Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 23 Bertanya-tanya



Bel masuk telah berbunyi, namun hingga saat ini Mirna belum masuk juga, apakah ia tidak berangkat? selain Mirna, ternyata Rani pun juga belum berangkat ke sekolah.


Selang beberapa saat kemudian, ada 2 surat ijin masuk, yang dibawa langsung oleh Pak Roby. Surat pertama dari wali Rani yang menerangkan bahwa Rani, hari ini ijin karena ada acara keluarga.


Sebenarnya bukan acara keluarga sih, tapi lebih tepatnya, pergi berlibur ke Perancis dan Inggris sebagai hadiah ulang tahun dari papinya, semua teman sekelas juga sudah dikasih bocoran terlebih dulu.


Sedangkan surat yang kedua adalah dari wali Mirna, yang menerangkan bahwa Mirna sedang sakit.


Nadia menjadi semakin gelisah, mendengar bahwa sahabat nya itu tidak masuk sekolah dikarenakan sakit. Kenapa sejak kemarin malam Mirna susah sekali dihubungi Nadia.


Apa memang Mirna marah terhadapnya? atau Mirna memang mengira telah dimanfaatkan oleh Nadia? atau memang karena ia sakit beneran, jadi tidak mengaktifkan handphone nya?


"Aaaaargh ... urusan satu sudah selesai datang lagi masalah lain," ucap Nadia lirih.


Pelajaran dimulai seperti biasanya. Hari ini konsentrasi belajar Nadia sedang tidak fokus, sering kali ia ditegur oleh pak Roby karena sering melamun.


Jam Istirahat pun tiba. Namun Nadia enggan beranjak dari tempat duduknya. Sambil duduk, badannya ia telungkupkan ke meja, serasa ingin tidur bermalas-malasan. Luka di dahinya masih terasa sakit. Sesekali ia memegangi dahinya itu.


Ia melihat ke depan dan melihat seisi kelas ternyata sudah kosong, hanya ia yang berada didalam kelas. Kemudian Nadia memejamkan matanya, ingin menenangkan pikirannya.


Namun ia tak sadar karena sejak tadi Ricky masih saja duduk dibelakangnya, Ricky pun enggan pergi dari kelas itu.


Dengan perlahan Ricky berjalan melewati kursi Andre, dan berjalan menuju ke arah kursi Mirna. Sekarang Ricky telah duduk disebelahnya.


Ricky melihat Nadia yang saat ini sedang tertidur. Ia melihat betapa lelahnya Nadia, ia pun melihat ke arah dahi Nadia, ada plester yang tertempel di dahinya itu.


Tangan Ricky bergerak untuk menyentuh dahi Nadia, dan berkata lirih, "apakah Nadia terluka? kenapa aku tadi pagi tak menyadarinya? apakah ia sakit?"


Merasa ada seseorang yang tengah menyentuh dahinya, Nadia segera terbangun. Betapa kagetnya ia ketika melihat bahwa Ricky telah duduk disebelahnya.


"Oh astaga ... Ricky, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Nadia terkaget.


"Aku sedang tidak ada kerjaan, jadinya aku ingin disini saja. Oh ya Nad, dahi kamu kenapa? apakah terasa sakit?" kata Ricky cemas.


"Em ... Dahi ku tidak kenapa-kenapa, cuma terbentur tembok aja sewaktu mau berangkat sekolah tadi dirumah, mungkin karena masih ngantuk," jawab bohong Nadia.


Ricky merasa jawaban Nadia ini seperti ada yang ditutup-tutupi. Terpancar kebohongan dimuka Nadia.


"Nad ... Nad ... kamu ternyata memang tidak pandai berbohong ya? mana mungkin kalau kamu terbentur dirumah sudah tentu lukamu itu akan diobati dengan baik. Lihat saja ini, lukamu belum tertutup semua, masih ada bagian yang belum terplester."


Luka didahi Nadia memang terbilang cukup lebar, dan mungkin karena Nadia terburu-buru menempelkan plesternya, jadi masih ada bagian luka yang terlihat dan tentu belum terobati.


"Ayo kita sebaiknya pergi ke UKS aja, nanti biar bisa diobati lukamu itu," ajak Ricky yang sudah berdiri menarik tangan Nadia.


