
Farrel mulai meregangkan dan melemaskan semua otot-otot jari jemari tangannya, untuk memulai menekan tuts-tuts piano. Semua orang diruangan itu pun sangat menunggu-nunggu permainan piano dari si Farrel.
Tak beberapa lama kemudian, akhirnya Farrel mulai memainkan piano itu. Namun yang terdengar bukanlah nada yang merdu.
Melainkan nada-nada yang amburadul, berisik, bahkan terdengar seperti asal-asalan dalam memencet tuts-tuts piano, seperti orang yang baru pertama kali memainkan piano.
Semua teman-teman sekelas pun menyoraki permainan piano Farrel, dan menyuruh Farrel untuk berhenti memainkannya, karena membuat telinga mereka jadi sakit dan berisik karena saking jeleknya.
Tetapi bukan Farrel namanya kalau tidak bertingkah slengekan. Dengan penuh percaya diri dia berusaha menenangkan semua murid yang ada diruangan itu.
Dia akan meminta maaf, dan dia bilang bahwa tadi hanya pemanasan saja, dan akan mengulangi permainan pianonya lagi. Namun teman-teman sekelas masih saja menyorakinya, karena menganggap semua itu hanya alasan Farrel saja.
Ricky pun berbisik pada Nadia, "tuh lihat, sudah jelas-jelas dia gak bisa memainkan piano, bahkan hancur gitu, masih sok-sokan aja ngeles, dan bilang cuma pemanasan. Dasar pecundang,"
"Udah ah, kita gak usah ikut campur, biarin aja dia mau bertingkah apa. Bu guru aja gak melarangnya. Kita ikuti dan perhatikan aja baik-baik," kata Nadia.
"Okey, pemanasannya sudah selesai, sekarang akan ditampilkan penampilan sesungguhnya, hahaha, harap sabar ya. Ayo tepuk tangan dulu," kata Farrel santai sambil cengengesan.
"Huuuuuuu ... huuuuuu ... udah turun aja bro, daripada nanti kamu malu bro!" teriak salah satu teman sekelas.
Farrel masih menanggapinya cemoohan itu dengan santai. Dan kali ini Farrel minta ijin lagi ke Bu guru seni musik untuk memainkan ulang permainan pianonya.
Bu guru pun memberikan ijinnya. Dan Farrel langsung mulai menekan tuts-tuts piano itu. Berbeda dengan yang tadi, kali ini Farrel memainkan piano dinada pertama dengan baik dan terdengar indah.
Jari jemari Farrel bergerak dengan lincah dan indahnya, seperti sedang menari-nari diatas tuts-tuts piano. Lagu yang dibawakan ini terdengar sangat merdu dan indah.
Suasana yang tadinya ricuh, sekarang hening seketika. Semua mata seisi kelas hanya tertuju kepada penampilan Farrel. Semua orang terpana akan permainan piano dari Farrel, mereka semua seakan terhipnotis dengan lantunan melodi piano yang begitu indahnya.
Pada dasarnya cara bermain piano memiliki berbagai macam teknik seperti legato, staccato, dan arpeggio untuk menghasilkan musik yang bervariasi. Selain itu, piano juga sering digunakan sebagai alat musik utama dalam orkestra simfoni dan musik klasik lainnya.
Cara bermain piano Farrel sangat mengena dihati para pendengarnya. Nada-nada rumit dari lagu-lagu klasik yang ia mainkan, dilibasnya tanpa kesulitan. Yang istimewa, hal itu ia lakukan dengan kedua matanya terpejam. Seakan-akan Farrel memainkan tuts-tuts piano itu sambil berangan-angan.
Mungkin karena kemampuan feel (rasa) dan soul (jiwa) yang Farrel lakukan, sehingga para pendengarnya pun dapat merasakan apa yang ingin disampaikan oleh lagi tersebut.
Farrel seperti orang yang sudah mahir dalam memainkan piano. Seperti para pianis-pianis profesional. Karena keahlian bermusik itu secara mutlak merupakan pengaruh dari wawasan musik yang dimiliki.
Cukup membutuhkan waktu dan kesabaran. Tidak mungkin untuk memainkan kunci-kunci piano dengan baik itu hanya dalam waktu singkat. Pasti Farrel sudah lama menguasai permainan pianonya ini, sehingga bisa membawakan sebuah lagu dengan piano seindah ini.
