Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 85 Berjiwa Bisnis



Perbincangan dirumah Nadia semakin seru, terutama saat mendengarkan penjelasan dari Farrel. Diusianya yang terbilang remaja dan masih sekolah, tapi sudah bisa mendapatkan penghasilan sendiri, itu merupakan hal yang luar biasa dan menarik bagi keluarga Nadia.


Kebanyakan anak-anak orang kaya pasti selalu memanfaatkan kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki oleh keluarganya dalam setiap aktivitas mereka. Tapi berbeda dengan Farrel, dia ternyata anak yang mandiri dan berprestasi.


"Ah, ini namanya ya, enggak pamer, soalnya kan kami yang bertanya, dan kamu hanya menjawabnya saja. Jadi gak usah merasa gak enak ataupun sungkan,"


"Justru, saya sebagai kepala keluarga sangat bangga terhadap mas Farrel, yang berada diusia muda ini, tapi sudah bisa mandiri, tidak terlalu bergantung dengan orang tua, bahkan bisa mendapatkan pencapaian yang luar biasa," kata ayah Nadia.


Farrel hanya tersenyum mendengar ucapan dari ayah Nadia tersebut. Sedangkan semua anggota keluarga Nadia masih antusias ingin mengetahui hal apa yang sudah dikerjakan Farrel, sehingga ia bisa mendapatkan royalti?


"Ayo dong kak, cerita ke kami. Siapa tahu nanti aku bisa menyusul seperti kakak dan ketularan ilmunya juga sehingga bisa menghasilkan uang sendiri, dan bisa membanggakan keluarga tentunya," ucap Tio penuh semangat.


"Hmmmm, ya deh. Kakak bisa mendapatkan royalti dari beberapa hal. Ada yang dari menulis buku, ada yang dari menciptakan lagu, membuat game, dan ada yang dari royalti waralaba, hehe," kata Farrel malu-malu.


Semua keluarga Nadia terperanga mendengar ucapan dari Farrel tadi. Termasuk Nadia, namun ia berusaha menutup-nutupinya.


"Wah banyak banget ketrampilan kakak, ini mah keren. Ternyata keahlian kak Farrel sangat banyak, menguasai semua bidang keahlian, kereeen ..." kata Rafi.


"Ah jangan melebihkan-lebihkan gitu dong fi, gak semua bidang kakak kuasai kok, hanya bidang-bidang tertentu saja, itu pun hanya dibidang yang kakak sukai saja. Dan enggak jago-jago amat kok. Yah, anggap saja hobi yang membawa berkah," kata Farrel.


"Gak bisa kak, memang kenyataannya gitu kok. Buktinya kakak itu jago olahraga terutama taekwondo, jago dibidang sastra, jago dibidang seni musik, jago dibidang IT atau programmer juga. Kak Farrel memang is the best pokoknya."


"Eh ada lagi kelebihan dari Kak Farrel. Selain pintar dan berprestasi dia juga ganteng, pasti banyak cewek yang suka ya sama kakak?" Celetuk Rafi.


Farrel tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Rafi. Sementara Nadia menonjor kening adik bungsunya itu.


"Eh anak kecil udah ngomong suka-sukaan kayak gitu, gak sopan tahuuu!" sahut Nadia.


"Ah kakak, emang kenyataannya gitu kok, kak Farrel kan memang ganteng, aku aja yang sesama cowok suka kok melihat wajah kak Farrel, apalagi cewek-cewek diluaran sana pasti juga suka melihatnya,"


"Emang kakak gak mengakui dengan ketampanan yang dimiliki kak Farrel ini? atau, jangan-jangan ... kakak gak normal ya?" ejek Rafi.


"Eh nih anak, awas yah," kata Nadia yang kesal sambil mencoba mencubit sayang adik bungsunya itu.


"Eh udah, udah ini adik kakak kok malah pada berantem aja, gak malu apa? Masih ada nak Farrel disini kok kerjaannya pada iseng aja. Yang kecil suka usil, yang kecil juga suka banget godain kakaknya, hummp ..." kata ibu Nadia.


"kamu punya bisnis waralaba juga ya mas? kalau Om boleh tahu usaha apa itu mas?" tanya ayah Nadia.


"Waralaba makanan franchise minuman dan makanan cepat saji Om. Lumayanlah Om bisa buat tambah-tambah uang saku, hehehe ..."


"Kalau gitu mah, bukan namanya nambah uang saku, usahamu itu bisa buat kebutuhan hidup sehari-hari mas ... Mas ... Sangat luar biasa, jiwa bisnismu itu memang sudah mendarah daging, Om salut sama kamu,"


"Ah, Om bisa aja. semua ini hanya kebetulan saja Om. Sedari kecil saya hidup di keluarga yang berjiwa bisnis. Dan kebetulan aja ada peluang juga ada sedikit modal dari royalti-royalti yang lain, jadi bisa saya gunakan untuk buka bisnis waralaba ini Om."


