Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 84 Penghasilan Pribadi



Nadia benar-benar tak mengerti, apa yang ada didalam pikiran Farrel sebenarnya. Farrel selalu memberikan perhatian yang lebih untuk diri dan keluarganya, padahal Farrel juga baru saja mengenal keluarganya itu.


Apa memang seperti ini, cara orang kaya dalam memperlakukan orang lain? Tapi tidak semua orang kaya bisa bersikap seroyal dan sebaik seperti Farrel.


Apakah memang seperti ini Farrel memperlakukan teman atau sahabat-sahabatnya ya? Atau adakah hal lain yang tidak dapat diketahui olehnya?


Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul didalam pikiran Nadia. Dan semua itu rasanya belum bisa terpecahkan hingga saat ini.


"Oh ya, tadi ibu menyuruhku untuk mengajakmu ikut makan malam bersama, itu pun kalau kamu mauuuu, ta-pi kalau kamu gak mauuuu, ya su-dah," kata Nadia.


Dengan segera Farrel langsung menjawab perkataan dari Nadia, "mau, mau aku Nad, siapa bilang aku gak mau?"


"Apalagi perutku udah keroncongan gini, kamu kan tahu sendiri, tadi aku juga belum makan, hehehe," imbuh Farrel cengengesan.


"Ya, ya, kalau gitu kita makan malamnya diruang makan aja, biar gak perlu angkat-angkat piring ke ruang tamu," jawab Nadia.


Nadia pun berjalan menuju ke ruang makan yang letaknya tidak begitu jauh dari ruang tamu, diikuti oleh Farrel dari belakang.


Sesampainya diruang makan sederhana yang tidak begitu luas, tapi tempat dan suasananya membuat ruang makan ini terasa sangat nyaman.


Disana semua makanan sudah tersaji dengan rapi, dan seluruh keluarga Nadia sudah berkumpul. Nadia dan Farrel segera duduk untuk menikmati hidangan makan malam ala kadarnya dari keluarga Nadia.


Mata Farrel tertuju ke menu-menu hidangan yang disajikan dimeja makan itu. Disana ada lauk ikan lele, tahu dan tempe goreng, ada beberapa macam lalapan mentah seperti timun, kol, Pete dan taoge tidak ketinggalan sambal terasi yang sangat menggoda baunya, ada juga setoples kerupuk juga.


"Nak Farrel, maaf ya, untuk makan malam kali ini, dikeluarga kami cuma menyediakan makanan yang sederhana ini. Mungkin tidak sesuai dengan selera kamu. Mohon dimaafkan ya nak," kata ibu Nadia.


"Ah, gak kok tante, saya suka kok, hidangan seperti ini sangat cocok dengan lidahku. Masakan Tante pasti sangat enak, dari aromanya saja sudah sangat menggoda. Ah ... jadi tidak sabar aku untuk menyantapnya Tante, hehehe ..."


"Alhamdulillah, syukurlah nak kalau kamu juga suka," kata ibu


"Kalau begitu tidak perlu menunggu lama lagi, mari kita mulai untuk menikmatinya, bismillahirrahmanirrahim ..." ajak ayah Nadia.


Mereka pun mulai mengambil hidangan satu persatu bergantian. Mereka semua sangat menikmati makan malam hari ini, terutama Farrel.


Sebenarnya menu malam ini adalah yang pertama kalinya ia makan. Karena menu masakan dirumah Farrel, lebih dominan menyajikan menu masakan western dan Korea.


Sesekali koki keluarga Farrel memang memasak masakan Indonesia, tapi hanya menu-menu tertentu saja, seperti rendang, opor, sate, nasi goreng, ikan bakar, rica-rica atau balado.


Sedangkan ikan lele, mungkin bisa dibilang tidak pernah disajikan dan dimasukkan dalam daftar list menu dikeluarga Farrel.


"Hmmm, ini masakan buatan Tante memang benar-benar jempolan. Enak banget, terutama sambal terasinya ini, sangat enak," celetuk Farrel.


"Kalau kak Farrel suka dengan masakan ibu, sering-sering aja kesini kak, ikut makan bareng dengan kita, hehehe," kata Rafi.


