
"Oh ya Rick, kalau boleh tahu, oma kamu sakit apa? dan kondisinya sekarang bagaimana?" tanya Nadia menunjukkan rasa simpati.
"Oma sakit stroke Nad, sebagian tubuh sebelah kanannya tidak bisa digerakkan. Untuk berbicara pun agak kesulitan, walaupun masih bisa, tapi agak kurang jelas,"
"Sekarang oma masih dirawat dirumah sakit. Nanti setelah dari sini aku akan menemani oma lagi."
Wajah Ricky, ketika berbicara mengenai Oma nya nampak sedih lagi. Nadia jadi merasa bersalah.
"Oh, bagaimana kalau aku ikut kamu, untuk menjenguk oma mu dirumah sakit? tapi, itu pun kalau diperbolehkan," gumam Nadia pelan, tapi masih tetap bisa terdengar oleh Ricky.
"Boleh koq Nad, boleh ..." jawab Ricky dengan semangat.
"Kalau begitu, sebaiknya kita pergi sekarang saja Rick, karena aku tadi dirumah berpamitan dengan ayah ibu, akan pergi sampe sore. Jadi, kalau sekarang kita pergi kerumah sakit, kan tidak akan menyita waktu. Sore mungkin aku sudah bisa pulang,"
Nadia berkata dengan penuh harap, sorot matanya berbinar-binar, berharap agar Ricky menyetujui permintaannya itu.
"Kalau memang itu mau mu, kita bisa pergi sekarang, tapi apa kamu sudah selesai membaca bukunya?" tanya Ricky.
"Tenaaang, sudah sebagian, dan untuk buku yang belum aku baca ini, bisa aku pinjam untukku baca dirumah nanti," balas Nadia sambil menunjukkan 2 buah buku yang akan ia pinjam.
"Tapi, kamu tadi kesini naik apa? Apa boleh aku pergi kerumah sakit sambil nebeng kamuuuu?" tanya Nadia dengan pipi memerah, karena merasa malu dengan pertanyaannya sendiri.
Ricky tersenyum lebar memandang wajah Nadia. Karena menurut Ricky dengan bertanya seperti tadi, wajah Nadia terlihat sangat imuuuut dan menggemaskan.
Seperti wajah anak kecil, yang ingin ikut diajak jalan-jalan kedua orangtuanya.
"Aku bawa mobil koq Nad, sudah tentu kamu harus ikut aku, kan kamu mau jenguk oma ku dirumah sakit,"
Dengan spontan tangan kiri Ricky menggandeng tangan kanan Nadia.
Nadia pun terkejut, tanpa sempat menolak, karena Nadia secara tidak sadar, sudah berdiri mengikuti Ricky yang sudah menggandeng tangannya dengan erat.
Wajah Nadia semakin memerah. Nadia juga menjadi salah tingkah, jantungnya bergemuruh kencang, sampai-sampai ia lupa kalau mau meminjam buku.
Setelah beberapa saat Nadia segera tersadar,
"Eh ... Eh ... Eh ... berhenti Rick, berhenti Rick, aku belum meminjam bukunya," kata Nadia yang berusaha menghentikan Ricky, sambil gelagapan.
"Oh iya, aku lupa Nad, karena saking semangatnya mau pergi dengan mu aku jadi khilaf," omongan Ricky yang Ceplas-ceplos, kembali membuat pipi wajah Nadia merah merona.
Sambil melepaskan gandengan tangannya dari Ricky, Nadia pun bergegas pergi ke petugas perpustakaan untuk meminjam buku.
Setelah ia selesai meminjam buku, Nadia pun berjalan menuju ke arah Ricky yang sedang menunggunya didekat eskalator.
"Udah selesaikan Nad? Ayo, kita segera pergi," ujar Ricky yang sudah tidak sabar ingin segera pergi bersama Nadia, sambil menyodorkan tangannya lagi untuk menggandeng Nadia, dengan refleks Nadia mundur, menghindari tangan Ricky.
"Iiiih, aku bisa jalan sendiri tauuuuu!" Nadia berusaha menyembunyikan kedua tangannya kearah belakang.
"Hehe ... aku kira kamu mau aku gandeng Nad, seperti mereka tuuuuhhh," kata Ricky sambil berusaha menahan tawa, dengan tangannya menunjuk ke arah seorang laki-laki yang sedang menggandeng anaknya.
"Rickyyyyyy! Emangnya aku anak keciiiil!"
Sambil mengernyitkan bibirnya Nadia berjalan mendahului Ricky. Hal itu membuat Ricky semakin senang melihat tingkah Nadia, yang begitu menggemaskan.
"Tunggu Nad, koq jalan kamu cepet banget sih, emang kamu tau, parkir mobilku disebelah mana? Ntar nyasar lhoo, kan jadi aku yang repooott," goda Ricky.
Tanpa berkata tangan Nadia menonjok pelan lengan Ricky, mengekspresikan perasaannya kala itu.
Sesampainya ditempat parkir mobilnya Ricky, Ricky segera membukakan pintu depan mobil untuk Nadia, agar bisa duduk disebelahnya.
Sebelum masuk ke mobil, mata Nadia tertuju kepada mobil sport berwarna putih yang bersih, elegan dan tentu saja mewah. Berbentuk coupe 2 pintu, ditambah dengan model convertible yang atapnya bisa dibuka.
Mobil seperti itu hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang tajir, karena harga mobil itu yang selangit.
Kemudian Ricky memanggil Nadia sekali lagi, untuk mempersilahkannya masuk kedalam mobil. Nadia pun segera masuk, ketika sudah memasuki mobil, Nadia kembali lagi terkagum-kagum melihat performa canggih yang dimiliki mobil itu.
