Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 35 Sok akrab



Farrel masih berusaha mengajak ngobrol Nadia. Berlagak sok kenal dan sok akrab. Urat malu dan tingkat percaya dirinya memang tiada duanya.


"Hei, aku panggil kamu cantik aja ya, biar kita tambah akrab. Walaupun kamu nggak ngijin-in, aku akan tetep manggil kamu cantik," kata Farrel tanpa memberi kesempatan Nadia untuk menjawab pertanyaannya.


Nadia yang semula mulutnya sudah terbuka mau membantah pertanyaan dari Farrel, akhirnya terpaksa ditutup lagi. Karena mulut Farrel yang nerocos terus tanpa berhenti.


"Ngomong-ngomong, aku lihat tadi kamu tadi kenapa gak istirahat? gak ada yang nemenin ya? besok-besok kalau kamu gak ada yang nemenin bilang aja ke aku. Pasti kamu akan aku antar kemana pun, yang kamu inginkan," kata Farrel.


"Gak perlu, aku tadi memang lagi males aja ke kantin, dan aku lagi ingin baca buku aja dikelas. Lain waktu pun, kamu gak perlu repot-repot nganterin aku, oke!" jawab Nadia tegas.


"Jangan gitu, suatu saat pasti kamu butuh bantuan dariku. Asal kamu tahu, jiwa sosial dan solidaritasku itu sangat tinggi, jadi kamu tidak perlu sungkan, ya cantik," oceh Farrel kepedean.


Lama-lama Nadia kesal sendiri, ia memutarkan kedua bola matanya, karena semua omongannya selalu dijawab oleh Farrel. Anak ini memang benar-benar jago ngomong.


"Cantik, minta nomer handphone kamu dong? nanti aku kasih nomer aku juga. Sini mana pulpen mu!" kata Farrel langsung mengambil sendiri pulpen Nadia yang ada di mejanya, sambil menuliskan sesuatu.


"Nah ini nomer handphone dan WhatsApp ku ya, ayo cepat disimpan biar gak hilang. Nanti kalau lagi dirumah atau dimana pun dan kamu lagi rindu aku. Kamu bisa calling nomer ini ya? aku selalu standby pokoknya, oh ya mana nomer handphone mu, cantik?" kata Farrel.


"Hadewh, kan aku gak minta nomermu. Main kasih aja sih! udah kamu balik aja ke kursi kamu, tuh dari tadi udah banyak cewek-cewek yang nungguin kamu," ucap Nadia agak kesal.


"Ah biarin aja kali, mereka bisa sabar nunggu aku kok, tapi aku ini yang gak sabar pengen nungguin kamu terus," rayuan Farrel sambil tersenyum.


Sebenarnya wajah Farrel saat berbicara seperti ini terlihat imut, tampan dan menggemaskan. Mungkin, jika saja Nadia bukan tipe cewek yang setia, pasti akan tergoda oleh ketampanan dari Farrel ini.


"Huh, kenapa si Farrel ini, kalau lama-lama dilihat, wajahnya terlihat tampan dan imut ya? hmmmm ... pantas saja, temen-temen pada tergila-gila padanya. Ah, tapi pacarku Ricky, juga gak kalah gantengnya daripada si Farrel ini, bahkan lebih tampan pacarku jauh deh!" ucap Nadia dalam hati.


"Woi, cantik! kenapa melamun gitu, pasti diam-diam kamu ngelamunin aku ya? atau kamu mulai terpesona dengan ketampanan wajahku ini kan? ayo, jujur aja ke aku. Nggak usah dipendam segala cantik," tebak Farrel sambil membangunkan lamunan Nadia.


Nadia, tersentak dari lamunannya. Ia jadi salah tingkah. Dan berkata, "eh, ngaco kamu! siapa yang lagi ngelamunin kamu, sok kepedean aja. Sorry ya," jawab Nadia ngeles, sambil memalingkan wajahnya dari Farrel takut ketahuan kalau bohong.


"Gak usah bohong deh ke aku. Semua kebohongan itu sudah terlihat diraut wajah cantikmu itu. Wajahmu itu menunjukkan wajah-wajah yang gak bisa berbohong. Dasar gadis lugu," ucap Farrel.


Farrel berkata tadi sambil tersenyum dan mendekatkan wajahnya, ke sisi samping wajah Nadia, yang sedang menoleh membelakangi Farrel.


Saking dekatnya, sehingga mereka berdua, bisa saling merasakan gesekan dari kulit pipi masing-masing.


