Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 12 Tamu Yang Tidak Diundang



Seusai sholat magrib, Ricky bergegas meninggalkan rumahnya untuk segera berkunjung ke rumah Nadia. Dengan penuh harap dan keyakinan Ricky melajukan mobilnya.


Ditengah perjalanan menuju rumah Nadia, Ricky berhenti melajukan laju kendaraannya. Tepat disamping mobil nya berhenti terdapat sebuah pangkalan foodtruck yang menjual aneka jenis martabak dengan berbagai toping.


Ricky berencana membeli martabak telur spesial, dan martabak manis dengan toping coklat keju. Yang nantinya akan dibawa dan diberikan kepada Nadia.


Sejujurnya Ricky bingung mau membelikan apa, yang sekiranya dapat disukai oleh Nadia dan keluarganya. Karena dalam hal ini Ricky tidak punya pengalaman sama sekali.


Sebenarnya Ricky membelikan camilan itu memang bertujuan agar dapat menarik simpati keluarga Nadia.


Karena bagi dia yang notabene seorang pria, yang datang berkunjung ke rumah seorang gadis, setidaknya datang haruslah membawa sesuatu, bukan hanya sekedar membawa tangan hampa.


Setelah Ricky menyelesaikan pembelian makanan tersebut Ricky pun segera bergegas menuju mobil yang ia kendarai.


Dari kejauhan nampak lah sebuah rumah yang sudah tak asing lagi baginya, walaupun ia baru satu kali datang kerumah Nadia, ia masih mengingatnya dengan jelas. Dan akhirnya Ricky pun sampai dirumah Nadia untuk kedua kalinya.


Situasi diluar rumah Nadia nampak lengang, karena para penghuni rumah sedang berada didalam rumahnya. Terdengar lirih dari luar pintu suara nyala Televisi.


Sudah pasti mereka sedang menonton siaran TV. Setelah menghela nafas panjang, Ricky pun segera mengetuk pintu rumah Nadia.


Tok ... Tok ... Tok ... Tok ...


"Assalamu'alaikum ..."


Adik bungsu Nadia mendengar suara ketokan pintu. Akhirnya dia segera menghampiri pintu itu, untuk melihat siapa gerangan yang datang.


Pintu pun dibuka, adik bungsu Nadia itu melihat seorang pemuda blesteran berparas tampan, yang sedang berdiri dihadapannya dengan menenteng dua bungkus totebag berwarna coklat.


"Wa'alaikumsalam, siapa ya? dan ada perlu apa?" tanya adik bungsu Nadia kepada Ricky.


"Permisi, perkenalkan namaku Ricky, aku ingin bertemu dengan Nadia. Aku teman sekelasnya, dan kalau boleh apa Nadianya ada?" tanya Ricky dengan sopan.


"Oh, kakak teman sekelasnya kak Nadia ya? kakak ada didalam. Perkenalkan namaku Rafi, aku adik bungsunya kak Nadia. Oh ya, silahkan duduk dulu kak, akan aku panggilkan kak Nadia."


"Ya, terimakasih ... oh ya Rafi, ini kebetulan kakak tadi lewat dijalan dekat daerah sini, ada foodtruck yang jualan ini, jadi kakak mampir beli. Tolong diterima ya," Ricky dengan segera menyerahkan dua bungkus totebag itu kepada Rafi.


"Ah apa itu kak, wah kak Ricky kok malah repot-repot beli ini segala, hehe ... tapi makasih ya kak udah dikasih, aku tinggal dulu ya kak," jawab Rafi yang nampak gembira karena menerima bungkusan itu dan sudah sangat tidak sabar ingin segera membukanya.


Rafi kemudian masuk kedalam, untuk memberi tahu Nadia. Karena Nadia sedang menonton TV bersama-sama dengan keluarga nya.


Jadi si Rafi langsung menyampaikan tentang kedatangan Ricky didepan keluarganya itu. Sambil menunjukkan 2 bungkus totebag yang diberi oleh Ricky.


"Kak Nad, tuh ada yang nyariin kamu. Katanya teman sekelas kakak. Orangnya keren lho kak, dan baik hati pula, nih dia juga tadi membawakan ini untuk kita. Oh ya kak, dia kesini tadi bawa mobil mewah lho kak, bagus banget,"


Nadia dan keluarga Nadia lainnya pun terkejut mendengar kalau ada teman sekelasnya yang datang kerumah. Siapa dia dan ada perlu apa?