Interiornya dibuat seperti kokpit pesawat yang lebih inovatif. Ada layar 12,3 inci full collor yang akan memberikan semua informasi untuk pengemudi.
Pemilihan material interior dan jok kulitnya juga tidak sembarangan. Ternyata Ricky memang anak orang kaya.
Ricky mulai membuka omongan, "Nad, kamu dirumah bersama siapa aja?"
"Aku tinggal bersama keluargaku, ada ayah, ibu dan kedua adik laki-lakiku. Kalau kamu?" Nadia balik bertanya.
Ricky terdiam, beberapa saat kemudian Ricky menjawab pertanyaan Nadia, "aku tinggal dengan oma, dan para pelayan-pelayan Ku dirumah."
Nadia menoleh menatap wajah Ricky dan berkata lembut, "hanya kamu dengan oma? Orang tuamu atau saudara-saudaramu yang lain kemana?"
Ricky menghela nafas panjang.
"Mama and my daddy, untuk beberapa bulan ini tinggal di London, mereka semua sibuk mengurus bisnis perusahaan kami. Aku hanya punya satu kakak laki-laki, tapi sekarang ini dia sedang kuliah di LA, sambil mengembangkan cabang bisnis daddy juga disana."
Nadia mendengarkan cerita dari Ricky dari awal sampai akhir dengan seksama. Akhirnya Nadia tahu, kalau Ricky itu pasti kesepian, dan dia hanya tinggal dengan Oma nya.
Makanya, ketika Ricky tau oma nya sakit, Ricky merasa sangat khawatir. Sebegitu dekatnya Ricky dengan Oma nya tersebut.
Nadia merasa beruntung, karena sampai detik ini, dia masih diberikan keluarga yang lengkap, dan tinggal bersama-sama. Walaupun dengan kondisi yang serba pas-pasan.
Sedangkan keluarga Ricky yang kaya raya, tajir melintir tapi mereka semua malah saling berjauhan.
Mobil Ricky memasuki area parkir rumah sakit komersial yang terbaik dan terkenal di Jakarta. Kemudian Ricky segera turun dan segera membukakan pintu mobil untuk Nadia.
Nadia merasa Ricky sangat perhatian sekali kepadanya, dan itu membuatnya agak canggung dan jadi salah tingkah lagi.
Ricky dan Nadia pun segera masuk ke dalam rumah sakit, langsung menuju ke arah lift yang letaknya ada disebelah kanan resepsionis.
Ricky memencet tombol menuju ke lantai 6. Setelah sampai, Ricky langsung lewat ke lorong sebelah kiri yang kemudian disusul oleh Nadia dari belakang.
Disana terlihat ada beberapa kamar rawat inap pasien. Ketika sampai di no. 10, Ricky berhenti. Kemudian dia mengetuk pintu kamar tersebut dan kemudian membukanya.
Ricky langsung masuk kedalam ruangan, sedangkan Nadia masih berdiri didepan pintu. Perasaan Nadia campur aduk, antara takut, ragu, dan tidak percaya diri mulai ia rasakan.
Tapi kemudian Ricky memanggil Nadia untuk segera masuk, dan ingin memperkenalkan dia dengan oma nya.
Nadia menggigit bibirnya, dan menghela nafas panjang. Akhirnya Nadia pun memberanikan diri untuk masuk kedalam ruangan tersebut.
Didalam ruangan tersebut, terlihat lah sosok wanita tua yang sedang tertidur diranjang rumah sakit, mungkin bisa diperkirakan wanita itu berusia sekitar 60 tahunan.
Walaupun berusia sekitar 60 tahunan, tapi pada wajahnya masih tampak awet muda. Mungkin hanya tampak beberapa kerutan saja di pojok sudut kelopak mata dan dipipinya.
Bibirnya yang merah asli, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, bisa dikategorikan pada usia seperti itu wajah wanita tua ini termasuk cantik.
Perlahan-lahan tangan Ricky membelai-belai lembut rambut oma nya yang sebagian sudah nampak memutih. Karena hal itu kemudian membuat oma Ricky pun terbangun dari tidurnya.
"Ricky ... kau kah itu sayang?" kata Oma dengan suara yang tidak begitu jelas.
"Iya, ini aku Ricky, Oma ..." jawab Ricky yang mendekat sambil tangan Ricky menggenggam erat tangan wanita tua itu.
Ricky menciumi punggung tangan oma nya dengan penuh kasih sayang. Oma Ricky tersenyum bahagia melihat kedatangan cucunya itu.
Kemudian Ricky tersadar, bahwa ia datang ke sana tidak sendirian. Dia teringat, kalau ada Nadia yang tengah berdiri dibelakangnya, sedari tadi.
"Oh ya Oma, Ricky kesini tadi tidak sendirian. Ricky kesini tadi bersama teman sekelas Ricky, yang juga ingin menjenguk Oma," kata Ricky dengan nada pelan, sambil memberikan kode ke Nadia untuk segera maju ke samping Ricky.
Nadia pun melangkah maju ke samping Ricky, seperti yang diisyaratkan olehnya tadi.
"Oma, perkenalkan ini dia, Nadia.
Dan Nadia, inilah Oma kesayangan ku, Oma Ira," ucap Ricky memperkenalkan mereka berdua secara bergantian.
"Assalamu'alaikum, selamat siang Oma, perkenalkan aku Nadia," sapa Nadia ke oma sambil mencium tangan oma (Seraya menunjukkan tanda hormat dan sopan santun bagi yang muda ke orang yang lebih tua).
Dengan sikap sopan santun yang ditunjukkan oleh Nadia tersebut membuat oma Ira merasa senang.
Oma tersenyum dan menganggukkan kepalanya menunjukkan bahwa ia menerima kedatangan dan perkenalan dari Nadia.
...----------------...