
Nadia langsung memapah Farrel berjalan kearah UKS, untuk mengecek kondisi kaki Farrel. Tanpa mengatakan terlebih dahulu kepada Farrel.
Saat dipapah Nadia, Farrel melihat terus kearah Nadia, Didalam hati ia sangat gembira karena bisa berdekatan seperti ini bersama Nadia, bahkan bisa merangkul dan menyentuh langsung kulit halus dari Nadia.
Farrel berkata dalam hati, "uh sungguh pintar kamu rel, sekarang kamu bisa sedekat ini dengannya. Gadis cantik ini benar-benar baik hatinya, tapi karena kebaikan hatinya ini justru dapat dengan mudah ditipu oleh orang lain."
"Aduh, badan kamu kok berat banget! Kamu makannya apaan aja sih? Lama-lama aku capek juga tau?" gerutu Nadia.
"Masa sih Berat? Perasaan berat badanku standar, bahkan sangat-sangat ideal dan proporsional. Makannya bodyku bisa seperfect ini, ya gak? dasar kamunya aja yang gak kuat, gara-gara badanmu yang kurus, mungil, jadi kamu anggap aku ini yang berat," kata Farrel.
"Emang berat kok, berat badanku juga standard, aku gak kurus-kurus amat kok! yah walaupun bisa dibilang bodyku emang gak sebagus dan seperfect anak cewek yang populer disekolah ini sih, tapi tetap bukan termasuk orang yang kurus," gerutu Nadia.
Mendengar ucapan dari Nadia, Farrel tersenyum, didalam hati Farrel pun mengakui, Nadia bukanlah gadis yang bertubuh kurus, bahkan bisa dibilang body Nadia sangat proporsional dan bagus, langsing semampai.
Semua yang dikatakan Farrel tadi hanyalah asal bicara saja, supaya bisa mencairkan suasana saat bersama Nadia dan alasan lain Farrel juga karena supaya tetap bisa mendengarkan suara indahnya Nadia.
Nadia masih berusaha sekuat tenaga memapah Farrel. Karena tubuh Farrel lebih tinggi daripada tubuh Nadia, sehingga secara tidak langsung Farrel dapat mencium Aroma wangi rambut dan tubuh Nadia, dan aroma itu tercium sangat jelas ke hidung Farrel. Aroma ini membuat hormon testosteron Farrel semakin meningkat.
Tanpa disadarinya saat ini Farrel sudah menciumi sisi samping kepala Nadia. Hal ini membuat Nadia merasa ada sesuatu yang sudah menyentuh kepalanya. Nadia pun mendongak kearah sentuhan tadi.
Saat Nadia mendongakkan wajahnya kearah Farrel, pada saat itu pula tanpa Farrel sadari, ia justru mencium tepat di bibir Nadia, yang semula ia masih menganggap bahwa itu adalah kepala Nadia seperti yang ia lakukan tadi.
Saat bibir Farrel menyentuh bibir Nadia, barulah Farrel tersadar bahwa ia telah mencium bibir Nadia. Farrel dan Nadia sontak sama-sama terkejut dan membelalakkan kedua matanya, kemudian keduanya sama-sama spontan saling melepaskan diri.
Bagi Farrel ini adalah ciuman bibir pertamanya, mungkin jika mencium pipi atau kening seorang perempuan itu sudah umum dan sering ia lakukan, karena Farrel dengan notabene orang yang sudah lama tinggal dan beradaptasi dengan lingkungan diluar negeri.
Tapi untuk masalah urusan ciuman bibir, baginya ini adalah hal yang sangat pribadi dan suci. Yang tidak bisa ia lakukan pada sembarangan perempuan kecuali hanya untuk perempuan yang ia cintai atau hanya untuk cinta sejatinya nanti.
Begitu pula dengan Nadia. Ini adalah ciuman bibir pertamanya yang sudah ia rasakan. Namun ciuman bibir ini, tidak ia dapatkan dari Ricky kekasihnya, melainkan ciuman bibir pertamanya ini ia rasakan dengan orang lain yaitu Farrel.
Jantung Farrel dan Nadia sama-sama berdetak kencang. Dan keduanya pun sama-sama mengusap dan mengelap bibirnya agar rasa bekas ciuman tadi segera menghilang.
