
Nadia bisa tahu alamat rumah Farrel karena ia tadi secara tidak sengaja melihat sebuah kertas yang bertuliskan alamat rumah Farrel didalam laci mobil Farrel.
"Eh Nad, kamu kok bisa tahu alamat rumahku? Apa jangan-jangan selama ini kamu diam-diam memang ngefans sama aku ya, sehingga kamu rela menyelidiki semua hal tentang aku, termasuk alamat rumah?" tanya Farrel sambil pura-pura menahan sakit.
"Sssst, berisik! emang dari tampangku ini ada tanda-tanda kalau aku ngefans sama kamu. Impossible! udah diam aja, urus aja sakit mu itu. gak usah berpikir yang mengada-ada," kata Nadia.
"Hmmmm ..." Farrel hanya bisa menghela nafas panjang.
Setelah hampir seperempat menit lebih pak taxi yang mereka tumpangi akhirnya memasuki kawasan perumahan elit.
Memasuki gerbang kawasan perumahan tersebut, harus berhadapan terlebih dulu dengan petugas keamanan disana. Namum setelah Farrel berbicara langsung dari dalam mobil, petugas itu pun akhirnya mempersilahkan kita untuk memasuki kawasan perumahan elit ini tanpa kesulitan.
Setelah memasuki kawasan perumahan ini, Nadia melihat bentuk-bentuk perumahan ini dan membuat Nadia terperanga. Disana terdapat hunian-hunian dengan konsep dalam balutan ala-ala gaya Skandinavia modern. Disana ada hunian dengan 2 lantai dan 3 lantai,
Keseluruhan kawasan residensial ini dikelilingi oleh penghijauan dan beragam tanaman yang memberikan kesejukan dan kesegaran di sekitar hunian, sangat asri sekali dan untuk keamanan, sudah pasti kawasan ini aman karena ada petugas keamanan 24 Jam, CCTV dan penggunaan kunci pintu digital di setiap unit rumah.
Dan pada saat perjalanan menuju ke rumah Farrel, Nadia melihat dari dalam mobil bahwa di area perumahan ini, ada beragam fasilitas umum premium seperti diantaranya swimming pool, sauna, Basketball Court, Bike Park, taman bermain anak, Jogging Track, fasilitas kebugaran dan olahraga, Tennis Court dan area hijau terbuka untuk berinteraksi dengan alam.
Nadia berkhayal, seandainya saja ia sekeluarga bisa tinggal di perumahan seperti ini, pasti dia akan sangat bahagia.
Akhirnya Pak sopir taxi memberhentikan mobilnya didepan sebuah rumah besar mewah berlantai tiga, yang memiliki halaman yang luas, berbeda dengan model perumahan yang ada di kompleks perumahan ini.
Farrel pun menyuruh Nadia untuk segera memapahnya keluar dari mobil, "Nad, cepet bantu aku keluar dari mobil ini dong, jangan cuma diem aja disitu!" kata Farrel.
Nadia yang sedari tadi masih terhanyut dalam lamunan, karena melihat situasi sekitar rumah Farrel, akhirnya tersadar karena teriakan Farrel. Nadia langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Farrel, dan membantu memapah Farrel berjalan menuju rumahnya.
Sebelum Farrel masuk kedalam rumah. Farrel menyuruh security khusus yang menjaga rumahnya, untuk membayarkan biaya taxi yang sudah ia tumpangi tadi.
Saat Nadia dan Farrel tepat berada didepan pintu rumah, sudah ada satu orang pelayan yang membukakan pintu rumah itu dan menyapa Farrel.
"Selamat siang Tuan muda, Tuan muda kenapa? apa perlu saya bantu?" tanya pelayan tersebut.
"Tidak usah Bi Inah. cukup gadis ini saja yang membantuku. Sebaiknya Bi Inah bilang ke Bi lastri untuk segera membuatkan dua jus jeruk dingin, dan beberapa camilan. Kemudian suruh dia bawa segera ke kamarku. Ingat jangan sampai kelamaan," perintah Farrel.
"Baik Tuan muda, akan segera saya sampaikan ke bibi Lastri untuk cepat-cepat membuat dan mengantarkannya ke kamar Tuan muda," jawab bi Inah.
"Ayo Nad, segera antarkan aku ke kamarku," kata Farrel.
