
Mentari pagi mulai terbit di ufuk timur. Nadia beserta keluarganya sudah disibukkan sejak subuh dengan segala aktivitas pekerjaan rumah sehari-harinya.
Setelah Nadia mandi dan sarapan pagi Nadia bergegas untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah.
Hari ini Nadia tidak tahu, Ricky akan menjemputnya atau tidak, karena sejak kemarin malam, Ricky belum juga menghubungi dirinya.
Nadia sudah mengirim pesan kepada Ricky, menanyakan apakah ia akan menjemputnya atau tidak, namun belum juga ada balasan. Nadia tetap mencoba menunggu Ricky beberapa menit, siapa tahu ia datang menjemput.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian Ricky datang menjemput Nadia dengan menggunakan mobilnya.
Ricky segera turun dari mobilnya dan menghampiri Nadia. Ricky berkata kepada Nadia, "sayang, maaf ya aku gak sempet balas pesan kamu. Soalnya aku bangun kesiangan tadi, jadi aku terburu-buru untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah,"
"Oh, ya gak apa-apa, yang penting besuk-besuk kabari aku ya kalau ada apa-apa. Biar aku gak khawatir. Sejak kemarin kamu tanpa memberi kabar sedikitpun padaku, aku pikir kamu masih sibuk jadi, aku gak mau mengganggumu," kata Nadia.
"Okey sayang maaf ya, Ayo, kita berangkat saja sekarang," kata Ricky.
Mereka berdua kemudian, memasuki mobil dan mulai pergi meninggalkan halaman rumah Nadia.
Didalam perjalanan Nadia bertanya kepada Ricky, "kemarin gimana pengerjaan tugas kamu bersama Rani, apakah sudah dapat buku-buku referensinya?"
"Oh, kemarin aku jadi pergi dengan Rani. Kami pergi ke beberapa toko buku besar. Dan dari beberapa toko buku yang kami kunjungi, aku hanya mendapatkan 2 buku yang cocok untuk menjadi bahan acuan penelitian kami," kata Ricky.
"Emmmmm, berarti hari ini kamu juga akan pergi mencari-cari buku lagi dengan Rani ya?" tanya Nadia.
"Kayaknya hari ini aku gak bisa, karena aku hari ini ada jadwal latihan basket. Kamu kan tahu sendiri kalau tim basket sekolah kita akan ikut pertandingan. Tapi aku juga belum konfirmasi dengan Rani kok," jawab Ricky.
"Oh gitu ya, kalau aku hari ini ada rencana untuk mencari buku-buku untuk bahan acuan penelitianku dengan Farrel. Rencananya sih, kita mau cari diperpustakaan-perpustakaan umum dulu," kata Nadia.
"Ke perpustakaan mana? Kamu sebaiknya hati-hati dengan si Farrel itu, kamu juga harus jaga jarak dengannya. Jangan terlalu dekat duduk dengannya," ucap Ricky.
"Aku belum tahu kita nanti akan pergi ke perpustakaan yang mana dulu. Ih kamu kenapa sih A' selalu nampak curiga dan tidak suka dengan Farrel? Aku pergi sama Farrel kan memang satu kelompok. Dan lagipula aku juga tidak pernah mencurigai kamu pergi dengan Rani?" kata Nadia.
"Ya bukan begitu juga Nad, dari awal aku itu tau kalau si Farrel itu mencoba untuk mendekati kamu. Dan karena ini ada kesempatan sudah pasti ia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkanmu," bantah Ricky.
"Aa', Farrel selama ini gak melakukan macam-macam dengan aku, dan dari sikapnya dia tidak menunjukkan tanda-tanda untuk mendekati aku," kata Nadia.
"Kalau itu alasanmu, tidak suka dengan Farrel, lantas apa kamu juga gak menyadari, bukankah selama ini Rani yang jelas-jelas menyukai kamu, dan sudah menghalalkan segala cara untuk coba menyingkirkan aku darimu," bantah balik Nadia.
"Kenapa sih Nad kamu terus saja membela anak baru itu!" teriak Ricky.
"Aku tidak membela dia A', kamu itu yang terlalu berlebihan, terlalu over thinking. Tapi kamu sendiri tidak pernah introspeksi bagaimana kondisimu dengan Rani," jawab Nadia.
