
Nadia langsung keluar dari mobil dan langsung pergi masuk ke warung bakso, diikuti Farrel yang menyusul dibelakang nya. Tanpa basa-basi Nadia hanya memesan satu porsi bakso beranak dan satu minuman es jeruk, Tanpa menghiraukan Farrel yang sudah duduk disampingnya.
"Lho, bakso untukku mana Nad? Kok cuma pesen 1 porsi? Apa kamu mau, agar kita makan semangkok berdua ya, biar romantis gitu, Hehehe ...," tanya Farrel.
"Uh, bukan, itu sih cuma maumu aja. Kamu pesen aja sendiri ya, siapa suruh ngambil fotoku diam-diam!" kata Nadia sewot.
"Ealah Nad, masa kamu tega banget sih sama aku? sungguh teganya dirimu padaku. Aku sudah kelaparan seperti ini, masih saja kamu bahas masalah foto-foto itu," kata Farrel agak lebay sambil pura-pura bersedih hati.
"Bodo amat," kata Nadia.
Dengan terpaksa akhirnya Farrel sendirilah yang memesan bakso untuk ia makan. Sambil menunggu bakso nya datang, ide-ide jahil dari Farrel kembali muncul, untuk menggoda Nadia.
Farrel pergi ke pelanggan warung bakso lainnya yang ada disana. Farrel meminta tolong untuk difotoin dirinya pas dengan Nadia, tanpa sepengetahuan Nadia.
Sang pelanggan bakso pun menyetujui permintaan dari Farrel tersebut, dengan syarat minta foto bareng dengan Farrel. Farrel pun menyetujuinya.
"Nad, kita foto yuk pas lagi makan berdua diwarung, kayaknya seru tuh. boleh kan?" kata Farrel kepada Nadia sambil mengalihkan perhatian nya agar, orang yang mau memfoto mereka tidak ketahuan oleh Nadia.
"Ih, ogak ah, kamu ini kenapa foto terus sih dari tadi. Gak cukup apa foto-foto yang kamu ambil tadi ditaman sana. Atau sini kamu aku fotoin aja. aku siap kok kalau cuma fotoin kamu," jawab Nadia.
"Wah kalau kamu yang fotoin, jangan-jangan nanti file foto dikamera nya kamu hapusin semua lagi. Ah gak usah aja ah. Mending gak usah foto aja. Daripada semua fotonya nanti hilang," kata Farrel.
Beberapa saat kemudian pesanan bakso dan minuman mereka berdua pun datang. Tanpa menghiraukan celotehan Farrel, Nadia langsung melahap bakso yang sudah disajikan di atas mejanya.
"Nad, kamu doyan apa laper sih? makam bakso dpe segitunya? Tapi kalau kamu makan bakso kayak gini, wajah kamu jadi terlihat tambah cantik dan ngegemesin deh. Suwer, beneran deh, nih kalau gak percaya, coba kamu lihat sendiri di sini," kata Farrel sambil menyodorkan cermin kecil yang ada didompet Farrel.
Melihat ekspresi wajahnya sendiri, yang tengah melahap bakso dimulutnya itu, Nadia malah terpingkal-pingkal sendiri, karena betapa jelek dan lucunya saat itu, dengan mulut yang penuh sesak dengan bakso, jadi wajah Nadia terlihat semakin cubby kayak badut
"Udah-udah ah, cepat simpan cermin kamu itu, pasti cermin kamu itu, cermin buruk rupa ya? Tuh lihat gara-gara melihat cermin itu wajahku malah terlihat kayak badut, wkwkwk," kata Nadia sambil terbahak-bahak.
"Lho wajah kamu jadi jelek kok kamu malah gak marah, malah seneng gitu. Biasanya cewek itu kalau wajahnya terlihat jelek, pasti dia akan marah dan kesel. Kamu kok malah kebalikannya?" kata Farrel keheranan.
"Kenapa harus marah? memang kenapa dengan wajah jelek? justru dengan melihat wajahku yang kayak gini, wajahku terlihat jadi lucu banget, wkwkwk. Apalagi baksonya ini enak dan perutku laper banget, jadi pas deh. Hmmmm enaaaak ..." katA Nadia sambil memakan bakso dengan begitu lahapnya.
Melihat Nadia memakan bakso dengan lahapnya, membuat Farrel tersenyum lebar. Ditambah lagi, sepertinya suasana hati Nadia yang semula kesal sudah kembali santai dan baik-baik saja.
"Dasar cewek yang satu ini, kadang mudah banget cemberutnya, mudah banget marahnya, tapi juga mudah banget menghilangkan rasa kesalnya dan mudah sekali memaafkan orang lain. Sungguh-sungguh cewek yang unik," gumam Farrel dalam hati.
"Kayaknya kamu pecinta bakso, nih aku kasih kamu bakso urat ini, pasti kamu suka, ayo habiskan biar perutmu itu kenyang," kata Farrel sambil memberikan beberapa butir bakso urat miliknya ke mangkok Nadia.
