
Nadia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidurnya, sembari kembali menatapi layar handphonenya itu.
"Kenapa sekarang Ricky sangat jarang sekali memberi kabar tentang dirinya. Sesibuk itukah dia? Sehingga ia tak bisa memberi kabar lewat telepon atau sekedar chat singkat."
"Apa aku yang harus memulai bertanya kepadanya terlebih dahulu. Seakan-akan aku yang lebih membutuhkan dirinya. Kenapa lama-lama Ricky semakin berubah."
"Hubungan yang baru terjalin seumur jagung ini, kenapa semakin lama semakin terasa hambar? tidak seperti perkataan orang lain, bahwa hubungan yang masih hangat-hangatnya itu pasti selalu terlihat mesra dan bucin. Tapi kenapa aku tidak bisa merasakan itu?"
Nadia menarik nafas panjang, ia meletakkan handphone diatas dadanya, sembari melihat keatas langit-langit kamarnya.
"Apakah Ricky menganggap hubunganku ini hanya sebatas permainan saja untuknya?"
"Baiklah kali ini aku akan mengalah lagi. Aku akan meneleponnya terlebih dahulu, aku harus berpositif thinking, siapa tahu dia memang sibuk dan lelah."
Kemudian Nadia menelpon Ricky. Setelah beberapa saat Nadia menelpon, ternyata nomor handphone Ricky sedang tidak dapat dihubungi.
Nadia mencoba berpikir positif, mungkin baterai handphone Ricky lowbat atau sedang tidak diaktifkan.
Akhirnya Nadia pun mengirim chat singkat untuk Ricky, semoga jika handphone Ricky sudah aktif, chat dari Nadia tersebut dapat dibacanya.
"Assalamualaikum Aa', malam ini kamu sibuk lagi ya? Jaga kesehatanmu, jangan capek-capek, semoga malam ini kamu bermimpi indah, good night and love u," tulis Nadia.
Setelah mengirim chat tersebut, Nadia berusaha memejamkan kedua matanya, namun susah sekali untuk dipejamkan.
Sebenarnya raga Nadia sudah terasa lelah karena aktivitas seharian ini, namun ternyata batin Nadia yang masih tidak mau diajak kompromi untuk beristirahat.
Karena sulit untuk tidur, Nadia kembali mengingat semua kegiatan yang sudah terjadi hari ini. Namun pikiran Nadia justru lebih dominan teringat tentang kejadian sewaktu ia bersama dengan Farrel.
"Ah, kenapa malah wajah anak itu yang teringat padaku. Padahal seharian ini tingkah jahil dan usilnya itu sudah membuat kepalaku pusing dibuatnya."
"Tapi walau bagaimanapun juga, Farrel anak yang baik. Walaupun ia selalu usil dan jahil tapi Farrel selalu bisa bersikap bijaksana, lebih dewasa, dan perhatian. Entah kenapa rasanya nyaman berada didekatnya. Walau terkadang sering membuat aku kesal dan jengkel, tapi kenapa aku tidak merasa sakit hati? Justru merasa enjoy dibuatnya."
"Didepan keluarga, Farrel juga terlihat seperti tidak dibuat-buat, sepertinya dia tulus dalam berbincang-bincang dengan keluargaku, dia juga malah yang lebih sering sekarang datang ke rumahku dan selalu perhatian membawakan buah tangan untuk keluargaku, sudah seperti melebihi pacarku aja dia."
Nadia tersenyum tipis memikirkan apa yang sudah ia ucapkan dan lamunkan tadi. Tapi beberapa saat kemudian ia tersadar, " astaghfirullah, apa yang sudah kau pikirkan ini Nad, otakku ini mungkin lagi geser nih, sehingga bisa berpikiran yang macam-macam."
"Hufh, ayo tidur Nad, ayo tidur, gak usah berpikir yang aneh-aneh. Ayo tidur ..." Nadia mencoba kembali untuk memejamkan matanya.
Namun tiba-tiba ada suara notifikasi chat yang masuk. Nadiapun bersemangat sekali dan segera membuka handphonenya itu siapa tahu itu chat balasan dari Ricky.
Setelah Nadia cek, chat siapa barusan yang masuk, ternyata itu bukan chat dari Ricky. Melainkan itu chat dari si Star White.
