
Buku-buku diperpustakaan ini sangat terawat dan tertata dengan rapi. Ditata secara Shelving. Shelving merupakan salah satu kegiatan yang cukup penting di setiap perpustakaan. Kegiatan ini berupa penyusunan/ penjajaran buku di rak secara sistematis sesuai dengan nomor klasifikasinya.
Hal semacam ini bertujuan untuk memudahkan dan mempercepat para pemustaka dalam mencari-cari buku yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Biasanya seluruh buku di seluruh perpustakaan ditata menggunakan Sistem Desimal Dewey (Dewey Decimal System) atau Sistem Klasifikasi Perpustakaan Kongres (Library of Congress Classification System).
Banyak universitas dan perpustakaan khusus yang menggunakan Sistem Klasifikasi Perpustakaan Kongres, tetapi hampir seluruh perpustakaan umum menata buku menggunakan Sistem Desimal Dewey. Termasuk diperpustakaan Xx ini menggunakan Sistem Desimal Dewey.
Sekedar info, Sistem Desimal Dewey bukanlah hal yang sulit karena sistem ini ditata dengan rasional dan dibangun menggunakan basis desimal. Intinya, setiap kategori buku memiliki nomor kategori (integer, seperti 800) dan angka desimal di sebelah kanannya.
Nomor-nomor ini bisa kamu temukan di punggung buku dan disebut dengan nomor panggil. Sistem ini terdiri dari 10 kelas yang terbagi lagi menjadi 10 subkategori dan setiap kategori memiliki 10 subdivisi.
Tujuan nomor panggil adalah mengelompokkan buku-buku berdasarkan kesamaan subjek, dan hal ini terdiri dari paling tidak dua bagian: Nomor kelas (000 sampai 900) dan nomor desimal. Nomor kelas adalah sebuah integer dan nomor desimal adalah nomor yang berada di sebelah tanda titik. Semakin panjang digit nomor, semakin spesifik pula subjek buku.
Jadi Nadia dan Farrel, bisa lebih mudah dalam mencari buku-buku yang mereka perlukan. Dan kali ini mereka benar-benar sangat antusias sekali dalam mencari-cari buku itu. Sehingga mereka tidak begitu memperhatikan posisi mereka saat ini tengah ada dimana dan berdekatan dengan siapa.
Mereka berdua hanya fokus terhadap susunan buku-buku yang ada dirak buku perpustakaan itu. Disaat-saat mereka sedang mengambil salah satu buku, Nadia ingin mengambil satu buku disalah satu rak.
Namun tanpa terduga, tangan Farrel pun bersebelahan dengan tangan Nadia, karena mau mengambil buku yang ada disebelah buku yang Nadia ambil, dan kedua tangan mereka saling beradu gesek satu dengan yang lain.
Secara refleks mereka berdua sama-sama terkejut dan saling melihat satu sama lain. Karena mereka juga sama-sama normal secara batin, tentu efek dari bersentuhan kulit tadi membuat Nadia dan Farrel seperti tersengat listrik kecil dan mereka berdua jadi salah tingkah.
"Emmmm, kamu aja dulu Nad, yang ngambil bukunya, hehehe ... Aku setelah kamu aja. Kan Ladies first, jadi prioritas utama, hehehe," kata Farrel sambil cengar-cengir salah tingkah.
"I, i-i-ya, aku cuma mau ngambil buku yang ini aja kok ta-di-nya. Eh tiba-tiba a-da ka-mu a-ku jadi kaget. Emmmm, aku langsung ke tempat duduk disana ya, mau aku baca-baca du-lu bu-ku-nya," kata Nadia terbata-bata sambil langsung ngacir meninggalkan Farrel karena ia sedang malu.
Wajah Nadia yang semula kuning mulus sekarang berubah memerah. Betapa malu dan canggung dirinya saat ini. Dia langsung pergi ke tempat duduk tadi, agar ia dapat menghindar dari Farrel dan dapat menenangkan dirinya kembali.
"Uh, Nad, Nad, kamu ini kenapa sih? Lha wong cuma kegesek sebentar kulit tangannya Farrel kok jantungmu langsung deg-deg-an kayak gini. Padahal kegesek kulit sama salaman dengan teman-teman cowok sekelas lainnya kan juga sama aja. Tapi kenapa rasanya ini seperti beda? Hadewh, otakku sudah gak normal ini nih?" Kata Nadia dalam hati.