"Tahu aja kamu, kalau aku pecinta bakso, hehehe ... Hmmm enak banget baksonya, sudah lama aku gak jajan bakso. Thanks ya ... oh ya, ayo dimakan baksomu juga," kata Nadia dengan pe-denya tanpa merasa canggung sedikitpun kali ini, sambil terus melahap bakso yang ada dimangkoknya itu.
Disisi lain, tanpa sepengetahuan Nadia, pelanggan bakso yang disuruh Farrel untuk memfoto mereka tadi pun berhasil mengabadikan momen antara Farrel dan Nadia dengan pose-pose yang paling bagus.
Dalam beberapa waktu bakso Nadia sudah habis, karena sebagian, baksonya tadi sudah ia berikan kepada Nadia.
Setelah membayar dan memesan Farrel duduk kembali ke meja makannya bersama Nadia. Nadia pun telah menghabiskan seluruh baksonya.
"Habis dari mana kamu? tanya Nadia.
"Oh aku habis dari abang penjual bakso untuk sekalian bayar. Kebetulan kan, aku sudah habis duluan. Jadi langsung aja bayar duluan," jawab Farrel.
"Oh, kamu udah bayar duluan ya, kalau gitu tinggal aku dong yang belom, kenapa tadi gak sekalian nunggu aku, jadi bisa barengan bayarnya," kata Nadia.
"Ngapain barengan? Kamu udah aku bayarin juga kok, kan tadi sewaktu di mobil aku udah bilang kalau mau traktir kamu bakso, inget gak?" jelas Farrel.
"Hah, udah kamu bayarin? Ah kamu ini, selalu nraktir aku terus, tadi siang udah ditraktir, malam ini ditraktir lagi. Aku kan jadi gak enak?" kata Nadia.
"Gak apa-apa Nad, kamu santai aja. Dulu aku juga pernah bilang mau bantu aku dan bimbing aku juga ya kan? Nah anggap saja kali ini kamu sudah berhasil membimbing aku untuk mengerjakan tugas kelompok kita. jadi sebagai ucapan terimakasih atas bimbingannya aku membalas Budi dengan mentraktir kamu," kata Farrel.
Nadia berpikir sebentar, dan kemudian berkata, "apa benar, aku pernah berjanji untuk membantu dan membimbing kamu ya? Aku kok gak ingat?"
"iya, waktu itu saat kita bertemu berdua dilorong kamu pernah berjanji seperti itu, kamu juga masih punya 2 janji lain kepadaku, yang harus kamu kabulkan. Tapi untuk saat ini aku belum tahu apa yang harus aku tawarkan untuk kamu menepati 2 janjimu itu," kata Farrel.
"hadewh, banyak banget janjinya sih, kamu ambil kesempatan dalam kesempitan ya? Hmmmm, terserah kamu aja deh, kalau gitu," jawab Nadia.
"Okey karena makannya sudah selesai, kamu kembali duluan saja ke mobil, aku masih ada perlu lain dengan Abang tukang baksonya. Aku mau bungkus bakso dulu," pinta Farrel.
Nadia menyetujui permintaan Farrel, dan kemudian ia langsung berjalan menuju ke mobil Farrel, untuk menunggunya disana.
Setelah Nadia pergi meninggalkan warung bakso itu, Farrel kemudian segera mengambil pesanan baksonya, dan kemudian ia pergi menghampiri pelanggan bakso yang sudah ia pintai untuk memfoto dirinya tadi.
Pelanggan bakso tersebut menyerahkan kamera pocketnya kepada Farrel. Dan menunjukkan beberapa foto yang sudah berhasil ia foto tadi. belum sempat Farrel memperhatikan dengan seksama foto-foto tersebut, pelanggan bakso tadi langsung meminta imbalan dari Farrel.
Yaitu imbalan berupa foto bareng dengan Farrel. Karena wajah Farrel yang memang terbilang tampan dan foto genik, bak seorang aktor Korea, jadi pelanggan perempuan tadi sangat antusias ingin foto bareng dengan Farrel.
Sebagai ucapan terimakasihnya, Farrelpun menuruti permintaan untuk foto bersama dengan pelanggan bakso tersebut dengan beberapa temannya yang ada disana tadi. Karena dirasa cukup, Farrel akhirnya berpamitan dan pergi meninggalkan warung bakso tersebut menuju ke tempat parkir mobilnya.
Nadia sudah menunggunya didalam mobil. Farrel segera memasuki mobil tersebut dan meletakkan bungkusan baksonya tadi didalam laci atau dashboard mobil.
"Sudah selesai ya, beli baksonya? Kok lama banget sih?" tanya Nadia.
"I-ya kan, ha-rus nunggu dulu baksonya dibuatin. Baru bisa dibawa pulang," kata Farrel terbata-bata, karena itu hanya sekedar alasan saja.
Kemudian Farrel segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukan kendaraannya itu untuk pergi mampir ke toko buku.
...----------------...