"Kamu tanya namanya gak fi?"


"Emang temen kakak yang datang itu cewek apa cowok?" tanya Nadia yang penasaran.


"Dia cowok kak, dia tinggi, ganteng, kayak bule-bule gitu lho kak, pokoknya kayak artis-artis di TV gituuuu."


Setelah mendengar perkataan dari adiknya itu Nadia langsung bangkit dari tempat duduknya.


Nadia bertanya-tanya dalam hati, "pasti ini Ricky. Tapi kenapa Ricky datang kerumah malam-malam begini, ada perlu apa? aduh ada ayah ibu lagi, bagaimana ini, kalau aku tolak nanti ayah ibu pasti bertanya-tanya. Kenapa temanmu disuruh pulang, kenapa gak kamu temui? hadewh, pusing," Nadia tampak kebingungan.


Setelah bangkit dari tempat duduknya Nadia pun minta ijin ke orang tuanya untuk menemui temannya itu. Setelah diberikan ijin, Nadia segera keruang tamu untuk menemui Ricky.


"Ehmmm, Ricky ... emang ada perlu apa ya? tanya Nadia ragu-ragu dengan posisi masih berdiri.


"Eh Nadia, selamat malam Nad," sapa Ricky dengan tersenyum.


Kemudian Nadia segera duduk dikursi berseberangan dengan kursi Ricky.


"Malam ... ada apa ya Rick?" Nadia mengulangi pertanyaannya tadi kepada Ricky sambil *******-***** kedua tangannya.


"Gak ada apa-apa Nad, aku cuma mau main aja kesini," kata Ricky.


"Maksud kamu? kamu hanya sekedar main kerumah ku malam-malam begini? tanpa alasan apapun? apa kamu gak takut jika bertemu kedua orangtuaku jika kamu bertamu kesini?" tanya Nadia keheranan.


"Memangnya harus ada alasan, kalau ada yang mau bertamu ke rumahmu Nad? kenapa harus takut kepada orang tuamu Nad? aku kan tidak melakukan kesalahan apapun," jawab Ricky sopan.


"Eeeee... enggak gitu juga sih Rick, tapi kan ... tapiiii-"


"Maaf ya menunggu lama, maaf ya atas sikap Nadia, ada tamunya datang kok malah dianggurin gini, ini ya naaakk?"


"Ricky Bu, perkenalkan nama saya Ricky, saya teman sekelas Nadia," sahut Ricky.


"Oh ya, nak Ricky, ini minuman dan suguhan ala kadarnya, ya nak Ricky ... maaf ibu gak bisa memberikan suguhan yang enak-enak, perkenalkan saya ibunya Nadia, panggil saja, Tante Sari,"


"Terimakasih Tante, suguhan ini sudah lebih dari cukup kok Tante, saya seharusnya yang minta maaf kepada Tante, karena merepotkan Tante," jawab Ricky dengan sopan.


Ibu Nadia tersenyum mendengar perkataan dari Ricky. Ibu Nadia memandangi Ricky mulai dari atas hingga bawah.


Ibu Nadia sangat kagum melihat Ricky, ternyata masih ada anak laki-laki yang tampan, baik hati dan bisa bersikap sopan dengan orang lain, terutama dengan yang lebih tua.


"Tante gak merasa direpotkan kok nak Ricky. Justru Tante senang, melihat kedatangan, nak Ricky kerumah ini. Jujur saja selama ini gak pernah ada teman sekolah Nadia yang datang bermain kesini, terutama temen cowok Nadia," ibu Nadia berhenti bicara sejenak, sambil melihat ke arah Nadia.


"Tante kira Nadia selama ini gak punya teman sekolah kecuali si Mirna." lanjut ibu Nadia yang melirik ke arah Nadia, sambil tersenyum menggoda anak gadisnya itu.


"Ah ibuk, siapa bilang aku gak punya temen?" jawab Nadia kesal karena sudah diledek ibunya. Pipi Nadia yang mulus itu jadi memerah.


"Lho kan emang bener, nak Ricky ini tamu pertama mu kan yang datang kerumah ini?" sahut ibu Nadia.


