
Setelah selesai makan, keluarga Nadia berbincang-bincang sebentar dengan Farrel. Ayah Farrel bertanya tentang identitas dan keluarga Farrel.
"Wah, mas Farrel ini orangnya ganteng ya, kayak artis-artis Korea gitu, apa ya namanya? Hmmm, k- ... k- ..."
"K-Pop yah, namanya. Makanya dong yah, update trending perkembangan artis zaman sekarang juga dong ... Biar gak kudet," celetuk Tio, adik sulung Nadia.
"Jelas dong ayah, kak Farrel ini kan memang asli keturunan Korea, yah. Sudah jelas ganteng dong," kata Rafi yang ikut mengomentari perkataan ayahnya.
"Lho, kamu ini memang keturunan Korea tho mas Farrel? Pantesan punya wajah-wajah blesteran gitu. Emang siapa yang orang asli dari Korea?" tanya ayah Nadia penasaran.
Sambil tersenyum Farrel menjawab pertanyaan dari ayah Nadia, "iya, saya memang keturunan Korea Om, papa saya orang asli Korea, sedangkan mama saya orang asli Indonesia."
"Lah, bagaimana ceritanya kamu bisa tinggal di Singapura dan pindah kesini? Memang kamu berapa saudara?" tanya ayah Nadia lagi.
"Begini Om, mama Farrel bisa bertemu dengan papa itu melalui pekerjaan mereka. Kebetulan papa seorang pengusaha dinegeri ginseng Korea. Mama juga salah satu anak dari pengusaha yang ada di Indonesia yang sudah go internasional dan ingin memperluas usaha sampai ke negara-negara lain termasuk di Korea."
"Karena perluasan bisnis inilah mereka bertemu dan saling mengenal satu sama lain. Lambat laun akhirnya mereka pun saling jatuh cinta dan akhirnya menikah."
"Setelah menikah, selama beberapa tahun papa dan mama tinggal di Indonesia, dan bekerja di perusahaan mama. Namun suatu waktu papa melihat adanya peluang bisnis baru di Singapura."
"Akhirnya papa berkeinginan membuka dan mengembangkan cabang bisnis baru tersebut, untuk di Singapura dan menetap disana."
"Walaupun terkadang mama masih sibuk bolak-balik pulang pergi ke Indonesia karena bisnis keluarga nya di Indonesia juga, dan Alhamdulillah sukses dan maju pesat sampai sekarang. Dan inilah alasan mengapa saya bisa tinggal di Singapura, Om,"
"Namun karena akhir-akhir ini bisnis dari keluarga mama Farrel yang di Indonesia agak menurun, akhirnya Mama meminta papa untuk pindah ke Indonesia agar bisa lebih fokus menangani bisnis di sini."
"Dan akhirnya pun kami pindah ke Indonesia. Sedangkan perusahaan yang ada di Singapura saat ini ditangani oleh kakak sulung saya. Sedangkan kakak kedua saya bertugas melanjutkan bisnis keluarga di Korea bersama dengan suaminya," jelas Farrel.
Seluruh keluarga Farrel menggeleng-gelengkan kepalanya karena kagum mendengar asal usul dari keluarga Farrel.
"Owalah, ternyata keluargamu orang-orang hebat semua ya? jadi kamu anak bungsu ya mas Farrel?" tanya ayah Nadia.
"Ah, Om bisa aja. Orang hebat apanya sih Om? Iya Om, saya merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara," jawab Farrel.
"Kamu ini kan termasuk orang darah bangsawan, tapi kenapa kamu mau berteman dengan anak Om yang bodoh ini? Hehehe," ledek ayah Nadia.
"Berteman dan sekolah kan tidak memandang perbedaan status strata sosial, Om. Kami semua ini sama, tidak ada perbedaan apapun. Lagipula Nadia bukan gadis bodoh kok, Om. Nadia itu cu-ma ..., gadis lugu, hehehe ..." kata Farrel santai sambil bergurau dan suasana di ruangan itu pun semakin santai.
Karena keluarga Nadia sadar diri dan tidak ingin mengganggu aktivitas antara Farrel dan Nadia. Akhirnya ayah dan keluarga Nadia ijin untuk kembali meneruskan aktivitas mereka lagi.