"Keluarga saya hanya memberikan support, saran dan ilmu-ilmu usaha untuk saya. Selebihnya mereka menyerahkan semuanya kepada saya pribadi untuk mengelolanya sendiri."


"Kereeeen, benar-benar keren kak Farrel ..." kata Tio dan Rafi.


Obrolan ringan dan suasana keriuhan dan keseruan diruang tamu itu masih terus berlanjut hingga pukul delapan malam. Setelah itu, keluarga Nadia pamit untuk melakukan aktivitas mereka masing-masing.


"Nad, bahan untuk penulisan makalahnya, sepertinya sudah dapat semua jadi rencana kegiatan kita besuk apa nih?" tanya Farrel.


"Hmmm, berarti besok kita tinggal mencari dan mengambil sampel lumutnya untuk kita uji coba."


"Kira-kira dilokasi mana ya, yang dapat kita temui lumut-lumut ini?" tanya Nadia.


"Hmmm, ntar malam aku search deh, lokasi yang pas untuk kita ambil sampelnya. Nanti kalau sudah ketemu akan aku share ke kamu Nad, gimana?"


"Oke, akan aku tunggu kabar selanjutnya dari kamu, Rel. Jangan dadakan ya, kalau ngabarin nya, supaya aku bisa ijin dan mempersiapkan semuanya dirumah," kata Nadia.


"Oh, i-ya, gak dadak kok, akan aku kabari secepatnya. Aku juga kan gak mau terlewatkan untuk dibuatkan bekal yang enak darimu, hehehe ..." celetuk Farrel.


Wajah Nadia nampak memerah, ia sepertinya agak malu mendengar perkataan dari Farrel tadi.


Setelah dirasa semuanya beres dibicarakan, akhirnya Farrel meminta izin untuk pamit pulang. Nadia pun mempersilahkannya. Setelah beberapa saat kemudian mobil Farrel pun telah menghilang dari pandangan mata Nadia.


Angin malam mulai berhembus kencang, menyelimuti tubuh Nadia yang masih berdiri didepan teras. Nadia berdiri termangu, menatap lurus menembus kegelapan malam.


Tatapan mata Nadia seperti kosong, tanpa pandangan berarti. Didalam pikiran Nadia saat ini, terlintas kembali tentang sosok pujaan hatinya yang tak kunjung ada kabar.


Beberapa saat kemudian Nadiapun masuk kedalam rumahnya, untuk segera menghubungi kekasihnya itu.


Didalam kamar Nadia mulai menghubungi nomor handphone Ricky. Satu kali,dua kali tetap tak bisa dihubungi, dengan alasan, nomor yang dihubungi berada diluar jangkauan.


Mungkin karena Ricky saat ini berada diluar negeri jadi memang sulit untuk dihubungi, atau adakah hal lain yang tidak dapat Nadia pahami.


Nadia menghela nafas panjang. Ia bergumam sendiri, "Ricky, kenapa sampai sekarang kamu masih saja tak ada kabar. Sebenarnya kamu kenapa dan sedang apa disana? Apakah bagimu aku ini sudah tak ada artinya lagi? Sehingga mengabariku saja begitu sulitnya untuk kamu lakukan."


"Alasan apa lagi yang akan kamu berikan padaku, saat kamu tiba nanti di Indonesia. Sebagai seorang kekasih aku pun ingin memberikan suatu perhatian untukmu, walaupun hanya sekedar perhatian kecil,"


"Tapi, kamu justru menjauh, sehingga tak dapat untuk diriku ini menjangkaumu. Apakah kamu sudah berpindah ke lain hati? Kalau memang itu yang kamu inginkan, seharusnya katakan saja sejujurnya padaku, sehingga tidak menggantung seperti ini," gumam Nadia.


Karena Nadia, merasa hatinya masih saja kacau, dia ingin sekali curhat dan meluapkan semua isi hatinya itu, pada sahabat karibnya, yaitu Mirna.


Nadia pun segera menuliskan chat kepada Mirna. "Assalamualaikum Mirna, lagi sibuk apa nih?"


Beberapa detik kemudian Mirna pun segera membalas pesan dari Nadia. "Wa'alaikumsalam, gue lagi sibuk nonton Drakor aja nih Nad di kamar, wkwkwk. Lah elo sendiri lagi ngapain?"


"Wah asyik dong nonton Drakor. Pikiranku lagi sumpek nih, Mir!"


"Elo, sumpek kenapa? kalau mau cerita, cerita aja Nad. Biar plong hati dan pikiran elo. Gue siap jadi pendengar yang baik kok Nad,"


Nadia pun menceritakan semua permasalahan dan keresahan hatinya itu kepada Mirna. Mirna pun memberikan nasehat dan semangat sebisa mungkin untuk Nadia, agar tetap optimis dan semangat dalam melalui semuanya.


...----------------...