Moonlight Sonata, adalah karya yang paling terkenal dan dikagumi terutama karena pergerakan pertama yang lembut dan misterius.
Karya ini menawarkan gerakan pertama yang melamun, gerakan kedua yang lebih hidup, dan gerakan terakhir yang menggelora, dengan latihan teknis yang epik untuk jari. Secara keseluruhan, gaya Moonlight Sonata menyenangkan di telinga dan telah ada selama berabad-abad.
Jari-jari Farrel terus meluncur dengan mudah di atas piano yang megah. Sehingga menghasilkan suara yang membawa para pendengarnya ke tempat-tempat yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Sungguh, suara, musik, dan piano itu luar biasa.
Akhirnya Farrel pun menyelesaikan permainan pianonya itu dengan gemuruh tepukan tangan. Semua teman-teman sekelas merasa senang, puas, dan menikmati sekali permainan piano yang dimainkan oleh Farrel.
Mereka semua sangat kagum dan takjub terhadap Farrel. Tak disangka-sangka ternyata sosok pemuda seperti Farrel ini bisa menguasai permainan piano sebagus ini. Mereka semua tak mengira kenapa Farrel menutup-nutupi bakatnya itu.
Nadia sendiripun tak memungkiri bahwa ia juga terkagum-kagum dengan bakat luar biasa yang dimiliki oleh Farrel ini. Berulang kali ia memikirkannya, kenapa si Farrel ini bahkan rela direndahkan dan diolok-olok oleh orang lain. Seharusnya ia merasa senang dengan kemampuan yang ia miliki itu.
Dan ternyata piala dan penghargaan yang terpajang dirumah Farrel beserta apa yang diomongkan oleh Farrel sewaktu Nadia berada dirumahnya Farrel, bukan sekedar bualan dan isapan jempol semata. Ternyata semua itu, memanglah fakta yang ia miliki.
Nadia sebenernya merasa bersalah dengan Farrel, karena selama ini sudah merendahkannya atau menganggapnya hanyalah orang yang suka membual dan menyombongkan diri tanpa ada bukti nyata.
Tapi sekarang sudah terkuak, semua orang pun tahu, kemampuan lain yang dimiliki oleh Farrel, pasti semua orang semakin mengagumi dirinya. Termasuk guru juga sangat mengagumi bakat permainan piano dari Farrel.
Bu guru pun mendesak lagi ke Farrel, untuk memainkan alat musik lain. Bu guru berpikir, tentunya Farrel tidak hanya memiliki satu kemampuan dalam memainkan alat musik, pasti ia menguasai lebih dari satu alat musik.
Pertama-tama Farrel memang mencoba untuk tidak mengakuinya, namun karena desakan dari Bu guru Farrel langsung disuruh Bu guru memainkan alat musik gitar dan menyuruhnya sambil bernyanyi pasti bagus.
Akhirnya mau tidak mau, Farrel pun menuruti permintaan guru seni musiknya itu. kemudian Farrel pun memilih salah satu gitar. Farrel memilih gitar akustik elektrik. Karena gitar tipe ini memiliki kelebihan dari segi fleksibilitasnya bila dibandingkan gitar akustik biasa.
Farrel kemudian menghubungkan gitarnya itu ke amplifier menggunakan kabel jack dan nada yang dikeluarkan, berubah menjadi lebih nyaring dan stabil.
Langkah berikutnya yang dilakukan oleh Farrel adalah mengatur tuner (yakni putaran yang ada di kepala gitar), untuk mengatur tinggi rendahnya nada, maka perlu mengatur tingkat kekencangan senar gitarnya.
Farrel memainkan sebuah lagu yang cukup terkenal hingga sekarang, yaitu Eternal Flame. Lagu ini adalah lagu dari grup musik 1980-an, The Bangles.
Dengan dentuman gitar akustik yang sederhana dan easy listening, dan suara dari Farrel yang merdu, ditambah skill bermain gitar Farrel yang mumpuni, membuat semua orang semakin takjub dan terlarut dalam lagu tersebut. Serasa seperti melihat dan mendengarkan pertunjukan konser dari artis ternama dunia.
...----------------...