Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 7 Kedatangan Pertama



Selama dirumah sakit, Nadia semakin akrab dengan Ricky, begitu pula dengan oma Ira. Tapi Nadia tidak bisa berlama-lama berbincang-bincang dengan oma Ira, karena kondisi tubuh oma yang mengharuskan untuk istirahat lebih banyak.


Sekeluarnya dari ruang kamar oma dirawat. Ricky mengajak Nadia untuk mampir sebentar ke kantin rumah sakit, untuk sekedar membeli minuman dan cemilan.


Karena mulai dari mereka bertemu diperpustakaan, hingga sampai dirumah sakit, mereka belum minum setetes pun.


Sambil menikmati cemilan yang sudah mereka beli. Ricky berbincang-bincang santai dengan Nadia.


"Eh Nad, aku boleh dong minta nomer handphone atau nomer WhatsApp kamu? karena selama kita berteman, ternyata aku belum punya nomer handphone kamu, hehehe ..." tanya Ricky yang cengar-cengir sambil menggaruk-garuk kepalanya, karena salah tingkah.


Nadia pun tersipu malu, karena dia baru menyadari, kalau selama dia kenal dengan Ricky, dia memang belum mempunyai nomer handphone atau WhatsApp Ricky.


Akhirnya Nadia pun memberikan nomer HP nya kepada Ricky.


"Ini nomer HP ku, kamu lihat aja sendiri," kata Nadia sambil memperlihatkan nomer WhatsApp yang ada dilayar HP nya.


"Okey, aku save ya, Nad,"


Kemudian Ricky menyimpan nomer tersebut, dan dengan secepat kilat ia mengambil Handphone Nadia.


Ricky pun dengan segera menyimpan nomer HP langsung ke handphone Nadia, dan menulis kan namanya dikontak, dengan nama Ricky Ganteng.


Dengan segera Nadia pun merebut kembali handphone nya itu. Sambil melihat tulisan apa yang sudah dituliskan Ricky di kontak HP nya. Nadia pun spontan langsung tertawa terbahak-bahak karena melihat nama kontak yang telah di simpan Ricky.


"Hahaha ... idiiiih narsis abis, gak salah kamu, nyimpen pake nama gitu?"


"Ya, nggak salah dong, kan ini fakta yang tidak dibuat-buat, tidak direkayasa, this is real, hehehe ... bukankah begitu Nad? look at me please! perhatikan baik-baik, aku ini memang ganteng kaaaaannn?" kata Ricky sambil mendekatkan wajahnya ke depan wajah Nadia.


Karena saking dekatnya, sehingga hembusan nafas Ricky bisa dirasakan oleh Nadia.


Jantung Nadia seakan mau copot untuk ke sekian kalinya. Nadia merasa malu terhadap sikap Ricky tersebut.


Dengan cepat Nadia segera memalingkan wajahnya, supaya tidak ketahuan oleh Ricky, betapa grogi dirinya saat itu.


"Ih, sok kecakepan deh!" kata Nadia sambil melengos mencoba menutup-nutupi kebohongan dari kata-katanya itu.


Karena sesungguhnya dihati Nadia, mrmang mengakui ketampanan yang dimiliki oleh Ricky, dia memang benar-benar pemuda yang tampan.


"Hehe, gak usah ngeles deh kamu, aku tau kamu pasti bohong kaaaannn? akui ajalah, kalau aku memang ganteng, hehe ..." goda Ricky.


"Auk ah gelap!" Nadia kesal karena Ricky menyadari kebohongan nya itu.


"Oke, kepada bapak Ricky yang ganteng, tampan, baik hatinya, suka menolong dan tidak sombong, aku mau pamit pulang dulu ya, karena ini sudah sore," ledek Nadia.


Waktu pada saat itu memang sudah menunjukkan pukul 15.33 wib. Sudah saatnya bagi Nadia untuk pulang kerumahnya. Nadia segera bangkit dari tempat duduknya. Namun hal itu dicegah oleh Ricky.


"Sebentar Nad, kamu mau pulang sendiri?" tanya Ricky.


"Iya, kan ini udah sore, jadi aku harus pulang Rick!" tegas Nadia.


"Okey, biar aku antar kamu pulang ya? supaya bisa lebih cepat Nad," pinta Ricky, entah bertujuan ingin benar-benar mengantarkan Nadia supaya cepat pulang atau ada modus lain dibalik itu, hanya Ricky yang tahu.


Setelah beberapa detik Nadia berpikir, apakah dia akan mengikuti perkataan Ricky atau ia pulang sendiri? dengan penuh pertimbangan akhirnya Nadia menyetujui permintaan dari Ricky.


Didalam mobil, Nadia tak banyak bicara, mungkin karena terlalu lelah, akhirnya Nadia tertidur pulas.


Ricky yang mengetahui jikalau Nadia sedang tertidur, Ricky mulai memperlahan kecepatan laju kendaraannya supaya tidak menggangu tidur Nadia, karena terlalu kencang.


Sewaktu melewati perempatan jalan, lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, tanda berhenti.


Pada saat posisi mobil berhenti ini, digunakan oleh Ricky untuk melihat-lihat pemandangan sekitar. Kemudian mata Ricky malah tertuju kepada Nadia yang masih tertidur pulas.


Dia memperhatikan wajah Nadia dengan tatapan dalam. Di lihatnya bagian demi bagian wajah Nadia.


Kulit wajahnya yang terlihat halus, bersih dan mulus, hidung yang terlihat natural dengan garis hidung yang sedikit menonjol, dan ujung hidung sedikit bundar serta menurun, yang memberikan kesan alami, tetapi tetap cantik serta menarik. 


