
"Hei, apa yang mau kamu lakukan? Itu bahaya tau, jangan bertindak bodoh!" Teriak Farrel sambil memegangi tangan Nadia agar berhenti membuka pintu.
"Okey, aku janji gak akan berbuat yang aneh-aneh. Kamu tenang saja. Kamu tidak ada akan aku apa-apakan. Sekarang aku mohon hentikan tindakan bodohmu itu!" kata Farrel.
Nadia akhirnya mengurungkan niatnya untuk melompat dari mobil, setelah Farrel berjanji tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh terhadapnya.
"Baiklah aku tidak ja-di melompat, ta-pi ... Sebenarnya kita ma-u ke-kema-na?" tanya Nadia terbata-bata.
"Nanti kamu juga tahu sendiri, sudah sebaiknya kamu tenang saja, atau tidur aja sana! nanti kamu akan aku bangunin, kalau udah sampai," jawab Farrel.
"Tidur? mana mungkin aku bisa tidur dalam keadaan begini, mana mungkin aku bisa mempercayakan diriku seratus persen sama kamu. Dasar kamu ini memang suka mengada-ada," kata ketus Nadia.
"Emangnya aku mau makan kamu. sebegitu takutnya sama aku sehingga kamu gak mau tidur. Yah sudahlah, terserah kamu saja, yang penting aku sudah mengatakan semuanya kepadamu dengan setulus hatiku," kata Farrel santai dan memang terdengar terlalu dilebai-lebaikan.
Sebenarnya saat ini tubuh Nadia sudah terasa lelah karena waktu pulang sekolah tadi badan nya di jadikan rebutan oleh Ricky dan Farrel, sehingga efeknya baru terasa saat ini, dan mata Nadia mulai merasa sangat mengantuk sekali, Namun semua rasa itu tetap ia tahan.
Farrel pun tetap melajukan kendaraannya itu dengan kecepatan sedang. Beberapa saat kemudian ternyata Nadia sudah benar-benar terlelap dalam mimpi indahnya.
Farrel melihat Nadia yang tengah tertidur pulas saat ini, hanya bisa tersenyum dan bisa berkata dalam hati,"dasar benar-bebar gadis bodoh, tadi pas aku suruh tidur katanya gak mau tidur, sekarang tanpa disuruh malah tidur sendiri, hufh!"
Farrel menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat betapa lugu dan lucunya gadis yang saat ini tengah tertidur pulas disebelahnya. Farrel terus melajukan mobilnya itu, entah akan menuju kemana mereka pergi.
Farrel seakan-akan tidak ingin waktu bersama Nadia saat ini cepat berlalu. Jadi Farrel saat ini, mulai mengurangi laju kendaraannya itu. Dipermberhentian lampu merah, Farrel melihat wajah Nadia yang tampak terlihat lelah sekali.
Mungkin karena kejadian siang tadi, saat ia menarik paksa tangan Nadia. Farrel sebenarnya merasa tidak tega dan kasihan melihat kondisi Nadia yang tampak lelah.
Farrel memperhatikan secara seksama raut wajah Nadia, ingin rasanya ia mengelus-elus kening dan kepala Nadia, agar ia semakin terlelap dalam tidurnya. Di saat tangan kirinya mulai diangkat mendekati keningnya, ternyata lampu lalu lintas telah berwarna hijau.
Farrelpun langsung mengurungkan niatnya untuk mengelus-elus kening Nadia. Namun karena gemes dan gregetan akhirnya Farrel melampiaskannya dengan mencubit hidung Nadia. kemudian ia langsung melajukan kendaraannya lagi.
Karena efek cubitan dari Farrel, Nadia langsung bereaksi dengan mengolet atau menggeliatkan tubuhnya dan berpindah posisi tidurnya.
Yang semula kepalanya disandarkan ke arah dekat jendela, sekarang kepalanya sudah berpindah posisi ke sisi kanan, dan hampir saja jatuh bersandar ke bahunya Farrel.
Semakin lama mobil yang dikendarai Farrel melaju, tidur Nadia semakin merosot dan lama-lama akhirnya kepala Nadia sudah bersandar di bahu Farrel.
Saat Nadia menyandarkan kepalanya ke bahu Farrel, Farrel merasa grogi dan salah tingkah, ia juga terlihat takut untuk menggerakkan tubuhnya. Karena khawatir jika ia terlalu banyak bergerak, nanti malah akan menggangu tidur Nadia dan membuatnya terbangun.
Jadi selama Farrel menyetir, Farrel selalu membuat meminimalisir gerakan tubuhnya, karena saking tidak terlalu banyak bergerak, malah membuat Farrel terlihat seperti robot yang kaku.
Kali ini, Farrel pun semakin bisa mencium aroma harum dari rambut Nadia. dan semakin lama ia mencium aroma ini, semakin kuat pula kenangan kejadian beberapa hari yang lalu, sehingga membuat wajah Farrel yang putih itu semakin memerah.
