
Setelah pintu terbuka, Nadia sangat terkagum-kagum didalam hatinya, dengan kecanggihan teknologi pintu kamarnya Farrel. Namun karena ia tidak mau menampakkannya, akhirnya Nadia memutuskan untuk memapah Farrel masuk kedalam kamar tanpa menanggapi perkataan dari Farrel.
Saat didalam kamar tersebut, Nadia semakin dibuat takjub. Karena kamar Farrel sangatlah luas, mungkin seluas ruang tamu, ruang keluarga ditambah ruang makan rumah Nadia.
Desain Kamar Tidur Farrel sangat elegan, modern dan maskulin. Kamarnya bertema Hitam Putih Minimalis Modern.
Pada kamar tidurnya ini, hanya ada beberapa barang saja, tapi sudah membuat terlihat keren dan nyaman. Ada single bed yang dilengkapi dengan meja berukuran sedang. Meskipun berukuran sedang, tapi meja ini panjang dan ditempatkan menempel pada dinding ruang kamar.
Penataan seperti ini, memberikan kesan modern yang natural. Dikamar ini juga terdapat Lampu dekoratif yang unik, yang menempel di dinding.
Lampunya memang tidak terang, karena mungkin fungsinya hanya untuk dekorasi saja, seperti neon dan lentera yang dirancang khusus. Pemilihan bentuk lampunya membuat kamar Farrel terlihat modern dan tetap stylish.
Tambahan dekorasi dinding seperti lukisan berukuran besar yang simple dan menarik. Pelengkap lampu di setiap sudut ini juga membuat tampilan kamar tidur Farrel jadi tampak lebih klasik dan lapang. Dibagian sisi salah satu dinding, ada rak dinding yang simple namun terkesan klasik.
Nadia masih mengamati sekeliling kamar Farrel, "wah dikamar ini, ternyata ada juga tempat duduk seperti sofa malas dan beberapa kursi, mungkin digunakan Farrel bersama teman-temannya untuk melihat pemandangan yang keren diluar saat bangun tidur, mau tidur, atau mungkin ketika dia bersantai."
"Dilengkapi juga area santai dengan televisi besar, eh bukan, itu home teater sepertinya. Ada juga gitar dan keyboard (alat musik). Apa Farrel bisa main alat musik juga ya?" kata Nadia dalam hati.
Disalah satu sudut juga ada meja khusus seperti ruang belajar dilengkapi dengan beberapa rak tinggi dan banyak buku-buku literatur tersusun rapi, ada laptop, ada komputer gaming komplit full set. a
Ada lemari es juga di kamar itu.
"Bawa aku tempat tidurku itu," kata Farrel.
"Sekarang kamu bisa duduk disini, sambil istirahat dan sambil menunggu bi Lastri datang. Oh ya bagaimana menurut kamu kamarku ini, keren gak?" tanya Farrel.
Nadia melihat sekeliling ruangan kamar tidur Farrel, kemudian berkata, "emmm, lumayan keren, tapi dikamar sebesar ini, aku kok tidak melihat lemari bajumu dan kamar mandinya pribadi juga, biasanya dikamar orang kaya ada," sambil masih mengamati sekitar ruangan.
"Siapa bilang tidak ada, kamu nya aja yang gak tau. tuh lihat di dinding dekat lukisan besar itu, disana itu ada pintu untuk masuk ke kamar mandi dan ada juga ruang gantiku. Di ruang gantiku ada penyimpanan khusus baju-baju branded, aksesoris komplit, sepatu, dan tas. Semuanya tinggal pilih, gimana apa kamu mau lihat?" kata Farrel menyombongkan diri.
"Ah gak usah, udah cukup dapat info dari kamu aja. Nanti kamu bisa-bisa tambah besar kepala lagi, huh!" tolak Nadia sewot.
Tok ... tok ... tok ...
"Permisi Tuan, mau ngantar minuman dan cemilannya," kata Bi Lastri yang sedang berdiri diluar kamar.
"Ya, masuk aja Bi, pintunya gak aku kunci," jawab Farrel.
Selang beberapa saat terlihat seorang wanita paruh baya, mengenakan pakaian seragam pelayan seperti yang dikenakan oleh Bi Inah tadi, sedang membuka pintu, sambil membawa meja troli yang isinya dua gelas minuman beserta teko jus nya, dibagian rak bawah ada beberapa camilan dan buah segar.
"Cepat bawa kesini Bi, nih, tamunya udah haus dan kelaparan dari tadi," kata Farrel cengengesan.