"Nak Ricky maaf ya, Tante tinggal masuk dulu, silahkan dilanjutkan ngobrol-ngobrolnya, jangan lupa dinikmati suguhan ala kadarnya ini," kata ibu Nadia dengan ramah dan kemudian pergi meninggalkan anak gadisnya yang sedang gugup itu.


Kini tinggal lah Nadia dan Ricky yang masih terdiam diruang tamu itu, kemudian Ricky mulai membuka percakapan kembali.


"Kamu merasa terganggu ya Nad, atas kedatangan ku ini?"


"Gak oq Rick, gak gitu. Aku cumaaa ... cuma gak enak aja dengan keluarga ku,"


"Memang kenapa Nad, ibumu kayaknya gak kenapa-kenapa Nad, bahkan ibu kamu senang dengan kehadiran ku disini, iya kannnn?"


"Ehmm ... i- iya sih, aku cuma ... anu, emmmm anu ..." wajah Nadia memerah.


"Kamu malu ya Nad?" sindir Ricky.


"Gak kok, aku gak malu ..." Nadia mencoba memalingkan wajahnya.


Ricky pun tersenyum lebar melihat ekspresi dari wajah Nadia yang tengah tersipu malu.


Sudah beberapa hari ini Ricky memang tidak melihat ekspresi wajah imut milik Nadia ini, karena sikap Nadia yang selalu menghindarinya itu.


"Nad, sebenarnya kedatangan ku kali ini selain ingin bertemu dan berbincang-bincang denganmu, tapi juga karenaaaa ... aku ingin tahu kenapa kamu akhir-akhir ini seperti sedang menjauhiku Nad? tanya Ricky dengan raut wajah serius.


"Apaan sih Rick? kan sudah aku bilang, aku gak sedang menghindari kamu koq. Aku cuma sibuk aja akhir-akhir ini Rick. Mungkin cuma perasaan kamu aja," Nadia tetap bersikukuh terhadap pendiriannya itu.


"Buktinya sekarang aku sedang ada dihadapanmu kann? kalau aku menjauhimu, pasti aku tidak akan mau menemui mu," jawab Nadia.


"Iya sih, seandainya Nadia menjauhiku pasti dia akan beralasan untuk tidak menemui ku saat ini. Alasan Nadia masuk akal juga, tapi bisa juga Nadia menemuiku kali ini karena dia terpaksa, dia tidak bisa menghindar, apalagi ada ayah ibunya," ucap Ricky dalam hati.


"Oke lah kalau memang begitu Nad, aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan apa yang terjadi, tapi karena kata mu tadi, kamu tidak menjauhiku, berarti besuk-besuk kita bisa ngobrol bareng, dan jalan bareng seperti biasanya lagi kaaann? dan kamu juga gak akan sibuk lagi kan Nad?" desak Ricky membalikkan keadaan.


Ricky memang anak yang cerdas, dia bisa menggunakan alasan yang dikatakan Nadia, untuk menjebak Nadia agar bersedia kembali untuk tidak menghindarinya.


"I- ya ... iya ... ya," jawab singkat Nadia yang tidak bisa mencari alasan lain.


Ricky pun tersenyum puas, ia merasa telah berhasil kali ini.


"Nad, aku haus nih. Yang dimeja ini kira-kira boleh diminum gak ya? hehe," goda Ricky untuk mencairkan suasana.


"Ya boleh dong Rick, tadi kan ibuku sudah mempersilahkan kamu," Nadia masih menjawab perkataan Ricky dengan nada jengkel.


Akhirnya dia berusaha untuk menghilangkan perasaan nya itu, karena dia sadar Ricky tidak bersalah selama ini, untuk apa ia bersikap seperti itu kepada Ricky.


"Ayo Rick, silahkan diminum teh nya, mumpung masih hangat," kata Nadia dengan lemah lembut, Nadia menyerah dan menurunkan ego nya.


Suasana pun mulai mencair seperti sedia kala lagi. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 20.45 wib. Ricky pun minta ijin untuk berpamitan.


Kali ini Ricky berpamitan dengan seluruh keluarga Nadia. Ayah, ibu dan adik-adiknya Nadia sangat senang dengan kedatangan Ricky malam itu.


...----------------...