Namun tentu saja itu tidaklah pantas, jika tiap hari harus numpang makan di sana. Ia sadar diri, dia hanya teman Nadia dan bukan siapa-siapanya. Farrel menghargai sikap kekeluargaan dan kemurahan hati dari seluruh keluarga Nadia.


Setelah makan malam selesai, seperti biasa keluarga Nadia pasti selalu menyempatkan untuk berkumpul dan berbincang-bincang sejenak bersama Farrel.


Disela-sela obrolan ringan keluarga Nadia dengan Farrel sang ayah dan ibu Nadia mengucapkan terimakasih kepada Farrel atas pemberian tas yang diberikan untuk kedua adik Nadia.


"Terimakasih ya mas Farrel, sudah repot-repot membelikan tas untuk Rafi dan Tio," kata ayah Nadia.


"Sudah berulang-ulang kali, kamu pasti kalau kesini membelikan macam-macam, kemarin-kemarin cemilan atau makanan, lah sekarang malah beliin tas, buat anak-anak. Duh, jujur Om sama Tante gak bisa berkata apa-apa, cuma bisa ngucapin terima kasih saja."


"Gak apa-apa Om, Tante, saya sangat senang jika bisa membelikan sesuatu yang bermanfaat. Apalagi jika apa yang saya berikan itu bisa membuat hati orang yang menerimanya merasa senang."


"Ehmmm, lain kali kalau datang ke sini mas Farrel gak usah repot-repot, bawa ini itu. Kami sekeluarga menerima kedatangan mas Farrel dengan tulus ikhlas dan senang hati kok. Kapan pun mas Farrel mau main kesini, silahkan saja,"


"Ya, Om saya tahu maksud dari perkataan Om, saya tahu ketulusan dan kemurahan hati dari om sekeluarga yang sudah menerima kedatangan saya dengan tangan terbuka, sudah sangat membuat hatiku bahagia Om,"


"Oleh karena itu, sebagai rasa syukur saya atas perhatian dan keramahan dari keluarga ini, jika saya kesini, saya ingin sekali membawakan sesuatu untuk keluarga ini, walaupun itu hanya bawaan sederhana."


"Saya benar-benar tulus ikhlas Om,"


"Dan Om sekeluarga tidak perlu khawatir, apa yang sudah saya belikan ini itu, semuanya dari uang pribadi, hasil keringat saya sendiri. Bukan uang saku pemberian orang tua kok Om,"


Ayah dan ibu Nadia saling bertatapan, mereka sedang mencerna apa yang sudah dikatakan oleh Farrel barusan.


"Hmmm, maksud kak Farrel, uang hasil penghasilanmu sendiri? Kamu bekerja ya kak?" tanya Tio dan Rafi serempak.


"Oh, kak Farrel gak bekerja. Yah bisa dibilang gak kerjaan sih. Ehmmm apa ya, namanya susah untuk dijelaskan."


"Hmmm, penghasilan pribadi saya itu diperoleh dari hasil hadiah menang lomba-lomba, dan ada yang berupa royalti hak kepemilikan." Jelas Farrel.


"Lomba? Royalti? Lomba apa itu mas dan royalti apa?" tanya ayah Nadia.


"Eh, anu Om, lomba-lomba itu, turnamen taekwondo dulu sewaktu masih tinggal di Korea dan Singapure . Hadiah dari berbagai pertandingan taekwondo baik dalam maupun luar negeri ini, masih tersimpan ditabungan pribadiku."


"Hasil hadiahnya, lumayanlah buat ditabung Om, tapi uangnya ini belum pernah aku gunakan. Untuk aktivitas sehari-hari, yang aku gunakan adalah uang saku dari ortu. Jadi untuk uang tabunganku aku gunakan untuk hal lain keseharianku Om,"


"Kalau royalti-"


"Hmmm, untuk royalti ...? Emmmm, pokoknya ada Om, dan semuanya itu atas usahaku sendiri kok Om. Kayaknya, gak enak kalau aku ceritakan lagi, nanti dikira- pamer atau apalah, hehehe ..." kata Farrel sambil tersenyum malu.


...----------------...