Bibi Lastri hanya tersenyum dan mengangguk-angguk, atas ucapan Nadia barusan. Kemudian, setelah bi Lastri selesai menyajikan minuman dan cemilan-cemilan itu dimeja, ia langsung ijin untuk undur diri kepada Farrel dan Nadia. Farrel pun mempersilahkan bi Lastri pergi meninggalkan mereka berdua.
Kini hanya ada nadia dan Farrel yang ada didalam kamar itu. suasana hening sesaat, namun akhirnya Farrel berinisiatif untuk mencairkan suasana dengan pura-pura merasakan sakit ditangannya.
"Aduh ... duh ... sakit ... hadewh, tolong Nad, cepet kesini sebentar Nad. tolong lihatin lagi tanganku ini Nad," teriak Farrel.
Nadia yang semula hanya duduk terdiam, akhirnya langsung bangkit dan mengecek kondisi tangan Farrel. Ia pegang tangan Farrel ia periksa dari atas bahu sampe ke telapak tangan, kemudian Ia pijit-pijit.
Tapi bukan Farrel namanya kalau tidak jahil. Semakin Nadia memijit, semakin kencang pula teriakan, hingga akhirnya Nadia sadar kalau ia telah dibohongi, ia merasa kesal dan langsung membalas Farrel dengan memijat-mijat tangan Farrel dengan sangat keras, seperti orang yang sedang mencubit.
Farrel pun lama-lama merasa kesakitan, akhirnya ia menyerah dan mengakui kesalahannya tersebut kepada Nadia, "stop, stop! enough ... enough, Nad, please, kalau begini sakit beneran ini jadinya Nad. Hadewh, hadewh, sakit semua tangan ku ini."
"Rasain kamu, biar tau rasa! seenaknya aja ngerjain orang sesuka hati. heh!" ucap Nadia kesal.
"Oke, i'm sorry Nad. Sebagai rasa penyesalanku, sekarang aku boleh deh memiliki buku-buku koleksiku. Ada berbagai macam buku-buku yang menarik dan jarang sekali untuk dijumpai dipasaran. Tidak semua orang bisa membeli buku-buku ini, karena jumlahnya yang sangat terbatas," kata Farrel.
"Ada buku novel, komik ada buku sains, ada juga buku tentang kesenian, music, teknologi, Ensiklopedia, Biografi, antologi, dan masih banyak lagi buku lainnya. Kamu bisa pilih sesuka hatimu," sambung Farrel.
Mata Nadia langsung berapi-api melihat semua tumpukan-tumpukan buku yang berjajar rapi. Ingin rasanya ia langsung menyentuh dan mengambil buku-buku itu satu persatu. Namun karena ia masih jual mahal dan gengsi dengan Farrel, akhirnya Nadia mencoba menahan keinginannya tersebut.
"Oke kalau memang itu mau mu. Dan karena aku ini orang yang baik hati, jadi aku bersedia menerima tawaranmu tersebut. Okey, coba aku lihat, ada buku-buku yang aku sukai gak ya?" Nadia pura-pura berjalan perlahan-lahan, dan melihat-lihat buku tersebut.
Sekilas Nadia memang terlihat biasa saja ketika melihat buku-buku itu, tapi sesungguhnya hati Nadia saat ini sangat berkobar-kobar dan bersemangat untuk membaca buku-buku itu. Dia benar-benar sangat terkesan dengan koleksi buku dari Farrel, rasanya ia ingin membaca semua buku-buku tersebut.
Karena malu jika mengambil semuanya, akhirnya Nadia hanya mengambil 5 macam buku. 2 buku novel, 1 buku sains, 1 buku antologi, 1 buku biografi salah satu tokoh terkenal.
"Hanya itu yang kamu pilih? kamu boleh tambah lagi kalau kamu mau. Oh ya, habis pilih-pilih buku, sebaiknya, cemilannya di makan dulu, supaya kamu tidak kelaparan. Dari tadi kan, kamu belum makan sesuatu," usul Farrel.
"Ah enggak laper kok aku-" sebelum Nadia menyelesaikan ucapannya, ternyata terdengar sesuatu dari arah Nadia.
kruk ... kruk ... kruk ...
(suara dari perut Nadia)
"Hahaha, wkwkwk ... perut sudah pada paduan suara gitu kok dibilang enggak laper, udah ini dimakan dulu cemilannya, nanti akan aku suruh bi Lastri bawain makan siang sekalian untuk kamu makan. Wkwkwk ..." Farrel masih tertawa terbahak-bahak mendengar suara cacing Nadia yang terus bersuara, karena lapar.
...----------------...