Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 70 Canggung Lagi



Tak terasa hari sudah pukul 16.40 wib, Nadia dan Farrel memutuskan untuk segera menyelesaikan urusan diperpustakaan agar mereka dapat segera melaksanakan sholat ashar.


Setelah dirasa menulis dan pinjam buku selesai, mereka berdua kemudian pergi keluar perpustakaan menuju musholla yang ada disekitar perpustakaan.


Setelah selesai sholat, Nadia dan Farrel memutuskan untuk duduk ditaman disekitaran lingkungan perpustakaan umum tersebut, untuk refreshing mata dan menjernihkan pikiran, karena area disana juga termasuk area yang instgramable. sekaligus sambil menunggu waktu Maghrib tiba.


Suasana yang adem dan nyaman membuat banyak pengunjung perpustakaan ataupun warga umum yang memanfaatkan waktu luang mereka sambil beristirahat dan berfoto ria di sana.


Farrel tak melewatkan kesempatan ini. Dia dengan sengaja ber-selfie disana, kemudian diam-diam menngambil foto dirinya bersama Nadia didalam foto selfienya itu, tanpa disadari oleh Nadia.


Nadia yang merasa senang dengan suasana pemandangan yang ada disana. Dia sangat menikmatinya dengan berjalan perlahan menyusuri jalan setapak taman yang asri.


Farrel berjalan berdampingan dengan Nadia. Sambil asyik foto-foto terus, sampai akhirnya Nadia mengetahui kalau Farrel dari tadi tidak hanya foto sendirian tapi dirinya juga diikut sertakan dalam foto Farrel.


Karena saking sebelnya, akhirnya Nadia meminta Farrel untuk menghapus foto-foto itu, tapi tentu saja Farrel tidak setuju. Akhirnya Nadia berusaha merebut kamera pocket milik Farrel. semakin Nadia ingin merebut kamera pocket itu, semakin Farrel berlari menjauh dan menyuruh Nadia untuk mengejarnya.


"Hei, bawa kesini kamera itu, hapus gak foto-fotoku, kalau gak dihapus, akan aku hapus sendiri foto-foto itu. Awas ya kalau sampe dapet, gak akan ku kasih ampun. Hei, jangan lari!" teriak Nadia.


"Haha, ayo kejar aku kalau kamu bisa, ini kameranya ada disini. Ayo kemari cepat kalau kamu bisa, yang semangat ya larinya," kata Farrel.


Nadia pun berlari mengejar Farrel, mereka berdua tak menghiraukan situasi sekeliling area itu. Nadia berlari sampai terengah-engah, namun tetap saja tidak bisa merebut kamera itu dari Farrel.


Ketika Nadia berhasil menghentikan Farrel, kini giliran Farrel yang menjahili Nadia dengan mengangkat kamera itu tinggi-tinggi dengan tangannya yang panjang itu. Secara Farrel adalah laki-laki yang berbadan tinggi sedangkan tinggi badan Nadia yang tidak sepadan dengan tinggi Farrel, tentu saja tidak mampu meraih kamera itu.


Tanpa diduga, saat Nadia berusaha meraih kamera itu dari tangan Farrel dengan melompat dan berjinjit, Nadia kehilangan keseimbangannya. Sehingga mengakibatkan tubuhnya itu terjatuh kebelakang.


Untung saja Farrel yang sedang berdiri dihadapan Nadia dengan refleks menangkap atau memegang tubuh Nadia agar tidak terjatuh, dan segera menariknya mendekati tubuh Farrel. Posisi Nadia saat ini seperti sedang berada dalam dekapan Farrel.


Pada saat-saat ini, Nadia dan Farrel saling terdiam dan saling melihat satu sama lain. Seakan mereka sedang terhipnotis, sehingga membuat mereka seperti masuk dalam dunia lamunan mereka berdua.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua tersadar dalam lamunan itu, karena ada teguran dari beberapa pengunjung remaja yang seumuran dengan mereka disana dan berkata, "woi, ini tempat umum gaes, kalau mau bermesraan, mbok ya ditempat yang sepi gitu, biar yang lainnya kagak pada iri, hahaha ..."


Seketika Farrel kaget dan melepaskan tangannya dari tubuh Nadia, sehingga membuat Nadia hampir terjatuh, karena tidak siap berdiri. begitupula dengan Nadia, dia pun kaget dan berteriak, "astaghfirullah hal adzim."


"Siapa yang bermesraan mas? Apa kamu tidak lihat kalau aku tadi lagi mau jatuh. Lagi pula dia bukan pacarku kok," kata Nadia dengan wajah yang semakin memerah.


"Bener kok apa yang dia katakan, saya tadi hanya mau menolongnya saja kok, dan tidak bermaksud apa-apa. Ini mungkin hanya salah paham saja ya. Maaf ya gaes," kata Farrel membenarkan perkataan Nadia.


