah sendiri, dan anggap saja sebagai permintaan maaf ku atas tindakanku tadi disekolah sama kamu," kata Farrel.
Dengan malu-malu Nadia pun memberanikan diri untuk mengambil beberapa makanan yang ada didekatnya saja. Ia tidak berani mengambil makanan yang jaraknya agak jauh darinya.
Karena Farrel tahu Nadia pasti sungkan untuk mengambil makanan. Akhirnya Farrel yang datang mengambilkan semua jenis lauk lagi untuk Nadia, sampai-sampai piring Nadia penuh dengan lauk pauk.
Nadia menolak karena sudah terlalu kepenuhan piringnya itu, sehingga khawatir nanti ia tidak bisa menghabiskannya. Akhirnya Farrel mengurangi beberapa lauk pauk dari piring Nadia.
Saat disela-sela mereka makan Nadia bertanya kepada Farrel, "Rel, kenapa Mama mu menyuruh kita berdua untuk berbincang-bincang dengan beliau? apa Mama kamu marah ya sama aku, yang sudah berani datang kerumahmu ini? kalau iya, bisa gawat dong."
"Marah apanya? kamu lihat sendiri kan tadi, bagaimana ekspresi mama ku ketika melihat kamu. Dia begitu senang melihat kamu. Kalau mama tidak senang mana mungkin mama menyuruhmu untuk makan siang bersamaku disini saat ini! Sudah pasti dia akan mengusirmu sedari tadi kalau memang dia benci kamu," jawab Farrel.
Farrel pun segera menyuruh Nadia untuk segera menghabiskan makanannya. Agar nanti bisa segera berbincang-bincang dengan Mamanya. Farrel sendiri penasaran, sebenarnya hal apa yang ingin Mamanya bicarakan.
"Tidak seperti biasanya, kenapa mama bisa dengan mudahnya untuk mengajak orang yang baru pertama dikenalnya untuk ngobrol-ngobrol bareng. Apakah ada maksud lainnya dibalik semua ini? atau semua itu hanya perasaannya saja.
...----------------...