
"Apa ya, aku belum terpikirkan untuk minta apa, nanti kalau aku sudah tahu aku ingin apa kamu pasti aku kasih tahu. Oh ya kemarin waktu kita bertemu di lorong sehabis kamu dari musholla, kamu juga masih punya janji dengan ku. Masih ingat kan? tanya Farrel.
"Janji yang mana lagi? Ah kamu jangan asal bicara, aku gak ingat," jawab Nadia.
"Ingat tidak kejadian setelah ada gosip yang menyebar tentang kita berdua, kemudian kamu pergi ke mushola, kita juga bertemu dilorong saat itu, kemudian kepergok dengan pacarmu itu lalu ia marah-marah," kata Farrel.
Karena benar-benar lupa Nadia kemudian mencoba mengingat-ingat kejadian yang Farrel katakan.
Waktu itu Nadia memang pergi ke mushola, setelah dari musholla lalu ia berencana untuk kembali ke kelas dan fokus belajar. Dan ia teringat, saat ia sedang berjalan menuju ke kelasnya, di tengah jalan ia dihadang oleh Farrel.
"Terus setelah itu, Farrel mencoba menggangguku. Kami saling bantah membantah waktu itu. Tapi karena Farrel bisa memberikan alasan yang memang benar, jadi aku pun tidak bisa mengelak," kata Nadia sambil mengingat-ingat kembali kejadian hari itu.
"Waktu itu Farrel, beralasan mendekati aku, karena ia murid Baru, jadi ia butuh bantuan dan bimbingan. Karena kesal dan aku ingin ia cepat berhenti ngikutin aku terus, akhirnya aku menyetujui
Hal itu. Hadewh kenapa kemarin aku begitu bodoh si aku, sehingga dapat dengan mudah dikadalin Farrel," kata Nadia.
"Gimana apa kamu sudah ingat, kalau sudah ingat jangan lupa itu juga dimasukin ke daftar list ingatanmu, sehingga suatu waktu aku minta kamu bisa menepati janjimu," kata Farrel sambil tersenyum lebar, seakan-akan ia puas karena masih mempunyai 2 kartu as untuk bisa mendekati Nadia.
"Emmmmm, iya aku ingat!" jawab singkat Nadia sambil melengos karena kesal.
"Baguslah kalau begitu. Sekarang hal lain yang perlu kamu lakukan adalah, tanggung jawab tentang sakitku ini dong. Ayo antar aku berobat! kamu harus tanggung jawab," kata Farrel sambil langsung menarik tangan Nadia.
"Eh, apa-apaan ini, eh lepaskan jangan tarik aku dong! lepaskan! aku sudah ditunggu Ricky. Farrel lepaskan!" Nadia berusaha mencoba melepaskan tangannya dari pegangan tangan Farrel menggunakan tangan yang satunya lagi.
Saling tarik menarik pun terjadi diantara mereka berdua, Farrel semakin kencang menarik dan menggenggam sehingga sulit bagi Nadia untuk melepaskan tangannya.
Tiba-tiba, tingkah tarik menarik antara mereka berdua berhenti ketika Ricky berteriak, "Nadia! Farrel! apa yang kalian lakukan?" teriak Ricky dari dalam mobilnya.
Kemudian Ricky segera keluar dari dalam mobil dan mendekati mereka. Ricky melototkan kedua matanya, menunjukkan kalau ia sedang marah.
Apalagi saat ini posisi tangan kanan Nadia masih memegangi tangan Farrel, karena tadi berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Farrel.
Namun bagi Ricky, hal itu terlihat seperti Nadia memang sengaja memegang tangan Farrel. Ricky semakin emosi.
"Nadia lepaskan tanganmu itu! lagi-lagi aku memergoki kalian berdua sampai sedekat ini. Jangan-jangan kalian memang memiliki hubungan dibelakangku?" kata Ricky.
Saat Nadia hendak membantah perkataan dari Ricky. Farrel terlebih dahulu memotongnya, dan langsung nyeletuk berkata, "kenapa Nadia harus melepaskan tangannya dari aku? sudah jelas-jelas Nadia lebih memilih aku daripada kamu. ia lebih suka digandeng oleh aku!" ucap Farrel.