Sontak Nadia langsung terkaget. Nadia berusaha menjauh dan berteriak kaget, "Astaghfirullah, Farrel! kamu ngapain sih, udah sana kembali ke tempatmu!"


Hal itu juga dilihat oleh teman-teman sekelasnya. Gosip mulai bertebaran di seluruh penjuru kelas dan ke kelas lain.


Bahkan ada salah seorang murid yang mengabadikan momen tersebut dengan menfoto kejadian tadi. Terus mengirimkannya ke WhatsApp seluruh sekolah dan juga otomatis sampai ke WhatsApp Ricky.


Saat ini Ricky ingin segera pergi menemui Nadia. Tapi rapat masih berlangsung, jadi ia tidak bisa meninggalkan ruang rapat tersebut.


Perasaan Ricky mulai tidak tenang. Bukan karena cemburu, tapi karena takut Nadia dibully oleh anak-anak lain seperti dulu.


.


Setelah kejadian tadi, Nadia merasa bingung harus berbuat apa. Farrel berkali-kali ia suruh pergi, namun tak pernah dihiraukan. Ingin ia meminta pertolongan Mirna, tapi khawatir kalau rahasia mereka terbongkar nantinya oleh Rani dan mata-matanya.


Akhirnya Nadia memutuskan untuk pergi keluar kelas saat itu juga. Ia memutuskan untuk pergi ke mushola sekolah. Nadia ingin menenangkan dirinya.


Melihat Nadia yang pergi keluar kelas, Farrel merasa bersalah, mungkin ia sudah bertindak keterlaluan tadi. Ingin dirinya meminta maaf kepada Nadia.


Setelah beberapa saat akhirnya Farrel pun pergi keluar kelas untuk mencari Nadia. Ada beberapa teman sekelas yang menanyakan Farrel hendak pergi kemana.


Namun Farrel tidak berterus terang, ia hanya menjawab kalau ia mau ke toilet. Mendengar jawaban dari Farrel ada beberapa anak yang tidak percaya. Sehingga ada yang membuntuti Farrel dari belakang.


Dasar Farrel anak yang cerdik, ia tahu kalau saat ini ia sedang diikuti oleh teman-temannya. Farrel kemudian berpura-pura melangkahkan kakinya menuju ke toilet seperti yang ia katakan tadi, agar tidak dicurigai oleh teman-temannya itu.


Setelah mereka tahu, kalau yang dikatakan Farrel itu benar. Mereka memutuskan untuk kembali lagi ke dalam kelas. Karena seperti yang mereka ketahui, bahwa ternyata kecurigaan mereka itu salah besar.


Setelah Farrel mengetahui bahwa teman-teman yang membuntutinya, sudah kembali ke dalam kelas, akhirnya Farrel langsung melanjutkan tujuannya untuk mencari Nadia.


Farrel mencari semua sudut tempat yang ada disekolah itu, namun ia tak menemukan Nadia. Farrel masih belum menyerah, ia tetap berusaha mencari Nadia. Akhirnya Farrel berhenti disuatu tempat yang belum sempat ia datangi tadi, yaitu musholla.


Farrel mengamati ruangan tersebut, pada beberapa rak sepatu, ia melihat ada sepasang sepatu cewek yang diletakkan rapi disana. Farrel penasaran, kemudian ia segera masuk kedalam ruangan musholla tersebut.


Di mushola pada bagian jama'ah perempuan, Farrel melihat ada seseorang yang mengenakan mukena putih sedang duduk bersimpuh dan melantunkan ayat-ayat Al Qur'an yang terdengar begitu indah dan merdu.


Farrel semakin penasaran, kemudian secara perlahan, ia mencoba melihat wajah perempuan bermukena putih tersebut dari arah samping.


Farrel mencoba membuka sekat ruangan, berupa tirai panjang yang membagi ruang untuk jamaah putra dan jamaah putri. Dari balik tirai itu, Farrel melihat bahwa sosok perempuan bermukena itu adalah Nadia.


Didalam hati Farrel berkata, "ternyata dia adalah Nadia, betapa Sholehahnya gadis ini. Aku tak menyangka, di zaman sekarang ini masih ada gadis seperti Nadia ini, udah cantik, baik hati, Sholehah pula."


Farrel hanya tersenyum melihat Nadia. Kemudian ia melangkah pergi, meninggalkan Nadia sendiri di mushola itu. Untuk saat ini Farrel tidak ingin mengganggu Nadia.


...----------------...