
"Hei Nad, cari siapa sih elo? Cari Ricky? Dia belum datang ya? Emang tadi kamu gak dijemput Ricky?"
"Udah gak usah dicari lagi, nanti dia juga datang sendiri. Kayak gak ketemu bertahun-tahun deh, duh segitunya ya, kalau orang lagi jatuh cinta, bucinnya minta ampun. Sebentar-sebentar kangen, sebentar-sebentar pengin dimanja," celetuk Mirna.
"Eh, kamu Mir, iya aku memang cari Ricky. Oh ternyata dia memang belum datang ya."
"Kamu ngomong apaan sih Mir? Iya, aku tadi berangkat sendiri dari rumah, aku naik angkot Mir seperti biasanya,"
"Emmm, aku cari Ricky karena aku ingin bicara dengannya, ada hal yang perlu aku tanyakan padanya," kata Nadia.
"Emang masalah apaan sih? Kok ekspresimu serius banget, kayak mau makan orang deh. Elo lagi ada masalah ya sama Ricky? Atau dia udah nyakitin elo atau Dia selingkuh dengan cewek lain? tanya Mirna nyerocos.
"Gak tahu, Mir? Sekarang Ricky udah gak seperhatian seperti dulu. Hmmmm, mulai kemarin saja chatku gak dibales, seharian Ricky gak bisa dihubungi, entah dia sedang sibuk, atau memang dia ingin menghindariku, aku juga tidak tahu Nad. Jadi, hari ini aku ingin bertanya langsung dengannya, biar lebih jelas," kata Nadia.
"Kenapa elo nggak pernah cerita ke gue Nad tentang ini, setidaknya, kan ... dengan bercerita, elo dapat meluapkan semua keluh kesah elo itu Nad, agar hatimu dapat merasa lega."
"Gue turut mendoakan yang terbaik untuk hubungan kalian berdua Nad, semoga semua masalah dapat terselesaikan dengan baik," imbuh Mirna.
"Eh, Nad, nanti pulang sekolah elo pulang bareng siapa? kalau elo pulang sendiri, mending bareng sama gue aja, kayak dulu, gimana? Okey gak tuh," tanya Mirna.
"Ehmm, anu ... nanti siang aku gak langsung pulang Mir, a-ku udah janjian sama Farrel untuk melanjutkan mencari buku buat referensi tugas kelompok biologi Mir, jadi pulangku mungkin malam," jawab Nadia.
"Oh iya ya, elo sekelompok sama cowok ganteng itu. Huh, kenapa hidup elo, beruntung banget Nad, selalu dikelilingi oleh cowok-cowok ganteng, hufh ..." kata Mirna lemas sambil menghela nafas panjang.
"Eh, beruntung gimana sih, buktinya hubunganku dengan Ricky juga gak berjalan mulus gini kok. Ini cuma kebetulan aja Mir, yach, hanya ke-be-tu-lan sa-ja," jawab Nadia perlahan.
"Eits, berarti elo nanti diantar pulang sama Farrel dong??? Eh gimana rasanya jalan bareng berdua sama Farrel, enak gak? Dia tipikal orang yang kayak gimana? baik gak Nad?" tanya beruntun Mirna.
"Ya, gak gimana-gimana sih, biasa aja!" jawab Nadia.
"Masa cuma gitu aja Nad? jawab yang bener dong, masa jalan sama orang sekeren dan setampan itu, rasanya cuma biasa-biasa aja? Hmmm, apa mungkin karena elo sudah terlalu sering jalan sama cowok-cowok ganteng, jadi elo anggap semua itu hanya biasa-biasa aja," tanya Mirna lagi.
"Jangan melebihkan-lebihkan gitu dong Mir, kenapa kamu ngebet banget pengen tahu tentang Farrel sih?" tanya balik Nadia.
"Ya, gak kenapa-kenapa Nad, gue cuma pengen tau aja, orang yang tampan kayak Farrel gitu tuh sifatnya gimana? Perhatian gak, baik hatinya gak, humoris gak atau gimana gitu, dia kan termasuk anak baru, jadi gue, belum begitu mengenal dirinya seratus persen," jawab Mirna.