Mereka pun keluar kelas menuju ke ruang UKS. Karena hari ini Rani tidak masuk sekolah jadi murid-murid lain yang sedang melihat mereka berdua, tidak berani berkomentar apa-apa.


Mereka hanya berani melihat dengan tatapan iri, terutama murid perempuan. Sedangkan murid laki-laki tidak begitu peduli.


Ricky dan Nadia telah sampai di ruang UKS. Di sana Ricky segera memberitahukan kepada dokter jaga, untuk segera mengobati luka Nadia.


Dokter jaga segera menangani luka di dahi Nadia. Pertama-tama dokter membuka plester yang dipasang Nadia tadi pagi.


Setelah dicek ternyata lukanya memang cukup lebar, namun tidak terlalu dalam, jadi tidak memerlukan tindakan untuk menjahit.


Kemudian sang dokter dengan sigap membersihkan daerah sekitar luka dengan cairan fisiologis steril.


Karena darah yang keluar di dahi Nadia sudah tidak keluar lagi, sang dokter hanya memberikan obat oles pada area luka menggunakan kasa sterill untuk menghindari masuknya kuman pada luka.


Kemudian dirapatkan kembali bagian kulit yang terbuka atau luka tadi menggunakan Plester.


Sang dokter berpesan untuk memastikan agar area luka tetap kering dan tidak terkena air, untuk sementara waktu.


Dan dokter pun memberikan obat untuk dikonsumsi, agar dapat mengatasi rasa nyeri yang masih dirasakan oleh Nadia.


Setelah selesai mereka berdua pun berpamitan, untuk masuk ke kelas lagi., karena kegiatan belajar mengajar sudah dimulai.


Dalam perjalanan menuju ke kelas, Nadia mengucapkan terimakasih kepada Ricky, atas perhatian dan bantuannya selama ini.


Nadia juga bilang ke Ricky, agar Ricky jangan terlalu memberikan perhatian yang lebih padanya, karena khawatir semua orang nanti, akan salah paham dengan tindakannya itu.


Nanti mereka mengira, kalau mereka berdua memiliki hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan. Nadia pun berjanji akan mengembalikan saputangan Ricky, jika sudah selesai dicuci dan di setrika nanti.


Ricky dengan segera menyangkal perkataan nya tadi pagi itu, ia berkata, "bukan begitu maksudku Nad, kamu jangan salah paham dulu. Aku berkata seperti itu kepada teman-teman tadi pagi, supaya mereka tidak menindasmu lagi,"


Ricky menghentikan kata-katanya sejenak, dan kemudian ia berkata lagi, "Nadia sebenarnya perkataanku tadi pagi itu, tidak semuanya sudah selesai ku katakan, tapi masih ada beberapa yang belum sempat aku katakan Nad."


"Maksud kamu apa Rick?" tanya Nadia.


"Emmm ... untuk itu, aku tidak bisa menjelaskannya di sini Nad, karena terlalu banyak hal yang akan aku katakan kepadamu."


"Sebaiknya, sekarang kita segera masuk ke dalam kelas saja dulu. Nanti kamu akan aku beri tahu, kapan waktunya agar aku bisa menjelaskan semuanya," kata Ricky.


Ricky dan Nadia segera masuk ke dalam kelas, karena didalam kelas sudah ada guru mata pelajaran, maka Ricky memohon maaf dan menjelaskan atas keterlambatan dirinya dan Nadia masuk kedalam kelas ini.


Didalam hati Nadia masih bertanya-tanya, sebenarnya hal apa yang belum sempat dijelaskan oleh Ricky tadi pagi.


Bukankah tadi pagi ia sudah mengatakan dengan jelas, tentang hubungannya dengan Rani dan juga ia sudah menjelaskan tentang status hubungannya dengan Ricky.


"Apakah ternyata hubungan Rani dengan Ricky itu memang benar adanya?" gumam Nadia lirih.


Hati Nadia semakin gelisah, sebenarnya ia takut, jika hal yang ia pikirkan itu akan menjadi nyata. Ia takut, tidak bisa lagi mendapatkan perhatian dari Ricky. Ia takut kalau Ricky akan menjauhi dirinya.


...----------------...