Cupid I'M In Love

Cupid I'M In Love
Bab 55 Mendapat Kepercayaan



"Nadia, terima kasih ya, sudah mau membantu untuk mengantarkan Farrel pulang ke rumah. Dan Tante mau ngucapin terima kasih lagi karena kamu, sudah mau membuat Farrel untuk rajin sholat bahkan ia tadi bersedia untuk menjadi imam," kata Mama Farrel.


"Jarang-jarang lho Farrel bersedia menjadi imam shalat. Jangankan menjadi imam sholat, untuk sholat sendiri aja ia jarang sekali," sambung mama Farrel.


"Jangan begitu Tante, aku tidak melakukan apa-apa kok Tante. Aku malah merasa jadi tidak enak kalau Tante mengucapkan terimakasih kepada saya," jawab Nadia.


"Memang sudah sepantasnya Tante, ngucapin terima kasih ke kamu. Yah mungkin ini semua karena kelalaian Tante sebagai orang tua, yang selalu sibuk bekerja sehingga tidak bisa memberikan perhatian dan bimbingan lebih untuk Farrel."


"Karena kamu sekarang sudah menjadi teman Farrel, jadi Tante harap kedepannya, kamu dapat memberikan aura positif untuk Farrel. Dapat memberikan dukungan semangat kepadanya, agar bisa menjadi seseorang yang lebih baik lagi kedepannya. Baik itu dalam segi pendidikan mungkin, dalam segi beribadah, dan bergaul. Tante percaya sama kamu Nad," kata mama Farrel.


"Insyallah Tante, terimakasih atas kepercayaan Tante terhadap saya. Tapi mungkin saya tidak bisa sama seperti apa yang Tante pikirkan. Tapi saya tetap akan berusaha semampu yang saya bisa," jawab Nadia.


"Terimakasih ya Nad. Oh ya Nad, tadi kamu kesini naik taxi kan? Terus nanti kamu pulangnya bagaimana?" Tanya mama Farrel.


"Iya Tante, tadi aku naik taxi saat bersama Farrel pulang kesini. Kalau pulang ku nanti, gampang kok Tante, aku bisa pesen ojek/taxi online juga bisa," jawab Nadia.


"Oh jangan ... Jangan ! Sebaiknya nanti diantar pak Agus saja, atau diantar Farrel saja. Supaya lebih tenang Tante. He'em Farrel saja. Nanti Tante akan bilang ke Farrel untuk mengantarkan kamu pulang," kata mama Farrel.


"Emmm, gak usah Tante. Aku bisa pulang sendiri. Farrel kan baru saja sakit tadi, biar Farrel istirahat aja dulu. Aku sudah terbiasa pulang sendiri kok Tante. Beneran Tante, aku gak apa-apa, aku pulang sendiri saja," tolak Nadia secara halus.


"Tante rasa Farrel sudah baikan, dan sudah sehat kok. Jadi gak usah menghawatirkan keadaan Farrel. Kamu itu anak gadis. Jadi sebaiknya pulang ada yang nganterin, supaya lebih aman," desak mama Farrel.


Mama Farrel sebenarnya tahu, kalau Farrel tadi itu tidak sakit beneran. Tapi hanya akal-akalannya saja dengan pura-pura sakit, supaya bisa mendekati Nadia.


"Gak usah Tante, bener gak usah," Nadia masih saja menolak.


Beberapa saat kemudian, Farrel muncul dan duduk disofa depan Mama nya. Dengan wajah innocent, yang tak tahu pembahasan apa yang sudah dibicarakan antara Nadia dan mamanya itu.


Saat kedatangan Farrel, sang mama langsung nyeletuk kegirangan, "nah ini dia, yah ... biar sama Farrel saja ya Nad?


Farrel yang baru saja duduk langsung menoleh kearah Mamanya keheranan dan berkata, "ini ada apa ya Mah? Kok dateng-dateng langsung, nyebut-nyebut namaku. Mesti ada yang tidak beres ini? Perasaanku kok tiba-tiba jadi gak enak gini ya?"


"Ada yang tidak beres apanya, pake bilang perasaan gak enak segala, emangnya ketemu sama hantu kamu!" kata mama Farrel sambil mencubit anak bungsunya itu.


"Aduh, duh, sakit Mah. Habisnya tanpa dikasih tahu terlebih dahulu apa persoalannya, aku langsung disangkut pautin. So, sudah sepantasnya aku perlu waspada dong Mah," kata Farrel.


"Ih, nih anak bandel banget, gak mau nurut kata-kata Mama. Sudah mulai pandai bicara ya sekarang. Berarti harus sering-sering mama cubit nih, biar tahu rasa," ejek Mama Farrel sambil gregetan mencubiti Farrel.


Melihat tingkah mama dan anak ini, Nadia senyum-senyum sendiri. Nadia merasa kedua orang ini, begitu dekatnya, dan begitu saling menyayangi satu sama lain.