"Nadia, aku harus bagaimana lagi? sudah berulang kali seperti ini, aku harus percaya kepada siapa? mana ada yang namanya kebetulan Nadia, tidak mungkin kan kamu bisa berdua dengan dia kalau tidak janjian terlebih dahulu." ucap Ricky.
"Oh, aku paham sekarang. Alasan kenapa kamu tadi menyuruhku untuk pergi mengambil mobil terlebih dahulu, dan kamu akan menyusulku nanti. dengan alasan kamu sibuk mencari kunci rumahmu, iya kan? berarti itu semua hanyalah pura-pura, benarkan Nad?" sambung Ricky.
"Tidak, Ricky! sungguh tadi aku benar-benar sedang mencari kunci rumahku. Aku betul-betul kehilangan kunci rumahku, aku lupa sudah menyimpannya dimana tadi, dan sampai sekarang pun aku belum menemukannya. Ini hanya salah paham Ricky, aku bisa menjelaskannya,"
"Halah, tidak perlu! tidak perlu repot-repot kamu menjelaskan lagi! okey, sekarang silahkan kalian berdua bermesraan disini. Aku tidak akan menggangu kalian!" kata Ricky dengan nada tinggi. Dan Ricky pun langsung menaiki mobilnya, lalu pergi meninggalkan Nadia bersama Farrel.
Sementara Nadia masih berteriak memanggil-manggil Ricky untuk kembali. Namun sayang mobil yang dikendarai Ricky sudah menghilang di kejauhan. sekarang hanya tinggal Nadia dan Farrel di tempat itu.
Nadia menitihkan air matanya dan berkata, "Farrel kamu puas sekarang! kamu sudah puaskan? sekarang lepaskan tanganku ini, jangan sentuh aku. Aku mohon Farrel lepaskan!"
Nadia meronta-ronta berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tangannya dari Farrel. ia pun memukul-mukul tangan Farrel agar mau melepaskannya. Namun Farrel tak kunjung mau melepaskannya tangannya dari Nadia.
"Aku mau pulang Rel, aku mau pulang tolong lepaskan aku," dengan nada lirih sambil terisak-isak Nadia terus memohon agar Farrel mau melepaskan tangannya itu.
Farrel hanya diam menerima pukulan dari Nadia, ia pun masih tetap memegang erat tangan Nadia. Kemudian tanpa berkata apa-apa, Farrel langsung menarik tangan Nadia untuk mengikutinya.
Farrel terus berjalan hingga akhirnya ia berhenti didepan sebuah mobil sport berwarna hitam. Ia membukakan pintu penumpang bagian depan. Ia memaksa Nadia untuk segera masuk dan menaiki mobil tersebut.
Nadia sudah berusaha untuk menolak dengan sekuat tenaga, namun semua itu hanya sia-sia. Akhirnya ia pun dengan terpaksa mengikuti kehendak Farrel dan sudah duduk di dalam mobil, Farrel pun segera masuk kedalam mobilnya khawatir kalau Nadia akan kabur darinya.
Farrel pun menyalakan mesin mobilnya dan melajukan kendaraannya itu keluar meninggalkan sekolah mereka. Didalam mobil Nadia bertanya-tanya kepada Farrel, akan dibawa kemana ia saat ini.
"Farrel, sebenarnya kita mau kemana? kenapa kamu harus memaksaku untuk naik ke mobilmu ini? apa kamu sungguh-sungguh akan pergi berobat? tapi aku pikir, kamu sekarang tidak sakit apa-apa. Buktinya dari tadi kamu begitu kuatnya menarik dan mencengkeram tanganku, dan tidak ada tanda-tanda kalau kamu sedang kesakitan! ayo bilang kita mau kemana?" tanya Nadia.
Farrel hanya diam dan sibuk menyetir tanpa merespon pertanyaan Nadia. Sedangkan Nadia masih saja terus mengoceh bertanya kepada Farrel.
"Farrel, sebenarnya kamu denger gak sih? kita mau kemana? kamu jangan berbuat yang aneh-aneh ya? atau aku akan berteriak dan melompat dari mobil ini! ayo jawab, kalau masih tidak mau menjawab, baiklah aku akan melompat sekarang," gertak Nadia.
Ceklekkk ...
Terdengar suara pintu yang sudah dibuka ...
...----------------...