Farrelpun terlihat salah tingkah dan grogi. Karena Farrel lama-lama semakin grogi dan tidak konsen menyetir, akhirnya Farrel memutuskan untuk mencari tempat parkir agar dapat memberhentikan mobilnya disana.
Tak beberapa lama, akhirnya Farrel menemukan tempat halaman parkir di sebuah mini market yang tak jauh dari lokasinya saat ini. farrelpun menghentikan mobilnya disana.
Dan ia masih tetap tidak berani menggerakkan anggota tubuhnya secara berlebihan, karena khawatir Nadia akan terbangun. ditempat parkir itu, Farrel hanya duduk terdiam, sambil melihat wajah Nadia dari kaca spion dalam depan mobilnya.
Entah sudah berapa lama Nadia tertidur dan bersandar dibahu Farrel, sehingga membuat tubuh Farrel terasa kaku, kebas dan mati rasa sebelah. Karena terlalu lama berdiam diri dan tidak menggerakkan tubuhnya.
Tiba-tiba handphone Farrel berbunyi, ternyata itu adalah suara nada alarmnya. Farrel mencoba meraih handphone yang ada disaku celananya sebelah kiri.
Namun karena ada Nadia dibelah kirinya, jadi handphone Farrel susah diambil. Suara alarm itupun terus berbunyi sehingga membuat Nadia jadi terbangun karena berisik.
Saat terbangun Nadia sangat terkejut, karena posisi dia saat ini sedang bersandar dibahu Farrel. Nadia pun berteriak, dan berkata, "aaaaargh ... apa yang sudah kamu lakukan! dasar kurang ajar, laki-laki mesum! keterlaluan sekali kamu ini, membohongi aku."
Nadia terus memaki-maki dan memukuli tubuh Farrel. Farrel tidak sempat berkata-kata, ia hanya sibuk menahan rasa sakit yang terjadi akibat terlalu lama berdiam diri dan kesemutan karena Nadia terlalu lama bersandar di bahunya.
"Aduhhhh, tenagamu kuat sekali. Kamu tidak lihat apa aku sudah sakit begini, malah kamu pukuli! sebenarnya yang kurang ajar disini itu siapa? kamu atau aku? aduhhhh tanganku, aduh bahuku," protes Farrel.
"Yang kurang ajar itu ya kamu, dasar laki-laki mesum, pembohong. Berani sekali kamu memperlakukan secara tidak senonoh seperti ini. dasar kurang ajar," umpat Nadia.
"Hei, sakit tahu! aduuuh, tangan kiriku ini sudah tidak bergerak begini karena kamu, masih saja kamu terus memukuli aku? emang apa salahku? seharusnya aku itu yang marah-marah sama kamu. Tau gak, aku bisa begini itu karena kamu," balas Farrel.
"Hah maksud kamu apa? apa aku gak salah dengar. dimana-mana aku itu yang korban kenapa kamu yang harus padaku. Emangnya aku sudah berbuat apa? seenaknya aja kamu melemparkan semua kesalahan kepadaku, cih," kata Nadia kesal.
"Eh, asal kamu tahu ya! kamu itu dari tadi, tidur bersandar dibahuku ini, sehingga membuatku jadi susah bergerak, dan bahkan menyebabkan kebas, mati rasa dan kesemutan ini. Hmmm berat badanmu itu sungguh benar-benar membuat pundakku ini pegal-pegal tahu gak? tadi disuruh tidur gak, saat gak disuruh tidur malah tidur sendiri, mana pules lagi. Emangnya bahuku ini bantal?" jawab Farrel.
Nadia semakin kebingungan, apa benar yang dikatakan oleh Farrel tadi, akhirnya Nadia bertanya, "jangan asal ngomong ya kamu. mungkin kamu hanya mengarang cerita aja, supaya aku gak menyalahkanmu lagi kan? mana mungkin aku bisa tertidur dan kemudian sengaja bersandar ke bahumu, mimpi kali kamu?"
"Eh, yang mimpi itu kamu. Sudah jelas-jelas kamu yang tidur dibahuku malah masih mau mengelak, memangnya kamu kira aku sedang mengarang bebas. Coba kamu pikir, aku ini tadi sedang menyetir, bagaimana mungkin aku sengaja menarik kamu untuk tidur dibahuku ini." kata Farrel.
"Kalau bukan aku mencoba menahan untuk tidak banyak bergerak dan berhenti, pasti sudah dari tadi kamu terbangun dari tidur panjangmu. kurang baiknya apa coba, aku ini kepadamu. Aku itu pria sejati yang selalu bisa melindungi semua wanita yang membutuhkan perhatian dan pertolongan," ucap Farrel dengan percaya diri tingkat tinggi.
...----------------...