Nadia merasa lemas lagi, karena ternyata itu bukan chat dari Ricky, Nadia kemudian membaca chat dari Star White itu, karena penasaran, chat apa yang dikirimnya malam-malam begini.
"Hmmmm, belum! emang ada apa?" tanya Nadia.
"Oh, belum tidur? Eh Aku gak mau apa-apa kok, aku cuma mau memberikan ucapan selamat malam padamu. Semoga malam ini kamu tidur yang nyenyak dan bisa bermimpi yang indah. Siapa tahu kita nanti bisa bertemu didalam mimpi-mimpi kita,"chat Star White.
"Untuk ucapan selamat malam dan mimpi indahnya bisa ku terima. Tapi untuk doa kita bisa bertemu didalam mimpi, kayaknya ga usah aja deh. Aku meragukan kamu, jangan-jangan kamu orang yang menakutkan. Nanti aku tidak jadi mimpi indah malah mimpi buruk, wkwkwk," gurau Nadia.
"Eh, aku gak menakutkan kok, kalau kamu bertemu aku didalam mimpi, sudah pasti itu akan menjadi mimpi yang indah, kamu pasti ketagihan ingin bertemu denganku lagi, dan lagi didalam mimpimu. Hahaha ..." balas Star White.
"Heleh, gak mungkin! auk ah gelap, terserah kamu aja! Udah ah, aku mau tidur. Udah sana, buruan tidur juga kamu! Bye ..." chat Nadia.
"Okey, bye bye cantik, moga mimpi indah ya, selamat mimpikan aku ya? Good night," balas Star White.
Entah kenapa setelah membaca chat dari si Star White ini, hati dan pikiran Nadia malah terasa tenang. Gak gabut lagi.
Dan setelah dirasa-rasa, Nadia serasa familiar dengan candaan yang dibawakan orang ini. Tapi Nadia tidak bisa menyimpulkan siapa itu.
Karena hati Nadia sudah terasa tenang, ia kemudian memutuskan kembali untuk mencoba tidur. Ia pun memejamkan kedua matanya dan dalam hitungan detik, Nadia pun sudah tertidur pulas.
Dilain tempat, Farrel yang baru saja tiba dan kemudian ia bergegas untuk mandi. Setelah selesai mandi, Farrel duduk disofa yang ada didalam kamarnya tersebut.
Farrel membongkar-bongkar isi tasnya, kemudian ia mengambil kamera pocket yang ia gunakan seharian tadi saat bersama Nadia.
Farrel membuka-buka foto hasil jepretannya tadi. Saat melihat foto-foto tersebut Farrel tersenyum-senyum sendiri. Kemudian ia berhenti pada salah satu foto yang ada dirinya dan Nadia.
Ia amati dalam-dalam foto itu, terutama pada foto Nadia. Difoto itu Nadia terlihat tersenyum melihat ke arah depan tapi Nadia tidak mengetahui kalau ia itu sedang ikut difoto oleh Farrel.
"Senyum Nadia sangat manis sekali di foto ini. Saat itu, Nadia mungkin sedang tersenyum karena menikmati keramaian dan pemandangan yang ada ditaman sekitaran perpustakaan, kali ya?"
"Seandainya dia tahu, kalau hadil foto-foto dirinya yang ada di kamera sangat bagus, pasti dia akan senang. Besok-besok akan aku tunjukkan padanya ah."
"Tapiiii, untuk mengantisipasi jikalau nanti ia mau menghapus foto-foto ini, mending aku copy dulu aja kedalam laptopku, biar aman."
Sebelum ia mengcopy foto-foto tersebut, Farrel kembali melihat-lihat beberapa foto lainnya, terutama foto yang difotokan oleh orang ditempat warung bakso tadi.
Karena sewaktu menerima kamera tadi ia kurang begitu mengamatinya dengan seksama. Farrel kemudian melihat foto itu, disana ia melihat ia dan Nadia begitu tertawa lepas pada saat mereka sedang bercanda diwarung bakso.
"Foto yang Bagus, terutama foto saat Nadia sedang makan bakso pemberianku ini, terlihat sangat natural dan romantis, hehehe ..."
...----------------...