Sebagai pria normal hal ini membuat adrenalin tubuh Ricky meningkat, jantung Ricky mulai bergejolak, pikiran Ricky mulai melayang kemana-mana.


Pada saat tangan Ricky hendak membelai rambut Nadia, untung saja, lampu lalu lintas mulai hijau kembali, yang mengharuskan Ricky untuk fokus kembali, meninggalkan hasrat dan dunia imajinasi yang tiba-tiba datang merasukinya.


Akhirnya perjalanan Ricky pun terhenti di depan rumah sederhana dengan cat dinding berwarna putih, dengan halaman yang dikelilingi tanaman, membuat rumah itu terlihat asri.


Halamannya tidak terlalu luas, tapi cukup untuk 1 mobil bisa parkir disana.


Sebelum Nadia tertidur tadi, Ricky sempat menanyakan alamat rumah Nadia. Karena letak rumah Nadia, yang bisa dibilang cukup strategis, jadi Ricky bisa langsung menemukan alamat rumah Nadia dengan mudah.


Perlahan-lahan Ricky mulai membangunkan Nadia, "Nad ... Nadia, bangun Nad, kita sudah sampai dirumah mu Nad."


Nadia pun terbangun dari tidurnya. Nadia mengucek-ucek matanya, yang terlihat sayup-sayup. Kemudian ia melihat kesekeliling, ia pun terkaget.


Ternyata ia sudah sampai di rumahnya bersama Ricky, dia baru menyadari kalau tadi ia tertidur didalam mobil. Betapa malunya dia kepada Ricky. Sudah diantar pulang, malah ditinggal tidur, betapa bodohnya dia.


Nadia pun segera turun dari mobil seraya berkata kepada Ricky, "Rick, maaf ya ... aku tadi malah ketiduran, maaf banget dan terimakasih yah, udah berkenan mengantarkan aku pulang ke rumah."


"Gak apa-apa kok Nad, santai aja. Aku yang seharusnya ngucapin terima kasih sama kamu, karena kamu sudah mau menjenguk oma ku hari ini."


"Hari ini, oma sangat bahagia Nad, mungkin karena kedatangan mu, oma nampak semangat untuk segera sehat kembali, makasih ya, Nad," ucap Ricky antusias.


"Ah Ricky, jangan sungkan seperti itu, kan sudah seharusnya seperti itu. Jika ada teman, saudara atau keluarga yang sakit, kita sudah seharusnya datang menjenguknya, kan Rick. Oma Ira, kan oma kamu, kamu juga kan temenku, jadi sudah sepantasnya aku ikut peduli dan menjenguk oma."


"Eh dari tadi, malah ngomong terus, malah sampe lupa mempersilahkan kamu masuk. Yuk, kita masuk dulu ke rumah ku, duduk-duduk sebentar didalam," kata Nadia.


"Ehmm, gak usah Nad, nanti malah merepotkan. Aku langsung pulang aja," jawab Ricky pura-pura menolak ajakan Nadia.


"Gak merepotkan koq, Rick. Memang siapa yang merasa direpotin? ayo masuk," ajak Nadia kembali.


"Baiklah kalau begitu, Nad," Ricky pun masuk keruang tamu rumah Nadia.


Ricky duduk disalah satu kursi yang terbuat dari bahan kayu jati, sembari menunggu Nadia yang izin masuk kedalam sebentar untuk membuat kan minum.


Ruang tamu Nadia mungkin hanya berukuran 4x5 m². Di dinding ruang tamu terdapat pajangan foto keluarga Nadia. Dan disudut ruang tamu tersebut, terdapat rak buku yang tertata rapi.


Ricky mencoba mengambil salah satu buku yang dianggapnya menarik, yakni album foto keluarga Nadia.


Ricky membuka halaman demi halaman album foto, dengan seksama ia melihat foto-foto itu, sambil sesekali ia tersenyum manis melihat beberapa foto yang ada didalam nya.


Ricky tersenyum memandangi foto-foto masa kecil Nadia.


Sewaktu kecil Nadia terlihat cantik, pipinya yang cubby, dengan rambut dikuncir dua, membuat Nadia tampak imut dan menggemaskan.


Beberapa saat kemudian Nadia pun masuk keruang tamu dengan membawa dua cangkir teh, dan beberapa toples cemilan.


Dengan hati-hati Nadia meletakkan cangkir teh untuk Ricky dan mempersilahkannya untuk menikmati suguhan tersebut.


Tanpa menolak Ricky pun segera meletakkan album foto yang ia pegang tadi, kemudian dia segera mengambil secangkir teh yang disuguhkan oleh Nadia.


Kebetulan didalam rumah tidak ada siapa-siapa, hanya ada Nadia seorang. Karena ayahnya masih belum pulang kerja.


Sedangkan ibu dan kedua adiknya sedang beres-beres membersihkan warung makan, selepas berjualan.


Nadia dan Ricky berbincang-bincang ringan, sesekali Ricky menggoda dan mengejek nadia tentang foto-foto masa kecilnya itu. Keakraban mulai terbangun diantara mereka berdua.


Waktu berlalu dengan cepat, jam dinding menunjukkan pukul 17. 30 wib. Ricky pun sadar diri, karena sudah tiba baginya untuk berpamitan.


Setelah berpamitan ke Nadia, Ricky pun segera melajukan kendaraannya untuk segera pulang ke rumah terlebih dahulu, sebelum malam nanti ia akan kembali menemani oma nya dirumah sakit.


...----------------...