"Oh gitu ya. Tapi seandainya kalau kalian pacaran juga gak apa-apa kok. Lagipula kalau dilihat-lihat, kalian berdua ini juga cocok dan serasi. Yah kita doakan semoga lancar yah, hubungan kalian berdua kedepannya. Aamiin, hahaha," kata salah satu pengunjung remaja.


Dan pengunjung lainnya juga ikut mengamini dan tertawa terbahak-bahak. Farrel hanya tersenyum cengengesan mendengar perkataan dari para remaja itu. Sedangkan Nadia terlihat begitu kesal dan malu.


Karena Farrel melihat mood Nadia tang tidak begitu baik, akhirnya ia memohon permisi kepada para remaja tadi. Kemudian Farrel segera menarik tangan Nadia untuk segera pergi menjauh dari tempat itu.


Farrel menarik tangan Nadia sampai ke depan musholla, dan mereka pun berhenti disana. Farrel yang baru menyadari kalau saat ini ia sedang memegang tangan Nadiapun langsung segera meminta maaf dan melepaskan genggaman tangannya itu.


Farrel juga menjadi salah tingkah dan serba salah menghadapi Nadia. Jantung Farrel saat ini juga semakin berdebar kencang. Tangan yang ia gunakan tadi untuk menyentuh dan menarik tangan Nadia tiba-tiba terasa aneh baginya.


Tangannya terasa seperti ada efek bergetar dan tersetrum. Farrel berusaha menghilangkan efek tersebut dengan mengepal-ngepalkan tangannya itu berulang kali.


Karena rasa itu tidak juga mau menghilang, akhirnya Farrel berkata pada Nadia kalau ia mau berwudhu dan mau masuk ke dalam musholla menuggu waktu maghrib. Nadia hanya mengangguk-angguk saja untuk menjawab perkataan dari Farrel tadi.


Waktu sholat Maghrib pun tiba, mereka berdua ikut sholat berjamaah dimushola itu. Dan kemudian Nadia pergi menghampiri Farrel yang sudah selesai terlebih dahulu.


Nadia hanya diam dan duduk disebelah Farrel, dengan posisi agak menjauh dari posisi duduk Farrel. Farrel yang mengetahui kalau Nadia saat ini masih kesal dengan dirinya, akhirnya mencoba mengalah, dan mengajak bicara Nadia.


Dengan agak canggung Farrel berkata, "ehmmm, emmm Nad, habis ini kita mau kemana? Apa kita langsung pergi ke toko buku xxx itu aja ya atau ke-ma-na kita se-ka-rang?"


"Terserah kamu aja!" jawab singkat Nadia.


"Hmmmm, kalau gitu sebaiknya kita keluar aja dulu dari sini, nanti bisa dibicarakan kalau sudah dimobil," kata Farrel.


"Hmmmm," Nadia langsung berdiri dan berjalan menuju ke arah tempat parkir, Farrel mengikuti dibelakang Nadia.


Sesampainya didalam mobil Farrel terus melanjukan kendaraannya, dalam situasi yang masih canggung, Farrel berkata, "sebaiknya kita pergi cara makan aja dulu ya, soalnya perutku udah lapar nih. Setelah makan baru kita pergi ke toko buku. Emmmm, kamu mau makan apa malam ini?" tanya Farrel.


"Terserah kamu," jawab Nadia.


"Ehmmm terserah aku yach? Kalau gitu kita pergi makan bakso aja gimana? Kayaknya bakso beranak dipinggir jalan itu enak deh," kata Farrel sambil menunjuk tenda penjual bakso yang ada di ujung jalan.


"Terserah kamu," jawab Nadia.


"Hmmmm, kamu suka makan bakso kan Nad?" tanya Farrel.


"Terserah kamu!" jawab Nadia agak kesal.


"Hmmm, Nad, Kalau kamu nanti malam nginep dirumah aku gimana Nad, mau kan?" tanya Farrel lagi.


"Terserah kamu," jawab Nadia tanpa memahami pertanyaan dari Farrel tadi.


Kemudian saat beberapa detik kemudian Nadia tersadar akan pertanyaan dari Farrel tadi, dan langsung berkata, "eh bukan itu maksudku! Eh kamu bertanya apa-apaan sih?"


"Habisnya dari tadi aku tanya, jawabmu hanya terserah kamu, terserah kamu, jadi ya, aku coba bertanya lagi, siapa tau aja kamu jawabnya tetap sama, terserah kamu. Jadi nanti kamu kalau kamu jawab terserah kamu, kamu bisa nginep dirumah aku dong, hehehe ..." kata Farrel cengengesan.


"Enak aja. Udah aku mau turun, kamu turun gak? Kalau gak ya sudah aku turun sendiri, mau makan bakso, aku lapar!" celoteh Nadia.


"I-ya, Nad, aku juga lapar, okey yuk kita makan. Sebagai permintaan maaf mu, aku akan traktir. Kamu boleh nambah sepuasmu," kata Farrel bahagia.


...----------------...