"Harus fokus, tetap fokus Nad. Ayo baca bukunya Nad, tugas masih menunggu untuk dikerjakan lho Nad," imbuh Nadia. Hati Nadia seperti berkecamuk, belum bisa diredakan dan belum bisa berkonsentrasi.
Nadia masih saja bertanya jawab sendiri dengan hati kecilnya. Nadia berusaha bersikap tenang, perlahan-lahan dan berulang kali Nadia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
Semakin teringat akan hal itu, jantung Farrel semakin berdetak dengan kencang. Dan keringat dingin mulai mengucur di dahinya.
"Huft, apa-apaan sih aku ini, semakin duduk didekat Nadia, bukannya semakin tenang, malah justru semakin teringat akan kejadian itu," ucap Farrel dalam hati.
Saat Farrel duduk didekatnya, Nadia hanya terdiam dan sibuk membuka-buka bukunya, pura-pura tidak menghiraukan kehadirannya Farrel. sama halnya dengan Nadia, Farrel juga hanya langsung terduduk dan membuka-buka lembaran demi lembaran buku yang ia ambil tadi.
Namun karena semakin lama suasananya semakin canggung diantara mereka, akhirnya Farrel memutuskan untuk mencoba mencairkan suasana. Farrel teringat akan camilan dan minuman yang ia beli tadi di rumah makan.
"Oh iya Nad, ini tadi cemilan dan minuman yang aku beli di rumah makan tadi. Sambil baca-baca buku lebih enak sambil nyemil juga, kan? Ini nih udah aku bukain. Supaya lebih rileks dan encer otak kita ini," ucap Farrel kepada Nadia
Farrel menyodorkan bungkus camilan yang sudah ia buka, agar bisa langsung mereka makan. Nadia menyambut pemberian Farrel tadi dengan tersenyum. Nadia berpikir, mungkin dengan memakan cemilan ini, pikiran dapat lebih tenang, dan semoga sikapku tidak canggung lagi menghadapi Farrel.
Nadia langsung merogohkan tangannya kedalam bungkus snack itu untuk ia makan. Perlahan-lahan Nadia dan Farrel sudah mulai bersikap rileks dan tidak canggung lagi.
Mereka berdua sudah mulai saling berbagi bacaan dan ide-ide, setiap ada bab-bab penting pada buku bacaan yang mereka baca, Farrel ataupun Nadia pasti selalu berbagi informasi dan argumen.
Semakin kesini Nadia dan Farrel terlihat semakin akrab dan kompak. Bahkan tak segan-segan Nadia sudah berani bercanda gurau dengan Farrel, disela-sela mereka berdiskusi.
Disela-sela percakapan mereka, Farrel bertanya kepada Nadia, "Nad, setelah dari perpustakaan ini, apa kita jadi mampir ke toko buku yang ada didekat daerah sini? Yah sekalian arah jalan pulang."
"Iya, gak apa-apa, kan memang toko buku itu searah dengan jalan kita pulang, jadi sekalian aja kita ke sana. Daripada kita kesana dilain hari, malah buang-buang waktu aja," jawab Nadia.
"Okey, kalau kamu setuju. Tapi nanti bisa-bisa kita pulang agak malam, apa kamu gak apa-apa Nad?" tanya Farrel.
"Enggak apa-apa, aku udah bilang sama orang tuaku, kalau mungkin hari ini aku akan pulang agak malam. Karena harus ke perpustakaan dan mampir-mampir juga ke toko buku. Jadi sudah aman Rel, kita bisa lebih fokus nyari-nyari bukunya," kata Nadia sambil tersenyum manis.
Melihat senyum manis dari Nadia ini, hati Farrel kembali berdebar-debar, "sungguh manis senyumannya, wajah imutnya semakin terlihat cantik dan menggemaskan."
Beberapa saat kemudian Farrel tersadar, "ih apa-apaan sih aku ini, pikiranku sudah konslet nih, kenapa senyuman dan wajahnya selalu terngiang-ngiang di mata dan pikiranku, hiiiiii... Gak mungkin, gak mungkin," ucap Farrel dalam hati sambil mengucek-ngucek kedua matanya itu.
...----------------...