"Ah, kenapa harus aku yang mengantar kamu ke kamarmu? Aku kan sudah mengantarkan kamu sampai rumahmu, jadi ya, tugasku sudah selesai. Aku mau pamit. Lagipula pelayanmu itu kan banyak, suruh saja salah satu dari mereka untuk mengantarkan kamu ke kamar," jawab Nadia.
Farrel terus memaksa Nadia untuk memapahnya berjalan. Farrel memberitahukan arah jalannya. Kamar Farrel ada dilantai dua, dan Farrel menyarankan agar mereka naik ke lantai dua dengan menggunakan lift.
Nadia hanya mengangguk-angguk saja tanpa bicara. Sambil memapah Farrel, Nadia melihat-lihat situasi dirumah Farrel. Rumah Farrel memang benar-benar menunjukkan rumah orang konglomerat atau bangsawan.
Berbagai macam perabotan dan pernak pernik mewah dan mahal ada di setiap sudut ruangan. Di beberapa dinding ruangan pun ada beberapa barisan foto keluarga yang berjejer dan tertata rapi.
Didalam foto keluarga itu, ada 5 orang keluarga. Nadia menebak sepertinya mereka itu adalah kedua orang tua Farrel, 1 orang laki-laki dewasa yang tampan tidak kalah dengan ketampanan Farrel. Kemudian 1 orang perempuan cantik kemungkinan ini juga kakak dari Farrel.
Sedangkan satu foto yang tersisa, tentu saja itu adalah foto Farrel. difoto itu Nadia mengakui jikalau Farrel itu memang terlihat sangat gagah, tampan dan imut.
Namun Nadia berusaha agar tetap fokus, gak usah berpikir yang neko-neko, dan didalam hatinya saat ini hanya ada Ricky.
"Oh, bagaimana keadaan Ricky saat ini ya? setelah kejadian tadi Ricky sepertinya benar-benar membenciku. Bahkan ia sama sekali tidak mengirimkan pesan untuk menanyakan kabarku, atau apalah seperti yang biasa ia lakukan," kata Nadia dalam hati.
Nadia kembali murung, mengingat kejadian hari ini, dan bagaimana kelanjutan dari hubungan mereka kedepannya. Selalu saja ada masalah yang menghampiri, baru saja balikan lagi, sekarang timbul kesalah pahaman lagi.
"Semua ini karena Farrel! gara-gara bertemu Farrel Ricky, jadi mudah cemburuan. Ih seandainya saja ia tidak pernah bertemu atau kenal dengan Farre, pasti semuanya tidak akan menjadi seperti ini. Hih sebel!" Nadia bergumam dalam hati.
Ia melampiaskan kekesalannya itu dengan menginjak salah satu telapak kaki Farrel, dengan penuh emosi. Farrel pun berteriak kesakitan karena diinjak oleh Nadia.
"Wadaauh ... Sakit! What's are you doing? kamu kesambet ya? Ini kaki orang tau, dikira keset apa? Main injak aja," teriak Farrel kesal.
"Sorry, nggak lihat tadi, gak sengaja nginjak kaki kamu," ngeles Nadia.
"Ya udah, sekarang ayo cepat antar aku ke kamarku, aku butuh istirahat ini? itu kamarku, ayo bawa aku kesana," kata Farrel sambil tangannya menunjuk ke arah sebuah pintu.
Nadia langsung memapah Farrel menuju ke tempat yang ia tunjukkan tadi. Nadia tidak bisa langsung membuka pintu itu, karena kunci pintu itu menggunakan kunci pintu digital.
"Ribet banget sih, kunci pintu aja pake model yang macem-macem, mendingan kunci pintu kamarku, langsung ceklek, ceklekkk, gampang," kata Nadia sewot.
Sebenarnya Nadia merasa kagum dengan kecanggihan teknologi yang ada dirumah Farrel ini, tapi karena gengsi, jadi dia berkata julid seperti itu.
"Iya, pintu rumah mu memang gampang. Gampang dibobol maling kan? ini nih, yang namanya smart door lock. Bagi orang yang sering lupa bawa kunci atau lupa naruh kunci kalau bepergian keluar rumah, kayak kamu ini, cocoknya pake kunci pintu digital ini."
"Gak perlu lagi bawa kunci kemana-mana. Tinggal tempelin jari kayak aku gini, pintu auto kebuka, Canggih banget kan, kunci pintu kamarku ini. Oh ya, pintu ini juga dapat dibuka dengan metode kata sandi, kartu IC dan kunci mekanis. Gimana keren kan? kamu pasti kepengen kan, iri ya ... iri ya ... hahaha," ejek Farrel.
...----------------...