Namun semua itu tentu saja, tak semudah itu untuk mereka lupakan. Hal ini membuat Farrel dan Nadia sama-sama canggung. Nadia sangat malu dan juga marah kepada Farrel.
Farrel pun sadar, kalau ia sudah salah, dan berkata, "maaf Nad, aku tidak sengaja, aku tidak tahu kalau kamu tadi akan mendongakkan wajahmu kearah ku. Sungguh aku tidak sengaja."
"Aku benci kamu, kenapa kamu selalu jahat padaku! aku benci! Aku benci kamu!" kata Nadia.
"Maaf Nad, aku mengaku salah. Bagaimana kalau masalah ini kita lupakan saja anggap saja semua ini tidak pernah terjadi. Lagipula ini kan bukan ciuman bibir seperti yang ada di drama-drama itu-"
"I-ni bukanlah ciuman untuk cinta sejati kita kan? Seharusnya kamu melakukan ciuman itu untuk cinta sejatimu, ya dengan Ricky. Sedangkan aku mungkin untuk cinta sejatiku nantinya," kata Farrel gugup.
Farrel masih berdiri bersandar di dinding lorong dan terdiam terpaku. Walaupun tadi ia berkata kepada Nadia untuk melupakan kejadian hari ini. Tapi itu semua sungguh benar-benar sulit untuk dilupakan.
Pada kenyataannya, bibir Farrel saat ini masih mengingat detik-detik saat bibirnya mencium, mendarat tepat di bibir Nadia yang indah dan merah merekah itu. Saat ini Farrel masih merasakan betul, betapa hangat dan lembutnya bibir Nadia.
Mengingat hal ini, membuat aliran darah tubuh Farrel serasa mengalir dengan cepat. Serasa dirinya bagai sudah tersengat aliran listrik yang sangat kuat. Jantung Farrel masih saja terus berdegup kencang.
Farrel berkata pada dirinya sendiri, "entah apa yang sudah terjadi pada diriku saat ini. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini selama hidupku."
Farrel masih saja bersandar di dinding lorong, sambil menggigit bibir bawahnya, yang masih merasakan betapa nikmat dan indahnya ciuman singkat itu. Pikiran Farrel saat ini benar-benar kacau.
Inilah hari pertamanya ia pindah dan masuk sekolah di sekolah baru, dan di hari ini jugalah ia telah melakukan ciuman bibir pertamanya dengan tanpa sengaja.
.
Nadia yang tadi, segera pergi meninggalkan Farrel, saat ini ia sudah berada didepan pintu kelas. Di dalam kelas kebetulan belum ada guru yang datang.
Nadia bisa bernafas lega. Nadia pun segera masuk kedalam kelas dan menempati tempat duduknya. Saat Nadia duduk, Andre bertanya, "Nad, kamu datang sendiri? Memangnya Ricky pergi kemana? koq tidak bareng sama kamu?"
"Ouh, Ricky tadi dipanggil guru dikantor, katanya ada keperluan penting, jadi aku disuruh masuk ke dalam kelas terlebih dahulu," jawab Nadia.
"Oooo, aku kira ada apa-apa dengan kalian? okelah kalo begitu," ucap Andre.
"Maksud kamu dengan kata-kata, ada apa-apa dengan kalian, itu apa?" tanya Nadia penasaran.
"Yah, kamu kan tahu sendiri Nad, tentang gosip pagi tadi dengan si anak baru itu. Aku kira Ricky masih saja tidak percaya padamu," jelas Andre.
"Oh itu, ya aku sudah beri penjelasan juga pada Ricky tadi pagi dan Alhamdulillah ia sudah minta maaf dan kamipun sudah berbaikan lagi, Dre," jawab Nadia.
Tidak beberapa lama dari kedatangan Nadia, Farrel pun datang dan langsung menempati tempat duduknya.
Entah kenapa saat melihat Farrel, hati Nadia serasa bergetar. Nadia pun tidak tahu kenapa itu bisa terjadi. Mungkin karena di dalam hati kecil Nadia pun, masih tidak bisa melupakan kejadian tadi.
Mengingat kejadian itu, membuat Nadia merasa sedih, karena baginya ciuman pertama itu adalah sesuatu yang berharga. Tapi moment yang seharusnya menjadi moment yang membahagiakan dan berkesan ini, kenapa harus hilang begitu saja.
"Apakah ini yang dinamakan takdir?" kata Nadia dalam hati.
...----------------...