
Mata Farrel berbinar-binar melihat sebuah kotak bekal berwarna biru yang diberikan Nadia kepadanya. Antara rasa bahagia dan tidak percaya. "Nadia, apa ini?" tanya Farrel.
"Masa kamu tidak tahu? Itu kan kotak bekal makanan? Aishhh, kayak kamu enggak pernah melihat kotak bekal makanan aja?" jawab Nadia.
"Bu-bukan gitu Nad, a-ku cuma gak percaya aja kalau kamu memberikan kotak ini padaku. Apa kamu gak salah Nad? A-pa kotak ini memang benar kamu berikan untukku, Nad? tanya Farrel.
"Iya, kotak makanan yang berwarna biru itu memang aku buat untuk kamu, dan kotak yang berwarna pink ini, untuk aku. Udah cepat dibuka kotaknya dan langsung dimakan, gak usah kebanyakan tanya," kata Nadia.
Farrel kemudian langsung membuka kotak makanan itu, dan betapa terkejutnya ketika Farrel melihat isi didalamnya. Farrel hanya bisa terdiam tanpa berkata apa-apa.
Mata Farrel semakin berbinar-binar, menyiratkan rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan. Senyuman kecil pun mulai tersungging di bibirnya itu. Farrel melihat dan memperhatikan isi kotak bekal makanan itu dengan seksama dan dilakukan berulang-ulang kali.
Didalam kotak itu telah tertata cantik beberapa menu hidangan. Walaupun didalamnya hanya terdapat menu-menu makanan yang simpel dan sederhana, tapi tetap terlihat menarik dan menggugah selera untuk dinikmati.
Dikotak bekal makanan itu berisi, 1 porsi nasi kuning yang dicetak berbentuk bulat dihias dengan Nori, hingga tampak terlihat seperti wajah orang, ada mie goreng yang ditaruh diatas dan samping kanan kiri nasi seperti rambut perempuan yang panjang. Dipinggir-pinggir bagian kotaknya dipenuhi dengan daun selada.
Ada lauk berupa sepotong paha ayam goreng, ada kering tempe, dan terdapat beberapa barisan telur dadar gulung isi sosis yang dipotong-potong. Ada lalapan tomat yang dibuat berbentuk bunga mawar, dan beberapa irisan-irisan timun segar.
Meski didalamnya bukan makanan yang mewah dan mahal, tapi dimakanan tersebut paling tidak terdapat sebuah ketulusan dan usaha yang besar untuk menata bekal sederhana menjadi hidangan yang cantik. Dan jika dilihat dan dicium dari baunya pasti ini adalah makanan yang sangat nikmat dan lezat. Farrel merasa sangat senang sekali.
"Kenapa dari tadi cuma dilihatin aja makanannya. Gak suka atau gak doyan ya? Ya udah bawa sini kotaknya kalau kamu gak suka, biar aku makan sendiri aja, atau akan aku berikan kepada orang yang membutuhkan!" kata Nadia kesal.
Nadia merasa kesal karena sedari tadi Farrel hanya memandangi saja kotak bekal makanannya tersebut. Nadia merasa bahwa sia-sia saja, tadi pagi ia memasak semua makanan itu.
"Eits, jangan diambil, siapa bilang aku gak suka sama makananmu ini. Aku suka kok dengan masakan yang kamu buat ini. Cuma rasanya sayang saja jika makanan yang sudah dubuat secantik ini harus di habis di makan," jawab Farrel.
"Halah bohong, pasti itu cuma omong kosong mu aja kan? Aslinya pasti gak mau. Eh, yang namanya makanan ya memang untuk dimakan, walaupun, ia dibuat atau ditata sebagus apapun pasti tujuan akhirnya ya untuk dimakan. Ya udah kalau gak mau, cepat berikan kotak itu padaku," kata Nadia sambil menengadahkan tangan meminta kotak bekal makanan tersebut dari Farrel.
"Barang yang sudah diberikan tidak boleh diambil lagi! Kotak bekal ini punyaku, jadi kamu jangan menyentuhnya. Makanan mu ini pasti akan ku makan habis semua. Tapi sebelum itu, aku mau mendokumentasikannya dulu buat kenang-kenangan. Sangat disayangkan momen sebagus ini jika tidak diabadikan," kata Farrel sambil mengeluarkan kamera pocketnya.