Mereka berdua pun terdiam hingga laju kendaraan mereka tiba dihalaman parkir sekolah. Nadia dan Ricky pun keluar dari mobil. Dan berjalan menuju ke ruang kelas mereka.
Sesampainya di kelas Nadia langsung duduk ditempat duduknya. Sambil menoleh kearah Mirna yang sudah datang. Dia bertanya kembali mengenai nomor handphone nya Farrel.
Namun Mirna tetap menjawab bahwa ia memang tidak memilikinya. Dan menyuruh Nadia untuk meminta langsung saja kepada Farrel.
Namun pada saat ini, Farrel masih belum terlihat batang hidungnya. Jadi Nadia tidak bisa meminta nomor handphone nya.
Saat Farrel sudah datang ke kelas, pak guru pengampu mata pelajaran jam pertama pun tiba, dan memasuki ruangan kelas, untuk memulai pelajaran.
Pelajaran demi pelajaran pun mulai berlanjut hingga jam istirahat pertama tiba. Pada saat jam istirahat ini, Nadia menyempatkan diri untuk berbicara dengan Farrel.
Sebelumnya Nadia sudah minta ijin dahulu kepada Ricky, kalau dia mau berbicara dengan Farrel. Ricky pun tidak bisa menghalanginya. Karena alasan Nadia tepat, mau membicarakan mengenai tugas kelompok mereka.
Setibanya Nadia didepan tempat duduk Farrel. Nadia berkata kepada Farrel," aku minta waktumu sebentar, ada hal yang mau aku bicarakan sama kamu."
"Oh oke tentu saja boleh dong. Gimana kita sebaiknya bicara dimana? Apa disini atau diluar kelas aja?" tanya Farrel penuh semangat.
"Disini saja," jawab Nadia. Farrel pun mempersilahkan Nadia untuk duduk dikursi Toni, dengan sadar diri Toni langsung ijin pergi keluar kelas, supaya tidak menggangu percakapan mereka.
Nadia memulai terlebih dahulu percakapan itu. "Farrel, kamu dapat kiriman ucapan terimakasih dari ibuku."
"Oh ya, tapi ucapan terimakasih atas apa ya Nad?" tanya Farrel penasaran.
"Itu loh, ucapan terimakasih atas oleh-oleh cemilannya yang kamu bawa kemarin. Ibuku suka sama cemilannya kemarin, jadi ibuku menyuruhku untuk bilang sama kamu langsung kemarin. Tapi sayangnya aku kan tidak punya nomor handphone mu." kata Nadia.
"Uhuukk, hugk," mendengar kata-kata Nadia, Farrel langsung tersedak.
"Oh cemilannya kemarin, ehmmm bilang sama ibumu gak usah sungkan, itu hanya sekedar cemilan kecil saja," kata Farrel.
"Ya nanti aku sampaikan ke ibuku, oh ya mengenai nomor handphonemu gimana? Setelah dipikir-pikir kita kan satu kelompok, jadi ya kita harus memiliki nomor handphone satu sama lain, supaya memudahkan kita untuk berkomunikasi diluar sekolah. Supaya tidak bingung seperti kemarin, mau nyampein pesan dari ibu, tapi tidak tahu harus nyampein kemana?" jawab Nadia.
"Ehmmm, nomor handphone ya? Emmmm itu, nomor handphone ku lagi trouble, jadi ya aku gak bisa ngasih ke kamu. Besok aja kalau udah beli yang baru, nanti kamu akan a-ku kasih," kata Farrel agak gugup.
"Aduh, terus gimana kalau aku mau hubungi kamu, tentang masalah tugas penelitian kita ini?" tanya Nadia.
"Bagaimana kalau kamu aku kasih nomor telepon rumahku aja. Jadi untuk sementara, kalau kamu ingin menghubungi aku, jadi kamu bisa telepon aku melalui telepon rumahku. Nanti kamu bilang aja, kalau kamu ingin bicara dengan aku, bilang aja kamu itu Nadia teman sekelasku," jawab Farrel sambil menuliskan nomor telepon di secarik kertas.
...----------------...