"Hmmmm, okey deh, sini aku ceritain. Farrel itu, anak yang usil banget, yah benar-benar usil, jahil, selengekan, dan sok kepedean banget. Tapi dilain itu, sebenarnya dia punya sifat pribadi yang lain. Yang mungkin gak banyak diketahui orang."
"Ini menurut sepengetahuan aku ya, seandainya kenyataannya salah dan gak seperti yang aku katakan tadi, yah mohon maaf ya," imbuh Nadia.
"Nah loh, banyak banget kelebihannya, benar-benar cowok yang perfect. Memang seperti apa yang sudah gue bayangin, Nad. Dia orang kaya ya, Nad?" kata Mirna.
"Hmmmm, menurut sepengetahuan yang aku ketahui si, dia memang lahir dari keluarga yang berada," jawab Nadia.
"Udah ah, kenapa bahas-bahas tentang Farrel terus sih? Udah ah ganti topik yang lain! Emmm, ngomong-ngomong gimana tugas kelompok kamu, udah beres kah?" tanya Nadia mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Tugas penelitian gue ma Toni, lancar-lancar aja Nad, buku-buku dan referensi mengenai penelitian gue, sangat banyak dan mudah banget didapatkan. Maklum penelitian yang gue ambil itu mengenai tanaman jahe. Hehehe ..."
"Jadi kita tinggal meneliti lebih lanjut dan menulis hasilnya, beres dech! Gue ma Toni cari tanaman yang gampang-gampang aja Nad, untuk masalah nilai, bagi kita gak penting. Yang terpenting bagi kita adalah yang penting udah ngerjain tugasnya, wkwkwk," kata Mirna sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun, kalian berdua, emang bener ya, gak mau ribet orangnya," kata Nadia sambil nepok jidat.
"he-he-he, tahu aja elo, Nad!"
"Eh ngomong-ngomong, sampe jam segini, Ricky kok belum datang-datang juga Mir? Padahal ini jamnya udah mau masuk lho? tanya Nadia cemas.
"Hu'um nih, teman-teman yang lainnya juga udah pada berangkat tapi si Ricky kok gak nongol-nongol nih. Bocah itu kenapa ya? kok masih Lom ada kabar juga sama pacar elo itu," tanya Mirna juga.
Sampai bel masuk berbunyi sekalipun, Ricky tetap saja tak menunjukkan tanda-tanda kedatangannya. Nadia bertanya kabar dari Ricky kepada Andre teman sebangku Ricky. Namun Andre pun sama sekali tidak mengetahui kabar terkini tentang Ricky.
Guru yang mengajar dijam pertama ini pun sudah memasuki ruang kelas, dan mulai memberikan materi pelajarannya. Namun disela-sela penyampaian materi, terdengar suara ketukan pintu dari luar kelas.
Guru pergi keluar kelas, untuk menemui orang tersebut. Tak berlangsung lama, guru pun masuk kembali kedalam kelas. Sebelum melanjutkan kembali memberikan materi, sang guru akan mengumumkan sesuatu kepada para murid.
"Maaf anak-anak, sebelum saya melanjutkan memberikan materi selanjutnya, saya ingin menyampaikan pengumuman, bahwa salah satu teman kalian yaitu mas Ricky Aidan Trustin, hari ini ijin tidak bisa mengikuti pelajaran disekolah karena ada kepentingan keluarga."
"Kepentingan keluarga apa itu Pak?" celetuk salah satu murid.
"Wah, bapak kurang tahu ya, tadi ijin yang disampaikan hanya menyebutkan ada kepentingan keluarga saja. Okey, anak-anak sekarang sebaiknya kita lanjutkan materi selanjutnya, ya!" kata Pak Guru.
Didalam hati, Nadia bertanya-tanya "sebenarnya apa yang terjadi dengan Ricky, kenapa ia tidak memberi kabar apapun kepadaku?" Antara rasa cemas, khawatir dan kesal bercampur aduk didalam pikiran Nadia.
...----------------...