"Iya, ya, deh, aku nyerah! terserah Mama aja, aku ngikut aja!" kata Farrel.


Farrel masih bingung, sebenarnya hal apa sih yang sedang dibicarakan oleh mereka, sampai-sampai menyangkutkan dirinya juga.


"Emmm, kalau begitu, saya mau ijin pulang dulu Tante. Soalnya ini sudah hampir sore, aku juga belum sempat ijin dengan keluarga tadi. Takutnya mereka mengkhawatirkanku sekarang," kata Nadia.


"Oh begitu ya. Sayang sekali padahal Tante masih ingin ngobrol banyak dengan kamu, Nad. Tapi kalau memang itu maumu, Tante tidak akan memaksamu Nad," kata Mama Farrel.


"Farrel, Nadia mau pulang, jadi kamu harus nganterin Nadia pulang sampai ke depan pintu rumahnya. Mengerti! dan harap jaga baik-baik Nadia. Jangan kecewakan Mama," sambung mama Farrel.


"Aaaa-ku yang nganter Nadia? Tapi- ... ehmmm baiklah, aku akan mengantarkan Nadia pulang ke rumahnya," jawab Farrel terbata-bata.


Nadia ijin mau mengambil barang-barangnya yang ada dikamar Farrel. Tapi Farrel menyarankan agar, dia menunggu saja di dalam mobil. Biar semua barang-barangnya diambilkan pelayan. Nadia pun menuruti saran dari Farrel.


Setelah berpamitan dan salaman dengan Mama Farrel, Nadia langsung diantar Farrel menuju mobil Farrel yang lain, yang sudah terparkir dihalaman depan rumah. Mungkin sopir keluarga Farrel yang sudah mengeluarkan mobil itu dari garasi mobil rumah Farrel.


Tidak berapa lama kemudian, datanglah dua pelayan perempuan yang membawakan tas dan buku-buku Farrel yang sudah diberikan kepada Nadia. Pelayan yang satunya lagi membawa dua bungkus paperbag. Nadia sendiri tidak tahu apa isinya itu.


Farrel menyuruh kedua pelayan itu untuk meletakkan semua barang-barang Nadia di bagasi mobil. Tapi Nadia berkata kepada pelayan yang membawa bungkusan paperbag, bahwa Nadia tidak merasa memiliki bungkusan paperbag itu. Jadi mungkin, sang pelayan sudah salah ambil barang milik Farrel.


Namun Farrel memastikan bahwa itu bukan barang miliknya. Dan sang pelayan pun menjelaskan bahwa barang ini tadi benar-benar milik nona Nadia, karena Nyonya sendiri tadi yang menyuruh mereka membawakan bungkusan ini.


Akhirnya, mau tidak mau Nadia menerima barang pemberian ini. Dan Nadia menitipkan pesan kepada pelayan untuk mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada nyonya mereka yaitu mama Farrel.


Nadia dan Farrel pun akhirnya menaiki mobil itu. Kali ini Farrel tidak menyetir mobilnya sendiri, ada sang sopir yang sudah disiapkan mama untuk menyopiri mereka. Mobil yang mereka tumpangi pun mulai meninggalkan kediaman keluarga Farrel.


Farrel dan Nadia duduk bersebelahan di kursi. Selama perjalanan, Farrel dan Nadia hanya duduk terdiam, tanpa berkata-kata, mereka berdua merasa canggung atas situasi ini.


Pak sopir menanyakan alamat rumah Nadia, dan Nadia pun langsung memberitahukan alamat rumahnya ke pak sopir.


Saat ini Nadia berusaha tetap terjaga, agar ia tidak mengulangi kejadian siang tadi saat bersama dengan Farrel. Nadia khawatir kalau ia nanti akan tertidur lagi didalam mobil, dan malah ujung-ujungnya nanti bisa berakibat bersandar di bahu Farrel.


Akhirnya Nadia masih tetap terjaga, sampai tiba di rumah Nadia. Pak sopir memberhentikan mobilnya didepan pagar rumah Nadia. Farrel dan Nadia pun segera turun dari mobil.


Farrel menyuruh pak sopir untuk membukakan pintu bagasi mobil, dan dengan cepat Farrel mengambil barang-barang milik Nadia, Nadia membawa tas dan buku-bukunya, sedangkan Farrel membawakan dua bungkus paperbag tadi.


Seperti permintaan Mamanya, Farrel pun mengantarkan Nadia sampai ke depan pintu rumahnya.


Sebelum pergi Farrel mengucapkan terimakasih kepada Nadia, yang sudah berkenan datang kerumah dan menemaninya siang tadi. Dan Farrel pun bertanya, bolehkah jika dilain waktu ia datang berkunjung ke rumah Nadia lagi?


...----------------...