Farrel kemudian memfoto kotak bekal makanan itu. Farrel merasa hari ini adalah momen makan siang yang terindah untuknya, karena ini pertama kalinya ia dibuatkan bekal makanan khusus untuk dirinya.
Sebenarnya Farrel merasa tidak tega untuk memakan bekal makanan tersebut. Namun karena khawatir makanannya akan diambil oleh Nadia dan khawatir karena makanannya nanti basi kalau tidak dimakan, maka Farrel mau tidak mau harus memakan bekal makanan tersebut.
Sesuap demi sesuap ia sendokkan makanan itu kedalam mulutnya. Betapa bahagianya Farrel memakan makanan ini. Baginya ini adalah masakan terenak yang pernah ia makan.
"Nadia, ini masakan terenak yang pernah aku makan selama ini. Terimakasih ya Nad, kamu sudah repot-repot membuatkan masakan ini untukku," kata Farrel tiba-tiba.
Nadia terdiam sesaat, mendengar perkataan dari Farrel. Namun beberapa detik kemudian ia kembali terjaga dari lamunannya, dan berkata "ya, sama-sama. Tapi kamu jangan ge-er dulu ya. Aku buat bekal ini bukan karena ada alasan apa-apa ya. Aku bawa bekal seperti ini, karena aku tidak mau jika aku harus jajan terus-terusan, biar irit tau gak."
"Lagipula, udah beberapa kali kamu mentraktir aku terus, jadi ini sebagai ganti traktiran kamu yang kemarin-kemarin itu. Yah, walaupun dengan masakan yang tidak seberapa mahal ini," jelas Nadia.
"Walaupun begitu, aku tetap berterima kasih padamu Nad, atas makanan darimu ini. Masakanmu ini benar-benar enak dan tidak ternilai harganya. Makasih atas semuanya ya Nad," kata Farrel.
Mereka berdua terdiam. Hembusan angin didanau yang sepoi-sepoi membuat aura disekelilingnya semakin terasa syahdu. Nadia agak merasa canggung saat itu.
Kemudian Nadia berpura-pura berkata untuk menghindari kecanggungannya menjadi berlarut-larut. "Ah, aku haus, aku taruh mana tadi botol minumannya ya."
Farrel pun tahu situasi saat ini pasti akan terasa canggung untuk mereka berdua. Farrel pun melanjutkan kembali makannya, sambil tersenyum-senyum sendiri.
Setelah selesai menghabiskan semua makanannya sampai tak bersisa, Farrel berkata kepada Nadia, "Nad, kotak bekalmu ini, aku bawa pulang ya? biar aku cuci dirumah."
"Ah, gak usah, biar aku bawa pulang aja, biar aku cuci sekalian," jawab Nadia.
"Kalau gitu, besok siang aku bakal dibuatin makan siang kayak gini lagi kan? Iya kan, besok menu nya apa lagi nih? duh, aku sudah gak sabar banget pengen nyicipin makanan buatan kamu lagi," kata Farrel.
"Uh, siapa bilang, besok aku mau buatin kamu bekal lagi?" kata Nadia.
"Lho kalau kamu bawa bekal buat kamu, otomatis aku juga kan pasti dibuatin juga, karena kita kan satu tim dan cuma berdua. Pasti kamu merasa kasihan dong, kalau aku gak ikutan makan. Kamu kan baik hatinya, pasti enggak tega kalau aku harus jajan sendiri diwarung kan?" kata Farrel sambil memasang wajah sedih.
"Iya deh, iya deh, besuk aku bawain lagi bekalnya. Tapi jangan diprotes ya, kalau masakannya enggak enak," kata Nadia.
"Oh, terimakasih Nad. Aku janji deh, aku gak akan protes, dan gak akan berkomentar buruk apapun tentang masakanmu. Justru sebaliknya, pasti aku akan memuji-muji masakanmu itu, karena bagiku masakan buatanmu selalu Ter-the best," puji Farrel.
"Udah, gak usah berlebihan kayak gitu, jangan dilebay-lebay in deh ..." ucap Nadia.
...----------------...