Nadia yang ditanya malah tidak menjawab pertanyaan dari Farrel. Ia sedang sibuk melihat handphonenya. Jadi ia tidak fokus mendengarkan. Dan akhirnya Farrel mengulangi kembali pertanyaannya tadi.
"Nadia, gimana untuk jadwal besuk siang sepulang sekolah kita jadi kan, pergi mencari kembali referensi lain ditoko yang ada di daerah C? Nad, Nadia?"
"Ehmmmm, i-ya a-pa ya?" kata Nadia terbata-bata.
"Kamu lagi ngapain sih? Kok sibuk banget memandangi handphonemu itu? Emang kenapa dengan handphonemu itu, pengen ganti yang baru ya? Atau lagi nunggu telpon dari si Ricky pacar kamu itu?" kata Farrel.
"Eeeee, anu ... Anu ... Itu, ya-, eh apa tadi yang mau kamu tanyakan?" jawab Nadia mengalihkan pembicaraan.
Nadia tidak ingin Farrel mengetahui bahwa ia saat ini memang sedang menunggu telpon atau kabar dari Ricky. Namun Farrel sebenarnya sudah tahu kalau Nadia sangat-sangat ingin mendapatkan kabar dari pujaan hatinya itu.
Didalam hati Farrel sebenarnya ia merasa kesal sendiri, dan ingin memaki-maki Ricky yang sombong itu, namun ia tetap berusaha menahannya.
"Hufh, bagaimana rencana kita selanjutnya untuk jadwal besuk siang sepulang sekolah? kita jadi gak, pergi mencari kembali referensi lain ditoko yang ada di daerah C?" ulang Farrel yang agak kesal.
"I-ya, iya besuk jadi, kita baru dapat mengumpulkan beberapa referensi ini, kita juga masih belum melakukan pengamatan dan penelitiannya? Lebih cepat dilakukan maka akan lebih baik," jawab Nadia gugup karena merasa bersalah tidak mendengarkan pertanyaan dari Farrel tadi.
"Okey kalau gitu, berhubungan ini sudah jam 9 lebih sedikit, aku mau ijin pamit dulu Nad, besuk kita sambung lagi. Oh iya untuk makan malam kedua malam ini, terimakasih banyak ya. Jarang-jarang aku bisa makan malam bersama keluargaku, aktivitas hari ini benar-benar sangat menyenangkan bagiku," kata Farrel.
"Oh, kamu sudah mau pulang? hmmm, tapi kayaknya ayah dan ibu sudah istirahat, jadi gak perlu pamitan dengan mereka berdua," kata Nadia yang berdiri sembari menengok situasi keluarganya didalam.
"Kalau gitu, aku langsung pamit ya Nad, salam untuk ayah ibumu dan juga adik-adikmu. Selamat beistirahat Nad, sampai bertemu kembali besok pagi disekolah, bye ... Assalamualaikum," kata Farrel berpamitan.
"Wa'alaikumsalam, iya nanti aku sampaikan salamnya, hati-hati dijalan Rel, ini sudah malam soalnya,"
"Iya, Nad, terimakasih ya atas perhatiannya. Jarang-jarang aku bisa mendapatkan perhatian kayak begini. Hehehe ..." kata Farrel sambil berjalan keluar pintu rumah Nadia.
"Idiiih, kumat nih, wong cuma bilang gitu aja, pe-denya udah muncul lagi. Sudah sana, sana-sana, pulang cepat! bikin darahku tambah naik aja," umpat Nadia geregetan.
Farrel hanya tertawa mendengar umpatan dari Nadia, sembari berjalan menuju ke mobilnya. Kemudian Farrel masuk kedalam mobilnya, dan tak lupa ia melambaikan tangan ke arah Nadia. Sambil melajukan mobilnya itu keluar meninggalkan halaman rumah Nadia.
Setelah kepergian Farrel rumah Nadia pun kembali hening, Nadia pun segera membereskan semua perabot yang masih ada diruang tamu. Dan setelah membereskan semuanya, Nadia pun bergegas untuk sholat isya dan istirahat dikamarnya.
...----------------...